Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
KEPUTUSAN AKHIR



Seminggu menjelang hari pernikahan Hannah masih tidak merubah keputusannya. Persiapan yang dilakukan tidaklah banyak karena sebagian besar sudah dipersiapkan sebelum insiden penculikan terjadi.


Sejak seminggu yang lalu Joe sudah kembali aktif di perusahaan. Sudah terlalu lama Melly menggantikannya. Joe semakin tidak tega melihat mamanya itu bekerja keras setiap hari.


Seperti biasa seusai sarapan Hannah akan mengantar keberangkatan Joe ke kantor hingga ke teras. Dia harus membiasakan diri menjadi istri yang baik. Meskipun dia belum bisa mencintai Joe, tapi Joe bukanlah orang asing baginya. Jadi tidak sulit untuknya  bisa bersikap baik terhadap calon suaminya itu.


"Aku berangkat dulu." Pamit Joe.


"Hati-hati." Jawab Hannah. Dan pagi ini Hannah ingin memulai hal baru yang memang harus dia biasakan sejak sekarang.


Saat Joe hendak melangkah Hannah menahan tangan Joe. "Tunggu."


Joe menoleh. "Ada apa ?" Tanyanya penasaran.


Hannah maju satu langkah lalu berjinjit dan mencium pipi Joe.


Mata Joe membelalak. Terkejut dengan yang dilakukan Hannah barusan. Kenapa dengan gadis itu ? Aneh sih. Tapi cukup membuat hati Joe bergetar.


"Cepat berangkat biar tidak terlambat." Kata Hannah sambil menunduk. Wajahnya merona karena malu. Ini pertama kalinya dia mencium pipi Joe.


"Eh, iya." Joe terlihat gugup. Dia masih terkejut Hannah mencium pipinya. Lalu dia segera berbalik dan meninggalkan Hannah yang masih berdiri di tempatnya hingga mobil Joe tidak lagi terjangkau oleh pandangan matanya.


Hhhh....aku malu sekali. Pasti aku terlihat sangat konyol tadi.


Hannah gemas dengan dirinya sendiri.


Joe duduk di kursi belakang sambil mengarahkan pandangannya keluar jendela. Jujur dia tidak menyangka Hannah akan melakukan hal itu. Karena selama ini Joe sangat menjaga agar Hannah tetap merasa nyaman. Dia tidak ingin memaksa Hannah untuk melakukan tugasnya sebagai istri ketika mereka sudah menikah nantinya. Meskipun itu adalah kewajiban seorang istri, tapi Joe tidak ingin membuat Hannah merasa tidak nyaman.


Please....jangan membuatku jatuh cinta padamu. Biarkan aku membuatmu bahagia tanpa harus melukai hatiku.


Joe berulang kali meyakinkan hatinya untuk tetap berada di jalur yang benar ( menurut versinya ). Dia tidak ingin berharap lebih pada pernikahan ini. Joe sudah tau kalau sebenarnya Mike dan Hannah saling mencintai. Makanya dia selalu membentengi hatinya untuk tidak berkeinginan yang macam-macam. Ya...walaupun sebenarnya dia mulai merasakan ada sesuatu yang beda di sudut hatinya terhadap Hannah. Namun dia yakin itu hanyalah sebatas rasa kagum terhadap gadis itu.


Kenapa harus mengorbankan cinta kalian ? Padahal kalian mempunyai kesempatan untuk memulainya bersama. Semoga keputusan ini tidaklah salah.


Joe menghela nafas dalam-dalam. Berharap ini adalah keputusan yang terbaik untuk semua. Karena belakangan ini Joe sering melihat Hannah melamun bahkan sesekali menangis. Meskipun dia selalu menutupi dengan senyum cerianya, tapi hati tidak bisa dibohongi. Joe tau gadis itu tidak sedang baik-baik saja.


***


Jhon menarik kursi di depan meja kerja Mike. Lantas dia duduk sambil bersandar di punggung kursi itu.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu ?" Tanya Jhon yang masih tidak habis pikir dengan keputusan Mike untuk kembali mengurus perusahaannya yang ada di luar negeri.


