Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
SIDANG PERTAMA



Joe sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota.Waktu itu hari masih siang jadi Joe memutuskan untuk mampir ke kedai.


Sesampainya di kedai Joe langsung masuk ke dalam dengan memasang senyuman terbaik di wajahnya.


"Joe..!" teriak Eve seakan sudah sangat lama tidak melihat Joe.


"Hai Eve..." Joe berjalan mendekati Eve.


Lalu dia duduk di depan meja bartender.


"Lama sekali tak melihatmu." ujar Eve.


"Aku baru pulang dari luar kota." tutur Joe.


Mata Joe melihat sekeliling tapi tidak menangkap sosok Hannah di pandangannya.Dan yang dia lihat sedang melayani pembeli adalah Kelly.


"Hannah tidak masuk hari ini ?" tanya Joe.


Eve menghela nafas dan raut wajahnya berubah menjadi sedikit murung.


"Dia sedang ada di pengadilan...." kata Eve belum selesai tapi Joe memotongnya lebih dulu.


"Pengadilan ? Untuk apa ?" potong Joe.


Eve memelototkan kedua matanya dengan raut wajah kesal sekarang.


"Aku belum selesai bicara." katanya.


"Maaf...maaf....lanjutkan ceritamu Eve." kata Joe kemudian.


Eve pun mulai berbicara lagi.Dan Joe mendengarkan dengan seksama.


"Hari ini sidang perdana gugatan kepemilikan tanah yang ditempati Hannah sekarang.Kalau dia kalah dia harus angkat kaki dari rumahnya.Kasihan sekali anak itu.Bahkan beberapa hari ini dia banyak diam." jelas Eve.Wajah Eve juga tampak ikut bersedih atas apa yang menimpa temannya itu.


Terlebih lagi Joe.Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang amat sangat.Kedua alisnya bahkan hampir menyatu.


"Memang siapa yang menggugatnya ? Bukankah itu rumah peninggalan orang tuanya ?" Joe mencoba mencari tau.


"Entahlah....Hannah tidak mau bercerita." Eve mengangkat kedua bahunya.


Joe yang khawatir dengan Hannah segera beranjak dari duduknya dan berpamitan pada Eve.Joe hendak menyusul Hannah ke pengadilan.


Sepanjang jalan dalam pikiran Joe hanya ada Hannah.


"Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kejadian di rumah sakit waktu itu." gumam Joe sambil mengingat sewaktu Hannah berteriak histeris di rumah sakit.


Setibanya di pengadilan Joe memarkirkan mobilnya dan setengah berlari memasuki halaman gedung pengadilan itu.


Saat hendak masuk ke dalam pintu kaca,seseorang yang Joe kenal juga hendak keluar dari dalam pintu kaca itu.


Mereka pun bertegur sapa.


"Tuan Wellington ? sedang apa Anda disini ?" tegur Joe pada Harry.


"Tuan Thompson....saya tidak menyangka bertemu Anda disini.Ee...saya ada sedikit urusan dengan seseorang disini.Anda sendiri sedang apa disini ?" Harry bertanya balik.


Harry mengangguk pelan mendengarkan jawaban Joe.


"Sepertinya Anda sedang terburu-buru.Kalau begitu saya permisi dulu.Mari Tuan Thompson." Harry pun berlalu meninggalkan Joe.


Saat Joe masuk Joe langsung bisa melihat Hannah yang berjalan keluar dari ruang sidang dengan tatapan kosong dan tidak ada semangat sama sekali dalam dirinya.


Joe menghampiri Hannah yang terlihat pucat pasi.


"Hannah." panggil Joe.


Hannah yang tadi berjalan sambil melamun pun segera tersadar dari lamunannya dan melihat ke arah suara yang memanggilnya itu.


Dan Joe sudah berdiri dekat di depannya.


"Apa sidangnya sudah selesai ?" tanya Joe.


"Joe...dari mana kau tau aku disini ? Bukankah kau sedang ada di luar kota ?" Hannah terkejut melihat Joe yang berada di hadapannya.


"Aku sudah pulang dari luar kota.Eve yang memberitahuku.Apa kau baik-baik saja ?" Joe khawatir melihat wajah Hannah yang pucat.


Hannah tidak menjawab.Dia berusaha sekuat mungkin menahan air matanya agar tidak terjatuh.


"Ayo aku antar kau pulang." kata Joe.


Hannah hanya diam membisu dan mengikuti langkah kaki Joe keluar menuju ke parkiran.


Joe membukakan pintu mobil untuk Hannah.Setelah Hannah masuk dia menutup pintu itu dan berjalan memutar untuk masuk ke dalam mobilnya.


Di dalam mobil itu hanya ada keheningan.Hannah sama sekali tidak berbicara.


"Hannah....apa kau baik-baik saja ?" Pertanyaan Joe memecah keheningan dalam mobil itu.


"Aku baik-baik saja." jawab Hannah dengan suara lemah.Dia seakan sudah tidak punya tenaga lagi untuk sekedar berbicara.


"Sebenarnya siapa yang menggugatmu Hannah ?" tanya Joe yang semakin penasaran.


Tetapi Hannah hanya diam membisu.Dia mengarahkan pandangannya keluar kaca mobil disampingnya.Masih dengan tatapan kosong yang menerawang entah kemana.


Joe pun tidak bertanya lagi.Dia membiarkan Hannah yang sepertinya sedang tidak ingin berbicara dengannya.


Sampai di rumah Hannah, Joe mengikuti gadis itu masuk ke dalam rumahnya.


Hannah meletakkan tas jinjing yang dari tadi ada di genggamannya diatas sofa ruang tamu.Lalu dia menjatuhkan dirinya disamping tas itu.


Joe ikut duduk agak jauh dari Hannah sambil terus memperhatikan gadis berambut coklat itu.


"Hannah....apa ini ada hubungannya dengan kejadian sewaktu kau kecelakaan ?" tanya Joe.


Hannah memejamkam kedua matanya.Air mata tampak bermunculan dari ujung mata yang terpejam itu.


Kedua tangannya terlihat mengepal geram.Seakan ada beban yang menggunung di hatinya.


Joe yang melihat keadaan Hannah seperti itu jadi semakin khawatir.Rasanya ingin sekali Joe meminjamkan bahunya untuk menjadi sandaran Hannah.