Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
HANNAH DICULIK



Hari ini terakhir Hannah masuk kerja.Meskipun sebenarnya dia masih ingin bekerja disana.Tapi dia harus.Walau bagaimana pun dia juga harus menjaga martabat suaminya.Tidak lucu kan kalau istri seorang presdir adalah seorang pelayan kedai ! Sebagai gantinya Joe akan membukakan toko bunga untuknya.Agar Hannah tidak bosan di rumah.


Hannah melangkahkan kakinya keluar dari kedai.Sekali lagi dia menoleh ke papan yang ada diatas pintu masuk.


"Aku akan sangat merindukan saat-saat bekerja di tempat ini." Gumam Hannah.


Menghela nafas kasar lalu mulai berjalan menyusuri jalanan ke arah rumahnya.


Hari masih pagi saat dia meninggalkan kedai.Nanti sesampainya di rumah dia harus segera berkemas.Karena mulai hari ini dia akan pindah ke rumah Joe.


Drrt....drrt...( vibra mode )


Satu pesan singkat masuk ke ponsel Hannah.Tanpa menghentikan langkah, Hannah mengambil ponsel dari dalam tasnya dan membuka pesan itu.Ternyata dari Joe.


*Saat makan siang aku akan menjemputmu  ~ Joe.


Oke ~ Hannah*.


Hannah memasukkan ponselnya ke dalam tas setelah selesai membaca dan membalas pesan dari Joe lalu berjalan lebih cepat agar dia punya waktu lebih banyak untuk berkemas.


***


Joe memarkirkan mobilnya di depan rumah Hannah.Harusnya Hannah sudah selesai berkemas karena mereka sudah merencanakannya sejak kemarin.


Setengah berlari Joe memasuki halaman rumah Hannah.Waktunya memang tidak banyak karena setelah mengantar Hannah pindah ke rumahnya dia ada meeting dengan salah satu client.


Tok...tok...tok...!!!


Buku-buku jari Joe mulai beradu dengan pintu hingga membentuk satu irama ketukan.


"Hannah !" Panggil Joe.Namun belum ada sahutan dari yang punya rumah.Joe mengedarkan pandangan ke sekeliling.


"Sepi sekali."


Sekali lagi Joe mengetuk pintu.Siapa tau Hannah tidak mendengarnya


"Hannah ! Kau di dalam ?"


Dua kali ketukan dan belum juga ada jawaban.Ah barangkali Hannah sedang keluar.


Joe duduk di kursi teras sembari menunggu Hannah.Sesekali dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.Waktunya tidak banyak tetapi Hannah tidak kunjung kembali.


"Kemana perginya Hannah ?" Wajah Joe berkerut.Sudah setengah jam dia menunggu tetapi belum ada tanda-tanda kemunculan Hannah.Dia coba menelpon Hannah tetapi tidak ada jawaban.Berkali-kali menelpon tetapi tetap tidak ada jawaban.


Dari situ Joe mulai khawatir.Perasaannya mulai tidak enak.


"Apa mungkin dia ke rumah Mike ?" Ada sedikit keraguan dalam ucapannya.


"Tapi......" Joe menggigit bibir bawahnya sambil mengibas-ngibaskan ponselnya di tangan.


"Lebih baik aku telpon Mike."


Tut....tut....tut....


Mike tidak menjawab panggilannya.Hingga tiga kali panggilan tidak ada jawaban.Kecemasan di hati Joe semakin menjadi.Apa mungkin mereka sedang bersama ? Ah...pikiran Joe semakin membuat frustasi.


Selang beberapa waktu kemudian ponsel Joe berdering.


Mike Calling


"Hallo Mike !" Joe baru saja akan menanyakan keberadaan Hannah padanya tapi Mike terlebih dulu menyela.


"Datanglah ke rumahku.Ada hal penting yang harus kita bicarakan." Kata Mike diujung sambungan telpon.


"Baiklah.Aku segera kesana." Tanpa bertanya firasat Joe mengatakan hal penting itu tentang Hannah.


Dengan kecepatan tinggi Joe mengendarai mobilnya memecah keramaian jalanan kota.Segala kemungkinan buruk berputar-putar di kepala Joe.Sepanjang perjalanan Joe tak henti merapalkan doa supaya tidak terjadi hal buruk pada calon istrinya.


Sampailah Joe di rumah Mike.Dia bergegas turun dari mobil dan setengah berlari memasuki rumah utama.


"Joe !" Mike mengalihkan pndangannya pada sosok yang baru saja datang ke rumahnya.


