
Mike memarkirkan mobilnya di belakang mobil Joe.Mike turun dari mobil dan berjalan santai ke rumah sederhana Hannah.
Mike mengetuk pintu rumah Hannah dan tak butuh waktu lama Joe sudah membukakan pintu untuknya.
"Masuklah." seru Joe.
Mike melangkahkan kakinya memasuki rumah itu.Rumah yang sangat sederhana menurut Mike.
Joe mengajak Mike untuk duduk di sofa bergabung dengan Eve.
"Hai...Tuan Tampan !" sapa Eve pada Mike.
Mike hanya membalas sapaan Eve dengan senyuman.
"Bagaimana kondisinya ?" Mike begitu ingin tau kondisi Hannah.
"Dia sedang tidur.Tadi siang dia demam tinggi." jawab Joe.
"Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja?" Mike mengernyitkan dahinya.
"Dia itu sangat keras kepala." timpal Eve.
"Dia memang keras kepala." batin Mike.
Joe hanya diam.Dia tidak ingin menceritakan apa yang dia temukan tadi siang.Karena sepertinya Hannah tidak ingin membagi kisah hidupnya dengan sembarang orang.
"Oya Mike.....apa yang mau kau bicarakan denganku ?" Joe teringat alasan Mike menyusul dirinya kesana.
"Aku ke kamar Hannah dulu.Aku tidak akan paham apa yang mau kalian bicarakan." sela Eve.Eve meninggalkan Mike dan Joe karena dia mengira yang akan mereka bahas adalah urusan bisnis.
Joe dan Mike tersenyum mengiyakan.
Mike mengalihkan pandangan pada Joe.
"Oh iya....soal itu.Eh...."Mike bingung harus mulai darimana.Mike menggaruk kepala belakangnya.Karena sebenarnya alasan utamanya adalah ingin melihat kondisi Hannah.
Joe tertawa melihat gelagat Mike.Tidak biasanya dia seperti itu.
"Kau kenapa ?" tanya Joe diselingi tawanya.
"Aku bingung harus mulai darimana."
"Masalah apa ?" desak Joe.
Mike memperbaiki posisi duduknya.Dan dia mulai berbicara.
"Soal rumah."
Mendengar jawaban Mike wajah Joe langsung berubah serius.
"Maksudnya ?"
"Sekretarisku memberitauku kalau pamannya membeli sebuah rumah dari pelelangan.Rumah sederhana.Aku pikir akan cocok dengan yang kau cari." terang Mike.
Joe menatap serius pada Mike.Dia tidak mau melewatkan informasi sedikitpun.
"Dimana lokasi rumah itu ?" tanya Joe.
"Disini."Jawab mike.
Joe terkejut mendengar jawaban Mike.Kedua alisnya hampir menyatu.
"Rumah ini ?" tanya Joe.
Mike mengangguk lalu menyebutkan alamat rumah sederhana itu.
"Jl.Orchid No.7."
"Jadi rumah ini sudah di lelang ? Kapan ?" Joe menggeser duduknya.Kedua lengan Joe bertumpu pada lututnya.
"Baru-baru ini." jawab Mike.
Joe mengangguk.Mulai mengurai benang kusut dalam pikirannya.
"Aku meminta sekretarisku untuk membujuk pamannya agar mau menyewakan rumah ini dengan harga sewa bulanan." tambah Mike.
"Dan..?" Joe menunggu kelanjutan cerita Mike.
"Pamannya bersedia." Mike tersenyum.
Joe ikut tersenyum senang mendengar berita dari Mike.
Senyum Joe tidak bertahan lama.Wajah Joe berubah serius lagi sambil bertanya.
"Mhm...Mike...apa kau tau siapa yang melelang rumah ini ?"
Mike tampak berpikir.Kalau dia jujur Joe bisa saja bertanya langsung pada orangnya tentang kepemilikan rumah itu sekarang.Dia akan merasa sangat tidak enak dengan Joe.
"Mike ?" Joe menyadarkan Mike dari lamunannya.
"Eh...Iya..." Mike tergagap mendengar suara Joe.
"Apa kau tau siapa yang melelang rumah ini ?" Joe mengulangi pertanyaannya.
"Aku tidak tau."jawab Mike singkat.
"Siapapun yang melelang yang penting kita sudah menemukan rumah untuk Hannah.Bahkan tanpa harus pindah." Mike mencoba memupus rasa penasaran Joe.
Joe berpikir yang dikatakan Mike ada benarnya juga.Lagi pula dia tidak bisa menceritakan tentang masa lalu Hannah pada Mike.
"Pergi....! Pergi....! Jangan mengganguku lagi...!" terdengar suara Hannah berteriak dari dalam kamar.
Mereka yang ada di ruang tamu sontak berlari menuju kamar Hannah.
"Dia mengigau.Sepertinya demamnya tambah tinggi."Eve meletakkan punggung tangnnya pada kening Hannah.
Wajah Hannah sangat pucat.Keringat bercucuran di keningnya.Bahkan badan Hannah tampak menggigil.
