
Dua pasang mata tengah bersitatap dengan sorot mata ambigu.Tanpa ada yang menyadari apa yang sedang mereka rasakan.Waktu seakan berhenti.Hening dan hanya mereka berdua yang berada di ruangan itu.
"Hai Mike !"
Suara Joe menarik kesadaran mereka berdua kembali ke alam sadar.
Tidak ada jawaban dari yang disapa.Hanya senyum tipis yang dipaksakan sekedar untuk menghormati tamu yang sedang berkunjung.
Sementara itu teriakan dan pelukan Isabel sudah berhasil menyadarkan pikiran kacau Hannah yang sejenak menguasainya.
"Kak Hannah !" Dengan antusias gadis itu berlari dan memeluk Hannah dengan erat.
"Hai Isabel !" Membalas pelukan Isabel.
"Isabel kangen Kakak !" Masih memeluk erat sambil mengadu.
Mengelus pelan punggung Isabel, " Kakak juga kangen Isabel."
"Kenapa berdiri saja ? Ayo silahkan duduk ! Jangan sungkan !" Jhon menghentikan adegan mengharukan putrinya dan Hannah.
Semua yang ada diruangan itu pun duduk di sofa.Tak lama kemudian pembantu keluar membawakan minum dan cemilan untuk mereka.
"Ada angin apa kau datang kesini Joe ? Terakhir kesini sudah....berapa tahun itu ?" Jhon mengerutkan alisnya mengingat-ingat berapa tahun sejak terakhir Joe datang ke rumahnya.
"Terakhir waktu Joe dan Mike masih sekolah Paman." Kata Joe sambil tertawa membantu Jhon mengingat.
"Sudah lama sekali ya ? Paman senang kau mau datang kesini lagi.Bagaimana kabar Melly ?"
"Mama baik Paman."
Diujung sofa terlihat Isabel sedang bergelayut manja pada Hannah.Entah apa yang membuat gadis itu begitu manja dengan Hannah.Tapi sepertinya memang Isabel sangat berharap Hannah menjadi kakak iparnya.
"Kak...kita ke taman belakang saja ya ! Disini tidak asyik.Obrolan mereka membosankan." Gerutu Isabel yang sudah berdiri dan menarik tangan Hannah untuk mengikutinya.
"Isabel...jangan main tarik begitu ! Tidak sopan !" Melihat pandangan tajam dari Emma,Isabel berhenti menarik tangan Hannah.
"Tidak apa Tante.Saya akan ikut Isabel ke taman belakang." Hannah tersenyum lalu beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Isabel.
"Mama akan menyusul kalian." Kata Emma
Dengan sengaja Isabel menggandeng tangan Hannah dan berjalan melewati Mike yang tampak masih sibuk dengan laptopnya tanpa mempedulikan tamu yang sedang berkunjung ke rumahnya.Namun saat Hannah melintas di sampingnya,Mike tidak bisa menahan diri untuk tidak mengalihkan pandangannya dari laptop.Dan.....lagi-lagi kontak mata diantara mereka membuat hati keduanya tegang.
Saat Emma berjalan menyusul kedua gadis itu ke taman belakang, tak sengaja dia menangkap basah Mike sedang memperhatikan Hannah yang sudah beberapa langkah darinya.Emma menepuk pelan bahu Mike tanpa berhenti berjalan.Reaksi Mike tentu saja dia terkejut.Dan dengan sedikit gugup melanjutkan lagi aktivitasnya.
"Oya Paman.....Saya dengar perusahaan Paman memutuskan hubungan kerja sama dengan HWC.Apa rumor itu benar Paman ? Karena setau Saya HWC adalah salah satu mitra terpercaya Paman." Joe memuaskan rasa penasarannya.
Jhon menggeser posisi duduknya lalu menyesap kopi yang dibuatkan oleh pembantunya tadi.Setelah satu sesapan diletakkannya kembali cangkir kopi itu diatas meja.Pandangan Jhon kembali pada Joe dengan mimik wajah yang sedikit serius.
"Masalah itu...benar adanya.Mike menemukan bukti-bukti kecurangan dalam kerja sama kami.Dan itu sangat merugikan perusahaan."
