
Acara sudah siap dimulai. Pintu ruangan itu terbuka lebar. Hannah berdiri di ambang pintu bersiap untuk melangkahkan kakinya menuju altar untuk mengikat janji suci dengan Joe.
Dari ruangan itu menuju tempat pemberkatan memang agak jauh. Hannah berjalan di dampingi beberapa pekerja WO yang memastikan acara berjalan lancar. Begitu hendak melangkah keluar ke tempat pemberkatan Hannah tiba-tiba berhenti.
"Ada apa Nona ?" Tanya Agnes yang ikut mendampingi Hannah.
"Tidak apa-apa. Hanya gugup saja." Jawab Hannah.
Saat hendak melanjutkan kembali langkahnya,tiba-tiba salah seorang pekerja WO mendekat dan berbisik ke pekerja yang lain.
"Maaf Nona, sepertinya Anda harus menunggu sebentar. Karena ada sedikit permasalahan teknis. Mari silahkan ikut Saya." Kata perempuan berambut hitam itu kepada Hannah.
Oh..come on ! Masalah apa lagi ? Belum cukupkah masalah perasaan Hannah yang kacau balau ? Kenapa harus ditambah permasalahan teknis segala ?
Perempuan itu menuntun Hannah untuk duduk di sebuah sofa.
"Ada masalah apa ?" Tanya Hannah.
Perempuan itu bergerak mendekat. Dengan wajah ragu dia berkata, " Sepertinya calon suami Anda menghilangkan cincin pernikahannya."
Oh My God ! Disaat seperti ini dan Joe menghilangkan cincin pernikahan ? Sungguh tidak lucu ! Lagipula bagaimana bisa hilang ? Dimana Joe menaruh cincin itu ? Kenapa Joe ceroboh sekali ?
Sayup-sayup terdengar suara para tamu undangan berbicara dengan riuh. Sepertinya Joe benar-benar membuat keributan saat ini. Sudah hampir seperempat jam dan belum juga ada kode dari WO untuk melanjutkan acara. Ini saat yang tidak tepat untuk membuat calon pengantin kesal hanya untuk menunggu pencarian cincin yang hilang.
"Apa cincinnya belum ditemukan ? Mungkin sebaiknya aku ikut mencari." Kata Hannah yang mulai terlihat gelisah dengan keadaan saat ini.
"Jangan Nona ! Sebaiknya Nona disini saja." Sergah perempuan berambut hitam itu.
"Tapi keributan ini harus segera di hentikan." Desak Hannah.
Ya Tuhan....apakah ini pertanda kalau pernikahan ini seharusnya tidak terjadi ? Kenapa disaat terakhir begini harus ada kejadian memalukan seperti ini ?
"Saya akan coba tanyakan pada rekan Saya dulu Nona."
"Ya...ya...sebaiknya begitu. Dan cepatlah !" Kata Hannah.
Perempuan itu berjalan menjauh. Beberapa saat kemudian perempuan itu kembali. Wajahnya terlihat pias.
"Bagaimana ?" Tanya Hannah yang sangat penasaran dengan keadaan diluar.
"Calon suami Anda meminta Anda untuk menunggu sebentar lagi Nona." Jawabnya.
Hannah mendengus kesal. Bagaimana bisa ini terjadi ? Tapi karena Joe yang meminta, akhirnya dia bersedia menunggu sedikit lebih lama.
Sepuluh menit kemudian ada yang datang mendekat ke arah permepuan berambut hitam itu. Wajahnya seketika berubah. Menyiratkan kelegaan.
"Acaranya sudah bisa dilanjutkan Nona. Mari !" Kata perempuan itu.
"Sudah ketemu ?" Tanya Hannah.
"Sudah Nona."
Akhirnya ! Hannah cukup lega mendengarnya. Dan dia kembali melanjutkan perasaan gelisahnya untuk mengikrarkan janji suci.
Bisa jadi karena malu atas insiden hilangnya cincin atau ingin menyembunyikan wajah sedihnya, namun selama berjalan Hannah menundukkan kepalanya. Menjatuhkan pandangannya ke bawah. Siapa tau ada batu yang bisa membuatnya tergelincir. Tapi itu hanya alasan.
