Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
MENIKAHLAH DENGANKU !



Hari berikutnya Hannah sangat enggan untuk beranjak dari kasur sederhananya.Mata yang sembab membuatnya malas untuk membuka mata.Kepalanya terasa berat karena terlalu lama menangis.


Dengan sangat malas Hannah menyeret kakinya masuk ke kamar mandi.Walau bagaimanapun hari ini dia harus tetap masuk kerja.Memang mau makan apa dia kalau tidak bekerja ?


Setelah mandi dan berganti pakaian Hannah duduk di depan cermin.Dia perhatikan wajahnya sangat tidak enak dipandang.Mata bengkak seperti orang yang habis dihajar massa.Ah...benar-benar memalukan kalau dilihat orang.


Hannah berdiri dan berjalan kearah lemari pakaiannya.Dari dalam lemari itu dia ambil sebuah topi berwarna putih.


"Ini bisa menutupi bengkak di mataku."


Dengan celana jeans hitam dan sweater putih yang menyembunyikan seragam kedai didalamnya dipadukan dengan topi putih membuat penampilan Hannah sangat matching.


Selama berjalan menuju ke kedai Hannah menundukkan kepalanya.


Hannah menurunkan ujung topi yang dipakainya agar orang-orang yang berpapasan dengannya tidak melihat betapa buruk rupanya saat itu.


Sesampainya di kedai Hannah tidak melepaskan topinya.Dia malu dengan Eve.Mengingat belakangan ini mata Hannah sudah seperti mata panda,ditambah mata bengkak seperti sekarang sudah pasti Eve akan heboh dan bertanya macam-macam.


Sejauh ini Hannah hanya mengatakan kalau dia mengalami insomnia berat sehingga muncul mata panda di wajahnya.Hannah sama sekali tidak menceritakan apapun pada temannya itu.Dan dia tidak ingin temannya itu tau apa yang sedang dia alami.


Siang itu Hannah harus pergi membeli beberapa kebutuhan kedai di swalayan yang jaraknya dua blok dari kedai tempatnya bekerja.


Dan saat Hannah tidak ada,Joe datang ke kedai untuk mencarinya.


Seperti biasa Joe memesan capuccino sambil menunggu Hannah kembali.


"Apa kau melihat keanehan dalam diri Hannah ? Belakangan ini sepertinya dia sedang ada masalah." Kata Eve.


Joe menyesap capuccino nya.


"Sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya."


"Kau tau....dia bilang dia mengalami insomnia berat sampai wajahnya seperti panda.Dan hari ini matanya bengkak seperti habis menangis semalaman." Eve membayangkan wajah bengap Hannah.


Joe mengernyitkan dahinya.Jujur dia mulai khawatir mendengar cerita Eve.Beberapa hari ini Joe sibuk di luar kota mengurus cabang yang baru dia buka beberapa waktu lalu.Dalam otak Joe mulai menerka-nerka masalah apa yang sedang dialami Hannah.


***


Hannah keluar dari swalayan dengan membawa kantong belanjaan yang berisi kebutuhan kedai.Tangan kanannya menenteng kantong belanjaan dan tangan kirinya membenarkan posisi topi yang dia pakai supaya menutupi wajahnya.


Saat dia berjalan sambil menunduk tiba-tiba seseorang menghalangi jalannya.Hannah tidak tau siapa orang itu.Dengan posisi kepalanya yang menunduk dia hanya bisa melihat sepatu orang itu.Sepatu laki-laki yang terlihat mahal.


Hannah mengangkat wajahnya karena orang itu tak kunjung memberinya jalan.


Mata Hannah membulat sempurna saat melihat wajah orang itu.


"Hai Babe ! Kau merindukanku ?" Harry Wellington berdiri dengan tegap tepat di hadapannya.


Ingin kabur tetapi tangan kokoh laki-laki itu mencengkeram erat lengan kecil Hannah dan mendorongnya hingga terpepet ke tembok.Dan satu tangannya lagi membekap mulut Hannah hingga gadis itu tak bisa berteriak.Orang yang melintas pun seakan tak peduli.Kebanyakan mereka mengira itu hanyalah pertengkaran sepasang kekasih.Hal yang biasa dikota itu.


"Kenapa kau masih tinggal di rumah itu hah ?" Pertanyaan itu menyiratkan kekesalan karena Harry gagal mendepak Hannah dari rumah yang dia rebut.


Dengan mulut yang terbekap Hannah hanya bisa menangis tanpa bersuara.


"Oh...apa kau merayu Mike Bennings supaya membeli rumah itu untukmu ? Diam-diam licik juga kau ! Apa yang kau berikan padanya ? Hah....memangnya apa yang kau punya selain tubuhmu itu ?!" Harry menatap sinis pada Hannah.Sangat jelas tersirat amarah dari mata laki-laki itu.


Ketika Harry hendak melancarkan intimidasinya lagi tiba-tiba tubuhnya terpental beberapa langkah karena dorongan kuat dari sisi kirinya.


