Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
BAUT YANG HILANG



Hannah meletakkan kaleng cola itu di samping tempat duduk.Mau bagaimana lagi.....sudah terlanjur.


Dengan perut yang sudah terisi meskipun hanya separuh burger,tapi sudah cukup membuat mereka berpikir jernih.Hanya saja situasi canggung kembali menghampiri mereka.Masih teringat jelas dalam pikiran mereka bagaimana terakhir kali mereka bertemu.


Hannah melirik Mike yang terlihat mulai mengemudikan mobilnya.


Mike juga melirik Hannah yang terlihat lebih tenang sekarang.Tubuhnya sudah tidak gemetaran lagi.


"Lain kali hati-hatilah kalau menyeberang." Mike memecah keheningan dalam mobil itu.


Hannah masih diam.Dia tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Mike.Pikirannya masih berfokus pada dimana dia harus tinggal selanjutnya.


Mike menoleh kepada Hannah.Dia melihat perempuan itu memandang lurus ke depan tapi tatapan itu kosong.


"Hei...Aku bicara denganmu !" Mike setengah berteriak.


Hannah kaget mendengar Mike berteriak lagi kepadanya.


"Kenapa berteriak ?" Hannah memandang Mike dengan tatapan keheranan.


"Ck...." Mike berdecak kesal.Dia melirik tajam pada Hannah.


"Apa sih yang ada di otaknya ?! " gumam Mike dalam hati.


Hannah kembali melamun.Dia tidak memperhatikan wajah Mike yang semakin kesal dengannya.


Mike membiarkan Hannah hanyut dalam lamunannya.Mungkin hari ini sangat berat untuknya.Pikir Mike.


"Tuan...."


"Mike !" potong Mike.Mike tidak suka dipanggil 'Tuan' oleh Hannah.


Hannah mengulangi apa yang hendak dia ucapkan.


"Mike...." Hannah sangat canggung memanggil nama itu.


"Terima kasih telah membantuku." lanjut Hannah.


"Hemm."


Mike tak mengalihkan pandangannya.Dia tetap fokus memandang ke depan.


Melihat reaksi Mike,Hannah kembali diam.Dia bahkan tidak berani memandang Mike.


"Kenapa dengan orang ini ?" batin Hannah.


"Lain kali berhati-hatilah kalau menyeberang.Mungkin kau tidak akan selamat untuk ketiga kalinya." nada kesal masih terdengar jelas pada kata-kata Mike.


"Tiga kali ?" Hannah bingung.Tidak memahami ucapan Mike.


Mike melirik Hannah gugup.Dia lupa kalau yang pertama Hannah tidak tau dia jugalah yang menabraknya waktu itu.


"Pokoknya hati-hati saja lain kali."


Hannah berhenti bertanya-tanya.Dia lebih memilih diam.


"Joe bilang kau pergi ke gang belakang Jl.West." Mike membuka percakapan lagi.


Hannah menoleh ke arah Mike.Dia langsung teringat kejadian yang menimpanya waktu itu.Hannah memegang tengkuknya.Bulu kuduknya berdiri mengingat kejadian itu.Benar-benar menakutkan.


"Jangan pergi kesana lagi.Disana berbahaya." tambah Mike.


"Kenapa dia jadi begitu cerewet sekarang ?" Hannah masih berbicara dalam hatinya.Tadi Mike berteriak padanya.Sekarang dia sangat cerewet dengannya.


"Aku terpaksa kesana." saut Hannah kemudian.


"Kau tenang saja.Joe akan membantumu." Dengan begitu entengnya Mike berbicara seperti itu.Mike tidak tau teror yang dialami Hannah.


Mike merasakan ada yang salah dengan mobilnya saat tiba-tiba mobil itu sedikit oleng.


"Kenapa ini ?" kata Mike.Lalu dia menepikan mobilnya.


"Ada apa ?" tanya Hannah.


"Aku periksa dulu." Mike keluar dari dalam mobil dan berjalan mengitari mobilnya.Ternyata ban belakangnya kempes.


"Ah...sial ! Kempes lagi !" Mike menendang ban belakangnya yang kempes.


Mike berjalan ke depan ke sisi mobil dimana Hannah duduk.Hannah yang melihat Mike berjalan ke arahnya dari kaca spion lantas membuka kaca mobil di sampingnya.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Hannah.


