
Hari jumat sudah tiba.Tapi wajah Hannah masih kelihatan murung.dia hanya punya dua baju pesta warna coklat dan merah.Dia ingin membeli baju baru tapi dia sadar kalau dirinya harus berhemat untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Hannah duduk di atas tempat tidurnya yang sempit.Duduk termenung membayangkan apa yang akan dia lakukan nanti disana di tengah-tengah kaum sosialita.Hingga suara ketukan dari pintu depan memaksanya untuk menyeret kakinya melangkah.
Hannah dengan malas mengangkat tubuhnya dan berjalan ke pintu depan.
Hannah membuka pintu.
"Tuan ? " Hannah terkejut melihat siapa yang datang berkunjung.
"Nona Hannah....Nyonya Melly menyuruh saya mengantarkan ini untuk Anda." Itu adalah sopir Melly.Dia menyodorkan kotak berwarna coklat dari tangannya.
"Ini apa Tuan ?" Hannah menerima kotak itu dari si sopir.Hannah bertanya-tanya bukankah yang berulang tahun adalah Melly.Kenapa dirinya yang menerima barang dari Melly.
"Maaf Nona saya hanya disuruh mengantarkannya.Saya tidak tau apa isinya." jawab sopir itu dengan sopan.
"Oh begitu." saut Hannah.
Sopir itu tersenyum lalu berkata, "Nanti malam jam 7 Saya akan menemput Anda."
Hannah terkejut mendengar yang diucapkan sopir itu.Dia memandang sopir itu dengan tatapan penuh tanda tanya.Kenapa Tante Melly begitu baik padanya.Padahal mereka kenal juga belum lama.Kenapa Tante Melly memperlakukakannya dengan begitu istimewa.Begitu yang ada di pikirannya.
"Nona Hannah...saya permisi dulu." Suara pamit sopir itu membuat Hannah segera tersadar dari pikirannya yang berlarian.
"Eh Iya Tuan...Terima kasih." saut Hannah.
Hannah masuk membawa kotak yang di berikan Melly.Dia bawa masuk dalam kamar.Disana dia membuka kotaknya.Mata Hannah terbuka lebar ketika melihat apa isi kotak itu.
Hannah mengeluarkan isi kotak itu.
"Ya Tuhan...Cantik sekali gaun ini ! Pasti ini mahal sekali."
Yah....Gaun pesta berwarna abu-abu yang begitu cantik.
"Kenapa Tante Melly mengirim gaun ini untukku ?" Pikiran Hannah kembali berlarian.Antara senang dan sedih Hannah mencoba gaun itu dan berkaca di depan cermin.
Gaun itu sangat pas dengan tubuhnya.gaun v-neck dengan tali yang mengalung di tengkuk lehernya dan bagian punggung yang terbuka membuat bahu indah Hannah terlihat begitu menawan.
"Apa Tante Melly tau aku tidak punya baju pesta.Apa Tante Melly malu kalau aku datang kesana dengan baju ala kadarnya.Ya Tuhan...aku harus senang atau sedih ? Tapi gaun ini cantik sekali.Sangat pas di tubuhku.Ya....meskipun sedikit terbuka." Hannah meracau berbicara sendiri.
"Tapi aku harus memakainya.Aku tidak mau Tante Melly tersinggung." Hannah menepis semua perasaannya untuk menghormati Tante Melly.
***
Hannah selesai mandi dan segera bersiap-siap.Dia duduk di depan cermin masih dengan melilitkan handuk di tubuhnya.
Setelah selesai dengan wajahnya kini dia beralih ke rambut coklatnya.Rambut panjangnya yang lurus dia curly di bagian bawah dengan catok rambut miliknya.Dia biarkan rambutnya tergerai untuk menutupi punggungnya yang sedikit terbuka dengan gaun yang dikirim Melly tadi.Tidak ada sentuhan salon sama sekali.Dia berhias sebaik yang dia bisa.
Make up fix, hair do fix, dia segera memakai gaun abu-abu yang begitu pas di tubuhnya.Untung saja dia punya sepatu high heels yang warnanya senada dengan gaunnya.
Dia memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya.
Tak lama setelah dia selesai dengan persiapannya suara ketukan dari pintu depan terdengar.Tidak salah lagi itu adalah sopir suruhan Melly untuk menjemputnya.
Hannah membuka pintu dan sang sopir menunjukkan wajah dengan senyum ramahnya.
"Nona sudah siap ?" tanyanya.
Hannah mengangguk dan melangkah keluar dari rumah.Hannah berbalik dan mengunci pintu rumahnya.Hannah membawa kado di tangan kanannya dan mengalungkan tas jinjingnya di lengan kiri.
Dengan perasaan yang sedikit tegang Hannah berjalan mengikuti langkah kaki laki-laki berseragam itu.
Sopir membukakan pintu belakang mobil untuk Hannah.Dengan membungkukkan badannya si sopir mempersilahkan Hannah masuk.
Hannah sudah masuk ke dalam mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya.Dan perlahan mobil itu melaju meninggalkan rumah sederhana milik Hannah.
"Nona terlihat sangat cantik dengan gaun itu." puji sopir itu dengan melirik ke kaca spion di depannya.
Hannah merasa tersanjung sekaligus aneh.Sopir ini memperlakukannya seperti memperlakukan majikannya.
"Terima kasih Tuan." balas Hannah atas pujian itu.
Sopir itu tersenyum lagi.Sepertinya dia memang dibayar untuk selalu tersenyum ramah.
"Nona jangan panggil saya 'Tuan', saya ini hanya sopir." tukasnya.
"Lantas saya harus panggil apa ?" Hannah bertanya dengan polosnya.
"Nama saya Eddy." Sopir itu memperkenalkan namanya masih dengan senyum ramah di wajahnya.
"Baik Pak Eddy." Hannah bersikap sopan.
"Dan Pak Eddy tolong jangan panggil saya 'Nona'.Rasanya lebih nyaman kalau Bapak panggil saya Hannah saja.Karena saya hanya pelayan kedai." tambah Hannah.
"Maaf Nona....tapi saya tidak berani selancang itu." Pak Eddy masih ngeyel.
Pasti Tante Melly yang membuatnya bersikap seperti itu terhadap Hannah.Akhirnya Hannah menyerah.Dia membiarkan Pak Eddy memanggilnya 'Nona'.