
Dua hari Mike terbaring lemah di rumah sakit.Kini kondisinya sudah lebih baik meskipun tubuhnya masih lemah.Tetapi tidak untuk hatinya.Sampai saat ini Mike masih bungkam.Dia sama sekali tidak tertarik untuk berbicara bahkan dengan keluarganya sendiri.
Mike bangkit dari tempat tidur dan melepaskan jarum infus yang masih menempel di punggung tangannya.Lalu dia memaksakan tubuhnya untuk berdiri.Meskipun masih kesulitan tetapi dia berhasil berpijak dengan kakinya sendiri.
Masih dengan pakaian rumah sakit Mike sempoyongan berjalan keluar dari ruangannya.Sedikit darah segar menetes dari punggung tangannya karena melepaskan jarum infus dengan paksa.
Emma yang menunggu di luar ruangan terkejut melihat Mike keluar dengan sempoyongan tanpa jarum infus lagi ditangannya.
"Mike...Apa yang kau lakukan ?" Emma bergerak mendekati Mike.
"Mike mau pulang Ma." Jawab Mike datar dan terus berjalan tanpa menghiraukan Emma.
"Tapi kau belum sembuh Sayang ! Jangan seperti ini ! " Emma berniat membantu Mike berjalan dan membujuknya untuk kembali ke dalam.
Mike menepis tangan Emma.
"Biarkan Mike sendiri !"
Kali pertama Mike berbicara dengan nada tinggi pada Emma.Sontak Emma terdiam.
"Ini bukan Mike anakku !" Pekik Emma.
Mike berhenti melangkah.Dia pejamkan matanya sebentar.Ada rasa bersalah di hatinya karena sudah berbicara dengan nada tinggi pada wanita yang telah melahirkannya itu.
"Kembalilah Nak ! Tunggu sampai kau pulih !" Bujuk Emma.
Mike sama sekali tidak melihat ke arah Emma.Dia melanjutkan berjalan meninggalkan Emma.Kini langkahnya mulai stabil meskipun sesekali masih mencari tumpuan.Beberapa perawat yang menghadangnya pun tak luput dari teriakannya.Hingga Emma memberi isyarat untuk membiarkan apa yang dilakukan putranya itu.
Emma segera nenghubungi Jhon.Setelah mendapat persetujuan dari Jhon akhirnya Emma mengurus surat kepulangan paksa di bagian administrasi.Tentunya akan ada perawat yang setiap hari datang kerumah untuk memeriksa kondisi Mike.
Mike melewati lobi dan terus melangkah hingga dia sampai di depan gedung rumah sakit.Dengan menaiki taxi Mike pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Mike langsung masuk ke kamar.Tidak untuk istirahat.Dia lebih memilih untuk segera membersihkan diri.Meskipun rasa perih karena luka yang terkena air tidak terelakkan tetapi Mike seperti tidak merasakannya.
Emma yang telah tiba dirumah pun langsung menghampiri Mike di kamarnya.Disana Emma melihat Mike sedang duduk di sofa dengan memangku laptop.
"Kau masih harus banyak istirahat Mike.Lupakan dulu pekerjaanmu ! Papa sudah menghandle perusahaan." Emma berjalan mendekati Mike.
"Biarkan Mike sendiri Ma." Kata Mike sebelum Emma sampai ke sofa yang di duduki Mike.
Emma mengurungkan niatnya dan membiarkan anaknya itu sendirian.
"Jangan paksa dirimu Nak !" Kata Emma sebelum menutup pintu kamar Mike.
Mike terlihat fokus pada layar laptopnya.Tapi ternyata yang dilakukan Mike sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.Melainkan dia sedang mencari informasi tentang Harry.
Dia sangat penasaran tentang hubungan Harry dengan Hannah.Bagaimana bisa tiba-tiba Harry memperlakukan Hannah dengan begitu kasar.
Mata Mike terbelalak ketika melihat sebuah foto di layar laptopnya.
Ya....foto pernikahan Harry.Di foto itu terlihat seorang perempuan cantik dengan gaun indah berwarna silver sedang menggandeng tangan Harry dengan senyum bahagianya.
Untuk sesaat Mike begitu terpesona dengan perempuan itu.Hannah terlihat sangat cantik dalam foto itu.
Lalu amarah kembali mengambil alih akal sehat Mike ketika melihat Harry bisa tersenyum bahagia dalam foto itu.
"Berengsek !!"
Mike menutup laptop dan melemparnya ke atas tempat tidur.
"Ternyata selama ini Harry yang membuat Hannah menderita ! Aaarrrgghhhh....!!!!" Mike tidak bisa mengendalikan emosinya lagi.Mike memukulkan tangannya ke tembok hingga darah segar menetes dari buku-buku tangannya.
Mike benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih.Belum kering luka karena ucapan Joe yang menyatakan bahwa dia adalah calon suami Hannah.Kini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Harry adalah mantan suami Hannah yang telah membuat gadis itu menderita.
