
Hari minggu kali ini Isabel merengek ingin ditemani Mike pergi ke pusat perbelanjaan.Dari semalam dia gencar merayu kakaknya itu agar mau menemaninya karena kedua orang tuanya sedang pergi keluar kota untuk satu minggu kedepan.Isabel tidak ingin dirumah sendirian.
Minggu pagi Isabel sudah mandi dan berdandan ala ABG karena Mike sudah berjanji menemaninya ke pusat perbelanjaan.
Tok...Tok...Tok...!!!
"Kakak..!" Teriak Isabel sambil mengetuk pintu kamar Mike keras-keras.
Beberapa kali ketukan, Mike tak kunjung keluar.Akhirnya Isabel menerobos masuk ke dalam kamar Mike.
Isabel kesal lantaran melihat Mike masih terlelap dalam mimpinya dibawah selimut.
"Kakak...!!!!" Teriakan Isabel sontak membuat Mike mengerjapkan mata dengan cepat dan wajahnya tampak kesal karena terkejut
"Jangan ganggu kakak !" Mike memejamkan matanya kembali.
Isabel berjalan mendekati tempat tidur kakaknya dengan lengkah yang menghentak keras.Menandakan kalau kekesalannya sudah memuncak.
"Ayo bangun Kak ! Kakak kan sudah janji mau menemani Isabel.Kenapa Kakak belum bangun juga ?" Kata Isabel dengan suara tinggi.
Mike menggosok telinganya keras karena teriakan Isabel benar-benar membuat telinganya berdengung.
"Nanti Kakak temani.Sekarang Kakak masih mau tidur." Mike menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Ayo bangun Kak !" Isabel menggoyang-goyang tubuh Mike yang terbungkus selimut.
Akhirnya Mike membuka selimutnya dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.Matanya yang masih terasa berat dia paksa terbuka.
"Kau ini berisik sekali ! Tunggulah diluar ! Kakak mau mandi dulu."
Mike mengalah pada adik kesayangannya itu.
"Kalau begitu kan Isabel jadi tambah sayang sama Kakak ! Jangan lama-lama mandinya !" Isabel tersenyum cerah saat Kakaknya sudah mulai mengalah.
"Sudah sana keluar !" Mike mendorong tubuh kecil Isabel.
***
Mike keluar dari kamar setelah selesai bersiap-siap.Dia berjalan menuruni setiap anak tangga hingga akhirnya dia sampai di ruang keluarga dimana Isabel sudah menunggunya dengan begitu antusias.
"Cepatlah !" Ajak Mike tanpa dia berhenti melangkah.
Isabel yang melihat kakaknya sudah rapi pun segera beranjak mengikuti langkah besar kakakknya itu.
Sepanjang perjalanan Isabel tak berhenti berceloteh.Ada saja yang dibicarakannya.Mulai dari teman-temannya di sekolah sampai masalah kukunya yang potek juga di bicarakan.
"Nanti jangan lama-lama.Kalau kelamaan Kakak akan meninggalkanmu disana." Mike sudah memberi ultimatum bahkan sebelum mereka sampai di tempat yang mereka tuju.
"Iya...iya Kakak tersayangnya Isabel...!" Jawab Isabel manja.
Beberapa waktu kemudian mereka sudah sampai di area parkir sebuah pusat perbelanjaan di kota itu.
Isabel berjalan memasuki pusat perbelanjaan itu dengan tangan yang melingkar erat di lengan Mike.Dan Mike sama sekali tidak keberatan dengan sikap Isabel.Meskipun anak itu sangat manja tapi Mike sangat menyayanginya.
Mereka langsung menuju ke lantai dua pusat perbelanjaan itu.Dimana lantai satu khusus untuk toko pakaian.Lantai dua toko aksesoris dan gadget.Lantai tiga foodcourt dan timezone.Dan lantai empat untuk bioskop.
Isabel memang sangat suka mengkolaksi aksesoris.Bahkan dia punya lemari sendiri untuk menyimpan koleksi aksesorisnya.
"Kakak....kita kesana yuk !" Ajak Isabel sambil menunjuk ke salah satu toko aksesoris.Isabel menarik lengan Mike yang dari tadi tidak dia lepaskan menuju ke tempat yang dia inginkan.
