
Cinderella pada akhirnya menikah dengan Sang Pangeran dan berakhir bahagia.Tapi itu dongeng ! Dongeng Hannah ! Lihatlah dirimu sekarang ! Kau hanyalah Upik Abu yang tidak akan pernah menjadi Cinderella.
Malangnya Hannah.Sekalinya hatinya terbuka, dia harus menerima kenyataan bahwa perasaannya hanya akan bertepuk sebelah tangan.
Nona Jessica itu sangat cantik dan berkelas.Apa kau tidak melihat betapa serasinya mereka ? Come on Hannah ! Apa kau masih berharap Sang Pangeran akan melihatmu ? Sikap baiknya itu hanya karena dia merasa kasihan dengan gadis miskin yang hidup sebatang kara sepertimu. Jangan salah mengartikan kebaikannya. Mulai sekarang berhentilah bermimpi menjadi Cinderella kalau kau tidak ingin terluka !
Hannah berguling-guling diatas ranjang.Seperti otaknya yang seakan tak mau berhenti berputar-putar pada satu orang.
Berhenti memikirkannya dan hindarilah dia agar kau tidak terjerumus semakin dalam !
Tok...Tok...Tok...!
Hannah turun dari tempat tidur dan berjalan ke pintu depan.
"Hai Hannah !" Wajah ceria Joe muncul dibalik pintu yang dia buka.
"Ada apa Joe ?"
"Bersiaplah ! Kita akan ke pekan raya."
"Aku tidak mau." Hannah sedang tidak ingin kemana-mana.
"Ayolah ! Wajahmu kusut begitu.Bersenang-senanglah disana nanti."Joe masih membujuk.
Benar juga yang dikatakan Joe.Mungkin disana dia bisa mengalihkan pikirannya dari Mike.
"Tunggulah sebentar.Aku akan bersiap."
***
Suasana begitu ramai di pekan raya.Senyum mengembang di wajah Hannah.
"Lihatlah itu !" Joe menunjuk pedagang permen kapas.
"Kau mau ?" Tanya Joe.
Hannah mengangguk sambil tersenyum cerah.Seperti seorang anak kecil.
Mereka berdua berjalan beriringan untuk membeli permen kapas.
Melihat suasana yang begitu ramai membuat pikiran Hannah tentang Mike teralihkan.
Permen kapas warna pink sudah di tangan.Hannah mulai menggigit permen itu dan wajahnya tampak sangat bahagia.
Joe mengajaknya memainkan beberapa permainan.Disana Hannah bisa tertawa lepas.Rona bahagia terpancar dari wajah polos gadis itu.Kebahagiaan yang benar-benar lahir dari dalam hatinya.
Aku harap senyum itu tidak akan pernah hilang dari wajahmu Hannah.Sudah cukup kau menderita.Aku akan membantumu menemukan kebahagiaan.
"Aku haus sekali.Kita beli minum disana ya !" Hannah menunjuk ke stand penjual minuman.
Joe mengikuti Hannah dari belakang.Senang rasanya bisa melihat Hannah sebahagia itu.
Mereka duduk berdampingan di atas rumput dengan menyelonjorkan kaki sambil menikmati hiruk pikuk orang yang begitu antusias mencoba berbagai wahana yang ada di pekan raya itu.
"Kak Hannah !"
Hannah menoleh dan ternyata itu Isabel.Dengan begitu antusias Isabel berlari kecil menghampiri Hannah.Lalu gadis itu menghamburkan tubuhnya memeluk Hannah.
"Senang sekali bisa bertemu Kakak disini." Tawa renyah Isabel menyeruak.Sesaat kemudian pandangannya beralih pada laki-laki yang duduk di sebelah Hannah.
"Kak Joe ya ?" Isabel sedikit lupa karena terakhir bertemu Joe saat dia masih berusia 8 tahun.
"Hai Isabel ! Apa kabarmu ?" Sapa Joe.
"Baik Kak."
Isabel menarik lengan Hannah dan mendekatkan bibirnya ke telinga Hannah.
"Kak Joe bukan kekasih Kakak kan ?" Bisik Isabel.
"Bukan.Joe itu teman Kakak." Bisik Hannah mengimbangi Isabel.
"Syukurlah !" Gumam Isabel yang samar-samar masih bisa di dengar Hannah.
"Syukur kenapa ?" Hannah memperjelas gumaman Isabel.
Isabel berbisik di telinga Hannah lagi.
"Karena aku mau Kak Hannah menjadi kekasih Kak Mike."
Aduh.....! Kenapa Isabel mengungkit masalah itu lagi ?
Hannah menghela nafas dengan berat.
"Aku dan Kakakmu hanya berteman Isabel."
Isabel duduk di sebelah kanan Hannah dengan wajah cemberut karena jawaban Hannah.
"Kau datang dengan siapa Isabel ?" Tanya Joe.
"Papa dan Mama Kak." Jawab Isabel. Wajahnya masih terlihat cemberut.
Hannah memeluk Isabel dengan tangan kanannya.