***
"Mike kau mau kemana ?" Tanya Emma yang sedang menyiapkan sarapan di ruang makan.
Mike berlalu tanpa menjawab pertanyaan Emma.Emma merasa sangat khawatir dengan anak sulungnya itu.Mike benar-benar bukan seperti dirinya.
Kali ini Mike berangkat ke kantor dengan mobil sport nya yang jarang sekali dia gunakan.Karena mobil yang biasa dia pakai tentu saja sedang dalam masa perbaikan.
Mike membiarkan luka di kepalanya terbuka.Dia sudah sangat risih dengan perban yang menempel di kepalanya.Orang yang melihat jahitan di kepala Mike pasti akan merasa bergidik karena memang luka itu belum kering.Tapi Mike sama sekali tidak peduli.
Mike memasuki kantor dengan wajah yang sangat menakutkan.Tidak ada lagi si Boss idaman.Wajah sedingin es dan tatapan setajam samurai yang sekarang dilihat oleh para pegawainya.
Tidak ada satupun yang berani menyapa.Semuanya menunduk hormat ketika berpapasan dengan Mike (Menunduk karena takut tepatnya).
Mike melintasi meja kerja sekretarisnya sambil memberi kode dengan jari telunjuk agar sekretarisnya itu mengikuti Mike masuk ke ruang kerjanya.
Terlihat pembicaraan yang serius antara keduanya.Mike tampak santai dengan apa yang dia sampaikan.Tetapi berbeda dengan sekretaris itu.Wajahnya terlihat cemas,takut dan bingung.
"Apa Tuan sudah memikirkannya masak-masak ?" Sekretaris itu meyakinkan Bossnya.Karena apa yang akan dilakukan Mike kali ini akan berdampak besar pada perusahaan.
"Kau turuti saja perintahku ! Dan jangan banyak bertanya !" Kalimat yang membuat sekretarisnya itu langsung bungkam.
Sekretaris itu meninggalkan ruang kerja Mike dengan seribu pertanyaan di kepalanya.Bagaimana bisa Bossnya membuat keputusan yang bisa menjadi bumerang untuk perusahaan ?
Namun tetap saja bawahan harus menurut dengan atasan.Apalagi atasannya adalah yang punya perusahaan langsung.
Sekretaris itupun mulai mengerjakan apa yang di perintahkan Mike.Akan jadi pekerjaan yang sangat panjang dan berat.
Tidak berselang lama Jhon terlihat memasuki ruang kerja Mike.
"Apa yang kau lakukan Mike ? Harusnya kau istirahat !" Kata Jhon ketika memasuki ruangan bernuansa putih itu.
"Mike sedang bekerja." Jawab Mike singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
Jhon duduk di sofa yang ada di ruangan itu.Memperhatikan anaknya yang terlihat sedang sibuk.
"Katakan pada Papa.Sebenarnya apa yang terjadi denganmu ? Ini bukan dirimu Mike." Jhon ingin memulai pembicaraan antara ayah dan anak.
Mike masih diam dan tetap fokus bekerja.
"Lihatlah luka di kepalamu ! Luka itu bahkan belum kering dan kau sudah mulai bekerja.Papa bisa menggantikanmu untuk sementara sampai kau pulih."
Mike masih tidak bergeming.Dia sama sekali tidak mendengarkan ucapan papanya.
Hingga tiba-tiba Mike beranjak dari kursi kebesarannya.
"Papa bisa handle yang dikantor.Mike harus keluar kota untuk mengurus masalah penting."
Tanpa menunggu persetujuan dari Jhon, Mike bergegas keluar ruangan.Menyisakan Jhon dengan ribuan pertanyaan.
Mike menghampiri sekretarisnya untuk meminta beberapa berkas yang akan dia bawa.
"Selesaikan saja pekerjaanmu tanpa banyak bicara !" Kata Mike sebelum meninggalkan sekretarisnya.
Sekretaris itupun paham dengan maksud Mike.Dia mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Mike berjalan meninggalkan area kantor.Lalu dia melajukan mobil sportnya menuju ke kota X yang jaraknya cukup jauh.Sekitar dua jam dari kotanya.Disana ada cabang dari perusahaannya yang dia curigai sedang ada masalah.
Mike sadar mungkin fisiknya tidak akan kuat untuk sampai di kota itu.Tetapi dia bertekad apapun yang terjadi dia harus sampai ke sana.
Entah apa yang merasuki laki-laki itu...tapi sepertinya tidak ada kata trauma di otaknya.Baru saja mengalami kecelakaan karena mengemudi gila-gilaan.Hari ini dia kembali mengemudikan mobil sportnya dengan kecepatan tinggi.
"Beraninya bermain api denganku ! Kau harus hancur ditanganku !" Seringai kecil penuh amarah muncul di wajah yang penuh luka itu.Dan Mike menginjak pedal gasnya semakin dalam.