Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
RUMAH SAKIT



BIP.....BIP.....BIP....!!!


Ponsel Hannah bergetar karena ada panggilan masuk.


Dilihatlah nama pemanggil itu di layar ponsel nya.


Dan yang terlihat adalah nama Harry.


"Mau apa lagi dia" Gerutu Hannah sangat kesal tanpa menghiraukan panggilan itu.


Setelah panggilan itu berhenti Hannah segera mengambil ponselnya dan menonaktifkan ponsel tersebut.


"Harusnya aku blokir saja nomor Harry."


Ucapnya pelan sambil menyibakkan rambut lurusnya yang menutupi telinganya.


"Ya Tuhan....Jauhkanlah orang ini dari hidupku." Hannah merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Dia memejamkan matanya sambil membayangkan betapa hidupnya sangat berat selama 3 tahun terakhir.


Tiap kata kasar dan tiap pukulan di setiap bagian tubuh Hannah masih membuat bulu kuduk Hannah bergidik setiap kali mengingatnya.


Tiba-tiba Hannah membuka matanya.


"Laki-laki tadi bukannya yang aku lihat bersama Harry tempo hari."


Hannah berusaha mengingat wajah orang yang menabraknya di taman.


"Apa mungkin dia rekan kerja Harry.Kalau benar mereka rekan kerja...."


Imbuh Hannah sambil bergidik membayangkan Harry akan sering datang ke kota itu.


Dari luar rumah terdengar suara langkah kaki berlari mendekat.


Sesaat kemudian....


"Hannah.......Apa kau di dalam ? Hannah....ini aku Joe..!"


Teriak Joe dari luar sambil menggedor pintu rumah Hannah dengan kencang.


Hannah yang mendengar suara gedoran pintu itu segera berlari ke pintu depan.


Hannah membuka pintu rumahnya.


"Ada apa Joe....kenapa kau terlihat begitu panik?" Tanya Hannah yang penasaran melihat raut wajah Joe yang terlihat begitu panik.


"Hannah....Nyonya Lee masuk rumah sakit." jawab Joe


"Bagaimana bisa ? Apa yang terjadi dengan Nyonya Lee ?"


Raut wajah Hannah seketika berubah khawatir dengan keadaan Nyonya Lee.


"Tadi aku bertemu Nyonya Lee di supermarket.Nyonya Lee terlihat kurang sehat dan tiba-tiba Nyonya Lee pingsan.Lalu kubawa Nyonya Lee ke rumah sakit." jelas Joe masih dengan raut wajah paniknya.


"Bisa kau antar aku ke rumah sakit Joe? Aku ingin melihat sendiri keadaan Nyonya Lee." pinta Hannah yang sangat khawatir sesuatu yang buruk akan menimpa Nyonya Lee.


"Baiklah....ayo ikut aku." Ajak Joe.


Hannah segera berlari masuk mengambil ponsel dan tas jinjing miliknya dan bergegas mengikuti Joe masuk ke mobil suv milik Joe.


"Aku harus menghubungi Tuan Lee.Kasihan sekali Nyonya Lee.Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya." Hannah mengambil ponselnya di dalam tas kemudian mengaktifkannya.


"Kau menonaktifkan ponselmu? Pantas saja dari tadi aku tidak bisa menghubungimu." kata Joe sewaktu melihat Hannah mengaktifkan ponselnya.


"Maaf kan aku...." saut Hannah.


Hannah segera mencari nomor telpon Tuan Lee dan memencet tombol panggilan ke nomor tersebut.


15 menit kemudian mereka sampai di rumah sakit.


Hannah dan Joe segera berlari menuju ke ruang pemeriksaan tempat Nyonya Lee sedang di periksa oleh dokter di rumah sakit tersebut.


"Ya Tuhan....lindungilah Nyonya Lee.Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya."ucap Hannah pelan sambil mondar mandir dan sesekali melihat ke ruang pemeriksaan.


Hannah begitu cemas....karena hanya Nyonya Lee keluarga yang dia miliki sekarang.Dengan keadaan Nyonya Lee yang mempunyai riwayat penyakit jantung membuat dia tidak mau kehilangan orang yang dia sayangi lagi.