Melihat temannya yang dari tadi tidak bergeming dari tempatnya membuat Joe merasa penasaran.Kenapa Mike tidak seperti biasanya ? Dia tidak terlihat seperti Mike temannya selama ini.Joe melirik sekilas pada Mike dan kembali mengarahkan pandangannya pada Jhon.
"Benarkah itu Paman ? Dia benar-benar orang yang sangat licik." Joe geram mendengarnya.
"Paman juga tidak habis pikir kenapa dia bisa berbuat semacam itu.Padahal Paman sangat mempercayainya.Pantas saja Hannah memilih berpisah dengannya." Kalimat terakhir Jhon membuat Joe sedikit tersentak.
"Paman tau kalau Harry itu mantan suami Hannah ?" Joe tidak menyangka Jhon mengetahui hal itu.
Senyum tipis merekah dari bibir pria paruh baya itu.
"Tentu saja Paman tau.Malah dulu Paman menghadiri pernikahan mereka.
Waktu bertemu di pekan raya itu Paman merasa tidak asing dengan wajahnya.Tapi Paman lupa pernah bertemu dimana."
" Joe juga belum lama mengetahuinya Paman.Memang Joe tau kalau Hannah sudah pernah menikah.Tapi tidak menyangka kalau Harry adalah mantan suaminya." Wajah Joe menyiratkan kekesalan.
"Apa dia tidak pernah bercerita padamu ?"
"Tidak Paman.Hannah adalah orang yang introvert.Dia tidak suka membagi kisah hidupnya dengan sembarang orang.Bahkan saat Harry terus menerornya,dia juga tidak mau menceritakan hal itu dengan orang lain." Suara Joe menunjukkan rasa iba yang mendalam.
Jhon mengangguk-angguk mendengar cerita Joe.Sementara diujung sana ada yang mulai kegerahan saat cerita tentang Hannah dimulai.
"Harry meneror Hannah ?" Jhon mengernyit.Seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Dan Hannah hanya memendamnya sendiri ? Padahal Paman perhatikan....hubungan kalian begitu dekat.Kenapa dia tidak pernah bercerita denganmu ? Kasihan sekali gadis itu." Jhon mendengus pelan.
"Lantas bagaimana sekarang ? Apakah Harry masih terus meneror gadis itu ?" Lanjut Jhon.
"Mmm......Tidak Paman.Saya tidak akan membiarkan laki-laki bejat itu mendekati Hannah lagi karena....." Joe berhenti sejenak.
"Sebenarnya alasan Saya dan Hannah kemari adalah untuk mengundang Paman sekeluarga ke acara pernikahan kami."
Laki-laki yang sedang memangku laptop disana tiba-tiba menutup kasar lapyopnya dan pergi meninggalkan tempatnya tadi.
Jhon menghela nafas pelan saat memperhatikan perubahan sikap anaknya.Sepertinya dia mulai menemukan alasan dibalik perubahan sikap anaknya selama ini.
Joe tidak kalah terkejut ketika melihat Mike tiba-tiba pergi meninggalkan mereka.Tidak tau alasannya apa.
"Kalian akan menikah ? Wah....selamat ya.Paman ikut senang.Pasti Paman akan datang ke acara pernikahan kalian." Jhon kembali fokus pada Joe dan ikut berbahagia.Meskipun ada sedikit ganjalan dihatinya yang sedikit mengganggu.
"Terima kasih Paman."
Sekali lagi Joe memperhatikan Mike yang sudah berada di dapur.Sepertinya sedang mengambil minum dari lemari es.Suara hentakan pintu lemari es sampai terdengar ke ruang tengah.
"Maaf Paman.....Apa Saya boleh bertanya sesuatu ?"
"Apa yang ingin kau tanyakan ?"
"Soal Mike Paman.Joe merasa sikap Mike akhir-akhir ini sedikit berubah.Apa dia sedang ada masalah ?" Jiwa detektif Joe sepertinya sangat peka.
