Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
KE LUAR KOTA



Pintu rumah itu terbanting dengan kasar.Laki-laki yang berdiri di luar pintu tampak pasrah menerima kemarahan yang empunya rumah.Sama sekali tidak ada amarah dalam wajah tampan itu.Hanya guratan kesedihan yang terlihat disana.


"Aku mencintaimu Hannah !" Seru laki-laki itu dari luar pintu.


Setidaknya ada perasaan lega dalam hatinya setelah mengungkapkan apa yang mati-matian dia pendam belakangan ini.Perasaan yang membuatnya menggila.


Jika aku tidak bisa bahagia bersamamu,setidaknya aku sudah bisa merelakan kebahagiaanmu dengan orang lain.


Dengan wajah sedih dia berjalan gontai menuju mobil miliknya.Tidak peduli hujan yang menderas dan membuatnya kebasahan.


Dia buka pintu mobil itu dan naik keatasnya.


Kedua tangannya diatas kemudi.Memegang kemudi itu erat-erat lalu menghentakkan satu pukulan diatas kemudi itu.


Kenapa kau tidak bisa mengendalikan dirimu hah ?! Kau bisa mengungkapkan perasaanmu tanpa harus menciumnya kan ?!


Mike mengutuki dirinya sendiri yang kalah dengan hawa nafsunya.Rencana awal dimana dia hanya akan mengungkapkan perasaannya dan apapun jawaban Hannah dia akan menerimanya...berubah menjadi adegan yang dia sendiri tidak pernah merencanakannya.


Tak dipungkiri ketika Mike menyentuhnya ada perasaan dimana dia tidak ingin melepaskan gadis itu.Dia ingin memilikinya untuk dirinya sendiri.Dan tidak ingin membiarkannya memilih orang lain selain dirinya.


Entah alasan apa yang membuat Hannah mengusirnya. Setidaknya Hannah sudah tau apa yang ingin dia sampaikan.Bahwa dia sangat mencintai Hannah.


***


Dari balik pintu yang tertutup rapat itu Hannah duduk bersimpuh bersandar pada pintu sambil menangis sesenggukan.


Kenapa kau tidak menolaknya Hannah ? Kenapa kau justru menikmati saat seperti itu bersamanya ? Itu hanya akan memperdalam luka yang ada dihatimu ! Bagaimana kalau Nona Jessica tau ? Apa dia tidak akan terluka karena perbuatanmu ?


Sama halnya dengan Mike.Hannah berkali-kali mengutuk dirinya.Menyalahkan dirinya sendiri yang sangat menikmati setiap sentuhan Mike.


Hannah mengusap bibirnya dimana ada bekas bibir Mike disana.Matanya terpejam.Baru kali ini dia merasakan sentuhan yang sama sekali tidak menyakitinya.Sentuhan yang membuatnya begitu menikmati setiap alurnya.Sungguh....seandainya Mike bukan milik Jessica dia akan sangat terhanyut oleh pesona laki-laki itu.


Beruntung hawa nafsunya tidak menguasai seluruh otaknya.Hingga dia bisa melepaskan pesona Mike yang begitu menghipnotisnya.


Namun itu hanya menyisakan luka yang semakin dalam.Kenapa dia datang untuk memberinya harapan kalau pada akhirnya hanya akan menorehkan luka ?


"Aku sangat mencintaimu."


Kalimat itu terdengar sangat indah andai situasinya tidak seperti ini.


***


Mike kembali ke rumahnya dengan penampilan yang acak-acakan.Pakaian basah,rambut basah berantakan.Dan wajah murungnya yang sangat tidak sedap dipandang mata.


"Mike ? Apa yang terjadi denganmu ?"


Emma yang tadinya sedang membaca buku di ruang keluarga menatap penuh keheranan saat melihat penampilan Mike.


Anak itu tidak seperti biasanya.Apa yang terjadi padanya ?


Mike berjalan melewati Emma tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.Dia terus berjalan menaiki setiap anak tangga menuju ke kamarnya.


Menutup rapat pintu itu dan tidak ingin siapapun mengganggunya.


