
Awan kelabu berarak.Gerimis mulai berlomba-lomba mengguyur membasahi bumi.Angin sepoi berhembus menembus setiap pori-pori menyalurkan hawa dingin yang mencengkeram tubuh.
Burung-burung terbang berkoloni dari dahan pohon menguasai angkasa.Layaknya pesawat tempur yang siap menyerang musuh.
Semua orang berpakaian hitam.Beberapa membawa payung dan beberapa membiarkan gerimis menikam tubuh mereka.
Hannah bersimpuh di hadapan pusara dengan air mata yang tak kunjung kering.Mata sembabnya terus mengalirkan buliran bening.Perasaan kehilangan seperti beberapa tahun lalu kini harus dia rasakan kembali.
Sesak ! Seperti tidak ada ruang di rongga dadanya untuk sekedar menghirup oksigen.
Rasa sakit yang datang bertubi-tubi dalam hidupnya sungguh sangat mengguncang.Bagai ditikam ribuan belati. Hannah melewati semua duka itu dengan susah payah.Berulang kali dia hampir putus asa.Namun kehadiran Joe dalam hidupnya selalu bisa menguatkan dirinya.
Ya...dialah orang yang selalu menguatkan setiap kali Hannah merasa dunianya hancur dan terpuruk di lubang tanpa dasar dalam hidupnya.Joe selalu dengan sabar menariknya dari keterpurukan.Selalu meyakinkan dirinya kalau masih ada secercah harapan dan kebahagiaan yang menanti dirinya di depan sana. Namun saat ini dia harus melewati semua kesedihan ini tanpa laki-laki itu disampingnya.Laki-laki yang tidak pernah mengenal lelah untuk membuatnya merasa terlindungi.
Sentuhan hangat di bahu kanannya membuat gadis itu tersentak dari kesedihan yang mendalam.
Tanpa harus menoleh dia sudah tau siapa pemilik tangan kokoh itu. Sebuah payung hitam mampu menahan rintik hujan yang semakin deras menerpa tubuh rapuh yang masih duduk bersimpuh itu.
"Hujan semakin deras." Mike menghalangi air hujan membasahi tubuh Hannah dengan payung yang dia bawa.
Hannah menyeka air matanya lalu menengadah menatap wajah laki-laki yang berdiri di sampingnya.
Matanya yang menyipit karena bengkak dan hidung yang merah membuat wajah gadis itu tampak semakin sayu.
Perlahan berdiri lalu memeluk dan membenamkan wajah di dada bidang laki-laki itu untuk menumpahkan segenap kesedihan yang ada dalam hatinya. Mencari kenyamanan yang selalu dia rindukan. Dibawah payung dengan guyuran hujan yang semakin menderas dan hawa dingin yang menusuk kulit membuat gadis itu kesulitan bernafas karena hidung yang tersumbat.
Mike mendekap tubuh itu dengan erat.Berusaha menguatkan.Berusaha memberikan kehangatan.Agar gadis rapuh itu tidak hancur karena kesedihan yang menderanya.
Perlahan Hannah merenggangkan pelukannya dan mengangkat wajahnya, mengerjap pelan memandang kedua mata teduh yang saat ini ada dihadapannya.
"Terima kasih." Ungkapan tulus dengan wajah sayu dan mata yang berair.
Mike mengusap air mata yang menetes dari ujung mata Hannah dengan ibu jarinya.Dadanya ikut merasakan denyutan nyeri tatkala melihat gadis itu tak henti menitikkan air mata. Hanya seulas senyum yang bisa dia berikan dengan harapan bisa membuat hati gadis itu sedikit lebih tenang.
"I'm here for you."
Kembali saling mengeratkan pelukan hingga keduanya berbalik.Mike merengkuh bahu Hannah dan menuntunnya melangkah meninggalkan pusara yang semakin basah karena air hujan.Beberapa langkah kemudian Hannah menghentikan langkahnya.Matanya kembali menoleh ke arah pusara yang masih baru itu.Ada rasa tidak rela untuk meninggalkan jasad di dalam pusara itu sendirian.
Kedua mata Hannah terpaku pada batu nisan yang berada di ujung pusara.Nama itu akan selalu dia ingat.Akan selalu ada tempat untuk nama itu dihatinya.Bersanding dengan nama kedua orang tuanya yang selalu bersemayam dalam hatinya.
"Selamat jalan Nyonya Lee." Lirih Hannah sebelum melangkahkan kakinya lagi meninggalkan pemakaman.
***
DUA MINGGU KEMUDIAN
Sudah dua minggu semenjak insiden penculikan.Meskipun Harry sudah tidak ada di dunia ini lagi.Tapi Hannah masih merasa dihantui oleh sosok Harry.Bisa jadi itu karena trauma yang dia alami.
Hannah masih merasa takut ketika harus berada di suatu tempat sendirian.Dia selalu merasa ada orang yang sedang memperhatikan.Bahkan untuk tidur dengan lampu yang padam pun dia tidak berani.
"Maaf Nona. Tuan Mike sudah menunggu di depan." Kata salah satu pembantu yang ditugaskan Melly untuk selalu menemani Hannah selama dirumah.
Hannah mengangguk lalu bergegas meninggalkan kamar tidurnya untuk menemui Mike.
"Sudah siap ?" Tanya Mike seraya beranjak dari sofa tempat dia duduk di ruang tamu.Senyum tampan itu....ah...begitu indah !
"Iya." Jawab Hannah singkat.
