Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
PRE-WEDDING SYNDROME



Joe berjalan keluar dari kamar Hannah dan menutup kembali pintu kamarnya.


Joe menatap kemeja Hannah dengan tatapan penuh amarah.Ada perasaan tidak rela di hatinya ketika Hannah mengalami hal buruk.Joe merasa penderitaan Hannah sudah cukup menyakitkan.Tapi meskipun sudah berpisah sepertinya mantan suami Hannah tidak akan melepaskan Hannah dengan mudah.


Joe mencengkeram erat kemeja itu dan melemparnya ke tempat sampah yang ada di luar kamar Hannah.


Joe menarik nafas dalam lalu bergegas membelikan makanan untuk Hannah.


***


Mike sudah berada di sebuah cafe menunggu Joe untuk membahas proyek baru mereka saat dia menelpon Joe.


Selain membicarakan proyek baru dengan Joe,Mike juga ingin membicarakan soal rumah untuk Hannah.


Namun ketika Joe membatalkan pertemuannya dengan alasan sedang menuju ke rumah Hannah,timbul rasa penasaran yang menggebu di hati Mike.Apa yang terjadi dengan gadis itu.Sepertinya Joe sangat khawatir padanya.


Mike memesan makanan dan minuman di cafe itu dan menikmatinya sendirian.Pikirannya terus berkutat tentang Hannah.Dia juga heran dengan dirinya sendiri kenapa sosok Hannah begitu menarik perhatiannya.


"Sepertinya Joe menyukai gadis itu."gumam Mike.


Tiba-tiba Mike menarik kedua sudut bibirnya keatas.Dia tersenyum mengingat wajah cemong Hannah dan ekspresinya ketika dia menyuruhnya masuk ke kolong mobil.


"Gadis itu polos apa bodoh ?" Mike masih tersenyum sendiri.Seakan begitu gemas dengan tingkah Hannah.


"Tapi kenapa waktu itu dia tampak linglung.Seperti ada beban berat yang dia pikul." Senyum Mike sirna.


Mike berpikir keras.Dia sangat ingin menyusul Joe ke rumah Hannah untuk mengetahui apa yang terjadi dengan gadis itu.


Mike meminta tagihan pada pelayan cafe.Dia keluarkan selembar uang kertas dan membayar pesanannya tadi.


Mike membereskan map yang berisi berkas kerjasama yang semula akan dia bahas dengan Joe.Lalu beranjak berdiri.


Sentuhan lembut tangan seorang perempuan di lengannya membuat Mike menoleh ke arah perempuan yang sedang berdiri di belakangnya.


"Mike." Jessica meraih lengan Mike.


"Jess ? Apa yang kau lakukan disini ?" Mike mengernyitkan dahinya.


Wajah Jessica terlihat murung.Sepertinya dia sedang ada masalah.


"Apa kau ada waktu ?" tanya Jessica.


"I-iya....Ada apa ? " Mike mengurungkan niatnya untuk menyusul Joe.


Mike duduk kembali ke kursi yang dia duduki tadi.Disusul Jessica di seberang Mike.Jarak antara mereka hanyalah sebuah meja kotak yang ada di hadapan mereka itu.


Mike memperhatikan ekspresi Jessica yang seperti sedang merasa bingung.


"Ada apa Jess ?" tanya Mike.


Jessica menunduk.Sayup terdengar isakan tangis Jessica dengan air mata di ujung mata yang mengiringinya.


Mike meraih tangan Jessica yang berada di atas meja.


"Hei....kenapa kau menangis ?"


Jessica menatap Mike dengan mata yang memerah dan berair.


"Aku tidak bisa meneruskan rencana pernikahanku Mike." ucapnya lirih.


Mike terkejut mendengarnya.Beberapa waktu lalu Jessica ragu dengan pernikahannya.Dan sekarang dia mengatakan tidak bisa meneruskan rencana itu.Sebenarnya apa yang terjadi dengan Jessica.Seperti yang Mike ketahui.Jessica sangat mencintai Tony tunangannya.Tapi kenapa sekarang dia berbicara seperti itu.


"Kau ini bicara apa ? Jangan berpikir konyol." kata Mike dengan senyum menenangkannya.