Hannah mulai melangkah diatas karpet merah yang di penuhi bunga-bunga menuju ke altar. Deretan kursi berwarna putih tampak penuh dengan tamu undangan.Dia belum berani mengangkat wajahnya. Dia belum siap melihat laki-laki yang akan menjadi suaminya berdiri menunggunya di altar. Perasaan takut, sedih, dan gugup menyatu dalam hatinya. Tangannya yang menggenggam sebuket bunga mendadak terasa seperti es. Jantungnya berdetak tak beraturan. Bahkan lututnya seakan tidak kuat lagi melangkah.
Atur nafas....melangkah perlahan...tidak perlu memperhatikan orang-orang yang sedang menatapmu dengan berbagai macam tatapan. Cukup menunduk dan teruslah melangkah. Sebentar lagi sampai. Dan tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi.
Hannah berulang kali meyakinkan dirinya kalau dia bisa melewati semua ini. Tamu undangan yang sedang duduk rapi serentak menoleh ke arah Hannah yang mulai menapaki karpet merah.
Ada yang tersenyum, ada yang terlihat tidak suka, ada pula yang tidak peduli.
Harusnya Ayah disini menuntunku. Hannah rindu Ayah. Rindu Ibu. Ayah...Ibu...anakmu akan mengikat janji suci pernikahan untuk kedua kalinya. Doakan agar Hannah bisa menjadi istri yang baik. Karena menantu kalian adalah orang yang sangat baik. Restui kami Ayah,Ibu.
Hannah tersentak dari racauan pikirannya saat tiba-tiba seseorang meraih tangan Hannah dan melingkarkannya ke lengan kokoh orang tersebut. Seorang laki-laki menuntun Hannah menuju altar. Siapa ?
Perlahan Hannah mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang sedang berjalan disampingnya itu dengan lengan yang saling bertaut.
"Joe ?" Mata Hannah membulat saat melihat Joe dengan santai menuntun Hannah menuju altar.
"Maaf aku terlambat. Butuh waktu satu jam hanya untuk membujuk mempelai prianya. Dia sangat keras kepala." Kata Joe yang terus memandang ke depan tanpa rasa bersalah karena sudah membuat Hannah kesal dengan insiden hilangnya cincin pernikahan mereka.
Tunggu ! Joe menuntun Hannah ke altar ? Lalu siapa yang berdiri di depan sana ?
Dengan wajah bingung Hannah mengalihkan pandangan pada sosok yang saat ini, ya saat ini tengah berdiri di depan pendeta sedang menunggu pengantin wanitanya.
"Mike ?" Hannah masih dirundung kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.
Di depan sana Mike sedang berdiri dengan setelan tuxedo berwarna biru dengan gagah sedang tersenyum melihat mempelai wanitanya yang terlihat sangat cantik perlahan mendekat padanya.
Tunggu...tunggu....! Apa ini hanya mimpi ? Halusinasi ? Atau frustasi ?
"Apa yang...." Hannah masih berusaha mencerna situasi saat ini. Lalu Joe memotong ucapan Hannah.
"Aku hanya ingin mengembalikan hati kepada pemiliknya. Kalian pantas bahagia Hannah. You supposed to be together." Kata Joe yang lalu melepaskan tangan Hannah karena sudah saatnya dia membiarkan tangan lain meraih tangan gadis itu.
Mike meraih tangan Hannah. Mata keduanya bertemu. Ya, itu adalah tatapan penuh cinta. Rasanya sulit untuk percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
Air mata Hannah sudah tidak terkendali lagi. Mengalir begitu saja. Tidak sedikit orang yang menghadiri acara itu ikut menitikkan air mata karena terharu.
"Mike ? " Hannah berusaha mencari penjelasan tentang semua ini.
Tiba-tiba Mike berlutut di hadapan Hannah sambil terus menggenggam jemari gadis itu.
"Hannah Moore, Will you marry me ?"
