
Hari itu Hannah berencana untuk belanja bulanan ke supermarket karena bahan makanan di dapurnya sudah habis.
Hannah berangkat ke supermarket dengan naik taxi.
Sesampainya di sana Hannah segera memilih barang-barang yang hendak dia beli dan memasukkannya ke dalam trolly.
Ketika hendak menuju ke kasir untuk membayar belanjaannya, Hannah melihat ada seorang wanita paruh baya yang sepertinya sedang kebingungan dan kesulitan membawa belanjaan yang hendak dibelinya.Karena trolly miliknya sudah sangat penuh dengan belanjaan sehingga dia tidak bisa memasukkan sisa belanjaannya dalam trolly.
Hannah berjalan mendekati wanita itu.
"Apa anda butuh bantuan dengan belanjaan anda Nyonya ?" Hannah menawarkan bantuan untuk membantu wanita itu karena trolly nya tidak terlalu penuh dengan barang-barang belanjaan.
Wanita itu menoleh ke arah Hannah.Dia memperhatikan Hannah sejenak.Lalu dia melihat trolly Hannah yang terlihat masih ada ruang untuk menaruh barang.
"Iya Nak terima kasih." kata wanita itu.
"Mari Nyonya saya bantu bawakan belanjaan Nyonya." ucap Hannah dengan senyum simpulnya.
Lalu wanita itu menaruh sebagian belanjaannya ke trolly Hannah.
"Apa masih ada yang mau dibeli lagi Nyonya ?" tanya Hannah setelah belanjaan yang tadi beres.
"E....sepertinya sudah semua.Terima kasih ya Nak." wanita itu tersenyum.
"Kebetulan saya juga sudah selesai.Kita bisa ke kasir bersama Nyonya." ajak Hannah.
"Baiklah." wanita itu mengiyakan.
Mereka lantas berjalan beriringan menuju kasir.
"Oya nak...siapa namamu ?" tanya wanita itu.
"Saya Hannah Nyonya." jawab Hannah lembut.
"Saya Melly." Iya wanita itu adalah Melly Mamanya Joe.
"Apa Nyonya sendirian ?" tanya Hannah.
"Iya Nak.Tadinya saya hanya ingin membeli beberapa barang saja.Tapi malah jadi sebanyak ini." ujar Melly.
Setelah selesai membayar belanjaan mereka masing-masing mereka pun berjalan keluar dari supermarket.
Hannah membantu Melly membawa sebagian belanjaannya.
Tak lama sopir Melly sudah menjemput.
Barang-barang belanjaan Melly segera dimasukkan ke dalam bagasi oleh sopirnya.
"Kau naik apa tadi Nak ?" tanya Melly.
"Saya naik taxi Nyonya." jawab Hannah.
"Biar saya antar pulang ya." tawar Melly untuk membalas kebaikan Hannah.
"Tidak usah Nyonya.Saya naik taxi saja."
tolak Hannah.
"Tidak apa-apa Nak.Ayo masuklah." Melly membukakan pintu belakang mobil untuk Hannah.
Hannah merasa tidak enak kalau menolak Melly lagi.Jadi dia mengiyakan tawaran Melly dan segera masuk ke dalam mobil Melly.
Perlahan mobil Melly meninggalkan halaman supermarket.
Hannah menunjukkan jalan kearah rumahnya.
"Maaf saya jadi merepotkan Nyonya." kata Hannah.
"Tidak..tidak..Saya hanya membalas kebaikanmu saja." timpal Melly.
"Sepertinya dia anak baik-baik." batin Melly.
"Berhenti di rumah bercat putih itu ya pak." kata Hannah pada sopir Melly.
"Baik Nona." kata sopir itu.
Sesampainya di depan rumah....
"Kecil sekali rumahnya." batin Melly yang memperhatikam rumah sederhana Hannah.
"Sepertinya tidak ada orang di rumah." ujar Melly yang melihat rumah Hannah begitu sepi.
"Memang tidak ada orang di rumah.Karena saya tinggal sendirian disini Nyonya." timpal Hannah.
"Oya....memangnya orang tuamu tinggal dimana ?" tanya Melly yang membuat Hannah seketika menunduk sedih.
"Orang tua saya sudah meninggal Nyonya." jawab Hannah dengan memaksakan senyuman untuk menutupi kesedihannya.
"Hannah...maafkan saya.Saya tidak bermaksud membuatmu sedih." Melly menyesal telah menanyakan pertanyaan yang membuat Hannah sedih.
"Tidak apa-apa Nyonya." ucap Hannah.
"Kalau begitu saya turun dulu Nyonya.
"Lain kali saja ya.Terima kasih tadi sudah membantu saya." Melly tersenyum hangat.
Hannah membalas senyuman Melly.
Lalu Melly menutup kaca mobilnya dan mobil itu segera berlalu dari rumah Hannah.
