
Makan malam telah selesai.Meja pun sudah bersih dari gelas dan piring piring kotor.
Mereka berempat masih asyik mengobrol di meja makan itu.
Candaan ringan pun mereka selipkan diantara obrolan hangat satu keluarga tersebut.
"Oya Mike....kapan kau ajak kekasihmu untuk ikut makan malam dengan kita ?"
pertanyaan Emma sontak membuat Mike yang tadinya tertawa kecil dengan Isabel jadi terdiam dan memandang Emma dengan wajah memerah.Seketika suasana jadi hening.
"Ha..ha..ha...!" tawa isabel memecah keheningan diantara mereka.
"Kekasih siapa yang mau diajak makan malam Ma ?" goda Isabel pada kakaknya itu.Isabel tahu betul kalau kakaknya itu belum punya kekasih.
Mike memandang adiknya dengan tatapan tajam.
"Isabel...!!" seru Mike sambil mencubit lengan Isabel yang duduk di sebelahnya.
"Aww...! Sakit kak..!" Isabel mengelus elus lengannya yang sedikit memerah karena cubitan kakaknya.
"Loh....bukannya Jessica itu kekasihmu Mike ?" Tanya Emma.Karena setau Emma Mike sedang dekat dengan perempuan bernama Jessica.Teman kuliah Mike dulu.
"Ma....Mike dan Jessica hanya berteman." jelas Mike.
Tapi lagi lagi adiknya tertawa mendengar ucapan Mike.
"Berteman....karena kakak tidak berani menyatakan perasaannya." Celetuk Isabel.
"Benarkah itu Mike ?" tanya Jhon ayah Mike yang tak percaya anak lelakinya tidak berani menyatakan perasaan pada seorang perempuan.
"Isabel diam !" Mike terlihat kesal dengan adik semata wayangnya itu.
"Bukannya tidak berani Pa.Tapi Jessica sudah punya kekasih.Lagipula Mike juga hanya menganggap Jessica sebagai teman dan tidak lebih."imbuh Mike.
"Sudah...sudah....Lantas siapa kekasihmu sekarang Nak ?" Emma masih mencecar Mike dengan pertanyaan yang sama.
"Tidak ada Ma.Mike ingin fokus mengurus perusahaan dulu." tukas Mike dengan seribu alasannya.Karena sebenarnya Mike memang sempat jatuh hati pada Jessica.Tapi karena Jessica sudah punya kekasih maka Mike tidak pernah menyatakan perasaannya.
"Mike....kau ini sudah dewasa.Jangan pekerjaan saja yang kau urusi.Pikirkanlah juga dirimu sendiri."Nasehat Emma.
"Iya Ma."saut Mike singkat.
"Ucapan Mamamu benar nak.Papa juga ingin merasakan menggendong cucu." timpal Jhon.
"Cucu..?"gumam Mike pelan.
Isabel yang mendengarnya pun sontak tertawa terbahak bahak lagi.Dia merasa lucu melihat raut wajah kakaknya.
"Apa kita carikan jodoh saja untuk Mike , Pa ?" Emma sengaja menggoda anak sulungnya itu.
Dan benar saja wajah Mike langsung memerah.
"Tidak...tidak....Mike tidak mau dijodohkan..!" jawab Mike spontan.
Lalu terdengar ketiga anggota keluarganya yang lain tertawa terbahak bahak melihat reaksi Mike .
"Biarkan saja Mike menentukan pilihannya sendiri." saut Jhon sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.
"Mike pamit ke kamar dulu Ma Pa....suasana sudah tidak kondusif disini."Mike sengaja menghindar dari topik pembicaraan mereka.
Jhon,Emma dan Isabel kembali tertawa terpingkal pingkal dengan ulah Mike itu.
Mike berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya sambil menggerutu kesal dengan obrolan di ruang makan tadi.
"Jessica..." Gumamnya pelan.