Sumpah demi apapun ! Kalimat itu terdengar begitu indah. Mike melamar Hannah di altar. Hannah sampai tidak bisa berkata apa-apa. Dia masih syok dengan serentetan peristiwa barusan. Dan sekarang, laki-laki ini, laki-laki yang dia cintai berlutut di hadapannya dan melamar dirinya. Bagaimana tidak banjir air mata ?
Say yes ! Say yes ! Say yes !
Teriak para tamu undangan. Mereka berdiri sambil memberi dukungan agar Hannah menerima lamaran Mike. Saking terharunya Hannah sampai lupa memberi jawaban.
"Hannah ? Will you marry me or not ?" Masih dengan posisi berlutut, Mike menaikkan satu alisnya.
"Eh...." Hannah tergagap. "Yes ! Yes I do !" Jawab Hannah sangat yakin.
"Yeeaay....!!!"
Semua bersorak ikut merasakan atmosfer kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini. Bahkan Joe yang berteriak paling lantang. Padahal seharusnya dialah yang jadi mempelai prianya.
Mike berdiri lantas memeluk gadisnya dengan erat. Sungguh tidak bisa dipercaya ! Cinta yang sudah mereka relakan kini telah kembali dan mewujudkan mimpi yang sempat terkubur. Ya, apa yang sudah ditakdirkan untuk kita, pada akhirnya akan kembali menjadi milik kita. Dengan caranya sendiri. And it's true ! I mean it !
"Ayo kita menikah. Right here right now !" Kata Mike sambil memeluk Hannah.
Flashback
Mike berjalan menuruni anak tangga dengan pakaian yang sudah rapi. Dia tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Karena dia takut hatinya akan goyah.
"Apa yang kau lakukan disini ?!" Pekik Mike saat mendapati Joe sedang duduk di sofa ruang tamu rumahnya.
Belum juga Joe menjawab, Mike berlari ke arahnya lalu mencengkeram kerah kemeja Joe. "Apa kau sedang mempermainkan Hannah, hah ?!" Hardik Mike.
Joe mundur satu langkah. "Tenang Mike. Dengarkan aku dulu."
Kata Joe yang masih berada dalam cengkeraman Mike. Mata Mike berkilat marah.
Mike menghempaskan tubuh Joe. Dia terlihat gusar. " Apa maumu ?" Tanya Mike sinis. Dia masih tidak habis pikir. Bisa-bisanya Joe sekarang berdiri di hadapannya. Seharusnya dia sedang menunggu Hannah di altar. Tapi apa yang dilakukannya sekarang ? Dia meninggalkan Hannah di hari pernikahannya ! Apa sekarang Hannah sedang menangis ? Errhhh....Rasanya Mike ingin sekali menghajar laki-laki itu. Mike sudah merelakan cintanya untuk Hannah demi laki-laki itu. Tapi dengan seenaknya dia meninggalkan Hannah di hari penting mereka. Dada Mike rasanya bergemuruh. Percayalah saat ini Mike sedang menahan diri untuk tidak menghajar Joe habis-habisan.
"Duduklah. Kita bicara baik-baik." Joe mencoba bersabar menghadapi kemarahan Mike. Sekarang dia bisa melihat dengan jelas bahwa cinta Hannah dan Mike bukanlah main-main. Dan dia cukup mengerti kenapa Mike sampai semarah itu pada dirinya.
"Bicara baik-baik ?" Mike berbalik sambil berkacak pinggang. Wajahnya sangat menyeramkan. " Dengan seenaknya kau meninggalkan pernikahanmu dan kau masih bisa bilang bicara baik-baik denganku ? Dimana otakmu ?!" Kali ini Mike menunjuk-nunjuk wajah Joe.
Joe mendudukkan tubuhnya di sofa. Teriakan Mike sama sekali tidak mengusik kesabarannya.
" Justru aku disini karena aku masih punya otak." Katanya santai.
Mike menatap tajam pada Joe. Apa sebenarnya yang diinginkan Joe. Tapi tidak ada salahnya mendengarkan dia lebih dulu. Mike duduk di sofa yang agak jauh dari Joe. Dia takut keinginannya untuk menghujani wajah tampan Joe dengan bogem mentah tidak bisa dikendalika. Lihat saja bagaimana santainya wajah Joe saat ini. Padahal bisa jadi disana Hannah sedang menangis sesenggukan karena ditinggal oleh calon suaminya. Mike benar-benar tidak bisa membayangkannya.