Mereka berdua berjalan ke tempat Mike memarkir mobilnya di halaman depan.Dan tak lama mobil itu melaju ke jalanan. Perjalanan mereka kali ini ditemani alunan musik dari Bruno Mars.Sesekali bibir Mike ikut menirukan lirik lagu yang ia dengar.Entah kenapa dia sangat menikmati hal-hal sepele seperti itu.Baginya itu adalah salah satu cara membuat pikirannya rileks atau sekedar melepas penat di kepalanya.
Sementara Hannah hanya sesekali tersenyum ketika melihat ekspresi Mike saat menirukan lirik lagu yang ia dengar.Kadang terlihat lucu.Kadang juga terlihat menyebalkan.Apalagi ketika lagu yang diputar adalah lagu sedih. Mike akan menirukan gaya penyanyinya yang terkesan dibuat-buat agar terlihat lebih 'berasa'.Meskipun hanya sepotong lirik saja yang dia tirukan.Tetapi itu cukup membuat Hannah tertawa gemas.
"Here we are !" Seru Mike saat mereka sudah sampai di basement.
Mereka berjalan di koridor sambil berbincang ringan.Hingga mereka sampai di salah satu ruangan VIP.
Mike memutar handle pintu dan mempersilahkan Hannah untuk masuk.Mike berjalan di belakang Hannah.Hannah mendudukkan tubuhnya di kursi yang selalu ada disana dan Mike berdiri disamping Hannah.
"Selamat pagi Joe ! Bagaimana kabarmu hari ini ?" Sapa Hannah.
"Hei Buddy !" Mike ikut menyapa.
"Hari ini Mama Melly tidak bisa datang.
Ada pekerjaan di luar kota.Cepat bangun Joe ! Kasihan Mama Melly harus mengurus perusahaan sendirian.Apa kau tega melihat Mama Melly kesana kemari menyelesaikan pekerjaanmu ? Ayo bangunlah ! Aku merindukan suaramu." Hannah menatap wajah Joe yang tampak tertidur sangat lelap dengan berbagai peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Hannah menggenggam erat tangan Joe.Berharap Joe bisa merasakan kehadirannya.
Setiap hari Hannah berharap Joe tiba-tiba membuka mata dan menyapanya dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.
Aku akan terus menjagamu sampai kau bangun Joe. Sampai kau bisa kembali menjagaku. Jangan lupakan janjimu karena aku tidak akan pernah melupakannya. Aku akan selalu menagihnya. Jadi cepatlah bangun !
Batin Hannah.
Jangan heran ! Peluru yang menembus tubuh Joe waktu itu telah melukai jantungnya.Bergeser ke kanan sedikit saja nyawa Joe tidak akan bisa di selamatkan.Joe masih beruntung karena secepatnya dibawa ke rumah sakit.Jika sampai terlambat maka lewatlah sudah nyawanya. Meskipun sekarang dia dalam keadaan koma. Tapi setidaknya masih ada harapan untuk dia bisa sembuh.
Sudah dua minggu Joe terbaring di sana dalam keadaan koma.Dan setiap hari dalam dua minggu itu Hannah datang menemani dan sering mengajak bicara meskipun Joe belum menunjukkan respon apa-apa.Mike dengan setia mengantar dan menjemput Hannah ke rumah sakit setiap hari.Sedangkan Melly harus menggantikan Joe di perusahaan. Tidak ada kesulitan yang berarti bagi Melly untuk menjalankan perusahaan itu.Karena dulu sebelum menikah dengan Hendrik dia pernah bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan di kota itu.Jadi sedikit banyak dia paham akan pekerjaannya.
Mike mengusap bahu Hannah.Setiap kali melihat Hannah berbicara pada Joe seperti itu semakin membuat Mike merasa bersalah.Mike bisa merasakan kerinduan yang dirasakan Hannah pada Joe.Joe yang selalu ada untuknya disaat-saat terburuk.Joe yang selalu berusaha membuat Hannah tersenyum meskipun sedang di rundung masalah.Joe yang akan mengorbankan apapun demi Hannah.Sekalipun itu nyawanya sendiri seperti saat ini.
Walau bagaimana pun kejadian itu tak lepas dari apa yang pernah dilakukannya pada Harry.Seribu kata maaf sepertinya tidak akan cukup untuk membunuh rasa bersalah itu.
"Bangun Buddy ! Rasanya tidak menarik bersaing dengan orang yang bisanya hanya tidur sepertimu." Canda Mike pada Joe.Ya...biarpun Joe tidak merespon tapi dia tetap menganggap Joe bisa mendengar setiap perkataannya.
Sungguh kalau saja kau tau apa yang dirasakan Mike saat ini, mungkin kau tak akan bisa memejamkan mata barang sejenak.Perasaan yang begitu kompleks memenuhi benaknya.Kebersamaannya dengan Hannah akhir-akhir ini membuat rasa cintanya semakin dalam.Disisi lain dia juga harus menanggung rasa bersalah atas apa yang menimpa Joe.Belum lagi perasaan bersalahnya karena mencintai calon istri sahabatnya itu.Ya- Mike menganggap Joe adalah sahabatnya.Sahabat yang lebih seperti saudara baginya.
Bangunlah Joe ! Aku akan menepati janjiku padamu. Kau akan bahagia bersama Hannah. Dan kau harus bangun untuk bisa melindunginya.Bagaimana kau bisa menikah dengannya kalau kau tidur terus seperti itu ?! Mike terkekeh dalam benaknya.