
Mike duduk di sebuah bangku di halaman belakang rumahnya.Di depannya membentang kolam renang dengan pantulan warna biru yang begitu indah.Air yang begitu tenang sesekali memantulkan cahaya lampu yang menghiasi indahnya taman di sekeliling kolam.
Angin semilir menambah hawa dingin malam itu semakin mencengkeram kulit hingga menusuk ke dalam tulang.
Mike beranjak dari duduknya.Dia lepas t-shirt putih yang melekat di tubuh atletisnya.Dan dalam sekejap....
BYUURR....!!!
Mike menceburkan dirinya ke kolam renang.Tubuhnya sama sekali tidak merasakan dinginnya air dalam kolam itu.
Menyelam dalam kolam mungkin bisa sedikit mengurangi rasa nyeri yang dia rasakan di dadanya.
Di tengah-tengah kolam itu Mike perlahan menenggelamkan tubuhnya hingga ujung kepalanya tidak lagi terlihat.
Dengan mata terpejam kaki Mike menyentuh dasar kolam.Gelembung kecil menyembul ke permukaan.
Ini pertama kalinya Mike merasa begitu kacau hanya karena seorang perempuan.Perempuan sederhana yang mampu menarik seluruh perhatiannya.
Berhentilah memikirkannya ! Tidakkah kau lihat siapa yang selama ini bersamanya ? Dengan perhatian yang begitu besar,perempuan mana yang tidak akan luluh hatinya.
Puas menenggelamkan dirinya ke dasar kolam, Mike berenang dari tepi ke tepi.Beberapa putaran hingga dia merasa otot-otot kekarnya tidak mampu lagi menuruti otaknya.
Saat Mike berenang ke tepi dan menyembulkan kepalanya keatas.Emma sudah berdiri di tepi kolam dengan raut wajah keheranan dengan apa yang dilakukan anak sulungnya itu.
"Mama !" Mike terkejut melihat wanita yang telah melahirkannya itu sudah berdiri disana dengan membawa sebuah handuk di tangannya.
Mike keluar dari kolam dan Emma segera melempar handuk yang dia bawa ke tubuh Mike.
"Apa sebegitu beratnya masalahmu sampai kau berenang malam-malam seperti ini ?" Emma berjalan ke arah bangku dan duduk disana.
Mike menyeka seluruh tubuhnya dengan handuk lalu melilitkan handuk itu di pinggangnya dan melepaskan celananya yang basah."Mike tidak ada masalah Ma."
Emma mendengus.Tidak percaya dengan apa yang dikatakan Mike.
"Mama ini yang melahirkan dan membesarkanmu.Masih mau berbohong ?"
"Dengarkan Mama ! Biarkan hatimu membuka matanya.Karena disanalah kau bisa merasakan dan menemukan kebenaran." Emma menunjuk dada Mike dengan telunjuknya.
Tidak ada sautan apa-apa dari Mike.Dia masih berusaha mencerna kata-kata Mamanya.
Emma beranjak dan berjalan meninggalkan Mike yang masih duduk termenung di tepi kolam renang.
"Jangan biarkan kecemburuan membuatmu melakukan hal-hal bodoh !" Teriak Emma tanpa menoleh pada putranya itu.
"Aku cemburu ?" Gumam Mike.
Ya....sepertinya memang cemburu lah yang sedang dirasakannya saat ini.Melihat Hannah berjalan berdampingan dengan Joe sambil bercanda tawa benar-benar menguras energinya untuk menahan rasa nyeri yang muncul di dadanya.
***
Paginya di ruang makan saat sarapan.Mike berangkat ke kantor pagi-pagi sekali dan dia melewatkan sarapan bersama keluarganya.
"Sayang Mike tidak ikut sarapan.Ada yang ingin Papa tanyakan padanya." Jhon memasukkan potongan daging yang terbalur saus ke dalam mulutnya.
"Bukan.Tapi gadis yang bersama Joe tadi malam.Siapa namanya ?" Jhon mengingat-ingat.