Mike menghentikan pekerjaannya lalu mengalihkan pandangan pada Jhon.


"Yakin Pa. Ini sudah menjadi keputusan Mike." Jawabnya.


Jhon menghela nafas panjang. Keputusan Mike yang mendadak ini membuatnya  harus berpikir keras karena pasti akan berpengaruh terhadap perusahaannya.


"Karena Hannah ?" Tebak Jhon.


Tidak ada jawaban dari Mike. Dan itu membuat Jhon sudah bisa menebak apa jawaban dari pertanyaannya.


"Kenapa kau lari dari masalahmu Mike ? Ini bukanlah sifatmu. Papa tau kau bukan pengecut."


"Bukan masalah pengecut atau tidak Pa. Mike hanya ingin membalas kebaikan Joe selama ini. Dia sudah banyak berkorban untuk Mike dan juga Hannah." Jelas Mike.


"Apa Hannah juga mencintaimu ?" Jhon menajamkan matanya mencari kejujuran dalam mata Mike.


Mike mendengus dan tersenyum miring mendengar pertanyaan Jhon.


"Joe pantas mendapatkan Hannah.Mike yakin dia bisa menjaga dan membahagiakan Hannah."


Lagi-lagi Jhon menghela nafas. Dia beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati putranya.


"Itu bukan jawaban pertanyaanku Mike." Jhon menepuk bahu Mike dua kali lalu berjalan menuju ke jendela di belakang Mike dimana dia disuguhkan pemandangan deretan gedung-gedung yang berjejalan di kota itu.


"Kalau dia juga mencintaimu kenapa tidak kalian perjuangkan ?" Katanya kemudian.


Mike memutar kursinya menghadap ke arah jendela dimana Papanya sedang berdiri membelakanginya.


Sebuah senyuman menghiasai wajah Jhon.


"Kau tau kesalahan terbesar Papa dalam urusan percintaan ?" Jhon berbalik hingga kini dia berhadapan dengan Mike.


"Papa terlalu takut untuk memperjuangkan cinta Papa. Hingga orang yang Papa cintai harus jatuh terpuruk dan kehilangan segalanya.Seandainya Papa berani memperjuangkannya sejak dulu, Mamamu tidak harus melewati masa-masa paling kelam dalam hidupnya." Jhon kembali menghadap keluar jendela.Mengingat masa-masa mudanya dulu dimana dia hanya bisa mencintai Emma dalam diam.


"Apa menurutmu Joe juga mencintai Hannah ?" Jhon berbalik dan menatap Mike dengan mata tajamnya.


"I think so." Jawab Mike. Lalu Mike berdiri dan berjalan ke arah sofa yang ada di sudut ruangan. Dia duduk disana.


Jhon tergelak mendengar jawaban Mike. Dia merasa anaknya ini sangat bodoh untuk urusan percintaan.


"Jangan ulangi kesalahan Papa Nak. Bukankah tadinya dia akan menikahi Hannah karena dia ingin melindungi gadis itu dari Harry ? Dan sekarang Harry sudah tiada. Apa kau yakin Joe masih menginginkan pernikahan ini ?" Tanya Jhon yang kini sudah berdiri di samping putranya sambil memasukkan kedua tangan di saku celana.


Deg....Mike tersentak dengan perkataan Jhon.


Betul juga yang dikatakan Papa. Ah....stop it Mike ! Kau lihat sendiri bagaimana Joe menatap Hannah. Itu cinta Mike ! Joe pasti juga menginginkan pernikahan ini. Ingat apa yang sudah dia lakukan untukmu ! Jangan buat dia berkorban lebih banyak lagi untukmu !


Mike menggoyangkan kepalanya.Berharap pikiran-pikiran untuk merubah keputusannya itu segera menyingkir dari otaknya.


"Tidak Pa. Aku sudah mengambil keputusan dan aku tidak akan merubahnya." Tukas Mike.