"Bannya kempes.Aku akan menggantinya dulu." jawab Mike.


Lalu Mike berjalan ke belakang lagi mengambil ban serep dan peralatan untuk mengganti bannya.


Perlahan Hannah bisa merasakan mobil yang dia naiki meninggi dengan bertahap akibat dongkrak yang dipasang Mike.


Hannah melihat dari kaca spion Mike dengan trampil melepas baut-baut yang menempel di ban itu.Ban yang kempes pun terlepas sudah dari tempatnya.


Hannah terus memperhatikan Mike hingga timbul pertanyaan di hatinya.


"Kenapa sikapnya berubah-ubah ? Di satu sisi dia sangat baik.Tapi di sisi lain dia sangat menyebalkan."Hannah setengah memutar bola matanya saat hatinya mengucapkan kalimat terakhirnya itu.


Mike memasang ban baru dengan hati-hati.Satu persatu baut besar itu dia putar hingga kencang.Tinggal satu baut lagi tapi Mike tidak bisa menemukannya.


"Dimana bautnya ?" Mike berjongkok sambil celingukan mencari satu baut yang hilang dari pandangannya.Dia berdiri lalu melihat ke sekelilingnya.


Namun tidak ada juga.


"Apa di kolong mobil ya ?" Mike bicara sendiri.Dia menurunkan tubuhnya lalu melihat ke bawah mobil.Dibawah mobil itu gelap sekali jadi dia ambil ponsel dari saku celananya dan menyalakan senter dari ponselnya itu.


Benar saja Mike melihat baut itu di tengah-tengah kolong mobil.


Mike berdecak kesal karena dia harus masuk ke kolong mobil agar bisa menjangkau apa yang dia cari.


Dengan terpaksa Mike merayap ke kolong mobil dengan mengandalkan cahaya senter dari ponselnya.Hannah yang memperhatikan Mike dari kaca spion jadi penasaran dengan apa yang dilakukan Mike.


"Bukannya hanya mengganti ban.Kenapa dia masuk ke kolong mobil ?" Hannah bertanya pada dirinya sendiri.


"Apa yang kau lakukan dibawah ?"


Pertanyaan Hannah membuat Mike yang hendak keluar dari kolong mobil terkejut.Tak ayal kepala Mike terbentur bagian bawah mobil dan baut yang tadi sudah dia pegang pun terlepas dari genggamannya.


Mike berdiri dengan menunjukkan wajah kesalnya.


"Kenapa mengagetkanku ?!" kata Mike kesal sambil memegang belakang kepalanya yang terbentur tadi.


Hannah takut melihat wajah kesal Mike.Dia seperti seekor kelinci di hadapan harimau lapar.


"Maaf.Aku tidak bermaksud mengagetkanmu." Ucap Hannah lirih.


"Kau harus tanggung jawab !


Ambil baut yang ada di kolong mobil itu !" perintah Mike yang masih kesal.


Tanpa berani membantah Hannah pun mengikuti perintah Mike.


"Baiklah." Hannah pasrah.


Dia merangkak di kolong mobil dengan bantuan senter dari ponsel Mike.


Dengan postur tubuh Hannah yang kecil,membuat hampir seluruh tubuhnya masuk ke kolong mobil.


Hannah melihat ke sekeliling di bawah mobil tetapi tidak melihat benda yang dia cari.


"Aku tidak bisa menemukannya disini."


Kata Hannah yang masih berada di bawah mobil.


"Carilah dengan benar !" suruh Mike yang sedari tadi berjongkok sambil mengarahkan senternya ke sekeliling dibawah mobil itu.


Hannah mencari-cari dengan teliti.Tapi tidak menemukannya juga.


"Tidak ada disini." kata Hannah lagi.


Lalu Mike melihat ke sekeliling mobil.Senyum jahilnya menyeringai saat Mike melihat baut yang dia cari ternyata jatuh di dekat ban belakang.


"Aku tidak mau tau.Kau harus menemukannya." kata Mike dibarengi senyumnya yang jahil.Mike mematikan senternya dan memasukkan ponselnya ke saku celana.


"Hei...arahkan senternya kemari ! Aku tidak bisa mencarinya kalau gelap begini."teriak Hannah yang masih tengkurap dibawah mobil.