Setelah mengantar Hannah Melly pun pulang.Entah kenapa hari itu dia malas sekali keluar rumah.Padahal hari-hari biasanya dia tidak pernah betah dirumah.
Melly dibantu pembantunya mengeluarkan belanjaannya satu persatu dan menatanya di lemari es.
Melly menyisakan beberapa bahan makanan di meja dapur.
Melly tampak ragu-ragu memegang pisau sambil memandangi daging segar yang ada di meja dapur.
"Biar saya saja Nyonya." pembantunya khawatir melihat Nyonya Besar yang sudah sejak lama tidak pernah pegang pisau di dapur.Tepatnya semenjak Tuan Besar meninggal.
"Tidak apa-apa Bi.Biar saya saja." Melly meraih daging itu dan mulai memotong-motongnya.
Dulu suaminya sangat suka dimasakkan daging oleh Melly.Karena dulu Melly selalu ikut memasak untuk keluarganya.
Dan hari itu tiba-tiba Melly ingin memasak makanan kesukaan suaminya tersebut.
Pembantunya ikut membantu menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.
Melly terlihat begitu sedih saat memasaknya.Meskipun begitu Melly tetap melanjutkannya hingga masakan itu matang dan siap untuk disajikan.
"Tolong siapkan di meja makan ya Bi." perintah Melly pada pembantunya.
"Baik Nyonya." jawab pembantunya.
"Oya....panggilkan Joe untuk makan siang." imbuh Melly.
Sementara pembantunya menyiapkan makanan di meja makan.Melly berlalu dari dapur menuju ke kamarnya.
Tok....Tok.....Tok....!!
"Tuan Muda...!" Terdengar suara panggilan dari luar kamar Joe.
Joe yang waktu itu sedang asyik membaca buku segera membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Bi ?" tanya Joe setelah membuka pintu.
"Nyonya menyuruh saya memanggilkan Tuan untuk makan siang." kata pembantu itu sambil menunduk.
"Mama yang menyuruh Bibi ?" Joe tampak terkejut karena sudah lama sekali mamanya tidak mengajak makan bersama.
"Iya Tuan."
"Baiklah Bi.Saya akan segera kesana."
Joe menaruh buku yang tadi dia baca diatas meja dekat tempat tidurnya.Lalu dia bergegas menuju ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan Melly sudah ada disana.
Joe mendekati meja makan dengan langkah ragu-ragu.
Dia menggeser kursi lalu duduk diatasnya.
"Mama...." Joe mencoba berbicara dengan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Makanlah selagi masih hangat." ucap Melly seraya membalikkan piring di hadapannya.
Joe tak banyak bicara lagi.Dia segera mengikuti Melly untuk membalik piring di hadapannya.
Ketika Joe melihat makanan yang ada di meja makan mata Joe terkesiap.
Wajah Papanya kembali muncul dalam ingatan.Tentu saja karena semua makanan itu adalah kesukaan Papanya.
"Apa Mama yang masak semua ini ?" tanya Joe dalam hati.Dia tidak berani bertanya karena Mamanya hanya diam dan terlihat sekali kesedihan dari guratan wajahnya.
Joe menyantap makanan yang ada dipiringnya.Joe sangat familiar dengan rasanya.
"Iya....ini masakan Mama." ucap Joe dalam hati.
Joe begitu lahap memakannya.Seakan Joe menemukan kembali kehangatan yang sudah lama hilang.
Melihat Joe yang tampak begitu menikmati makanannya tiba-tiba Melly merasa sedih.Dia menunduk dan tak terasa air matanya menetes.
Karena sudah tidak sanggup menahan tangisnya Melly meninggalkan meja makan meskipun makanannya belum habis.
Joe yang sedari tadi begitu menikmati makanannya sontak mengalihkan pandangannya pada Melly yang sudah berjalan membelakanginya.
"Mama pasti sedih sekali." ucap Joe lirih.Tapi dia enggan meninggalkan makanan di piringnya yang tinggal beberapa suap lagi.Karena dia sangat merindukan masakan yang dibuat oleh Mamanya itu.
Sedangkan Melly di dalam kamar menangis sejadinya.
Dia merasa bersalah karena sudah menelantarkan Joe.Karena bukan hanya dirinya yang merasa kehilangan Hendrik.Tapi anaknya juga merasakan hal yang sama seperti dirinya.
Seketika Melly teringat akan gadis yang dia temui tadi di supermarket.Setidaknya Joe masih memiliki dirinya.Sehingga Joe tidak hidup sebatang kara.Tetapi sikapnya yang meratapi kepergian suaminya selama ini seakan membuat Joe hidup sebatang kara.Dan Melly semakin terisak menyesali apa yang telah dia lakukan selama ini pada Joe.
"Maafkan Mama Joe." kata Melly dengan air mata yang terus berderai di pipinya.