
Jangan lupa like,comment dan vote ya dears !
Happy reading !
*****
Agenda hari ini adalah berkunjung ke kediaman Grandma Melly. Ini adalah pertama kalinya Baby Liam akan berkunjung kesana.
"Yakin tidak mau mengajak baby sitter ?" Sempat terjadi perdebatan antara Mike dan Hannah soal mengajak baby sitter untuk membantu Hannah menjaga baby Liam selama berkunjung ke kediaman Melly. Bukan Hannah namanya kalau tidak bersikeras menjaga baby Liam dengan tangannya sendiri. Dan beginilah akhirnya. Mike selalu mengalah selama keinginan istrinya tidak membahayakan kesehatan.
Setelah melahirkan baby Liam, Hannah mengalami penurunan kondisi fisik yang cukup drastis. Dengan riwayat aborsi dua kali, tentu saja itu ulah Harry, kehamilan ketiga Hannah memang beresiko. Ditambah kecelakaan di kamar mandi yang menyebabkan Hannah harus melahirkan baby Liam sebelum waktunya. Membuat kondisi fisiknya tidak sekuat dulu lagi.
Sedikit saja pressure entah secara fisik ataupun psikis bisa sangat mempengaruhi kesehatan Hannah. Dan itu membuat Mike semakin berhati-hati bersikap pada istrinya. Tidak ingin membuat istri yang sangat dia cintai mengalami tekanan dalam bentuk apapun di hidupnya.
Dan satu lagi. Mike sama sekali tidak berencana menambah momongan. Meskipun dia sangat menginginkannya. Tapi dia tidak ingin memaksakan egonya dengan mengorbankan keselamatan Hannah.
Jelas-jelas dokter sudah memberi peringatan. Hannah masih bisa hamil lagi. Tapi resikonya akan jauh lebih tinggi dibandingkan waktu hamil baby Liam.
Seperti menjadi momok untuk Mike. Sekarang yang utama baginya adalah senyum ceria anak dan istrinya. Baby Liam saja sudah cukup membuatnya sangat bahagia.
"Aku bisa menjaganya sendiri. Lagipula disana nanti ada Mama Melly. Kau jangan terlalu meremehkanku." Hannah meyakinkan suaminya.
Sebenarnya Hannah merasa kurang nyaman. Karena sekembalinya dari rumah sakit dia tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan apapun. Bahkan Mike menyediakan asisten khusus yang siap melayani segala kebutuhan Hannah.
Dia merasa sikap Mike terlalu berlebihan. Dia yang biasanya mengurus segala kebutuhannya sendirian, sekarang harus mengandalkan orang lain. Tepatnya dipaksa mengandalkan orang lain.
Hannah mengerti kenapa Mike se-protektif itu padanya. Apalagi kalau bukan karena Mike terlalu mencintainya. Kejadian tiga bulan yang lalu membuat Mike hampir gila karena terlalu takut kehilangan Hannah. Dan tentu Mike tidak akan pernah membiarkan hal seperti itu terulang kembali. Cukup sekali saja.
Mike menghela nafas. Harus banyak-banyak bersabar saat Hannah sedang dalam mode keras kepala.
"Ya sudah. Tapi ingat...jangan paksakan dirimu. Biarkan aku membantumu. Oke !" Tidak bisa lagi mencegah keinginan Hannah. Mike meraih kepala istrinya dan memberikan kecupan di keningnya.
***
Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu akhirnya mereka tiba di kediaman Melly. Pintu gerbang berwarna perak menjulang tinggi itu terbuka. Dengan kecepatan rendah Mike mengemudikan mobil memasuki gerbang itu lalu memarkirkannya di halaman.
"Hei...cucu grandma sudah datang." Suara lembut Melly menyambut kedatangan mereka bertiga. Berjalan mendekati baby Liam yang ada dalam stroller sambil tersenyum tidak sabar.
"Apa kabar Ma ?" Hannah terlebih dulu memeluk Melly. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak bertemu.
"Mama baik. Kalian apa kabar ?"