Di rumah itu sudah ada Jhon dan beberapa orang kepercayaannya sedang duduk di ruang tengah.


"Ada apa Mike ? " Joe bergabung dan duduk tidak jauh dari Mike.Kali ini hatinya benar-benar dipenuhi dengan rasa penasaran.


" Harry menculik Hannah." Jawab Mike.


Joe mengatupkan rahangnya kuat-kuat dengan sorot mata penuh amarah saat mendengar jawaban Mike.Joe mengepalkan kedua tangan hingga terlihat jelas urat-urat di tangannya.


"Apa yang dia inginkan ?" Tanya Joe.


"Dia menyuruhku datang ke gedung X di pinggiran kota jam 4. Dia ingin balas dendam atas apa yang aku lakukan terhadap bisnisnya." Jawab Mike dengan rasa bersalah yang begitu besar karena telah melibatkan Hannah dalam masalahnya.


"Kurang ajar ! Harry benar-benar manusia licik ! Berani sekali dia menculik Hannah !" Dada Joe bergemuruh.


Kilatan amarah sangat jelas terlihat dalam matanya.Dia tidak akan memberi ampun jika Harry berani menyakiti Hannah sehelai rambut pun.


"Maafkan aku Joe.Semua ini karena kesalahanku." Mike merasa sangat bersalah.


"Lupakan masalah itu. Sekarang apa rencana kita ?" Joe tidak ingin menyia-nyiakan waktu hanya untuk hal yang tidak penting.Fokusnya sekarang adalah bagaimana menyelamatkan Hannah dari Harry tanpa terluka sedikitpun.


Mereka segera membahas rencana penyelamatan.Karena Harry memperingatkan untuk tidak melibatkan polisi, jadi mereka bergerak sendiri.Setelah rencana benar-benar matang mereka bergegas menuju ke lokasi yang dimaksud.


Demi apapun ! Joe benar-benar akan menghabisi Harry jika dia berani menyakiti Hannah.


Sampailah mereka di depan sebuah gedung tua yang sudah terbengkalai.Jauh dari pemukiman.Sisi kanan dan kiri gedung itu adalah bekas area tambang yang sangat luas.Tanpa pikir panjang, mereka bertiga bergegas menuju ke lantai tiga seperti petunjuk yang di berikan Harry.


"Harry !" Teriak Mike.Suaranya menggema memenuhi seluruh ruangan. Lantai tiga itu tampak kosong.Besi-besi berkarat dan pipa-pipa besar berserakan.Sudah bertahun-tahun gedung itu terbengkalai.


"Keluar kau Harry !" Teriak Joe yang sudah tidak sabar untuk menghajar Harry.


"Sepertinya disini tidak ada siapa-siapa." Sahut Mike.


Suara dering ponsel Mike mengalihkan fokus mereka. Harry yang menelpon.


" Dimana Hannah ?" Tanya Mike dengan nada tinggi. Meskipun tubuhnya masih lemah tapi itu tidak menyurutkan amarahnya.


"Kenapa berteriak seperti itu ? Santai saja. Hannah sedang bersenang-senang denganku." Jawab Harry santai tapi penuh intimidasi.


Dada Mike naik turun menahan amarah yang begitu membuncah saat mendengar jawaban Harry.


"Berengsek kau Harry ! Lepaskan dia !"


"Aku akan melepaskannya setelah aku puas bermain-main dengan tubuh indah mantan istriku."


"Sedikit saja kau berani menyentuhnya aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri !"


"Ha..ha..ha......! Lihatlah ke sisi barat gedung ! Aku menunggumu !" Tawa Harry menggelegar di seberang sana.Dan tanpa berkata apa-apa lagi dia menutup sambungan telpon sepihak.


"Aaarrrghhhhh....!" Mike menyugar rambutnya dengan kasar.Matanya memandang ke sisi barat gedung dan disana ada sebuah pondok kecil dengan lampu yang tampak berkedip-kedip seolah memberi kode.


"Berengsek kau Harry ! Aku akan menghabisimu !" Mike menendang beberapa pipa yang berserakan.Dia benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Apa yang dia katakan Mike ? Dimana Hannah ?" Tanya Joe.


"Dia hanya mempermainkan kita.Dia tidak ada disini." Jawab Mike sambil menatap tajam ke arah pondok.


Mereka berdua segera keluar dari gedung dan melajukan mobilnya ke arah pondok yang jaraknya lumayan jauh.Keduanya sama-sama diliputi amarah dan kekhawatiran.