"Katakan apa maumu ! Waktuku tidak banyak." Suara Mike terdengar sadis.
"Kenapa kau tidak datang ke pernikahanku ?" Tanya Joe. Bersandar pada punggung sofa dengan santai.
Tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya membuat Mike semakin emosi. Rahangnya mengeras,mengatupkan giginya kuat.
"Jawab pertanyaanku !" Sentak Mike.
"Wow.....santai saja Mike. Aku mau tau alasanmu kenapa kau tidak datang ke pernikahanku ?" Joe memancing pengakuan Mike.
"Ada pekerjaan penting." Jawab Mike sinis.
"Pekerjaan dimana ? Apa tidak bisa menunggu ? Kau mengenalku dan Hannah dengan sangat baik. Apakah pekerjaan itu lebih penting daripada kami ?" Desak Joe.
Sebelumnya saat keluarga Mike sampai di tempat acara, Joe sempat menaruh curiga kenapa Mike tidak ikut datang bersama mereka. Dan benar saja, setelah Jhon menjelaskan alasan ketidakhadiran Mike adalah karena dia ingin pindah ke negeri orang, Joe langsung tanggap alasan sebenarnya dibalik kepindahannya. Dan......dia merasa harus menyelesaikan permasalahan ini sebelum semuanya terlambat.
Cih ! Mike berdecih. Saat ini hatinya sedang dikuasai amarah. Dia tidak bisa membayangkan wajah sembab Hannah karena menangis. Hatinya ikut merasa sakit.
"Dengan koper sebesar itu aku yakin pekerjaanmu akan memakan waktu yang cukup lama. Seperti seseorang yang sedang lari dari masalah."
Mike masih tidak bergeming. Batas kesabarannya sudah sampai di ubun-ubun.
"Ikutlah denganku." Joe mulai membujuk.
Joe menghela nafas lalu menyandarkan kepalanya pada punggung sofa hingga wajahnya menghadap ke langit-langit.
"Aku akan membatalkan pernikahan ini kalau kau tidak datang." Katanya sambil menoleh pada Mike.
"Beraninya kau !" Tangan Mike mengepal hingga urat-uratnya sangat jelas tergambar di permukaan kulitnya.
Sumpah demi apapun, Mike ingin sekali menghajar Joe.
"Aku tau alasanmu tidak datang ke pernikahanku. Pekerjaan itu hanya alibi. Kau punya alasan lain kan ?" Joe sadar kalau dia terus memancing Mike, maka tidak diragukan lagi Mike akan menghajarnya habis-habisan.
"Aku tidak paham dengan yang kau katakan." Mike masih berusaha berkilah. Namun suaranya melunak.
"Otakku ada disini." Kata Joe sambil menunjuk kepalanya dengan jari telunjuknya.
"Dan aku tidak bodoh Mike. Apa kau lupa aku adalah siswa paling cerdas sewaktu kita sekolah ?" Lanjut Joe.
"Apa maksudmu ?" Mike memicingkan matanya.
"Aku tau kau mencintai Hannah." Tukas Joe.
Deg,,,Bagaimana Joe bisa berkata seperti itu ? Mike terdiam.
"Kau tidak perlu mengelak lagi. Percuma ! Aku hanya tidak habis pikir denganmu. Kau ini bodoh sekali Mike ! Kalau kau mencintainya, perjuangkan dia ! Jangan malah lari seperti ini ! Kau tau, kau itu pengecut !" Joe semakin mengintimidasi Mike. Berharap Mike segera mengakui perasaannya pada Hannah.
"Apa maksudmu ? Aku memang ada pekerjaan penting yang harus ku selesaikan !" Mike belum menyerah.
Joe memutar bola matanya jengah mendengar kilahan Mike.
" Ck ! Kau ini keras kepala sekali. Apa susahnya mengakui perasaanmu ?"
Mike semakin kelimpungan di desak Joe. Mulai terlihat salah tingkah.
"Perasaan apa ?" Mike masih bersikeras.