Tanpa menjawab Mike mengikuti kemana langkah kaki adiknya itu.
Di dalam toko Isabel mulai melepaskan tangannya dari Mike dan dengan semangat mulai memilih-milih benda yang dia rasa menarik.
Mike hanya duduk di kursi busa panjang yang disediakan oleh pihak toko sambil menunggu adiknya berbelanja.
Mike menunggu sambil memainkan ponselnya agar tidak bosan.
Isabel berjalan menyusuri rak-rak yang berjajar rapi di toko itu.Hingga dia berhenti di depan deretan gelang yang tertata rapi di dalam etalase.
"Wah....cantik-cantik sekali gelang ini !" Isabel tersenyum girang.
Lalu dia memanggil penjaga toko untuk mengambilkan beberapa gelang yang dia sukai.
Tidak tanggung-tanggung Isabel memilih sepuluh gelang diantara ratusan gelang yang berjajar disana.
"Bagus semua ! Jadi bingung mau pilih yang mana." Isabel memperhatikan satu persatu gelang yang dia pilih.
Dia mulai menyortir gelang-gelang itu hingga kini tersisa tiga gelang yang paling dia sukai.Warna birel,hitam dan peach.
"Kalau aku ambil semua pasti kakak marah.Inikan mahal.Tapi ini cantik sekali." Dilema ala ABG menggelayuti hati Isabel.
Satu persatu gelang itu dia coba di tangannya.
"Cantik sekali !" Itu kata yang terucap dari mulut Isabel ketika mencoba gelang-gelang itu dengan ekspresi yang sangat menginginkannya.Hingga membuat si penjaga toko menahan tawa karena wajah lucu Isabel.
Berkali-kali Isabel mengangkat gelang itu dan memperhatikannya dengan teliti.Hingga suara seseorang mengagetkannya.
"Yang peach itu bagus." Seorang perempuan berambut coklat sedang berdiri disampingnya.Dia Hannah.
Isabel menoleh pada Hannah dengan senyum renyah ala anak kecilnya.
"Yang ini ya Kak ?" Isabel mengangkat gelang warna peach.Lalu dia mencobanya lagi.
"Bagus kan ? Cantik sekali di tanganmu." Kata Hannah.
"Iya Kak cantik sekali.Aku ambil yang ini saja." Kata Isabel.Dia seperti mendapatkan pencerahan setelah mengalami kagalauan tingkat dewa.
Hannah tersenyum sambil berlalu meninggalkan Isabel yang masih memperhatikan gelang warna peach yang melingkar di pergelangan tangannya.
Hannah menuju ke meja kasir untuk membayar jepit rambut yang dia beli tadi.
Deg...
Hannah tersentak ketika melihat laki-laki yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya di kursi busa tidak jauh dari pintu masuk.
Jantungnya berdetak lebih kencang.Kakinya seakan ditarik oleh beban yang sangat berat hingga dia tidak bisa melangkahkan kakinya meninggalkan toko.
Hannah mengatur nafas agar detak jantungnya normal kembali.Setelah beberapa saat dia berhasil menyeret kakinya untuk melangkah hingga hampir sampai di depan pintu masuk toko.
"Hannah ?"
Suara itu membuat langkah Hannah terhenti.Hannah memutar badannya ke arah sumber suara yang memanggilnya.Dan jantungnya kembali berdetak tak beraturan.
"Mike..." suara Hannah gemetar karena jantungnya yang berdetak cepat itu.
Mike berdiri lalu mendekati Hannah.
"Kau disini ? Sudah selesai belanja ?" Tanya Mike.
Hannah tampak gugup.Dengan wajah menunduk dia mengiyakan pertanyaan Mike.
Sebenarnya dia merasa sangat malu karena saat kejadian di rumah sakit itu dia tidak berusaha menghindar dari Mike.Dia takut Mike akan berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Aku pulang dulu ya." Hannah berusaha menghindari Mike.
Hannah membalikkan badannya dengan cepat hendak keluar dari toko.Namun tangan Mike dengan cepat menarik tangan Hannah.
"Tunggu !" Kata Mike.