"Jauhkan tangan kotormu itu darinya !" Teriak laki-laki dengan setelan jas hitam yang sekarang berdiri tepat disamping Hannah dan menarik tangan Hannah agar gadis itu berdiri di belakangnya.


Harry tertawa sinis melihat kedatangan laki-laki itu yang jelas-jelas sedang membela mantan istrinya.


" Ternyata bukan hanya Mike Bennings. Seorang Jonathan Thompson pun kau jadikan bodyguard.Hebat !" Harry bertepuk tangan sambil tertawa sinis.


Harry masih bersikap tenang lalu dia merapikan jasnya yang sebenarnya masih rapi.


" Kau pikir kau ini siapa berani mengancamku seperti itu ? Sudah berapa kali kau menikmati tubuhnya ?" Lirikan tajam dan seringai muncul di wajah Harry.


Joe benar-benar terpancing dengan intimidasi Harry.Joe merasa tidak terima Harry menghina Hannah seperti itu.Joe mengepalkan tangannya dengan kuat hingga urat-uratnya terlihat jelas.Giginya bergemelutuk menahan amarah yang sudah memuncak ke ubun-ubun.


BUUKK !!!


Satu pukulan keras mendarat dengan mulus di pipi kiri Harry hingga laki-laki itu jatuh tersungkur ke tanah.Darah segar mengalir dari sudut bibir Harry.


"Aku calon suami Hannah ! Sekali lagi kau menghinanya dengan mulut kotormu itu aku tidak akan segan untuk menghabisimu !" Ancam Joe dengan penuh penekanan.


Lantas Joe menarik tangan Hannah untuk menjauh dari laki-laki berengsek itu.Mereka meninggalkan Harry yang masih tersungkur di tanah sambil memegangi pipi kirinya.Seringai licik terlihat jelas dari wajah laki-laki itu.


Hannah berjalan di belakang Joe dengan tangan kirinya yang masih menyatu dengan tangan Joe.Sementara tangan kanannya membawa kantong belanjaan.


Sepanjang jalan mereka tidak berbicara sepatah kata pun.Joe masih dikuasai amarah.Sedangkan Hannah masih sibuk mencerna apa saja yang dia dengar tadi.


Sementara itu ada seorang laki-laki yang sedari tadi menyaksikan pergulatan mereka bertiga sambil bersandar pada dinding sebuah toko.Seorang laki-laki dengan pakaian casual.Celana jeans hitam , t-shirt maroon dibalik jaket jeans biru dan topi hitam melekat di tubuh kekar laki-laki yang sedang memegang satu cup kopi itu.


Mendengar apa saja yang mereka perdebatkan membuat laki-laki itu geram dan meremas cup kopi itu hingga tak berbentuk.Panas kopi yang tertumpah di tangannya pun tidak terasa sama sekali.


***


Hannah dan Joe kembali ke kedai.Eve yang melihat pemandangan aneh itu sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang terjadi.Namun dia tahan keingintahuannya itu ketika Joe mengarahkan tubuh Hannah di salah satu meja di sudut ruangan itu.


Joe dan Hannah duduk berseberangan.


Wajah Joe masih dipenuhi dengan amarah.Sedangkan Hannah menunduk menutupi wajah bengapnya dengan topi.Dia masih syok dengan apa yang diucapkan Joe tadi.


Calon suami ? Sejak kapan ?


Lalu dia teringat akan ucapan Harry.


Merayu Mike Bennings membeli rumah untuknya ? Setau Hannah dia membayar sewa pada paman dari sekretaris Mike untuk tinggal di rumah itu.


"Jadi Harry adalah mantan suamimu ?" Pertanyaan Joe menyadarkan Hannah dari lamunan.


"Iya." Jawab Hannah lirih masih dengan wajah menunduk.


Joe mengangkat tubuhnya lalu melepas topi dari kepala Hannah.


"Tidak perlu di sembunyikan.Aku tau kau habis menangis semalaman."


Joe kembali duduk seperti semula.


Joe memang tau Hannah habis menangis semalaman.Hanya penyebabnya saja yang Joe tidak ketahui.


"Menikahlah denganku !" Kata Joe dengan tegas.


Hannah sontak mengangkat wajahnya.Terperanjat mendengar Joe melamarnya dengan tiba-tiba.


Wajah Hannah menunjukkan ketidak yakinan atas apa yang baru saja masuk ke indera pendengarannya.


"Menikahlah denganku Hannah ! Agar ******** itu tidak mengganggumu lagi." Joe mengulangi lamarannya.Lebih tepatnya 'permintaannya'.


Hannah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.Mulutnya seakan terkunci.Dia tau Joe orang yang baik.Dan dia dengan tulus mengatakan itu.Entah karena cinta atau hanya karena kasihan.Tapi kata-kata itu terdengar sangat tulus dari dalam hatinya.


Hannah menunduk tanpa jawaban.Joe memang sangat baik.Tetapi hati Hannah saat ini tengah terombang ambing karena luka yang baru saja tertoreh disana.Luka yang masih menganga.Luka yang entah kapan akan terobati.