
Langit jingga temaram kini telah berubah menjadi kelabu.Dan lihatlah siapa yang tengah mengadu pada gelapnya malam tentang perasaannya yang tercabik-cabik.
Laki-laki itu berdiri di balkon menyandarkan kepalanya pada dinding bercat putih.Dengan sebelah kakinya di tekuk ke tembok.Tangan kanannya memegang cangkir kopi dan tangan kirinya dia selipkan pada saku celana. Pandangannya kosongĀ mengarah ke langit kelabu.Diatas sana dia bisa dengan jelas melihat taburan bintang-bintang dan sesekali lampu pesawat yang berkedip-kedip dilangit gelap itu.
Ah....sungguh malam yang romantis seandainya orang yang dicintai menemani di balkon itu.
Tapi kenyataannya berbanding terbalik.Justru rasa sakit yang teramat dalam sedang bersarang di relung hatinya.
Ketika undangan itu terlontar secara langsung apakah benci yang dirasakan hingga tiba-tiba dirinya memilih untuk beranjak ? Oh tidak....Bukan benci.Sama sekali bukan rasa benci.Melainkan rasa sakit yang begitu dalam.Tapi tidak bisa untuk membenci sedikitpun kepada sepasang calon pengantin itu.
Suara nafas yang terhirup secara dalam dan terhembus secara kasar menunjukkan betapa frustasinya dia saat ini.
Aku sangat mencintainya.Teramat sangat mencintainya.
Mike mengusap kasar wajahnya dengan tangan kiri lalu menyesap kopi yang ada di tangan kanannya.Terlalu pedih untuk mengakui pernikahan itu.
Beralih duduk di sofa dan meletakkan cangkir kopi itu diatas meja.
Berhentilah mencintai apa yang sudah dimiliki orang lain !
Pikirannya tak henti meneriakkan kalimat itu.Namun semakin cinta itu di pupus, rasa cinta itu semakin tumbuh dengan subur.
Senyum masam muncul di wajah tampan itu sedang mentertawakan kebodohannya yang lagi-lagi telah menjatuhkan hati pada seseorang yang sudah dimiliki orang lain.
Kau bodoh sekali Mike ! Dua kali terjatuh di lubang yang sama.
Rasa tidak rela ketika Hannah akan menjadi milik Joe sangat kuat mencengkeram hatinya.Sempat terbesit di benaknya untuk menggagalkan pernikahan itu.Tapi apakah dengan begitu Hannah bisa menerimanya ? Justru sebaliknya ! Hannah akan sangat membencinya.
"Mama bisa menjadi pendengar yang baik." Suara lembut Emma membuat Mike tersentak dari lamunannya.
Mike memalingkan wajahnya sekilas ke arah pintu dimana Emma sedang berdiri sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
Tidak ada yang ingin Mike bicarakan dengan orang lain saat ini.
Sebelum menemui Mike di balkon, Emma terlebih dulu berdiskusi dengan suaminya tentang apa yang Isabel katakan tadi siang.Ternyata suaminya itu juga merasakan atmosfer kecemburuan yang sama ketika Mike melihat Hannah dan Joe bersama.
"Mama rasa apa yang di ucapkan Isabel tentang Mike itu benar Pa.Mama bisa merasakan kekecewaan yang dirasakan Mike ketika melihat Hannah datang bersama Joe.Dari tatapannya pada Hannah....Mama yakin dia mempunyai perasaan yang lebih terhadap gadis itu." Emma menyandarkan tubuhnya di tempat tidur.
Jhon mendengus pelan sambil tersenyum miring.
"Kalau saja Mama melihat reaksi Mike ketika Joe mengundang kita ke acara pernikahan mereka."
Emma menggeser posisi duduknya hingga menghadap pada suaminya yang sedang duduk bersandar seperti dirinya tadi.
"Memangnya seperti apa reaksinya ?" Semakin penasaran.
"Anakmu itu sedang jatuh cinta dan patah hati disaat yang bersamaan." Jhon tersenyum tipis.Tabir dibalik perubahan sikap Mike telah tersingkap.
Emma terlihat sedih mendengar pernyataan suaminya itu.
"Lantas apa yang harus kita lakukan Pa ? Mama tidak tega melihat Mike begitu frustasi hingga sikapnya berubah dingin seperti itu."
"Kita tidak mungkin menggagalkan pernikahan mereka.Sepertinya kita hanya bisa menjadi pendengar yang baik untuk anak kita.Biarkan dia meluapkan kekecewaannya pada kita."
"Masalahnya Mike selalu menghindar dari kita Pa."
"Itu karena kita belum mengetahui akar permasalahannya.Sekarang kita sudah bisa mengurai masalah itu.Kita bisa mengajaknya bicara dari hati ke hati."
Emma mengangguk merasa ucapan suaminya itu masuk akal.Dan Emma ingin sekali mencoba berbicara dengan Mike.Pembicaraan antar sahabat.