*************
Di rumah sakit
Hannah sudah terlelap lagi dalam tidurnya.
Joe masih setia menunggu Hannah di ruangannya.
Lalu dia teringat kalau harus memberi tahu Tuan Lee tentang Hannah yang mengalami kecelakaan.
Joe beranjak dari duduknya.Dia melangkahkan kakinya keluar ruangan Hannah.Perlahan dia menuju ke ruang tempat Nyonya Lee dirawat.
Joe mengetuk pintu ruangan Nyonya Lee.Dia masuk dan dilihatnya Tuan Lee sedang duduk di sebelah pembaringan Nyonya Lee.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya Lee" sapa Joe kepada Lee bersaudara itu.
"Joe " balas Tuan Lee.
"Apa kau bersama Hannah ?" tanya Nyonya Lee.karena biasanya Hannah sudah berada disana di jam itu untuk menemaninya sekedar berbincang ringan.
"Eh....tidak Nyonya." Jawab Joe dengan raut wajah bingung hendak berkata apa.Karena dia tidak ingin Nyonya Lee khawati yang bisa membuatnya anfal lagi.
"Ada apa Joe ? Apa yang kau sembunyikan ?" Nyonya Lee seakan bisa membaca isi pikiran Joe.
"Eh..ti-tidak ada Nyonya.Hanya saja malam ini Hannah tidak bisa datang.Dia sedang tidak enak badan." jawab Joe berusaha menghindari pertanyaan lebih jauh dari Nyonya Lee.
"Anak itu.....susah sekali dikasih tahu.Pasti dia kelelahan lagi.Dasar tidak bisa menjaga diri sendiri."gerutu Nyonya Lee yang sepertinya hafal betul dengan kebiasaan Hannah.
"Sepertinya dia memang terlalu keras bekerja Nyonya." timpal Joe.
"Kau jangan memberinya pekerjaan yang terlalu berat..! Kasihan dia.Hidupnya sudah terlalu menderita tanpa harus kau beri dia pekerjaan berat" kata Nyonya Lee sambil menunjuk ke arah Tuan Lee.
"Kakak....Hannah itu sangat keras kepala.Dia seperti tidak bisa diam.Apapun ingin dia lakukan saat bekerja." saut Tuan Lee.
"Nak....tolong jagalah Hannah.Selama dia sakit tolong ingatkanlah dia untuk makan dan minum obat.Nenek sangat menyayanginya." pinta Nyonya Lee pada Joe seraya memegang tangan Joe yang ada disampingnya.
"Nyonya Lee tenang saja.Saya akan menjaga Hannah."Joe menenangkan Nyonya Lee.
"Terima kasih Nak." senyuman yang tersirat di wajah tua Nyonya Lee terlihat begitu tulus.
"Pasti....aku pasti menjaga Hannah." gumam Joe dalam hati.
"Tuan Lee.....bisa kita bicara sebentar ?" Joe mengisyaratkan pada Tuan Lee untuk keluar dari ruangan itu.
" Baiklah."Tuan Lee mengikuti langkah kaki Joe keluar ruangan.
Sampai di depan pintu ruangan Joe baru memberi tahu pada Tuan Lee kalau Hannah sebenarnya mengalami kecelakaan.
" Maafkan saya Tuan....saya tidak bisa memberitahukan keadaan Hannah di depan Nyonya Lee." kata Joe.
"Tentu tidak apa apa Joe.Justru akan lebih baik kalau kakakku tidak mengetahuinya." saut Tuan Lee.
"Baiklah Tuan...kalau begitu saya mau kembali ke ruangan Hannah lagi.Kasihan dia kalau sendirian.Sampaikan salam saya pada Nyonya Lee." pamit Joe.
" Iya Nak....nanti aku akan menjenguk Hannah." Tuan Lee mempersilahkan Joe pergi.
Joe pun segera kembali ke ruangan Hannah.