Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
MAKAN MALAM



Seperti biasa Hannah menjalani rutinitasnya setiap hari.Namun belakangan ini Hannah merasa harinya sedikit lebih berat karena pikirannya terkuras dengan surat dari pengadilan tempo hari.


Dering panggilan terdengar dari ponsel milik Hannah yang ada di saku belakang celananya.


Nama Tante Melly muncul di layar ponselnya.


"Hallo Tante." sapa Hannah pada Melly.


"Hannah.....Tante ingin mengundangmu untuk makan malam hari ini.Bisa kan ?!"


pinta Melly dari balik ponsel.


"Bisa Tante.Dengan senang hati." jawab Hannah dengan senyuman.


"Baiklah.Kalau begitu sopir Tante akan menjemputmu nanti malam jam 7."


Melly senang Hannah menerima undangannya untuk makan malam.


"Iya Tante." saut Hannah.


"Tante tunggu ya.Bye Hannah."


Melly menutup panggilannya.


Hari itu Melly sengaja memasak sendiri untuk makan malam.Belakangan ini memang Melly sering berada di rumah.


Dia sudah mulai bisa menepis kesedihan tentang kepergian suaminya.


Bahkan selama ditinggal Joe keluar kota,Melly sempat beberapa kali masuk ke dalam kamar anaknya itu.


Pernah satu kali Melly tertidur di kamar Joe.


Sore harinya Melly tampak sibuk di dapur bersama pembantunya.


Beberapa menu andalan Melly pun berhasil di eksekusi dengan baik.


"Terima kasih ya Bi sudah membantu saya memasak hari ini." ucap Melly pada pembantunya.


"Sudah menjadi tugas saya Nyonya." jawab pembantu itu dengan menundukkan kepala.


"Bibi tolong siapkan semuanya di meja makan ya.Hari ini saya ada tamu untuk makan malam." Melly meninggalkan pembantunya dengan sebuah senyum hangat.


"Baik Nyonya." jawab si pembantu.


"Nyonya sudah berubah." gumam pembantu itu dalam hati.Dia ikut bahagia karena Nyonya besarnya sudah kembali seperti dulu lagi.


Makanan sudah siap.Sopir juga sudah berangkat sedari tadi untuk menjemput Hannah di rumahnya.


Dari luar terdengar suara mobil berhenti.


Melly berjalan menuju pintu utama dan membukanya sendiri untuk melihat siapa yang datang.


Senyum Melly seketika mengembang melihat Hannah lah yang turun dari mobil itu.


"Hai Hannah." Melly menyambut Hannah.


Hannah berjalan mendekati Melly.


"Tante." ucap Hannah.


"Ayo masuk." Melly merangkul bahu Hannah dan menggiringnya masuk menuju ke ruang makan.


Hannah mengikuti langkah Melly memasuki rumah mewah itu.


Melihat interior rumah itu Hannah jadi berdecak kagum.Sangat elegan.


Tapi Hannah tidak berani berlama-lama menikmati keindahan rumah itu.Dia berjalan sambil menundukkan kepalanya.


Rasanya Hannah berjalan begitu lama ke ruang makan saking luasnya rumah itu.Ini adalah rumah paling mewah yang pernah ia masuki.Bahkan rumah Harry pun tidak semewah rumah Melly.


Akhirnya mereka sampai di ruang makan.


"Duduklah Hannah." Melly mempersilahkan Hannah untuk duduk.


"Iya Tante." Hannah menggeser kursi kayu di sampingnya lalu duduk diatas kursi itu.


"Tante senang sekali Hannah bersedia makan malam disini." Melly tampak bahagia sekali.


"Hannah juga senang Tante." balas Hannah.


"Oya....Anak Tante apa tidak ikut makan malam ?" imbuh Hannah.


"Anak Tante sedang keluar kota ada urusan bisnis." jawab Melly.


"Owh...Saya kira anak Tante masih sekolah.Soalnya Tante masih kelihatan sangat muda." kata Hannah memuji wajah awet muda Melly.


"Bisa saja kau bercanda." Melly tertawa mendengar perkataan Hannah.


"Memang benar wajah Tante masih sangat muda." timpal Hannah.


"Sudah.Ayo kita makan saja." kata Melly kemudian.


Melly tersenyum dan mereka mulai membalikkan piring masing-masing yang ada di hadapan mereka dan mengisinya dengan makanan yang ada di meja makan.


Lalu mereka mulai menyantap hidangan di piring mereka sampai habis.


"Enak sekali Tante makanannya." puji Hannah.


"Oya...terima kasih Hannah.Ini Tante yang masak dibantu sama Bibi." Senyuman hangat tersungging di bibir Melly.


"Wah....Hannah tidak menyangka kalau Tante pandai sekali memasak." Hannah heran karena wanita kaya raya seperti Melly masih mau berurusan dengan urusan dapur.


"Sejak dulu memang Tante suka memasak." saut Melly.


"Oya.....kalau boleh Tante tau...apa Hannah sudah punya kekasih ?" imbuh Melly.


Hannah sejenak diam.


"Hannah belum kepikiran untuk punya kekasih Tante." jawab Hannah kemudian.


"Benarkah...? Pasti akan sangat menyenangkan punya menantu sepertimu." Melly berandai-andai.


"Tapi sayang mertuaku dulu tidak sebahagia itu mempunyai menantu sepertiku." batin Hannah.


Hannah hanya tersenyum dan tidak membalas ucapan Melly.


"Bagaimana kalau kita ngobrolnya di ruang keluarga saja." ajak Melly.


"Baik Tante." Hannah berjalan mengikuti Melly ke ruang keluarga.


Mereka duduk di sofa sambil menonton acara televisi.Mereka berbincang-bincang tentang banyak hal.Bahkan Melly dan Hannah sesekali tertawa dengan obrolan mereka.


"Apa anak Tante hanya satu ?" tanya Hannah.


"Iya...Tante hanya mempunyai satu anak laki-laki.Namanya Jonathan." jawab Melly.


"Dulu waktu Jonathan baru berumur 2 tahun,Tante sakit dan mengharuskan dokter untuk mengangkat rahim Tante.Jadi ya...Tante tidak bisa mempunyai anak lagi." terang Melly kemudian.


"Maaf Tante....Hannah tidak bermaksud..." Hannah belum menyelesaikan ucapannya tapi Melly lebih dulu menyautinya.


"Tidak apa-apa.Lagipula itu sudah lama sekali." kata Melly.


Mereka begitu asyik mengobrol sampai-sampai tak terasa mereka sudah menhabiskan waktu bersama selama dua jam.


"Sudah malam Tante.Saya mau pamit pulang dulu." Hannah menyudahi obrolan mereka.


"Tidak terasa ya.....baiklah biar sopir mengantarmu pulang ya." kata Melly.


"Saya naik taxi saja Tante." Hannah menolak tawaran Melly.


"Jangan....biar diantar sopir saja." larang Melly.


Hannah pun merasa tidak enak hati untuk menolak lagi.Akhirnya Hannah menyetujuinya meskipun sebenarnya dia merasa kurang nyaman di antar jemput seperti itu.


Mobil yang ditumpangi Hannah perlahan mulai melaju keluar dari halaman rumah itu.


Melly masih menunggu di teras sampai mobil itu benar-benar keluar dari pintu gerbang.


"Andai saja aku punya anak perempuan seperti Hannah." gumam Melly sambil melipatkan kedua tangannya.