Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
BODOH SEKALI



Pagi seperti biasanya Hannah bersiap untuk berangkat kerja.Dia berusaha setegar mungkin menjalani hari-harinya meskipun dia masih punya satu permasalahan yang harus segera dia selesaikan.Apalagi kalau bukan soal rumah.Harry adalah orang yang tidak mudah di tebak.Dia memberi waktu satu bulan untuk Hannah pindah tapi bisa saja sewaktu-waktu Harry menendangnya dari rumahnya sendiri.


Di depan pintu rumahnya lagi-lagi Hannah menemukan sebuah buket bunga lily yang tergeletak.Namun kali ini ada kartu yang menempel di buket bunga itu.


Hannah membungkuk dan mengambil bunga itu.Hannah masih ingat dia pernah mendapatkan dua buket bunga lily yang sama persis seperti yang dia pegang saat ini tanpa tau siapa yang mengirim.Sepertinya kali ini dia akan tau siapa pengirim bunga itu.


"Apakah kau suka dengan bunga-bunga yang aku kirim Sayang ? Bersiap-siaplah Sayang.Rumah itu sudah punya pemilik baru.Harry-mu tersayang."


Tulisan di kartu itu membuat Hannah bergidik.


Ternyata kiriman buket bunga lily itu dari Harry.Merasa sangat kesal Hannah melempar bunga itu ke tong sampah.


Membaca pesan itu rasanya dada Hannah begitu sesak.Harry memberinya waktu satu bulan tetapi belum sampai waktu yang dijanjikan rumah itu sudah berpindah kepemilikan lagi.Pikiran Hannah sangat kacau.


"Aargghhh.....!!" Hannah berteriak kesal.


Linangan air mata membanjiri wajah Hannah.Marah...bingung....sedih...semua bercampur menjadi satu.


"Mungkin sementara aku bisa tinggal di rumah Eve." pikir Hannah.Tetapi dia tidak mungkin selamanya bergantung pada Eve.Dia hanya berniat tinggal sementara dengan Eve sambil terus mencari tempat tinggal yang baru.


Hannah menyeka air matanya,menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya lagi.


"Aku bisa melewati semua ini." Hannah menyemangati dirinya sendiri lalu bergegas menuju tempat kerja.


***


Di kantor Mike.


Mike duduk di balik meja kerjanya sambil membolak balikkan file yang tertumpuk di hadapannya.Wajahnya tampak sangat serius.Kesan dingin selalu muncul saat dia sedang fokus bekerja.


Tok...Tok...Tok...!


Sekretaris Mike memasuki ruang kerjanya.Ditangannya ada sebuah map berwarna hijau yang siap dia berikan kepada atasannya itu.


"Semua seperti yang Tuan minta." kata sekretaris itu sambil meletakkan map yang dia bawa ke meja kerja Mike.


Mike mengalihkan perhatiannya ke map hijau itu dengan wajah tanpa ekspresi.


Mike membuka map dan memeriksa berkas di dalamnya.Mike menarik ujung bibir kirinya keatas menandakan dia puas dengan hasil kerja sekretarisnya.


"Bagus.Lakukan seperti yang aku perintahkan kemarin." Mike menatap tajam kedua mata sekretarisnya.


"Baik Tuan." skeretaris itu menganggukkan kepala.


"Lanjutkan pekerjaanmu." perintah Mike selanjutnya


Sekretarisnya segera keluar.Hingga di ruangan itu hanya ada Mike.


Pandangan Mike menerawang.Dia duduk bersandar pada kursi kerjanya yang empuk dan memutarnya ke samping.Tangan kanannya memegang sebuah pena dan mengetuk-ngetukkannya pelan diatas meja.


Sesaat kemudian dia meletakkan pena dan beralih ke ponsel yang berada diatas meja.Mike memutar-mutar ponsel itu dengan kedua ujung jarinya.


Lalu dia terlihat mencari nomor telpon seseorang dari daftar kontak ponselnya.


Calling Joe


Itu yang tampak dilayar ponsel Mike beberapa saat kemudian.


Dia berencana makan siang dengan temannya itu di sebuah rumah makan yang letaknya tidak begitu jauh dari kantor Mike.