Lalu Emma bergegas mencari keberadaan Mike di rumah yang sangat luas itu.Hingga dia menemukan Mike sedang duduk di balkon sendirian sambil menyesap kopi.
Perlahan Emma mendekati anak laki-lakinya itu.Dia ingin bersikap layaknya sahabat bagi Mike.
Setelah ucapannya tidak mendapat respon yang baik dari Mike.Emma berjalan menuju sofa tepat di sebelah sofa yang diduduki Mike.
Emma duduk disana dan menyandarkan kepalanya di punggung sofa seperti Mike.Posisi yang nyaman untuk saling mengobrol.
"Lihatlah bintang yang disana itu !" Emma menunjuk rasi bintang orion di langit barat.
"Disana ada tiga bintang yang berjajar lurus.Satu saja diantara tiga bintang itu tidak ada,namanya bukan lagi orion." Emma tersenyum melirik Mike yang masih tidak mempedulikannya.
"Seperti halnya ketiga bintang itu yang ditakdirkan untuk membentuk garis sejajar agar tercipta rasi bintang orion.Apa yang sudah ditakdirkan untuk kita pada akhirnya akan tetap menjadi milik kita.Dengan caranya sendiri." Lanjut Emma.
Mendengar ucapan Emma seperti ada yang menggelitik di hati Mike.Sejenak melirik pada wanita disampingnya.Berusaha mencerna ucapan wanita itu yang sepertinya sedang berusaha menyampaikan sesuatu.
Takdir ?
"Kau tau....dulu sebelum Papa dan Mama menikah...Mama berkali-kali menyakiti hati Papamu.Mama menjadikan Papamu sebagai pelampiasan kemarahan, kekecewaan, kesedihan karena kekasih Mama.Tapi tidak untuk kebahagiaan.Karena Mama tidak pernah mengingat Papamu ketika Mama sedang berbahagia." Tawa kecil menyelingi ucapan Emma.
"Kau tau kenapa ? Karena Papamu hanya memendam cintanya pada Mama untuk dirinya sendiri." Emma melipat kedua lengannya di depan dada sambil mengenang kenangannya dulu bersama Jhon.
Disini ada yang merasa tersindir.Sepertinya ada yang mempunyai watak sama dengan yang sedang di ceritakan.
"Disaat Mama mengalami masa paling buruk dalam hidup Mama, tepatnya ketika Kakekmu bangkrut dan keluarga kami jatuh miskin.Nenekmu pergi meninggalkan Mama dan Kakek.Hingga saat Kakekmu meninggal karena terlalu depresi.Disitulah Mama bisa merasakan betapa besar cinta Papamu pada Mama.Ketika keluarga, kekasih dan sahabat Mama meninggalkan Mama dalam keterpurukan.....Papamu datang dan memberikan cahaya dalam hidup Mama yang gelap.Papamu memberikan cinta dan kasih sayangnya dengan tulus hingga bisa membuat Mama sanggup bertahan dan bahagia hingga sekarang." Tanpa sadar mata wanita itu berkaca-kaca mengenang betapa berat ujian yang pernah dia hadapi.
"Dari situlah Mama belajar tentang kehidupan.Takdirlah yang telah menyatukan Mama dan Papa hingga sekarang.Bisa menjadi keluarga yang sangat bahagia dengan dua anak yang luar biasa seperti kalian."
Menunggu beberapa saat tetapi tidak ada respon apapun dari Mike.Laki-laki itu tetap membisu.Dia benar-benar sedang ingin sendiri.
Emma menghela nafas berharap Mike bisa mengambil pelajaran dari apa yang dia ceritakan.
"Udara disini sangat dingin.Mama masuk dulu ya.Jagalah kesehatanmu ! Jangan terlalu banyak begadang !" Emma berdiri dan menepuk bahu Mike dua kali.Setelah itu dia melenggang meninggalkan balkon dimana Mike sedang berusaha menyelami perkataan Emma.
***
Sementara disana.Di sebuah ruangan dengan cahaya lampu yang terang .Joe duduk dibalik meja kerjanya sedang memandangi layar laptop dengan intens.
Dia lihat beberapa hasil foto prewedding nya dengan Hannah.Hannah terlihat sangat cantik dalam foto-foto itu.Dengan nuansa klasik era 80'an foto-foto itu tercetak dengan begitu sempurna.Berkat tangan dingin seorang fotografer ternama di kota itu.
Tapi bukan itu yang membesut seluruh perhatian Joe.Melainkan sorot mata Hannah dalam setiap frame foto yang menyiratkan perasaan dalam hati gadis itu.
Ada kejanggalan dalam setiap tatapan matanya.Bibirnya tersenyum tetapi tidak dengan hatinya.
Dan beberapa hal yang belakangan ini menyita perhatian Joe membuat laki-laki itu kembali mempertanyakan apakah pernikahan ini adalah keputusan yang benar ?
