Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
GANG SEMPIT



Hannah sedang berada di depan sebuah toko pernak pernik.Dia ingin membeli hadiah ulang tahun untuk Melly.


Namun dari tadi otaknya hanya berputar-putar pada satu pemikiran.


Dengan melihat status Melly, Hannah bingung harus memberikan kado apa untuknya.Ingin membeli tas atau sepatu...tapi selera Melly pastilah jauh diluar jangkauan keuangannya.Hannah tidak akan mampu membelinya.


Hannah mondar-mandir di depan toko.Dia menggigit jarinya dan tak henti berpikir.Apakah Melly akan menerima hadiah murah yang mampu dia beli.


Setelah cukup lama berpikir akhirnya Hannah memutuskan untuk masuk ke dalam toko itu.


Hannah berkeliling melihat-lihat kira-kira hadiah apa yang akan dia beli untuk Melly.


Hanah mengambil sebuah guci kecil dari salah satu rak di toko itu.


"Ini cantik.Pasti akan terlihat indah untuk hiasan di dalam kamar." Hannah memperhatikan dengan seksama benda yang ada di tangannya itu.


Air muka Hannah berubah kecewa.Senyum yang tadi mengembang tipis pun lenyap.


"Benda seperti ini pasti sudah banyak di rumah tante Melly.Dan pastinya juga lebih mahal." batinnya.


Langkah Hannah berlanjut ke rak sebelahnya.Matanya tak henti memilah-milah barang dengan jeli.Namun dia tak menemukan barang yang dia rasa cocok untuk kado.Secara orang yang akan dia beri kado adalah Nyonya Besar yang terbiasa dengan barang-barang branded.


Hannah terus berjalan mengelilingi seisi toko.pandangannya pun menyapu seluruh ruangan dengan rak-rak yang berjajar rapi dengan seksama.


Hannah tertarik untuk mendekat pada topi yang berderet rapi di rak atas dan syal yang tergantung rapi di bawahnya.


Hannah mendekat dan memilah-milah syal yang tergantung rapi itu.


Syal rajut berwarna pastel yang menurutnya itu sangat cantik.


"Tante Melly pasti akan sangat cantik memakai syal ini.Ya meskipun bukan barang branded sih." Hannah menepis keraguan di hatinya.Karena hanya barang-barang seperti itu yang mampu dia beli.


Hannah keluar dari dalam toko dengan menenteng satu paperbag berisi syal yang sudah terbungkus rapi dengan kertas kado lengkap dengan ucapan selamatnya.


Selesai belanja kado Hannah berniat melihat rumah sewa yang kemarin dia lihat dari internet.Letaknya tidak begitu jauh dari toko tempat dia membeli kado.Hanya dengan berjalan kaki selama sepuluh menit dia sudah sampai di lokasi yang dimaksud.


Hannah memasuki gerbang rumah yang tidak terkunci.Lalu dia mengetuk pintu rumah itu.Seorang laki-laki berumur 40an keluar dari dalam rumah.


"Tuan Lane ?" tanya Hannah lada laki-laki yang memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki itu.


"Ya.Ada yang bisa saya bantu ?" jawab laki-laki itu tanpa mempersilahkan Hannah masuk.


"Maaf Tuan...Saya sedang mencari rumah sewa dan saya tertarik dengan iklan yang Anda pasang di internet.Boleh saya melihat rumahnya Tuan ?" Hannah bersikap sesopan mungkin.


Laki-laki itu masih memperhatikan Hannah dengan tatapan yang membuat Hannah merasa tidak nyaman.


"Ikuti saya." Laki-laki itu menutup pintu rumahnya dan berjalan mendahului Hannah.Dia membimbing Hannah menyusuri gang sempit yang sedikit becek.Sesekali laki-laki itu menoleh ke arah Hannah.


"Perasaanku tidak enak." Batin Hannah memperingatkan.


Akhirnya mereka sampai di lokasi yang dituju.Hannah melihat sekeliling dan timbul rasa ngeri di benaknya.


begitu pintu rumah di buka.Hannah merasa enggan untuk masuk.Dia hanya melongokkan kepalanya melihat isi rumah.


Rumah petak hanya dengan satu kamar tidur dan ruang tamu yang tidak bersekat dengan dapur.Plus lingkungan yang terlihat kumuh.


"Silahkan melihat-lihat Nona." kata Laki-laki yang ada di ambang pintu itu.Tatapannya sangat mencurigakan.


"Terimakasih Tuan.Tapi saya masih ada urusan lain.Saya akan menghubungi Anda lagi." Hannah berusaha untuk segera meninggalkan tempat itu.


Hannah berbalik dan melangkah menjauh saat tiba-tiba tangannya ditarik dengan kasar dari arah belakang.


"Kenapa terburu-buru Nona ?!" Tuan Lane menarik kasar tangan Hannah.


"Aaww....!"


"Lepaskan tanganku !" Hannah berontak.


Benar saja apa yang dia takutkan terjadi.


Laki-laki itu mencengkeram kuat tangan Hannah dan berusaha menarik Hannah dalam pelukannya.


Hannah meronta sekuat mungkin.Dengan cepat Hannah menendangkan kakinya tepat ke **** laki-laki itu.Hannah berhasil kabur meninggalkan laki-laki yang kesakitan di belakangnya.


Yang ada di pikiran Hannah hanya berlari sejauh mungkin menyusuri gang yang dia lewati tadi.


Dia sangat ketakutan dan begitu berhasil keluar ke jalan raya Hannah berhenti di depan sebuah gerai percetakan.Nafasnya tersengal-sengal.Keringatnya bercucuran.Dia bersandar pada dinding bangunan itu dan tak kuasa lagi menahan air matanya.


Hari yang semakin gelap menambah ketakutan Hannah semakin menjadi.Dia menurunkan tubunya dan duduk dengan memeluk kedua lututnya.Kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan air matanya.Sementara orang yang berlalu lalang hanya memandangnya sekilas dan tidak peduli.


Langkah cepat seseorang mendekati Hannah.suara hentakan sepatunya pun begitu nyaring terdengar.


"Hannah ?!"


" Joe !" Hannah mengangkat kepalanya dan melihat Joe sedang menunduk memegang bahunya.Hannah spontan memeluk Joe saking ketakutannya akan apa yang baru saja dia alami.


"Ternyata benar kau.Ada apa ? Kenapa kau ada disini ?" Joe membiarkan Hannah memeluknya.


Hannah tidak bisa berkata-kata.Dia tenggelam dengan isakan tangis dalam dekapan laki-laki itu.


Joe memberanikan diri mengelus lembut rambut Hannah dan membalas pelukannya.


"Ayo pulang !" suara Joe rendah.


Hannah melepas pelukannya dan menyeka air matanya.Berusaha untuk tenang karena sekarang ada Joe bersamanya.


"Mobilku di seberang jalan." Joe menuntun Hannah berjalan ke mobilnya.