"Sejak mengalami kecelakaan itu Paman juga merasa ada yang aneh dengan sikap Mike.Paman seperti tidak mengenalnya.Dia bersikap dingin dan acuh tak acuh pada Kami.Di kantor pun dia bersikap lebih tegas...mungkin tepatnya lebih kejam pada karyawannya." Terang Jhon.
"Kenapa bisa seperti itu Paman ?"
"Paman juga tidak tau.Tapi sepertinya Paman mulai mengetahui alasan kenapa dia bisa jadi seperti itu."Jhon menautkan kedua alisnya.
***
Di taman belakang
"Aku senang sekali Kak Hannah mau datang kesini." Isabel tak berhenti bergelayut manja pada Hannah.
"Kakak juga senang.Apalagi bisa bertemu gadis cantik sepertimu." Hannah mencubit hidung mancung Isabel.Dengan cepat Isabel menepisnya.
"Kalian ini seperti anak kecil saja ! Lihat Isabel sampai semanja itu denganmu !" Emma yang membawa nampan berisi jus jeruk memberi kode dengan matanya melirik pada Isabel yang masih memeluk erat tangan Hannah.
"Ini minum dulu." Kata Emma sambil meletakkan nampan itu meja kayu yang ada di depan kedua gadis itu.
"Tidak perlu repot-repot Tante." Hannah sungkan karena Nyonya Besar sendiri yang membawakan minuman.
Emma hanya membalas dengan senyuman.
"Kakak tau tidak....sejak mengalami kecelakaan sikap Kak Mike berubah.Dia tidak sayang lagi denganku.Tidak pernah mengajak bicara apalagi bercanda.Kakak selalu berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam.Dia tidak mempedulikan aku lagi.Kak Hannah bantu bujuk Kakakku supaya menjadi Kakakku seperti dulu lagi ya !" Mata gadis itu berkaca-kaca.Guratan kesedihan begitu nampak diwajahnya.
Tiba-tiba ada rasa sedih bersarang dihati Hannah saat mendengar keluhan Isabel.Bagaimana tidak ? Hannah sendiri merasa batinnya tersiksa saat melihat Mike.Ada pergulatan pelik dalam benaknya.
Bukan hanya karena Jessica atau perubahan sikap Mike yang seakan-akan menjadi orang asing setelah mengatakan dia mencintai Hannah.Tetapi karena perasannya yang semakin besar terhadap laki-laki itu.Rasa yang tidak bisa dia kendalikan meskipun sudah berulang kali berusaha menepisnya.Apalagi dalam waktu dekat dia akan merubah status menjadi seorang istri dimana dia tidak ingin menyakiti hati suaminya yang begitu baik padanya.
"Kakak kenapa melamun ?" Pertanyaan itu menyadarkan Hannah dari lamunannya.
"Ti-tidak....Kakak hanya sedang memikirkan apa yang kau katakan tadi." Kilahnya.
"Tante juga merasakan ada yang di sembunyikan Mike dari kami." Emma menghela nafas.
"Tapi Tante tidak tau....Entahlah...Tante juga bingung dengan sikapnya yang berubah menjadi dingin seperti itu."
"Mungkin dikantor sedang banyak masalah Tante." Hannah ambil jalan tengah.Karena tidak tau harus berreaksi seperti apa.
"Dikantor memang sedang ada masalah.Tapi Tante tau betul kalau Mike akan bersikap profesional dalam menghadapi masalah di kantornya.Dan ini.....ini sama sekali bukan sifat Mike."
Hannah semakin bingung dibuatnya.Harus memberi respon seperti apa lagi ? Hingga Isabel berceletuk yang sangat menohok untuk Hannah.
"Mungkin kalau Kak Hannah yang bicara dengan Kakak,sikapnya bisa berubah." Tatapan penuh pengharapan dari mata Isabel sukses membuat Hannah salah tingkah.
"Kenapa Kakak ?" Sautnya cepat.
Isabel masih memepertahankan tatapan permohonannya.
"Aku rasa hanya Kakak yang bisa."
Berkali-kali Hannah memeperbaiki posisi duduknya karena gugup.
"Kenapa bukan Nona Jessica saja ? Dia kan...."