"Kau tidak boleh pulang sampai kau menemukan baut itu !" Mike menahan tawanya.


"Iya..akan aku cari.Tapi arahkan senternya kesini !"


Mike tidak menjawab.Dia sibuk tertawa cekikikan tanpa bersuara.


Hannah curiga melihat bayangan Mike di aspal yang sepertinya sedang tertawa.Hannah merangkak mundur keluar dari kolong mobil.


Melihat Hannah perlahan keluar Mike menyudahi tawa tak bersuaranya.Lalu memasang wajah serius.


"Apa sudah ketemu ?" tanya Mike dengan nada datar tapi serius.


Hannah masih curiga dan bertanya-tanya.Tapi dia tidak berani mengutarakan kecurigaannya karena mereka belum terlalu kenal.Lagipula orang seperti Mike sepertinya bukan tipe orang yang suka bercanda.Kurang lebih seperti itu yang dipikirkan Hannah.


"Masa iya tadi dia mentertawakanku ?!" Hannah menepis kecurigaannya dalam hati.


"Aku tidak bisa menemukannya dalam keadaan gelap."kata Hannah dengan wajah cemberut dan memelas.


"Kau saja yang tidak bisa mencari dengan benar.Minggir biar aku saja." Mike menggeser tubuh Hannah dengan tangan kirinya.


Mike membungkuk dan mengambil baut dengan cepat agar Hannah tidak mengetahuinya lalu dia pura-pura merangkak ke kolong mobil.


Dalam sekejap Mike sudah keluar dan berdiri di hadapan Hannah.Tangan kanannya menunjukkan benda yang di cari-cari Hannah dari tadi.


"Tidak sulit kan ?!" katanya kemudian.


Hannah menghela nafas lega akhirnya baut itu ketemu.Tanpa dia sadari bahwa Mike mengerjai dirinya.


Mike segera memasang baut terakhir itu dan memutarnya hingga kencang.Hannah masih berdiri di samping Mike untuk menemaninya.


Setelah selesai Mike membereskan ban dan perkakasnya kembali.Lalu dia melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Sudah hampir pagi.Ayo pulang." kata Mike tanpa memperhatikan Hannah yang dari tadi menemaninya disana.


Hannah memperhatikan kemeja putih Mike yang kotor terkena debu dan bekas oli dari mobilnya.


"Lihatlah kemejamu jadi kotor begitu." celetuk Hannah.


"Sudah tau."kata Mike sambil berjalan lalu masuk ke dalam mobil.


Hannah mengikutinya masuk ke dalam mobil.


"Bersihkan wajahmu." Kata Mike sambil menahan tawa.Dia menyodorkan tissue kepada Hannah.


"Wajahku kotor ya ?" Hannah mengarahkan kaca spion di depannya ke arah wajah.


Hannah terkejut melihat sebagian wajahnya hitam.Rupanya saat dia menyeka keringat di dahi dan pipi, tangannya kotor terkena bekas oli dari bagian bawah mobil yang tanpa sengaja dia pegang waktu merangkak keluar kolong mobil tadi.


Dia jadi sangat malu.Dia memberitahu Mike tentang kemejanya yang kotor tetapi wajahnya sendiri ternyata juga kotor.Dengan cepat dia ambil tissue yang di berikan Mike dan segera membersihkan wajahnya.


"Kok tidak bisa bersih ya ?" gumam Hannah sambil melihat ke kaca spion yang masih mengarah ke wajahnya.


Mike tertawa kecil melihat Hannah yang kesal karena wajahnya tak kunjung bersih meskipun sudah dia gosok dengan keras.


"Kenapa kau tertawa ?" sekarang Hannah jadi kesal dengan Mike.


"Ini semua karenamu !" tambah Hannah.


"Siapa suruh mengagetkanku ?" tukas Mike.


Hannah hanya menggerutu kesal karena noda di wajahnya tak kunjung hilang dengan tissue yang kering.Hingga kulitnya jadi merah karena terlalu keras menggosoknya.


"Bersihkan saja nanti di rumah.Lihatlah kulitmu jadi merah !"kata Mike.


Hannah menyerah.Lagipula hanya Mike yang melihat wajahnya belepotan noda bekas oli.