Begitu terus hingga setengah jam berlalu tanpa terasa. Adu mulut yang cukup sengit. Sebenarnya yang keras kepala itu Mike. Sudah jelas ketahuan tapi masih saja mengelak. Hingga akhirnya Joe benar-benar muak dengan segala kilahan Mike.
"Oke fine ! Kalau kau masih tidak mau mengakuinya. Hari ini aku akan menikahi Hannah dan jangan harap aku berubah pikiran lagi ! Dan saat itu, aku tidak akan pernah melepaskannya lagi. Aku sudah muak mendengarmu terus mengelak seperti itu. Aku sudah memberimu kesempatan untuk memperjuangkan cintamu. Tapi apa ? Kau terlalu pengecut untuk mendapatkan Hannah. Kau sama sekali tidak pantas mendapatkannya !" Joe benar-benar habis kesabaran. Dia berbalik dan berjalan meninggalkan rumah Mike.
" Kau benar !" Kata Mike saat Joe sudah sampai di depan pintu. Joe enggan untuk menoleh. Tapi ketika Mike meneruskan ucapannya, Joe akhirnya mengalah. " Kau benar ! Aku memang tidak pantas mendapatkan Hannah. Maka dari itu aku mempercayakannya padamu." Lanjut Mike.
Joe menoleh lalu berjalan mendekati Mike yang sudah terlihat frustasi lalu memeluknya dengan cara jantan.
"Kenapa kau sangat keras kepala ? Ayo ikut denganku !" Tanpa menunggu persetujuan Mike, Joe melenggang meninggalkan Mike yang masih berdiri mematung di tempatnya tadi.
Untung di untung tuxedo Joe bisa muat di badan Mike. Karena postur mereka yang hampir sama. Dan masalah cincin yang hilang itu sebenarnya hanyalah alibi. Karena Joe harus meyakinkan Melly dan keluarga besarnya kalau Mike lah yang seharusnya menikah dengan Hannah. Bagi Melly itu tidak masalah. Tapi sempat ada keberatan dari pihak keluarga besar. Karena itu menyangkut nama baik keluarga. Namun setelah melalui sedikit perdebatan akhirnya Joe dan Melly bisa meyakinkan keluarga besarnya.
Flashback off.
***
"YES, I DO."
Uh....tidak ada hari yang lebih mengharukan dan membahagiakan selain hari ini. Yeay....Mike dan Hannah resmi menjadi suami dan istri. This is the best momment in their life ever.
"Thank you." Bisik Mike sembari mengecup tangan Hannah yang masih ia genggam.
Mike menyematkan cincin ke jari manis Hannah. Dan Hannah pun sama. Menyematkan cincin di jari manis Mike...tapi.....ternyata cincinnya tidak muat di jari manisnya.
"It's oke. Besok kita beli cincin sendiri." Kata Mike yang lantas mengulurkan jari kelingkingnya. Alhasil cincin itu dipakai di jari kelingking. Meskipun disana juga sedikit kebesaran.
KISS THE BRIDE !!!
Teriakan para tamu undangan yang sudah tidak sabar menantikan momen dimana pasangan suami istri baru itu menunjukkan kemesraannya.
Owh....so sweet !! Semua bersorak ketika pasangan di hadapan mereka saling beradu bibir.
"I love you." Ucap Hannah setelah ritual kemesraan itu usai.
"I love you more." Balas Mike.
Ritual sakral kini berganti dengan acara resepsi yang lebih santai. Para tamu tengah menikmati hidangan yang telah disediakan.
"Mama bangga denganmu." Melly mengusap punggung Joe yang tengah berdiri di salah satu sudut taman.
"Joe hanya melakukan apa yang seharusnya Ma. Hati Hannah adalah milik Mike. Aku tidak ingin menjadi penghalang untuk cinta mereka." Joe menyesap minuman dalam gelas yang dia pegang.
"Semoga suatu saat nanti kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri Nak." Ucap Melly.
Mama tau sebenarnya kaupun mencintai Hannah.
Melly mengusap bahu Joe dan meninggalkannya.