"Dia tidak akan bisa !" Potong Isabel saat Hannah belum menyelesaikan kalimatnya.
"Jessica sudah berusaha menemui Mike.Tapi Mike selalu menghindar." Timpal Emma.
"Tapi dia kan kekasih Mike Tante.Kenapa...."
"Jadi Kak Hannah mengira Kak Jessica kekasih Kak Mike ?!" Lagi-lagi Isabel memotong ucapan Hannah.Kali ini dengan nada yang lebih tinggi karena terkejut.
Hannah hanya bisa melongo melihat reaksi Isabel yang seperti itu.Rasa penasaran mulai merasuki hati Hannah.
Dengan tangan kecilnya Isabel menangkup wajah Hannah.Menatap dalam kedua mata Hannah.
"Kakakku itu tidak punya kekasih.Dan aku yakin kakakku itu sedang jatuh cinta padamu Kak Hannah !"
Deg.....!
Jantung Hannah seperti berhenti berdetak.Bumi berhenti berputar.Udara berhenti bergerak.Tubuh Hannah terasa kaku mendengar ucapan Isabel.
Apa itu benar ? Mike dan Jessica ? Lantas yang aku lihat waktu itu ?
Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di otak Hannah.Benarkah yang di ucapkan Isabel ? Lantas apa yang dilihatnya waktu itu saat Mike memandang lekat dan memeluk Jessica dengan erat ? Apa sebenarnya yang terjadi ?
"Kak Hannah !" Isabel menggoyangkan wajah Hannah yang masih dalam tangkupan tangannya karena Hannah malah bengong.
"Apa selama ini Kakak mengira Kak Mike dan Kak Jessica itu berpacaran ? Sehingga Kakak menjaga jarak dengan Kak Mike.Kakak salah besar ! Dulu memang Kak Mike pernah menyukainya.Tapi sudah tidak lagi karena Kak Jessica akan menikah.Meskipun batal.Dan ketika berada di dekat Kak Hannah aku bisa merasakan kalau Kak Mike itu sedang jatuh cinta pada Kakak.Apa Kakak tidak menyadarinya ? Kakak tidak peka !" Penjelasan dan gerutu Isabel yang panjang lebar setelah melepaskan tangkupan tangannya.
Hannah tidak bisa berkata apa-apa lagi.Mendengar penjelasan Isabel membuatnya semakin gila.Teringat kembali momen ketika Mike menyatakan perasaannya dan dia dengan kasar mengusir Mike.Apa mungkin karena itu sikap Mike berubah ? Tapi...apa yang diucapkan Isabel itu bisa di percaya ? Lalu bagaimana dengan Joe ? Sebentar lagi mereka akan menikah.Dan Mike ? Bagaimana kalau dia tau mereka akan menikah ? Semua pertanyaan itu membuat kepala Hannah jadi pusing.
"Hannah ?" Emma memegang tangan Hannah yang terasa sangat dingin dan wajahnya pucat.Wanita itu memperhatikan perubahan mimik wajah Hannah saat Isabel menceritakan tentang Mike padanya.
Hannah menoleh pelan pada Emma.
"Iya Tante." Jawabnya pelan.
"Apa kau baik-baik saja ?" Tanya Emma yang mulai khawatir melihat wajah pucat Hannah.
Hannah menarik nafas dalam berusaha mengembalikan fokus pikirannya.Dan disaat bersamaan dua laki-laki yaitu Jhon dan Joe menghampiri mereka.
"Sayang....apa Hannah sedah memberi taumu tentang kabar bahagianya ?" Suara Jhon mengalihkan perhatian ketiga perempuan disana.
"Joe dan Hannah akan segera menikah." Kata Jhon dengan senyum lebarnya.
Emma dan Isabel tampak terkejut.Sontak Isabel mencengkeram lengan Hannah.
"Kakak ?" Raut wajah Isabel berubah pias.Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Menikah ? Kak Hannah dan Kak Joe ? Bgaimana dengan Kak Mike ? Apa ini yang membuat sikap Kak Mike berubah ?