Sampai di depan pondok keduanya segera turun dari mobil.Suara debuman keras terdengar saat pintu mobil itu tertutup.Joe segera menendang pintu pondok itu dengan kasar hingga pintu itu terbuka lebar.Dan tepat di tengah-tengah ruangan itu Harry duduk di sebuah kursi dengan santai sambil menghisap rokok.Disampingnya Hannah duduk di lantai dengan tangan dan kaki terikat pada kursi yang diduduki Harry.Mulut yang tertutup lakban dan mata yang tertutup kain hitam.Kondisi Hannah sungguh menyedihkan.Tubuhnya gemetaran.Pasti dia sangat ketakutan.


Kedua laki-laki itu begitu marah saat melihat kondisi Hannah.Namun saat keduanya hendak mendekat pada Harry tiba-tiba beberapa orang menahan mereka.Mencengkeram lengan mereka dengan kuat hingga mereka tidak berkutik sama sekali.


"Lepaskan dia Harry !" Teriak Joe.


Harry berdiri sambil mengepulkan asap rokok ke udara.Senyum sinis dan tatapan mengintimidasi tergambar jelas di wajahnya.


"Wah...wah....wah...! Menangkap seekor kelinci bonus dua ekor kucing." Tertawa sinis.


"Kalian ingin aku melepaskannya ? Tunggu sampai kalian melihat permainanku dengannya !" Harry berjongkok dan membelai wajah Hannah.


Hannah sama sekali tidak bisa menghindar.Dia hanya bisa berusaha berteriak dan menangis saat Harry mulai menyentuhnya.Jelas dia sangat ketakutan saat jemari Harry mulai menggerayangi kulitnya.


"Jauhkan tangan kotormu itu darinya Harry !" Mike geram melihat apa yang dilakukan Harry.Sambil terus meronta berusaha melepaskan cengkeraman di lengannya.


"Aku akan menghajarmu kalau kau berani menyentuhnya !" Tambah Joe tak kalah murka.


"Oh....Apa kalian lupa ? Aku bahkan sudah hafal setiap inchi dari tubuhnya.Apa kalian sudah pernah menikmati tubuh indah ini hah ?" Harry kembali mengintimidasi mereka.Kali ini Harry menarik kepala Hannah dan mencium rambutnya.


Sumpah tidak ada hal lain yang ingin dilakukan Mike ataupun Joe selain menghabisi lelaki bejat yang ada dihadapan mereka.


Harry berdiri menegakkan tubuhnya.Menghisap sisa rokok yang terselip diantara jarinya.Lalu mengepulkan asapnya dengan angkuh.


"Sekarang kalian akan tau dengan siapa kalian berhadapan saat ini ! Ini balasan karena kau Mike Bennings berani menghancurkan bisnisku !" Harry menunjuk pada Mike dengan tatapan penuh amarah.


"Kau menginginkanku dan sekarang aku sudah ada disini.Lepaskan dia !" Kata Mike dengan tatapan tajam.


Harry menjatuhkan puntung rokok dan menginjaknya.Melirik tajam pada Mike lalu berjalan perlahan sambil menyelipkan kedua tangannya ke saku celana.


Sampai di hadapan Mike, Harry mencengkeram kuat wajah Mike dengan jarinya.Nafas Mike yang memburu menandakan amarah yang sangat besar sedang menunggu untuk meledak.


"Kau akan membayar semua yang sudah kau lakukan padaku !" Harry menunjukkan wajah bengisnya.


Harry menghempaskan wajah Mike lalu berbalik.Berjalan mendekati tubuh Hannah yang gemetaran.Lalu berjongkok tepat di hadapan gadis itu.Kemudian melepas penutup mata yang terikat di kepala Hannah.


Hannah menoleh pada Joe dan Mike.Tatapannya penuh permohonan untuk menolongnya.Ketakutan yang dirasakan Hannah membuatnya semakin gemetar.


Sebuah lirikan tajam Harry tunjukkan pada Mike dan Joe. " Dia yang akan menebus semuanya !" Seringai licik menyertai kalimat itu.


Mike dan Joe semakin kuat meronta saat Harry mulai mengoyak pakaian yang melekat di tubuh Hannah.


Berbagai cacian dan makian meluncur begitu saja dari mulut mereka.


Tubuh Hannah gemetar.Keringat dingin membanjiri keningnya.Air mata menganak sungai dari pelupuk mata gadis itu.Dia bahkan tidak bisa berteriak karena mulutnya masih tertutup lakban.Ketakutan yang sama seperti saat terakhir kali Harry menyentuhnya.


.


.


.


Bersambung.