Mike menyelesaikannya tepat sebelum jam makan siang.Mike keluar dari ruangannya dan berjalan ke lobi.Para pegawai menundukkan kepala mereka saat berpapasan dengan Mike.Mereka sangat menyukai Mike sebagai atasannya.Selain karena wajah tampan, tubuh atletis dan gaya kerjanya yang tidak terlalu formal, Mike juga dikenal sebagai bos yang baik kepada semua karyawannya.Biarpun terkadang kesan dingin dan acuh tak acuh melekat pada sosok Mike saat dia sedang fokus bekerja.Sedikit berbeda dengan Jhon papanya yang lebih formal dan serius dalam memimpin perusahaan itu.Meskipun keduanya sama-sama bos yang baik.


Mike tidak menggunakan jasa sopir untuk mobilitasnya.Dia lebih suka berkendara sendiri.Dan sikap down to earth nya itu yang semakin membuat para pegawai wanita di kantornya diam-diam mengagumi Mike.


Mike berjalan menuju mobilnya untuk menemui Joe di tempat yang mereka janjikan.Perlahan mobil Mike meninggalkan area parkir gedung megah yang menjulang tinggi itu.


***


Di rumah makan.


Mike masuk ke rumah makan yang menyajikan masakan italia itu dan langsung menuju ke sebuah meja yang paling ujung.


Joe belum sampai disana karena memang jarak antara tempat itu dan kantornya lebih dekat dibandingkan dengan jarak dari kantor Joe.


Mike memesan lemon squash sambil menunggu Joe.Mike mengambil ponselnya dan memeriksa beberapa pesan yang masuk.


Seorang laki-laki tiba-tiba duduk di kursi yang berseberangan dengan Mike.Mike yang dari tadi fokus pada ponselnya langsung mengalihkan pandangan pada laki-laki yang baru saja duduk di hadapannya itu.


"Sudah lama ?" laki-laki itu adalah Joe.Joe melihat minuman Mike sudah habis setengah.


"Belum." jawab Mike singkat.


Mereka berdua segera memesan makanan dan minuman.Makan siang kali ini bukan untuk urusan bisnis.Melainkan untuk membahas permintaan Joe beberapa waktu yang lalu.


"Jadi sudah dapat yang sesuai ?" tanya Joe yang memasukkan suapan terakhir pasta yang dia pesan tadi.


"Aku tidak tau apakah ini cocok menurutmu." jawab Mike.


"Berapa sewanya ?" Joe menyeruput minumannya.


Mike menyebutkan nominal harga sewa yang paling murah yang dia dapat.


Namun wajah Joe tampak kecewa saat mendengarnya.


"Sepertinya itu masih terlalu tinggi.Kemarin dia sempat mengunjungi rumah petak di gang belakang Jl.West." tutur Joe.


Mike terkejut mendengarnya.Karena gang itu memang terkenal dengan tindakan kriminal khususnya pelecehan terhadap perempuan.


"Apa yang dia lakukan disana ?" Mike mengernyitkan dahinya.


"Dia mencari rumah sendiri yang sesuai dengan keuangannya.Aku menemukannya sedang menangis di Jl.West." Joe mengingat bagaimana dia menemukan Hannah dengan kondisi yang menyedihkan.


Mike berdecak.


"Kenapa dia bodoh sekali." batinnya.


"Bagaimana bisa dia sampai menemukan rumah disana ?" tanya Mike.


"Dari internet.Dia tidak tau cerita tentang tempat itu karena dia belum lama tinggal disini."


Entah kenapa Mike semakin geram mendengar cerita Joe.Bagi Mike Hannah itu terlalu bodoh karena berani berspekulasi dengan tempat seperti itu.Atau mungkin sebenarnya dia khawatir ya ?


"Kalau begitu aku akan coba carikan yang lain lagi.Barang kali ada rumah yang sewanya per bulan.Dengan begitu dia akan bisa membayar sewanya." Mike berpikir keras.


"Ide yang bagus.Sepertinya untuk yang sewa tahunan harganya masih terlalu tinggi.Dia tidak akan mau." timpal Joe.


Mike dan Joe masih memperbincangkan beberapa masalah sampai akhirnya mereka menyudahi acara makan siang itu dan kembali ke kantor masing-masing.