Bayangan ketika melihat Hannah sedang duduk diam dengan pikiran yang entah berada dimana.Gadis itu terlihat sedang berusaha menutupi sesuatu darinya.
Kini temannya sendiri seperti sedang menghindari dirinya.Entah apa alasannya tapi Joe bisa dengan jelas merasakan hal itu.
Ya....bisa kau bayangkan jika temanmu,rekan bisnismu selalu saja menghindari bertemu denganmu.Pasti kau akan memikirkan hal yang sama.Apa kesalahan yang sudah kau buat hingga temanmu bersikap seperti itu ?
Lalu terlintas bayangan ketika gadis yang akan dia nikahi bersitatap dengan temannya dengan tatapan yang begitu intens.Itu bukan tatapan tanpa makna.Tatapan dalam yang hanya mereka berdualah yang mengerti.
Kemudian cara temannya berreaksi dengan kabar pernikahan itu dan bagaimana reaksi dari adik temannya yang sedikit berlebihan.....seperti ada benang merah yang terjalin diantara potongan-potongan ingatan itu.
Diam-diam dari luar pintu Melly sedang memperhatikan anaknya yang sedang duduk dengan raut wajah serius dibalik layar laptop.
Melly melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan ketika Joe mengusap kasar wajahnya yang terlihat sedikit tegang.
"Mama ?" Joe mengalihkan pandangan pada wanita yang tengah berjalan ke arahnya.
Melly memberikan senyum bersahabatnya.
"Kemana perginya wajah tampan anakku ? " Melihat wajah anaknya yang sedikit frustasi membuat Melly penasaran dengan apa yang sedang terjadi dengannya.
"Sudah larut kenapa masih sibuk bekerja ?" Melly berdiri di samping kursi kerja Joe dengan tangan kanannya berada di pundak anak semata wayangnya itu.
Belum lagi Joe menjawab.Pandangan Melly beralih pada layar laptop di depan anaknya.Tangan kanan Melly bergerak menggeser layar laptop itu sedikit ke samping untuk melihat apa yang ada dilayar itu dengan jelas.
"Ini foto prewedding kalian kan ?" Melly melirik kilas pada Joe.
"Iya Ma."
Melly menarik tangan anaknya untuk beranjak dan berpindah duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Duduklah !" Melly menepuk sofa di sebelahnya agar Joe mengikutinya duduk.
Dengan patuh Joe duduk di sebelah Melly.
"Bicaralah sekarang ! Mama akan mendengarkanmu." Melly seolah paham betul kalau anaknya sedang dalam mode galau.
"Bicara apa Ma ?" Joe masih berkilah.
Senyum penuh keyakinan mengembang di wajah Melly.Dia sangat yakin anaknya sedang mengalami masa sulit.Apalagi dengan ekspresi yang dia lihat tadi.
"Ini Mama Sayang.Jadikan Mama sebagai sahabatmu !"
Merasa tidak mampu memendam apa yang mengganjal di pikirannya, akhirnya Joe menceritakan beberapa hal yang mencuri perhatiannya baru-baru ini.
Setelah mendengar cerita Joe,Melly bisa ikut merasakan kegundahan yang melanda anak laki-lakinya itu.
"Joe bingung Ma.Kalau dugaan Joe itu benar.....Joe akan sangat merasa bersalah.Entah apa Joe bisa memaafkan diri Joe sendiri nantinya."
"Kalau Mama berada di posisimu...Mama pasti juga akan merasakan hal yang sama.Tapi...sejauh ini apakah Hannah merasa ragu dengan pernikahan kalian ?" Melly mengusap punggung Joe.
Joe bersandar pada punggung sofa.Menghela nafas panjang.
"Justru Hannah mengira akulah yang meragukan pernikahan ini."
Melly mengangkat satu alisnya dan menarik salah satu sudut bibirnya.
"Kalau Hannah yakin dengan pernikahan ini....baiknya jalani saja.Selama dia tidak merasa terpaksa."
Melirik kilas dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Lalu bagaimana denganmu ? Apa kau ragu ?" Lanjutnya.
"Entahlah...." Joe menengadahkan wajah sambil memejamkan matanya.
Sedikit ragu.Tapi ada rasa tidak rela untuk membatalkannya.Secuil hatinya berkata untuk terus melanjutkan rencana ini apapun yang terjadi.
"Mama mengerti posisimu sekarang sangat sulit.Seperti duduk diantara dua kursi.Kau harus memilih salah satu untuk bisa berada dalam posisi yang nyaman."
"Kenapa semua jadi rumit seperti ini ?" Gumam Joe.
"Masih ada waktu untuk berpikir.Mama tidak ingin semua ini menjadi beban untukmu.Cari taulah kebenarannya dan putuskan apa yang akan kau lakukan setelah kau tau yang sebenarnya." Melly menggenggam tangan Joe.
"Sudah larut....istirahatlah !"