Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
KERAGUAN JESSICA



Sudah beberapa hari Joe tidak datang ke kedai.Dan sudah beberapa hari juga Hannah tidak bertemu Joe.


"Beberapa hari ini aku tidak melihat Joe.Apa dia sakit ?" tanya Eve pada Hannah yang sedang sibuk membersihkan meja.


"Mana aku tau." jawab Hannah cuek sambil terus melanjutkan aktivitasnya.


"Kau kan dekat dengannya.Harusnya kau tau." tutur Eve.


"Memangnya aku siapa harus tau dimana dan apa yang Joe lakukan." Hannah masih cuek.


"Telponlah dia.Barang kali dia sedang sakit." Suruh Eve.


Hannah tampak berpikir sejenak.Lalu dia meraih ponsel yang ada di saku celananya dan menekan nomor telpon Joe.


Satu panggilan tidak terjawab.


"Tidak diangkat." kata Hannah pada Eve.


"Coba sekali lagi." suruh Eve.


Dua panggilan dan masih tidak terjawab.


"Mungkin dia sedang sibuk." kata Hannah yang langsung memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


Hannah melanjutkan pekerjaannya.Dan saat dia melihat keluar melalui dinding kaca kedai itu dia melihat Mike keluar dari rumah makan yang ada di seberang kedai.Hannah segera berlari keluar kedai untuk menemui Mike.


"Tuan....Tuan....!" Hannah berlari sambil berteriak memanggil Mike.


Namun terlambat.Mike sudah terlanjur masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menjauh dari rumah makan.


Hannah sempat mengejar mobil Mike hingga ke jalanan tapi tetap saja mobil Mike tidak berhenti.


"Apa dia tidak melihatku." keluh Hannah yang merasa lelah mengejar mobil Mike.


Akhirnya Hannah berbalik kembali ke kedai.


"Kenapa kau berlari seperti itu ?" tanya Eve yang melihat temannya itu masih tampak lelah setelah tiba-tiba berlari ke jalanan.


"Aku hanya ingin mengembalikan jas milik orang tadi." jawab Hannah.


"Jas ?" Eve mengernyitkan dahinya.


"Iya.Beberapa hari lalu waktu Joe mengajakku ke acara peresmian perpustakaan tanpa sengaja aku menumpahkan minuman ke jas orang tadi.Dan sebagai gantinya aku harus mencucinya." terang Hannah.


"Orang yang keluar dari rumah makan di seberang tadi ?" Eve memastikan.


"Iya." jawab Hannah singkat.


"Hei...bukankah itu si Tuan Tampan yang dulu kau cium dadanya ?" Eve tertawa menggoda Hannah.


Hannah hanya tersenyum.Dia teringat ketika dia memeluk jas itu sampai ketiduran.


"Kenapa kau tersenyum begitu ?" Eve heran melihat temannya itu senyum-senyum sendiri.


"Tidak.Siapa yang senyum ?!" Hannah berkilah.


"Jangan-jangan kau suka dengan Tuan Tampan itu " tebak Eve.


"Bicara apa kau ini." jawab Hannah yang kemudian pergi ke toilet untuk menghindari pertanyaan lebih jauh dari Eve.


"Apa yang aku pikirkan." gumam Hannah yang tak bisa berhenti membayangkan aroma parfum dari pemilik jas itu.Seolah Hannah selalu ingin menghirupnya.


*****


Lain lagi dengan Mike.Sebenarnya Mike melihat Hannah mengejarnya dari kaca spion.Tetapi dia sengaja tidak menghentikan mobilnya.


Wajah Hannah saat mengejar mobil Mike terlihat lucu.Jadi Mike sengaja tidak menghentikan laju mobilnya.


"Wajahnya lucu sekali." kata Mike lirih.Lalu dia teringat wajah Hannah saat menumpahkan minuman di pakaiannya.


Wajah dengan riasan natural yang menggemaskan.Sangat berbeda dengan wajah yang dia lihat waktu di rumah sakit.


"Apa menariknya gadis itu.Kenapa wajahnya sering muncul dikepalaku." gumam Mike.


Dering ponsel Mike membuyarkan pikiran Mike tentang Hannah.


Mike melihat layar ponsel yang ada di kursi sampingnya.Disitu terlihat nama Jessica yang memanggil.


"Jessica." Mike mengaktifkan bluetooth di telinganya dan mulai menjawab panggilan Jessica.


"Hallo." kata Mike.


"Aku sudah makan Jess." Jawab Mike.Jessica mengajak Mike untuk makan siang.


"Baiklah tunggu disana saja." Mike mematikan panggilannya dan segera melaju ke tempat dimana Jessica menunggunya.


Mike tiba di sebuah rumah makan dan memarkirkan mobilnya di halaman rumah makan itu.


Mike masuk dan mencari keberadaan Jessica di sana.


Setelah menemukan Jessica,Mike menghampirinya.


"Hai." sapa Mike seraya duduk di kursi yang berseberangan dengan Jessica.


"Kau sudah datang." balas Jessica.


"Ada apa kau memintaku datang kemari ?" Tanya Mike.


"Aku butuh teman bicara Mike." Jessica menunjukkan wajah bimbang.


"Apa kau ada masalah ?" Mike memastikan.


Jessica terdiam.Dia bingung.Menjelang hari pernikahannya dia malah meragukan perasaannya pada Tony.


"Aku bingung Mike.Aku merasa tidak yakin dengan pernikahan ini." tutur Jessica.


Mike mengernyitkan dahinya.Entah dia senang atau tidak mendengar perkataan Jessica itu.


"Memangnya apa yang kau ragukan ?" tanya Mike kemudian.


"Entahlah....aku sendiri juga tidak tau.Sudah lama aku memimpikan pernikahan ini.Tapi menjelang hari yang aku nantikan,aku malah merasa ragu apakah ini keputusan yang tepat atau tidak untukku." jelas Jessica


"Mungkin itu yang dinamakan syndrome pre-wedding. Bukankah tujuanmu memang untuk menikah dengan Tony ?.Jadi buat apa ragu lagi." Mike berusaha bersikap netral.


"Bisa jadi seperti itu.Tapi aku benar-benar bingung dengan yang aku rasakan saat ini." tutur Jessica.


"Aku sudah lama mengenalmu Jess.Kau hanya merasa gugup saja.Sudah jangan terlalu dipikirkan." Mike meyakinkan Jessica.


Jessica mengangguk mendengar nasehat Mike.


"Jess aku tidak bisa lama-lama karena aku masih ada pekerjaan." Mike pamit karena dia masih ada urusan di tempat lain.


"Terima kasih ya Mike sudah membuatku sedikit lebih tenang." ucap Jessica.


Mike meninggalkan Jessica di rumah makan itu.


Jessica memperhatikan Mike dari belakang.Tatapan matanya masih menyiratkan kebimbangan yang ada di hatinya.


"Kau yang membuatku ragu Mike." gumam Jessica dalam hati.