"Well....kalau kau sudah betul-betul mantap dengan keputusanmu Papa akan segera mengurusnya. " Jhon mengedikkan bahu lalu berjalan ke arah pintu untuk meninggalkan ruangan Mike. "Jangan pernah menyesali keputusanmu !" Kata Jhon sebelum menutup pintu ruangan Mike.


Sepeninggal Jhon dari ruangannya Mike terlihat begitu frustasi. Kata-kata Jhon berhasil membuatnya ragu untuk tetap teguh dengan pendiriannya.


"Aarrgghh...!" Mike menyugar kasar rambutnya sambil mondar mandir dalam ruangannya.


"Tidak Mike ! Kau tidak boleh berubah pikiran. Ini adalah keputusan terakhirmu ! Jangan mengacaukan rancanamu sendiri !" Kata Mike pada dirinya sendiri.


***


Hari-hari Hannah terasa begitu cepat berlalu. Seminggu lagi dia akan resmi menyandang status sebagai istri dari Jonathan Thompson.Pria muda,tampan dan kaya raya. Jangan lupakan fakta bahwa dia adalah laki-laki yang berhati emas. Pasti banyak gadis yang bermimpi untuk menjadi istrinya. Betapa beruntungnya dia yang hanya seorang gadis yatim piatu miskin dan sudah pernah menikah, karena seorang Jonathan Thompson mau menjadikannya sebagai istri.


"Hannah ?" Sentuhan di bahu Hannah membuatnya tersentak. Ternyata itu Melly.


"I-iya Ma." Jawab Hannah gugup.


"Kau sedang memikirkan apa ? Dari tadi Mama memanggilmu tapi kau tidak mendengarnya." Tanya Melly yang lantas ikut duduk di kursi taman belakang rumah.


"Maaf Ma. Tidak ada yang sedang Hannah pikirkan. Hanya sedang memperhatikan kupu-kupu itu." Jawab Hannah sambil menunjuk dua ekor kupu-kupu yang tampak asyik berkejar-kejaran diantara bunga mawar yang tumbuu subut di taman itu.


"Oh..." bibir Melly membulat. " Akhir-akhir ini Mama perhatikan kau sering melamun. Kalau kau ada masalah cerita dengan Mama." Lanjut Melly.


"Tidak ada Ma." Saut Hannah.


Melly mencondongkan tubuhnya dan menumpukan sikunya pada lutut.


" Apa kau sedang memikirkan pernikahanmu ?" Tanya Melly.


Sudah Melly duga kalau Hannah sedang memikirkan tentang pernikahannya. Karena ketika mendengar pertanyaan Melly, Hannah langsung salah tingkah.


"Boleh Mama tanya sesuatu ?" Melly menegakkan tubuhnya lalu menghadap pada Hannah.


"Ta-tanya apa Ma ?" Hannah melirik sekilas lalu menundukkan pandangannya.


"Apa kau benar-benar menginginkan pernikahan ini ?"


Aduh...pertanyaan Melly langsung membuat keringat dingin mengalir begitu saja di dahi Hannah. Hannah tampak gugup mendengar pertanyaan itu.


"Ini sudah keputusan Hannah Ma. Tentu saja Hannah menginginkannya." Hannah berusaha menyembunyikan perasaannya.


"Perlu kau tau Hannah.Menikah dengan Joe ataupun tidak,kau akan tetap menjadi anak Mama. Mama sangat menyayangimu. Dan...Mama menginginkan kau bahagia." Tutur Melly.


Hati Hannah bergetar mendengar ucapan Melly. Sebegitu sayangnya Melly pada Hannah.Begitu pula dengan Hannah. Dia seperti menemukan keluarga baru. Keluarga yang sangat menyayanginya.


Mata Hannah berkaca-kaca. Dia semakin yakin untuk menikah dengan Joe. Dia ingin melengkapi keluarga ini. Dia hanya butuh berdamai dengan waktu untuk bisa membuka hatinya untuk Joe. Seperti yang dikatakan Mike. Membuka hati untuk Joe tidaklah sulit.Ya, pasti bisa.