"Kami baik Ma." Jawab Mike sambil mendorong stroller.
Melly berjongkok di depan stroller lalu menoel pipi gembil baby Liam. "Cucu grandma sudah besar. Menggemaskan sekali." Katanya.
"Sini biar Mama saja." Melly bangkit lalu mengambil alih stroller dari tangan Mike.
"Apa Joe ada di rumah ?" Tanya Mike.
"Ada. Tadi dia sedang membaca buku di ruang baca." Jawab Melly.
"Sayang aku menemui Joe dulu ya." Pamit Mike pada istrinya.
Hannah mengangguk pelan membiarkan suaminya berlalu menjauh.
"Ayo kita masuk. Kau harus menjaga dirimu untuk tidak terlalu lelah." Ajak Melly sambil mendorong stroller baby Liam.
"Ma....cukup Mike yang overprotektif terhadap Hannah. Oke ?" Hannah melirik Melly berharap ibu angkatnya itu tidak memperlakukannya seolah dirinya adalah kaca tipis yang sangat rapuh.
Ucapan Hannah dibalas dengan tawa kecil oleh Melly. Semua orang memperlakukan Hannah dengan overprotektif semata-mata karena takut hal buruk terjadi padanya. Mereka sangat menyayangi perempuan itu. Begitu pula dengan Melly. Dia tidak akan membiarkan anak angkatnya terluka sedikitpun.
***
Mike berjalan menuju ruang baca dimana Joe sedang sibuk menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku.
Pintu ruangan itu sedikit terbuka. Dan ketika Mike sampai di depan pintu itu, dia bisa melihat Joe yang tengah serius dengan bacaannya.
Perlahan Mike membuka pintu di depannya.
"Kakak ipar !" Sapanya yang membuat Joe terhenyak karena terkejut.
Pandangan Joe beralih pada sosok yang melongokkan kepala dari balik pintu. Seketika sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
"Mike ? Kapan kau datang ?" Joe menutup buku bacaannya. "Dan jangan membuatku terlihat tua dengan panggilan itu. Kita lahir di tahun yang sama bukan ?" Jari telunjuk Joe mengarah pada Mike lalu beranjak menghampiri sahabatnya yang kini tengah membuka pintu itu dengan lebar.
"Aku baru saja datang." Saut Mike tanpa mempedulikan protes dari Joe.
"Oya ? "Joe menggiring sahabatnya itu menuju ruang keluarga yang letaknya tepat di depan ruang baca agar lebih nyaman untuk mengobrol.
"Dimana Hannah dan baby Liam ?" Tanya Joe dengan mata celingukan mencari keberadaan kedua orang yang dia maksud.
Kedua orang itu duduk di sofa. Lalu tak lama berselang pembantu datang membawakan minuman untuk mereka berdua.
"Aku tidak sabar ingin melihat keponakanku. Pasti sangat lucu dan menggemaskan." Joe tersenyum senang.
"Itu pasti. Daddy nya saja setampan ini. Anaknya sudah pasti menggemaskan." Mike terkekeh mengedikkan bahu sombong.
"Sepertinya wajah menggemaskan itu di turunkan dari Mommy nya. Bukan dari Daddy nya. " Joe tak kalah menjatuhkan kepercayaan diri Mike.
"Mana ada ? Kalau dia tampan pasti itu diturunkan dariku." Mike menyesap minuman di hadapannya lalu perlahan meletakkan gelasnya diatas meja.
"Tapi aku bilang menggemaskan. Bukan ketampanannya." Joe tergelak. Sahabatnya ini memang sangat membanggakan ketampanan anaknya. Tapi tidak salah juga, karena wajah baby Liam memang sangat tampan dan menggemaskan. Mata biru jernih yang indah dan hidung mancung milik Mike melekat disana. Bibir mungil dan rambut coklat yang diturunkan dari Hannah. Sungguh kombinasi yang sangat sempurna. Membuat siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh cinta.
Tawa mereka terhenti saat melihat dua wanita dengan stroller berwarna hitam muncul dari arah ruang tamu.