"Kak Hannah ?" Saut Isabel.
"Oh ya....Hannah.Wajah gadis itu sangat familiar.Sepertinya Papa pernah bertemu dengan dia sebelumnya."
"Benarkah ? Dimana Papa bertemu Hannah ?" Emma mengelap mulutnya dengan tissue karena sarapannya sudah habis.
"Papa tidak ingat.Tapi Papa yakin kalau pernah bertemu dengannya di suatu tempat."
"Ah mungkin hanya mirip." Tukas Emma.
"Sepertinya anak kita sedang jatuh cinta.Papa perhatikan tidak semalam waktu Hannah pulang bersama Joe.Bagaimana cara Mike menatap mereka....seperti seseorang yang sedang cemburu." Tambah Emma.
"Itu belum seberapa Ma.Kemarin waktu di pusat perbelanjaan Kakak terlihat sangat bahagia.Padahal biasanya Kakak selalu terburu-buru mengajak Isabel pulang.Tapi dengan Kak Hannah...Kakak bahkan tidak ingat kalau dia datang bersama Isabel.Jadi ya...Isabel tinggal bermain sepuasnya di timezone.Bahkan Kakak tau arah rumah Kak Hannah tanpa menanyakannya.Itu kan berarti Kakak sudah pernah kesana sebelumnya." Timpal Isabel tanpa rasa bersalah.
Emma seketika itu memelototkan matanya karena geram.
"Sudah berapa kali Mama bilang jangan pergi sembarangan ! Harusnya kau bilang pada kakakmu kalau mau kemana-mana.Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk denganmu bagaimana ?"
Isabel langsung beringsut.Niat hati ingin membumbui perkataan Mamanya tapi malah kena omelan dari Mamanya.
"Maaf Ma...Isabel keceplosan." Gadis itu tersenyum memelas sambil mengerucutkan bibirnya.
"Isabel berangkat sekolah dulu Pa,Ma." Pamitnya kemudian.Sengaja dia menghindar agar tidak terkena omelan mamanya lagi.
Emma mengalihkan pandangan pada suaminya.
"Semalam Mike juga berenang di kolam.Anak itu tidak biasanya melakukan hal-hal bodoh semacam itu.Kalau Mama perhatikan.....Mike seperti orang yang sedang terbakar api cemburu." Emma memberikan asumsinya.
"Biarkan saja Ma.Asalkan tidak mengganggu pekerjaannya.Malahan Mama senang kan kalau Mike mulai menemukan tambatan hatinya ? Kita bisa secepatnya menimang cucu." Jhon terkekeh membayangkan Mike akan menikah dan segera mempunyai anak.
"Iya Pa....Mama sudah ingin sekali menimang cucu." Emma membayangkan hal yang sama.
Mereka sama sekali tidak mengetahui kegundahan seperti apa yang sedang dirasakan oleh putra mereka itu.
Sementara agenda Mike hari ini adalah meeting dengan Joe untuk membahas kelanjutan proyek baru yang tengah mereka garap.
Sepuluh menit sebelum meeting dimulai Joe sudah sampai di kantor Mike.Joe menemui Mike langsung di ruang kerjanya.
"Pagi Mike !" Sapa Joe setelah pintu ruangan itu di bukakan oleh sekretaris Mike.
"Masuklah !" Mike memutar kursi kebesarannya ke samping lalu berdiri dan menyalami Joe.
Mereka berdua duduk di sofa yang berada di sudut ruangan.
Menurut mereka lebih nyaman membahas pekerjaan dengan suasana santai daripada harus masuk ke ruang meeting.
Setelah materi meeting selesai dibahas mereka tampak duduk santai dan mengobrol.
Mike sebisa mungkin menepis perasaannya.Dia harus bisa membedakan urusan pekerjaan dan pribadi.Meskipun ada rasa getir yang begitu menyiksa saat mengingat Joe dan Hannah bersama.