Dia menanggalkan kain yang melekat di tubuh sempurnanya itu satu persatu.Dia langkahkan kaki memasuki pintu kamar mandi lalu membenamkan tubuh itu ke dalam bathtub yang sudah penuh dengan busa beraroma terapi.


Bodoh ! Bodoh ! Bodoh !


Tangan kekar itu meninju permukaan air hingga menimbulkan percikan yang mencuat kemana-mana.


Aku harus menemuinya.Ya...aku harus meminta maaf.Kalau perlu aku akan berlutut di hadapannya hingga dia memaafkanku.


Mike begitu menyalahkan dirinya.Dia takut Hannah akan membencinya.Tidak masalah jika Hannah menolak cintanya dan lebih memilih laki-laki lain.Tetapi akan menjadi sangat masalah jika Hannah membencinya.


Suara ketukan dari luar pintu kamar terdengar nyaring di telinga Mike.Diiringi suara Emma yang berkali-kali memanggil namanya.


Wanita itu sangat khawatir melihat kondisi Mike yang sangat berantakan.Dia bisa merasakan kalau putranya itu sedang dirundung masalah.Tapi masalah apa ? Emma sama sekali tidak mengetahuinya.


"Mike.....apa kau baik-baik saja ?"


Beberapa kali memanggil tidak ada jawaban dari dalam.


"Mike.....buka pintunya Sayang ! Kalau kau ada masalah kau bisa cerita dengan Mama."


Untuk terakhir kali Emma mengetuk pintu kamar itu.Mungkin Mike sedang ingin sendiri.Pikirnya.


"Mama ada dibawah kalau kau membutuhkan Mama."


***


Paginya keluarga Bennings sarapan bersama.Mike tampak duduk dengan tenang di sebelah kiri Jhon.Emma dan Isabel duduk berdampingan di sebelah kanan Jhon.


Emma sesekali memperhatikan anak laki-lakinya itu.Masih mencoba mencerna apakah anaknya itu dalam keadaan baik-baik saja.


Dan sarapan kali ini berbeda dari biasanya.Mereka yang biasanya sarapan dengan suasana hangat sambil sesekali berbincang bahkan menyelipkan candaan.Kali ini suasana begitu hening.


Jhon sudah mendengar dari Emma tentang kondisi Mike semalam.Dan ternyata semalaman Mike tidak keluar kamar.Bahkan melewatkan makan malam bersama.


"Mike...Apa dikantor sedang ada masalah ? " Jhon mencoba mencari tau perihal masalah yang dihadapi Mike.


"Tidak Pa." Jawabnya singkat.


Jhon terlihat hendak menanyakan sesuatu lagi pada Mike.Tetapi dia urungkan karena Mike sudah meletakkan pisau dan garpunya diatas piring.Pertanda dia sudah menyelesaikan sarapannya meskipun makanan di hadapannya masih terlihat utuh.


"Mike berangkat dulu Pa,Ma."


Dia beranjak dari duduknya dan segera meninggalkan ruang makan.


Jhon memang sudah menyerahkan kuasa penuh pada Mike atas perusahaan yang ia bangun.Namun sesekali pria paruh baya itu masih mengecek langsung kondisi perusahaan.Bahkan saat rapat direksi dia selalu hadir mendampingi Mike.


Saat ini dia merasa perlu melakukan pemeriksaan di perusahaan.Barang kali sedang ada masalah yang membuat Mike bersikap seperti itu.


"Mama khawatir Pa. Mike tidak seperti biasanya.Mungkin sedang ada masalah di perusahaan." Emma memandang penuh harap agar suaminya itu bersedia mencari tau permasalahan yang sedang di hadapi anaknya.


"Mama tenang saja.Hari ini Papa akan memeriksa langsung ke kantor.Jika ada masalah Papa akan bantu Mike untuk menyelesaikannya." Jhon menenangkan istrinya.


Mimik wajah Emma berubah jadi sedikit lebih tenang.


Lalu pandangannya beralih pada anak gadisnya.


"Cepat habiskan sarapanmu Isabel ! Kau berangkat dengan Papa saja karena hari ini supir akan mengantar Mama ke acara teman Mama."