Semua jadi masuk akal di pikiran Isabel.Sikap kakaknya berubah karena mengetahui rencana pernikahan Joe dan Hannah.Jelas saja perasaan Mike pasti sangat hancur dengan berita ini.
"Benarkah ?" Emma tak kalah terkejut.
"Hannah....kenapa tidak bilang pada Tante kalau kalian akan menikah ?" Emma berusaha bersikap netral.
"Benar Tante." Jawab Hannah lirih.
"Kak Hannah jahat !" Teriak Isabel yang kemudian berlari meninggalkan taman belakang dengan rasa kecewa.
"Isabel !" Panggil Hannah.Tidak di gubris oleh Isabel yang terus berlari meninggalkannya.
Jhon dan Joe melihat kejadian itu dengan terheran-heran.Ada apa dengan Isabel ? Sedangkan Emma sudah memahami apa yang membuat Isabel bersikap seperti itu.Emma menggenggam tangan Hannah dan menggeleng.Dan Hannah mengangguk paham akan maksud Emma agar membiarkan Isabel.
"Kenapa dengan anak manja itu ?" Tanya Jhon pada Emma.
"Ck...tidak perlu dihiraukan !" Emma melambai ke udara sambil berdecak.
"Tante ikut senang mendengar berita bagus ini.Semoga semuanya berjalan lancar." Ada rasa getir saat Emma mengucapkan kalimat itu.Dia mengkhawatirkan perasaan Mike jika yang di ucapkan Isabel tadi adalah benar.
"Terima kasih Tante." Joe berjalan mendekat pada Hannah.
"Hannah kau baik-baik saja ?" Joe memperhatikan wajah Hannah yang tampak pucat.
"Tidak apa-apa.Hanya sedikit lelah." Jawab Hannah sambil memegang tengkuknya.
"Kalau begitu kita pulang sekarang agar kau bisa beristirahat." Ajak Joe.
Hannah mengangguk.Lalu Joe dan Hannah berpamitan pada Jhon dan Emma.
Mereka ingin berpamitan pada Mike dan Isabel.Tetapi keduanya sepertinya sedang dalam suasana hati yang tidak baik.Jadi mereka mengurungkan niatnya.Dan hanya menitip salam pada mereka.
Setelah meninggalkan rumah Mike,sepanjang perjalanan Hannah hanya diam dan menunduk.Joe merasa ada yang aneh dengan Hannah.
"Hannah ? Kau yakin kita tidak perlu ke dokter ? Wajahmu pucat sekali." Joe melirik gadis di sampingnya itu.
"Tidak perlu.Aku hanya merasa sangat lelah hari ini." Jawab Hannah lirih.
"Baiklah....nanti kalau ada apa-apa cepat hubungi aku." Joe sedikit meragukan jawaban Hannah.Karena Hannah tidak terlihat baik-baik saja.Namun karena Joe sudah hafal sifat Hannah,dia membiarkan gadis itu.Mungkin dia hanya butuh sendiri.Memaksa pun percuma.Hannah tidak akan mau bicara.
Hingga sampailah mereka di depan rumah Hannah.Hannah masuk ke dalam rumah dan diikuti Joe.Joe meletakkan belanjaan mereka di sofa ruang tamu lalu berpamitan pada Hannah.
"Kalau ada apa-apa secepatnya hubungi aku." Sekali lagi Joe berpesan pada Hannah.Perasaannya tidak enak melihat Hannah dalam kondisi seperti itu.
Hannah mengangguk tanda mengiyakan.Lalu Hannah mengantar Joe hingga teras rumah.Joe meninggalkan rumah Hannah meskipun sebenarnya dia tidak tenang meninggalkan Hannah yang seperti itu.
Mungkin dia hanya butuh waktu untuk sendiri.
*
*
*
*
*
Hai sayang-sayangku......lama ya nunggu up nya ?!
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan comment ya biar aku lebih semangat nulisnya.
Oiya....untuk 3 hari kedepan bakal slow update atau mungkin tidak bisa update ya dikarenakan author akan sangat sibuk di dunia nyata selama 3 hari kedepan 😊
Jangan bosan menunggu update episode yang akan datang ya !
Selamat membaca sayang 😘😘😘