"Dia selalu mencurigaiku mempunyai hubungan dengan laki-laki lain.Padahal kau tau sendiri aku tidak pernah macam-macam di belakangnya." terang Jessica dengan air mata yang terus menetes dari kedua sudut mata indahnya.


Jessica diam sejenak.Dia menyeka air mata di pipinya dengan tangan yang tadi digenggam Mike.Membuat Mike melepaskan genggaman tangannya.


"Entahlah." jawab Jessica kemudian.


"Kau Mike." batin Jessica tidak bisa berbohong.Karena semenjak dia menerima lamaran Tony entah kenapa dia tidak bisa berhenti memikirkan Mike.Betapa Mike sangat peduli dan baik padanya.Sehingga dia ragu apakah keputusannya menikah dengan Tony itu keputusan yang tepat.


"Ayolah Jess....Aku sudah mulai bisa merelakanmu untuk bahagia." hati Mike bergejolak.Jessica adalah gadis yang baik.Mike tidak ingin menjadi batu penghalang karena sejak awal mengenal Jessica,Mike sudah mengetahui kalau Jessica sudah punya kekasih dan sangat mencintai kekasihnya itu.


"Jess....jangan biarkan keraguanmu menghalangi kebahagiaanmu.Pernikahanmu tinggal sebulan lagi.Aku tau kau sangat mencintai Tony.Kau harus membicarakan ini dengannya baik-baik."


Ada sedikit rasa getir ketika Mike mengucapkan kata-katanya itu.


Jessica tampak diam dan menunduk mencerna kata-kata Mike.Dia merasa setiap kata yang di ucapkan Mike sangat menyayat hatinya.


"Kumohon Mike jangan bicara seperti itu." batin Jessica.


Mike menyilangkan kedua tangannya diatas meja.Dia memiringkan wajahnya agar bisa melihat wajah Jessica yang tertunduk.


"Hei...Ini hanyalah pre-wedding syndrome. Kau harus bisa melaluinya.Oke." kata Mike dengan mengembangkan senyumnya.


Jessica mengalihkan pandangan nanarnya pada Mike saat mendengar kata-kata itu.


"Apa memang seperti itu ?" batin Jessica.


"Mungkin kau benar Mike." kata Jessica kemudian.


"Hapuslah keraguanmu.Temui Tony dan tunjukkan bahwa kau sangat mencintainya.Aku yakin dia bisa memahamimu." Mike tersenyum menenangkan.


Ada senyum kecil yang mengembang di bibir Jessica.Jessica memikirkan apa yang dikatakan Mike.Mungkin saja perasaannya terhadap Mike hanyalah semu.Hanya karena Jessica takut akan kehilangan perhatian Mike saat dirinya sudah menikah dengan Tony.Karena Jessica sendiri juga merasa sangat nyaman dengan sikap dan perhatian Mike.


"Kau kesini naik apa? Mau kuantar kau pulang ?" tanya Mike kemudian.


"Tidak perlu.Aku membawa mobil sendiri." jawab Jessica dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


Mike melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.Dan Jessica memperhatikan itu.


"Kau pasti masih banyak pekerjaan." ucap Jessica.Mike hanya tersenyum.


"Pergilah.Aku masih ingin disini."sambung Jessica.


"Pikirkanlah apa yang aku katakan tadi."Mike meyakinkan Jessica.


Jessica mengangguk.


Mike beranjak berdiri dan tangan Jessica menahan tangan Mike.


"Terima kasih." katanya lalu melepaskan tangan Mike.


Mike hanya tersenyum sambil memandang wajah sendu Jessica.


Mike berjalan meninggalkan Jessica.


Jessica masih memperhatikan Mike yang perlahan hilang dibalik pintu cafe.


"Kau selalu bisa menenangkanku Mike." gumam Jessica lirih.


Mike masuk ke dalam mobilnya dan melempar map yang dia bawa ke kursi di sampingnya.


Mike terdiam sejenak.


"Aku ingin kau bahagia Jess." ucapnya lirih.


Mike menyalakan mesin mobil dan perlahan melesatkan mobilnya meninggalkan cafe itu.