Mike merasa ada yang harus dibicarakan dengan Hannah.Dia tidak mungkin terus menghindar dari masalah itu.Kalaupun hanya salah paham,Mike tidak ingin merasa bersalah pada Hannah.
Detak jantung Hannah semakin tidak menentu saat tangan Mike menggenggam pergelangan tangannya.Tapi mau tidak mau dia berbalik menghadap Mike.
"Ada apa ?" Hannah berusaha tampak tenang.
"Aku perlu bicara sesuatu denganmu." Kata Mike yang lalu melepaskan pegangannya.
"Bi-bicara apa ?" Hannah mulai was-was.Kakinya serasa semakin melemas.
"Kita bicara disana." Mike menunjuk kursi busa yang ada diluar toko.
Mereka lantas keluar dari toko dan duduk di tempat yang ditunjuk Mike tadi.
Wajah Hannah berubah merah saat duduk berhadapan dengan Mike.Dia menundukkan kepalanya agar Mike tidak melihat rona di wajahnya itu.
"Kau mau bicara apa ?" Kata Hannah pelan.
Mike bingung untuk mengawali pembicaraan yang sensitif itu.
Namun Mike harus melakukannya.Dia tidak ingin jadi pengecut yang hanya bisa lari dari masalah.
"Eh....itu....soal kemarin waktu di rumah sakit...." Mike berusaha menyusun kalimatnya dengan baik.
Jantung Hannah seakan mau copot ketika mendengar apa yang akan Mike bicarakan ternyata adalah apa yang membuatnya malu waktu itu.
"Aku minta maaf." Mike meringkas kalimatnya menjadi tiga kata saja.
Hannah sontak mengangkat wajahnya mendengar kata maaf dari Mike.Dia tidak menyangka kata itu terucap dari bibir Mike.
"Aku....aku tidak bermaksud tidak sopan denganmu." Kata Mike selanjutnya.
Hannah hanya diam saja mendengarkan Mike.Lidahnya terasa kelu.
"Hannah ?" Panggil Mike saat Hannah hanya diam tanpa menjawab permintaan maafnya.
"Eh...aku...juga minta maaf.Aku tidak ingin kau berpikir yang tidak-tidak tentangku." Hanya kata itu yang muncul di otak Hannah.
"O....ke." Kata Mike.Ada perasaan lega dalam hati Mike karena Hannah tidak marah padanya.
Suasana jadi canggung setelah pembicaraan itu.Mereka saling diam.Hingga Hannah teringat tentang apa yang sudah Mike lakukan untuk dirinya.
"Mike....." kata Hannah pelan.
Mike menoleh dan mendengarkan apa yang akan Hannah bicarakan.
"Aku mau berterima kasih padamu." Lanjut Hannah.
Mike menautkan kedua alisnya.Dia masih belum bisa mencerna perkataan Hannah.
"Terima kasih untuk apa ?" Tanya Mike.
"Karena sudah mencarikanku rumah.Bahkan aku masih bisa menempati rumahku yang lama." Tutur Hannah yang sudah mulai bisa mengkondisikan debaran jantungnya.
"Oh itu....." Mike tersenyum.
"Meskipun rumah itu bukan milikku lagi.Tapi paling tidak aku masih bisa menempatinya walau harus membayar sewa." Hannah tersenyum tipis.
"Kalau boleh tau....Memangnya kenapa rumah itu sampai di lelang ?" Pertanyaan itu sudah lama bersarang di otak Mike.Dan sekarang dia bisa menanyakannya langsung pada Hannah.
Hannah menoleh pada Mike.Suasana yang sudah mulai cair saat itu membuat obrolan mereka terasa lebih hidup.
"Ceritanya panjang.Kau pasti bosan mendengarnya." Hannah berusaha menghindar dari pertanyaan itu.
Mike tidak memaksa karena sepertinya Hannah orang yang introvert.
Lalu Mike mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain agar suasana tidak kembali canggung.
Kali ini Hannah melihat sisi lain dari seorang Mike.Yang biasanya menyebalkan,saat ini Hannah merasa nyaman sekali berbincang dengannya.Dan tawa kecil sesekali menyelingi obrolan mereka.Seketika kejadian memalukan di rumah sakit itu seakan sudah terbang bersama angin.