Segera Joe menghampiri baby Liam yang sedang di dorong dalam stroller oleh Melly.
"Hei....keponakan uncle yang lucu. Uncle sangat merindukanmu." Joe mencubit gemas pipi bayi itu sambil mengerutkan hidung.
"Jangan mencubitnya seperti itu ! Kau bisa menyakitinya !" Sergah Melly.
"Salah siapa punya wajah yang menggemaskan seperti ini ?" Joe masih menoel dan mencubit wajah gembil itu. Saking gemasnya sampai sudut bibir mungil baby Liam itu tampak tertarik ke bawah dengan wajah berubah merah. Dan.....suara tangis bayi itupun terdengar sangat nyaring dalam sekejap.
"Mama bilang juga apa ? Kau membuatnya menangis." Melly segera mengangkat baby Liam dalam gendongannya.
"Jangan menyalahkan wajahnya yang menggemaskan. Kau ini sama saja dengan dia." Mata Hannah melirik pada suaminya yang tampak menikmati pemandangan di depannya. Karena tidak hanya dirinya yang menjadi korban bully dari para wanita di sekeliling baby Liam.
"Kenapa melihatku seperti itu ? Aku bahkan tidak melakukan apapun." Protes Mike.
"Kalian para laki-laki selalu saja membuat anakku menangis." Tangan Hannah ikut mengusap punggung baby Liam yang berada dalam gendongan Melly. Tapi matanya melirik pada suaminya sambil mencebikkan bibir.
"Dia anakku juga. Tanpa aku mana mungkin ada baby Liam yang tampan itu ?!" Tak mau kalah dengan istrinya.
"Sudah...sudah...kalian ini sudah punya anak masih seperti anak kecil saja." Melly meletakkan baby Liam dalam stroller lagi setelah tenang.
"Betul itu. Apa kalian tidak kasihan padaku yang masih sendiri ini ? Jangan membuatku iri pada kalian." Tambah Joe.
"Makanya cepatlah menikah." Saut Mike.
"Kau pikir mencari istri semudah membalikkan telapak tangan ?"
"Apa perlu aku carikan untukmu ?" Senyum mengejek.
"Hei, apa kau lupa ? Kau saja menikahi calon istriku. Bagaimana kau akan mencarikan istri untukku ?" Balas Joe tak kalah mengejek.
Semuanya tergelak mendengar ucapan Joe. Kejadian waktu itu memang tidak akan pernah terlupakan. Bahkan beritanya menjadi trending topik di kalangan para pengusaha dan menjadi tajuk utama di halaman depan hampir semua surat kabar.
"Jangan mengingatkanku lagi. Aku belum lupa masih berhutang pesta pernikahan padamu." Mike menghela nafas. Terkadang dia masih merasa bersalah pada Joe. Dia seperti berhutang calon istri untuk sahabatnya itu.
"Tidak perlu membebani dirimu. Uangku masih cukup banyak untuk menggelar pesta yang jauh lebih mewah daripada waktu itu." Tukas Joe.
"Maka dari itu aku harus mencarikanmu calon istri. Katakan istri seperti apa yang kau mau." Tantang Mike.
Joe tertawa mendengar ucapan Mike.
"Kau yakin mau mencarikan istri sesuai kriteriaku ?" Joe menantang balik.
"Kita lihat saja." Balas Mike.
Suara gelak tawa menggelegar di rumah itu. Kecuali kedua wanita disana yang lebih memilih untuk bermain dengan baby Liam daripada mendengarkan obrolan tidak bermutu kedua laki-laki yang bisanya membuat baby Liam menangis itu.
Aku menginginkan istri yang seperti dia.
*
*
*
*
*
satu lagi extra part sembari menunggu review '100 Days' yang tidak kunjung terbit. lama bener proses review nya yak ?!
tinggalkan jejak like,comment dan vote yang banyak genkz !
siapa tau karena support dari kalian inspirasi untuk season dua 'Her Name Is Hannah' tiba-tiba muncul. hehehe...😘
happy reading ! hope you like.