Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
MENGGEMASKAN



Hannah perlahan mengerjapkan matanya.Tubuhnya menggeliat meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena terlalu banyak berbaring.


Saat Hannah sudah bisa memfokuskan pandangannya,orang pertama yang dia lihat duduk disampingnya adalah Joe.


Dalam hatinya bertanya-tanya.Dimana Mike ? Tapi Hannah bersyukur Mike tidak ada disana.Karena kalau sampai Mike masih berada disana,Hannah pasti akan sangat merasa gugup dan malu.


"Kau sudah bangun ?" Senyum ramah mengembang di wajah Joe.


"Kapan kau datang ?" Hannah merubah posisi tidurnya menjadi duduk bersandar pada bantal.


"Tadi jam 5.Maaf ya semalam aku tidak bisa kembali kesini.Karena pagi-pagi sekali aku harus mengantar pamanku ke bandara." Jawab Joe.


Pandangan Hannah menyapu ruangan itu seolah sedang mencari sesuatu.Mata Joe mengikuti arah pandangan Hannah bahkan sampai ke pintu.


Joe tersenyum.Dia tau apa yang dicari Hannah.


"Mike ? Dia sudah pulang." Kata Joe.


Hannah langsung mengalihkan pandangannya ke bawah.Dia malu ternyata Joe memperhatikan apa yang dia lakukan.


"Owh..." ucap Hannah.


Mereka berbincang begitu akrab.Hannah bahkan bisa tertawa karena candaan Joe.Hingga suara dokter yang akan memeriksa kondisi Hannah menghentikan perbincangan mereka.


"Selamat pagi Nona Moore ! Anda sudah terlihat sangat sehat hari ini." Sapa si dokter.


Hannah tersenyum cerah dan membiarkan dokter itu melakukan pemeriksaan.


"Kondisi Nona Moore sudah membaik." Kata dokter itu.


"Kapan saya boleh pulang dok ?" Tanya Hannah.


"Sepertinya Nona Moore sudah tidak sabar ingin segera pulang ya." Dokter itu tersenyum ramah.


Hannah hanya tersenyum berharap bisa segera pulang.


"Tensi Nona Moore masih rendah.Kita tunggu hasil pemeriksaan besok pagi.Kalau tensinya sudah normal Nona Moore boleh pulang." Terang dokter itu.


Ada guratan kekecewaan di wajah Hannah.Dia sudah sangat berharap bisa segera pulang.


"Kau harus makan yang banyak kalau kau ingin pulang." Kata Joe.


Hannah tersenyum kecil.


Dokter telah menyelesaikan pemeriksaannya dan meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.


"Oya Hannah....nanti siang aku ada meeting dengan client.Tidak apa-apa kan aku tinggal sebentar ?" Joe memang hanya mengosongkan jadwalnya selama dua hari.Dan ini hari ketiga.Jadi Joe tidak bisa sepenuhnya menemani Hannah lagi di rumah sakit.


"Tidak perlu mengkhawatirkanku.Selesaikanlah pekerjaanmu." Hannah tidak mau menjadi penghambat pekerjaan Joe.Sejauh ini dia sudah terbiasa sendiri.Jadi apa masalahnya kalau sekarang Joe tidak ada disana.Toh kondisi tubuhnya sudah semakin baik.Jadi tidak ada alasan lagi baginya untuk menahan Joe.


***


Mike berjalan menuruni tangga menuju ke ruang makan untuk sarapan dengan keluarganya.


Badan Mike terasa pegal-pegal karena semalam tidurnya tidak dengan posisi yang nyaman.


"Pagi Pa,Ma !" Sapa Mike pada kedua orang tuanya.Isabel belum terlihat di ruangan itu.


"Isabel belum bangun Ma ?" Tanya Mike pada Mamanya.


"Mama baru saja menyuruh Bibi untuk memanggilkan Isabel." Jawab Emma.


Mike mulai mengambil roti tawar yang ada diatas meja.


"Memangnya semalam kau menginap dimana Mike ?" Tanya Emma yang terlihat sedang membuatkan roti lapis untuk suaminya.


Mike menghentikan gerakan tangannya saat hendak mengambil roti tawar.Tidak mungkin dia jujur.Bisa membuat Emma salah paham nantinya.


"Eh..Mike menginap di rumah teman Ma." Jawab Mike seraya mengambil roti tawar.


"Siapa temanmu itu Mike ?" Desak Emma.


Mike kebingungan menjawab pertanyaan sederhana dari Emma.


"Pagi semua !" Teriak Isabel yang sedang berjalan menuju meja makan dengan piyama lengkap yang masih membalut tubuhnya.


Mike menghela nafas lega karena teriakan Isabel bisa menyelamatkannya dari pertanyaan Emma.


"Kenapa kau masih memakai piyama Sayang ?" Tanya Emma yang heran melihat anak perempuannya belum bersiap untuk ke sekolah.


Isabel menarik kursi di sebelah Mike dan duduk diatasnya.


"Isabel kesiangan Ma.Semalam Isabel tidak bisa tidur." Jawabnya enteng.


"Tapi nanti kau bisa terlambat sekolah Sayang." Kata Emma.


"Kalau kau sampai terlambat Papa akan memotong uang jajanmu !" saut Papa Jhon.


"Selesai sarapan Isabel akan mandi secepat kilat Pa." jawab Isabel enteng.


Dia pun segera mengambil roti tawar dan mengolesinya dengan selai kacang.Dengan cepat Isabel menghabiskan roti itu lalu meneguk susu hangat yang sudah disediakan oleh Bi Ester di meja makan.


Benar saja setelah selesai menyantap sarapannya Isabel berlari ke kamar dan mandi secepat kilat.


Yang masih berada di meja makan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Isabel.


"Dasar anak itu !" Emma tersenyum.


Mike pun sudah menyelesaikan sarapannya dan dia tidak menunggu lama lagi.Dia segera beranjak dari meja makan untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan dari Emma.


"Mike berangkat dulu Ma,Pa " pamit Mike.


"Kenapa terburu-buru Mike ?" tanya Jhon.


"Mike ada meeting penting Pa." jawab Mike.


Mike berjalan cepat ke halaman.Mobilnya sudah disiapkan oleh sopir.Mike masuk ke dalam mobil dan perlahan melajukan mobilnya meninggalkan rumah.


Dalam perjalanan ke kantor Mike kembali teringat akan kejadian semalam.


"Apa yang terjadi semalam ? Kenapa aku bisa seperti itu ?" Mike masih tidak percaya kalau semalam dia ingin sekali mencium bibir Hannah.


"Hannah pasti marah sekali denganku." gumamnya lagi.


"Mungkin sebaiknya untuk sementara waktu aku tidak bertemu dia dulu.Aku benar-benar merasa tidak enak.Bahkan kalau Joe sampai tau,entah apa yang akan dilakukan Joe padaku." Mike tidak ingin merusak hubungan baiknya dengan Joe maupun Hannah.


Sekilas terlihat senyuman tipis mengembang di wajah Mike.


"Tapi.....Hannah menggemaskan sekali semalam.Apalagi setiap aku mengerjainya." batin Mike.