Sepeninggal Melly pandangan Joe mengarah pada kedua mempelai yang berjalan ke arahnya. Senyum terbaik menyambut kedua mempelai itu.
"Apa yang kalian lakukan disini ? Harusnya kalian disana menyalami para tamu." Joe menunjuk ke panggung.
"Mereka semua adalah tamumu. Banyak yang tidak aku kenali." Saut Mike.
"Thank you, Buddy !" Mike memeluk Joe secara jantan.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan." Jawab Joe.
"Aku minta maaf Joe." Kata Hannah. Gadis itu berkaca-kaca.
"Jangan menangis. Ini adalah hari bahagia kalian. Lagipula tidak perlu meminta maaf. Memang sudah seharusnya begini. " Kata Joe.
"Tapi aku merasa bersalah." Saut Hannah.
Joe mendekat pada Hannah. Meletakkan kedua tangannya di bahu gadis itu.
"Dengarkan aku baik-baik. Mama dan aku akan tetap menganggapmu sebagai keluarga. Apapun yang terjadi kau sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Jadi jangan pernah menganggapku orang lain. Oke !" Joe memeluk Hannah.
"Ehem !" Deheman Mike membuat Joe melepaskan pelukannya.
"Maaf...maaf...baru saja menikah aku sudah lupa kalau laki-laki keras kepala ini sekarang adalah suamimu." Kata Joe dengan nada mengejek.
Dan itu dibalas dengan senyuman oleh Mike yang mengingat betapa konyolnya dia beberapa waktu lalu saat terus menyanggah perasaannya.
"Kalau kau menikah nanti, ijinkan aku mengganti semua ini untukmu." Kata Mike.
Joe mengacungkan dua jempolnya. " Aku akan meminta yang lebih dari ini. Karena kau sudah membuatku batal menikah." Joe terkekeh.
"Jangan sungkan. Pasti aku berikan." Tukas Mike tidak mau kalah.
Alunan musik romantis mulai terdengar. Dancing time !
"Sana berdansalah ! Agar orang-orang iri melihat keromantisan kalian." Usir Joe.
Kedua mempelai pun segera berjalan meninggalkan Joe ke arah dimana orang-orang sudah berpasang-pasangan untuk berdansa.
Meskipun tidak bisa memilikimu tapi aku ikut bahagia untukmu Hannah. Melihatmu bahagia adalah hal paling mebahagiakan untukku.
Mike dan Hannah berdansa mengikuti irama yang mengalun indah. Gerakan perlahan nan elegan membuat suasana begitu romantis.
Senyum bahagia tak henti merekah di wajah keduanya.
"Sekarang kau percaya kalau cinta sejati itu tidak hanya ada dalam cerita fiksi ?" Tanya Mike dengan tatapan dalam.
"Ya....berkat dirimu aku percaya." Jawab Hannah.
"I love you Mrs.Bennings." Mike kembali menunjukkan pesonanya.
"I love you more Mr.Bennings." balas Hannah.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Mike masih menatap intens mata Hannah.
"Apa ?" Jawab Hannah polos.
"Ada kalanya upik abu akan berubah menjadi cinderella."
Hannah mengernyit heran mendengar ucapan Mike. Namun dia berusaha untuk tetap diam dan membiarkan Mike menyelesaikan kalimatnya.
"Dan....kau tau. Aku sudah menemukan cinderella-ku." Mike menangkup wajah Hannah. Seketika wajah Hannah memerah seperti tomat.
"Sekarang dia sedang berdiri di hadapanku. And HER NAME IS HANNAH !" Mike mendekatkan wajahnya pada Hannah. Dan....Cup !
Ini adalah dansa paling romantis seumur hidup mereka.
**********TAMAT***********
Terima kasih sudah membaca novel pertamaku hingga tamat. Buat yang udah like, comment, sama vote. Terus dukung aku ya biar tetap semangat menulisnya.
Rencananya aku mau bikin sekuel dari novel ini. Masih menceritakan tentang keluarga Bennings. Siapa lagi kalau bukan adiknya si Mike. ISABEL BENNINGS !!!
Tunggu info selanjutnya ya.....
Salam sayang dari author.
Love....love....love...!!!