Joe sangat khawatir.Sangat jelas terlihat dari raut wajahnya.
Mike juga tak kalah khawatir.Tetapi dia masih bisa mempertahankan wajah tenangnya.
"Aku akan bawa dia ke rumah sakit."Joe tidak pikir panjang.Dia membopong tubuh lemah Hannah dan membawanya masuk dalam mobil.Hannah bahkan tidak menyadari kalau dirinya sedang dipindah tempatkan.
Mike mengikuti mereka dari belakang.
"Aku akan ikut denganmu." Eve ikut masuk dalam mobil Joe setelah mengunci rumah Hannah.
Mike pun masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti laju mobil Joe.Sepanjang jalan Mike terus memikirkan Hannah.Apa yang sudah dialami oleh gadis itu sepertinya benar-benar sesuatu yang sangat berat.
Sesampainya di rumah sakit para perawat segera memberikan pertolongan pertama pada Hannah.Lalu dokter mulai memeriksa kondisi Hannah di ruang pemeriksaan.
Yang paling terlihat khawatir adalah Joe.Dia mondar mandir menunggu hasil pemeriksaan dokter.
Mike berdiri berdampingan dengan Eve sambil terus memperhatikan Joe yang terlihat tidak tenang sama sekali.
Mike berpikir Joe pasti sangat menyukai Hannah karena sikapnya yang begitu perhatian pada Hannah.
Begitu dokter selesai memeriksa Hannah,mereka bertiga segera berkerumun mengelilingi si dokter.
"Bagaimana Dok keadaan Hannah ?"
Joe bertanya dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Demamnya sangat tinggi.Dia juga kekurangan cairan.Jadi sebaiknya dirawat inap disini.Untuk selebihnya kita tunggu hasil laborat dulu."jelas dokter itu.
"Lakukan yang terbaik untuknya Dok." saut Joe.
Dokter itu tersenyum lalu pamit pada mereka bertiga.
Mike,Joe dan Eve segera mendekat pada Hannah yang masih terbaring lemah diatas pembaringan dengan selang infus yang menempel di punggung tangannya.
"Kasihan sekali dia." gumam Joe.
"Sebenarnya ada apa dengan Hannah, Joe? Kenapa dia mengigau seperti itu ? Apa ada orang yang mengganggunya ?"Eve mencecar Joe dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin Joe jawab.
"Sepertinya hari-hari Hannah sangat berat belakangan ini.Mungkin karena dia frustasi harus segera pindah dari rumahnya."Joe masih belum mau membuka masa lalu Hannah.Karena Hannah pasti tidak akan suka jika mengetahuinya.
Sementara Mike masih terdiam di sebelah Joe dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celananya.Dia terus memperhatikan wajah Hannah yang sangat pucat dan rambutnya yang berantakan.
Banyak pertanyaan yang muncul di benak Mike tentang Hannah.
Tak berapa lama dua orang perawat datang untuk memindahkan Hannah ke bangsal perawatan.Dan tak butuh waktu lama Hannah sudah berada di bangsalnya.
"Sebaiknya kau pulang.Besok kau harus kerja kan.Aku akan menjaga Hannah disini." suruh Joe pada Eve.Karena esok paginya Eve harus bekerja.
"Baiklah.Tolong jaga Hannah.Kalau ada apa-apa tolong hubungi aku."Eve bersiap untuk pulang.
***
Mike dan Joe duduk bersebelahan di kursi tunggu yang ada di depan bangsal Hannah.Joe masih tampak khawatir meskipun sudah tidak sekhawatir tadi.
"Aku rasa kau jatuh cinta padanya." celetuk Mike dengan melirik temannya itu.
Joe spontan melirik tajam pada Mike.
"Apa maksudmu?" Joe memicingkan matanya.
Mike tersenyum lalu berkata,
"Sikap dan perhatianmu pada Hannah."
"Jangan salah paham.Aku memang khawatir dengannya.Tapi aku tau batasanku." Joe tersenyum tipis.
Mike menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.Begitu pula dengan Joe.
"Hannah tidak seperti gadis lainnya.Kalau kau tau apa yang sudah dilalui Hannah dalam hidupnya.Kau pasti akan bersikap sama sepertiku." Joe membayangkan betapa rapuhnya Hannah dibalik ketegarannya.
"Oya....?! Memangnya apa yang sudah dilalui Hannah ?" Mike semakin penasaran.Tatapan mata Mike pada Joe mengandung segudang pertanyaan.
Joe mendengus dan tersenyum.Dia tidak mungkin menceritakan kehidupan masa lalu Hannah.
"Dia tidak akan suka kalau aku memberitaumu."Dengus Joe.
Mike hanya membalas ucapan Joe dengan senyuman.Meskipun sebenarnya dia sangat ingin mengetahuinya.
*
*
*
*
*
Selamat membaca readers.....
Mohon maaf kalau update nya lama.
Tapi tetap diupayakan tiap hari update ya.
Salam sayang dari authorπππππ