
Sepulang dari tempat kerja Hannah dibuat penasaran dengan amplop putih yang tergeletak di depan pintu rumahnya.
Hannah memungut amplop itu dan melihat nama pengirim amplop tersebut.
Betapa terkejutnya Hannah saat mengetahui surat itu berasal dari pengadilan.
"Apa lagi ini ?" Hannah membuka isi amplop itu.
Mata Hannah terbelalak ketika mengetahui isi surat itu adalah gugatan kepemilikan tanah dimana rumah sederhana itu berdiri.
Bagaikan disambar petir disiang hari.
Hannah menutup mulutnya dengan telapak tangannya dan air mata Hannah seketika menetes ke pipinya.
Kaki Hannah terasa lemas seakan tak kuasa menopang tubuhnya.Dia pun terduduk di depan pintu dengan mata yang terus mengalirkan buliran bening.
"Ayah....Ibu...." Ucap Hannah lirih disela isak tangisnya.
Hannah beranjak dan menyeret kakinya masuk ke dalam rumah.
Lalu dia duduk di sofa warna merah di ruang tamu.
Air matanya tak henti-hentinya mengalir.
Ketika dia merasa hidupnya sudah mulai tenang, ada saja masalah yang menghampirinya.
"Aku harus bagaimana ayah ?" Hannah masih terisak.
Dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa.Sama sekali tidak mengetahui perihal hukum.Apalagi Hannah juga tidak memegang sertifikat tanah dimana rumahnya itu berdiri.
Semua surat-surat penting disimpan ayahnya di rumah mereka yang baru.Sedangkan rumah itu sekarang sudah berpindah tangan kepada Harry.
"Harry....Ini pasti ulah Harry..!" Ucap Hannah geram.
Siapa lagi yang bisa melakukannya selain Harry.Hannah tau persis rumah itu adalah warisan dari kakeknya.Lantas kenapa baru sekarang ada gugatan kepemilikan dari pengadilan.
Hannah tidak tau mesti tinggal dimana lagi kalau rumah itu lepas dari tangannya.
"Aarrrrghhhh......!!!" Hannah berteriak sejadinya.Dia meremas surat itu dan membuangnya ke sembarang tempat.Dia begitu kesal dengan apa yang menimpa dirinya.
Setelah lelah menangis Hannah beranjak ,dia keluar rumah dan berjalan tanpa tujuan.Hannah hanya mengikuti kemana langkah kakinya itu membawanya.
Sepanjang jalan pikirannya melayang entah kemana.Dia sangat bingung.
Biasanya Nyonya Lee yang selalu menjadi tempat curahan hati Hannah.Namun setelah Nyonya Lee anfal yang terakhir kali itu Hannah tidak ingin membebaninya lagi dengan kisah hidup Hannah.Tentu karena Hannah sangat mengkhawatirkan kesehatan Nyonya Lee.
Hannah berjalan menyusuri jalanan yang masih ramai orang berlalu lalang.Hingga dia tiba di sebuah danau.Dia duduk di rumput yang ada dibawah pohon ditepi danau.Dia menangis lagi dibawah pohon itu.Sambil sesekali mengumpat memaki Harry.
Hari sudah semakin gelap dan Hannah merasa kepalanya sangat berat karena terlalu lama menangis.
Hannah beranjak dan berjalan pulang.Dengan langkah gontai dia menyusuri jalanan setapak demi setapak.
Sampai di halaman rumah Hannah melihat Nyonya Lee sedang menunggunya di teras.
Wanita tua itu tampak begitu khawatir saat melihat Hannah datang dengan wajah kusut dan mata sembab.
"Sayang...kau dari mana saja ?" Nyonya Lee berjalan mendekati Hannah.
Dan itu membuat Hannah tak kuasa menahan tangisnya lagi.
Hannah menghamburkan dirinya memeluk Nyonya Lee sambil menangis sesenggukan.
Nyonya Lee membalas pelukan Hannah dengan erat.Lalu mereka duduk di teras.
Hannah diam saja.Dia masih enggan untuk bercerita pada Nyonya Lee.
Tapi sepertinya Nyonya Lee sudah tau tentang surat itu.
Nyonya Lee mengelus lembut rambut Hannah yang berantakan.
"Aku sudah tau." kata Nyonya Lee kemudian.
Hannah melihat ke arah wajah tua itu dengan tatapan sendu.
"Tadi siang ada dua orang dari pengadilan mencarimu.Dan aku sudah tau dari mereka." tutur wanita itu.
"Kenapa laki-laki biadab itu tidak henti-hentinya memberiku masalah Nyonya ?" ucap Hannah dengan air mata yang masih berderai.
"Aku hanya ingin hidup tenang." tambah Hannah.
"Kau harus kuat Hannah.Buktikan kalau dirimu yang sekarang tidak bisa diinjak-injak seenaknya oleh laki-laki itu." Nyonya Lee menyemangati Hannah.
Hannah berhenti menangis dan tampak berpikir.
"Iya Nyonya....aku bukan gadis lemah yang dulu dia kenal.Aku tidak akan menyerah." ucap Hannah kemudian.