Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
WAJAH MASAM



Sidang gugatan kepemilikan tanah Hannah sudah mencapai vonis.Hannah benar-benar tidak mempertimbangkan tawaran Joe untuk memberikannya seorang pengacara.Beberapa persidangan berjalan begitu cepat karena Hannah menginginkan masalahnya dengan Harry cepat berakhir.


Hannah mempunyai waktu satu bulan untuk pindah dari rumahnya yang sekarang.Sebenarnya dia sangat bingung mau tinggal dimana.Satu-satunya yang ada di pikirannya adalah mencari kontrakan kecil yang sanggup dia bayar.Dengan gajinya yang pas-pasan dia tidak berharap mendapatkan tempat tinggal yang bagus untuknya.


"Aku akan membantumu mencari rumah yang dekat dengan tempatmu bekerja." Joe berusaha membuat Hannah merasa lebih baik.


"Maaf aku melibatkanmu dalam masalahku." kata Hannah.


"Jangan sungkan.Bukankah itu gunanya teman." tukas Joe.


"Hannah...kalau kau mau aku bisa mencarikanmu pekerjaan yang penghasilannya lebih besar dari pekerjaanmu yang sekarang." Joe tau Hannah akan membutuhkan penghasilan lebih untuk pengeluarannya yang sekarang.


"Dengan pendidikan rendah sepertiku...memangnya apa yang bisa kukerjakan ?" Hannah terdengar pesimis.


Joe memandang Hannah dengan lekat.


"Kau bisa bekerja di perusahaanku." katanya kemudian.


Hannah hanya mendengus mendengar ucapan Joe.


"Kau tidak perlu mengasihaniku.Aku tidak mau berhutang budi padamu."ketus Hannah.


Belakangan ini sikap Hannah sangat dingin kepada siapapun.Itu karena amarah dan kekecewaan yang begitu besar di hatinya.


Nada pesan di ponsel Joe menecah suasana dingin antara Joe dan Hannah.


Joe membuka pesan itu dan jemari tangannya dengan lihai membalas pesan itu.


Tak lama kemudian seorang laki-laki tegap dengan kemeja warna hitam memasuki kedai.


"Mike !" panggil Joe kepada laki-laki itu.


Laki-laki itu lalu berjalan santai ke arah Joe dengan senyum yang menggetarkan di bibirnya.


Hannah menatap Mike cukup lama hingga tatapannya itu tertangkap oleh mata bening Mike.


Mike sedikit mengernyitkan alisnya melihat Hannah yang duduk satu meja dengan Joe.


Hannah segera tersadar dari pandangannya dan beranjak berdiri.


"Joe." sapa Mike setelah berdiri disamping Joe.Matanya pun masih sesekali mencuri kesempatan memperhatikan Hannah yang berdiri tak jauh darinya.


"Cepat sekali kau datang." tutur Joe.


Mike berjalan melewati Hannah dan segera duduk berseberangan dengan Joe.Aroma tubuh Mike pun diam-diam menyelinap ke hidung mungil Hannah.


Namun karena suasana hati Hannah yang sedang buruk aroma khas dari tubuh Mike itu tak mampu memikat indera penciumannya untuk berlama-lama menikmati kesegarannya.


Hannah mengeluarkan pulpen dan nota kecil dari kantung celemeknya hendak mencatat pesanan Mike.


Namun sebelum Hannah sempat berbicara Mike sudah mendahuluinya.


"Kopi pahit dan biskuit coklat." katanya dengan menatap tajam kedua mata Hannah.


Hannah dengan sigap mencatat pesanan itu di notanya.


"Pesanan Anda akan segera datang Tuan." ucap Hannah berusaha seramah mungkin.


Hannah berjalan meninggalkan mereka berdua dan membuatkan pesanan Mike.


"Kau mengenalnya ?" tanya Mike dengan mata memberi kode untuk melihat ke arah Hannah yang sudah berjalan membelakanginya.


Joe melirik sedikit pada Hannah lalu tersenyum.


"Tentu saja aku mengenalnya.Aku sering datang kemari." jawab Joe santai.


Mike hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.Dalam hatinya bertanya-tanya ada hubungan apa Joe dengan gadis itu karena mereka terlihat begitu akrab.


Tak lama berselang Hannah sudah datang dengan membawa kopi pahit dan biskuit coklat pesanan Mike.


Dia meletakkan pesanan itu dengan hati-hati di hadapan Mike tanpa berkata apapun.


Joe dan Mike memperhatikan wajah masam Hannah secara bersamaan.


Hannah yang menyadari pandangan dari kedua laki-laki itu segera membuka suara dengan ketus.


"Kenapa memandangku seperti itu?"


Kedua laki-laki itu dengan cepat mengalihkan pandangan mereka ke arah lain.


"Galak sekali." gumam Mike dalam hati.


Sedangkan Joe hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan temannya itu.