Isabel merengut mendengar perkataan Emma.Karena berangkat dengan Papa berarti Papanya akan mengantarkannya hingga masuk ke dalam ruang kelas.Itu kebiasaan Jhon sejak dulu.Kalau mengantar Mike maupun Isabel dia akan mengantarkan anak-anaknya hingga ke dalam kelas.Menurut Jhon itu adalah salah satu bukti betapa dia sangat protektif terhadap anak-anaknya.Memastikan anaknya masuk ke dalam kelas dengan selamat.Dan itu benar-benar membuat Isabel tidak nyaman.Karena setelah Papanya meninggalkan sekolah,teman-teman pasti mengejeknya.


Mike tiba dikantor dan dengan langkah cepat dia berjalan menyusuri lobi lalu masuk ke dalam lift khusus untuk CEO menuju ke lantai teratas gedung itu yang mana merupakan ruang kerjanya.


Di depan pintu masuk ruangannya terdapat meja kerja sekretaris.Disana semua jadwal kerja Mike tersusun dengan rapi.


"Selamat pagi Tuan !"


Sapa sekretaris itu.Wajah sekretaris itu berubah pias saat tidak ada balasan atau sekedar senyum dari Atasannya ketika mendengar sapaannya.Pasalnya Mike adalah tipe Boss idaman di perusahaan besar itu.Apakah dia melakukan kesalahan sehingga Bossnya yang biasanya ramah jadi sedingin itu.Itu yang ada di pikirannya.


Mike membuka pintu ruang kerjanya.Dia masuk dan duduk di kursi kebesarannya.Setumpuk pekerjaan sudah siap menyapanya di meja besar itu.


Mike ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.Karena hari ini dia ingin menyelesaikan apa yang dia mulai kemarin.Dia harus meluruskan masalah dengan Hannah.


Pandangan Mike tertuju pada sebuah kertas tebal berwarna biru yang tergeletak di sudut mejanya.Dia raih benda itu.Ternyata undangan pernikahan Jessica dan Tony.


Entah kenapa saat ini Mike sama sekali tidak tertarik dengan pernikahan perempuan yang sempat mengisi hatinya itu.Padahal sebelum akhirnya bisa merelakan Jessica menikah dengan orang yang dicintainya,Mike sekuat mungkin menahan perih di dadanya.Merelakan kebahagiaan orang yang dia cintai untuk orang lain.


Tapi kali ini rasanya hambar.Mike hanya melihat sekilas undangan itu dan melemparnya kembali ke sudut meja.


Secepatnya dia periksa laporan dan berbagai berkas penting yang membutuhkan tanda tangannya agar pekerjaannya segera selesai.


Mike melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.Jarum jam itu menunjuk ke arah jam 11.Dan pekerjaannya sudah selesai.


Mike beranjak meninggalkan ruangannya.Dia buka pintu ruangan utama itu dan menghampiri sekretarisnya yang terlihat sedang sibuk bekerja.


"Apa hari ini ada jadwal penting ?" Tanya Mike dengan nada datar.


Sekretaris itu menghentikan pekerjaannya sejenak lalu melihat ke catatan jadwal kerja si Boss.


"Hari ini setelah makan siang ada meeting dengan SFC company Tuan." Jawab sekretaris itu.


Mike berdecak kesal karena dia sudah tidak sabar untuk menyelesiakan masalahnya dengan Hannah.


"Maaf Tuan ! "


Suara sekretaris itu membuat Mike yang hendak meninggalkan ruangan itu menoleh padanya.


"Tadi pagi pihak pengembang proyek di kota XX menelpon.Ada sedikit masalah mengenai lahan yang akan digunakan untuk pembangunan.Dan mereka meminta Anda untuk meninjau langsung ke lokasi untuk mengetahui permasalahannya." Jelasnya.


Mike semakin kesal karena perjalanan ke kota itu membutuhkan waktu setengah hari.Belum lagi harus menyelesaikan permasalahan yang ada disana.Paling cepat dia membutuhkan waktu 3 hari untuk bisa kembali ke kota ini.Dan tiga hari bukanlah waktu yang singkat.Apalagi dalam situasi yang tidak tepat seperti ini.