Kenangan buruk tentang kematian kedua orang tuanya kembali muncul dan membuat Hannah sangat ketakutan akan kehilangan Nyonya Lee juga.


Bahkan air mata Hannah mulai menetes membasahi pipi Hannah.


"Hei...hei...lihat aku.Nyonya Lee akan baik-baik saja.Dokter sudah menanganinya." Joe memegang bahu Hannah dan berusaha menenangkan Hannah.


"Aku takut Joe....Nyonya Lee sudah seperti nenekku sendiri." ucap Hannah dengan air mata yang terus menetes dari ujung matanya.


"Kemarilah..!" Joe mendekap tubuh Hannah yang gemetaran.


Tangis Hannah kian memecah dan dia menangis sesenggukan dalam dekapan Joe.


Sampai akhirnya Dokter yang menangani Nyonya Lee keluar dari ruang pemeriksaan.


Hannah segera melepaskan pelukan Joe dan menghampiri dokter itu.


"Dokter bagaimana keadaan Nyonya Lee?" tanya Hannah penuh kekhawatiran.


"Keadaan Nyonya Lee sudah stabil.Untung saja tadi segera dibawa ke rumah sakit.Kalau terlambat sedikit saja mungkin sudah terlambat untuk menyelamatkannya." jawab dokter itu.


"Apa saya boleh masuk dok ?" tanya Hannah lagi dengan penuh harap.


"Sebaiknya jangan dulu.Biarkan Nyonya Lee beristirahat." jawab dokter tadi.


"Baiklah saya permisi dulu Nona." imbuh si dokter.


Hannah lalu duduk di kursi tunggu di depan ruangan Nyonya Lee.


Dia terlihat menyeka air matanya.Berusaha menahan perasaan khawatir yang berkecamuk dalam hatinya.


Joe memposisikan dirinya duduk di sebelah Hannah.


"Sabar ya Hannah....semoga Nyonya Lee segera pulih.Oya apa Tuan Lee akan segera datang kemari?" tanya Joe sambil terus berusaha menenangkan Hannah.


"Tuan Lee sedang di luar kota.Besok pagi dia baru bisa datang.Jadi malam ini aku yang akan menemani Nyonya Lee disini." tukas Hannah.


"Aku akan menemanimu disini Hannah."


Joe merasa tidak tega melihat Hannah yang sepertinya begitu takut akan kehilangan Nyonya Lee.


"Aku tidak mau merepotkanmu.Lagipula besok kau harus bekerja kan." larang Hannah.


"Sama sekali tidak merepotkan."Joe melihat mata Hannah dan bertanya-tanya dalam hatinya kenapa Hannah sebegitu khawatirnya.


"Terima kasih." ucap Hannah singkat.


"Oya Hannah....aku perhatikan sepertinya kau sangat takut sesuatu yang buruk menimpa Nyonya Lee.Tapi sepertinya ketakutanmu tidak hanya karena hal itu." Joe memberanikan diri untuk bertanya.Tetapi Hannah hanya diam menundukkan kepalanya.


"Maaf kalau aku lancang bertanya seperti itu.Lupakan saja." imbuh Joe.dia takut menyinggung perasaan Hannah.


Hannah menghela nafas panjang lalu menyandarkan kepalanya ke tembok.


"Aku sudah kehilangan kedua orang tuaku.Dan aku tidak mau kehilangan lagi." Jawab Hannah dengan tatapan kosong.


"Maafkan aku Hannah...aku tidak bermaksud membuatmu sedih."ucap Joe lirih.


"Tidak apa-apa.Memang sudah takdirku kehilangan kedua orang tuaku.Bahkan aku menangis meratapinya sekalipun tidak akan membuat mereka kembali lagi."


Tukas Hannah.


Dan Joe tidak berani lagi bertanya lebih jauh karena takut akan menyakiti hati Hannah.


"Kasihan sekali dia.Pantas saja dia sebegitu khawatirnya saat Nyonya Lee masuk rumah sakit" Gumam Joe dalam hati.Dia merasa begitu iba dengan keadaan Hannah.


Mereka berdua masih terduduk di kursi tunggu dengan hanya saling diam.


.


.


.


.


.


*********


Like dan Vote ya readers tersayang.