"Kakakmu itu sudah punya kekasih.Jangan cemberut lagi ya ! Smile !" Hannah menarik kedua sudut bibir Isabel dengan jarinya hingga membentuk sebuah senyuman di wajahnya.
Ada rasa getir sewaktu Hannah mengucapkan kata-kata itu.
Selang beberapa waktu sepasang suami istri berjalan ke arah mereka bertiga.
Mereka bertiga berdiri menyambut sepasang suami istri itu.
"Paman Jhon ! Tante Emma !" Joe mengulurkan tangannya kepada Jhon dan Emma yang disambut dengan baik oleh mereka.
"Pa,Ma....ini Kak Hannah.Cantik kan ?!" Isabel penuh semangat mengenalkan Hannah dengan kedua orang tuanya.
Dalam hati Emma.
Oh ternyata ini yang namanya Hannah.Cantik juga ! Penampilannya sederhana.Tidak berlebihan.
"Senang berkenalan dengan Anda Tuan,Nyonya ." Hannah mengulurkan tangannya.
Jhon dan Emma menanggapinya dengan senang hati.
"Jangan sungkan.Jangan panggil Tuan dan Nyonya.Itu terlalu formal." Kata Emma diiringi senyum ramahnya.
Jhon tampak memperhatikan Hannah dengan seksama.Membuat Hannah merasa sedikit kurang nyaman.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya ? Rasanya wajahmu sangat familiar." Jhon mengingat-ingat seperti sudah pernah bertemu dengan Hannah.
"Sepertinya belum Tuan...."
"Panggil Paman saja." Potong Jhon.
"Sepertinya belum Paman....Mungkin hanya mirip." Jawab Hannah.
Jhon mengangguk mengiyakan.
"Baik Paman." Joe mengikuti langkah Jhon meninggalkan tiga perempuan itu.
***
Emma memperhatikan Hannah sambil tersenyum.Ternyata ini gadis yang di ceritakan Isabel.
"Hannah sudah lama mengenal Mike ?" Pertanyaan langsung Emma itu membuat Hannah gugup.
Baru pertama bertemu dan langsung menanyakan pertanyaan yang membuat hatinya gusar.
"Be-belum Tante." Hannah terbata.
"Ma, kapan-kapan undang Kak Hannah ke rumah ya." Pinta Isabel yang sangat antusias.
"Boleh.Hannah bisa masak ?" Tanya Emma.
"Sedikit Tante." Jawab Hannah singkat.
"Kalau kapan-kapan kita masak bersama bagaimana ? Kebetulan Tante juga sedang belajar memasak.Pasti menyenangkan sekali kalau kita masak bersama." Senyum Emma mengembang di wajah teduhnya.
Hannah mengangguk pelan.
Kenapa jadi seperti ini ? Hannah ingin berhenti mengharapkan apa yang tidak akan pernah dia dapatkan tapi kenapa sangat sulit ?
Beberapa waktu mereka berbincang sambil menyelonjorkan kaki dibawah langit malam.
"Mama." Suara seorang laki-laki dari belakang membuat ketiga perempuan itu menoleh.
Mike terkejut Hannah ada bersama Mama dan adiknya.Perasaan was-was mulai muncul karena disana ada Isabel.Si tukang bicara ngawur.
"Hei Mike ! Katamu tadi tidak ingin ikut kesini." Emma terkejut melihat kedatangan putranya.
"Bukannya Mama yang menyuruh Mike kesini ?" Belum juga pertanyaan itu dijawab Emma,Mike sudah tau apa yang sebenarnya terjadi.
Mata Mike melirik tajam pada adik perempuannya yang terlihat sibuk mencabuti rumput tempat dirinya duduk.
Emma melihat ekspresi Mike dan sudah bisa menebak apa yang Mike pikirkan.
"Sudah....duduklah ! Hannah juga ada disini."Emma menarik tangan Mike agar ikut duduk dengan mereka.Sekarang mereka duduk dengan posisi melingkar.
Hannah mematung di tempatnya duduk.Bahkan tidak menyapa Mike.Dia bingung harus bagaimana.Keluarga itu benar-benar membuatnya mati gaya.
"Ma....temani Isabel beli es krim ya." Isabel memberi kode pada Mamanya untuk membiarkan Mike dan Hannah berdua.
Isabel ingin membuktikan pada Mamanya kalau kakak laki-lakinya itu memang menyukai Hannah.Isabel sengaja diam-diam mengirim pesan pada Mike atas nama Emma untuk menjemputnya di pekan raya.
"Kita perhatikan saja dari jauh.Nanti Mama akan lihat bagaimana sikap dan ekspresi Kak mike saat bersama Kak Hannah." Rencana Isabel meskipun terdengar konyol tapi Emma menyetujuinya.Karena dia ingin melihat anak sulungnya itu segera menemukan pujaan hatinya.Dan sepertinya Hannah gadis baik-baik.
Sementara di sana.....dua orang itu terlihat sangat canggung.
Ya Tuhan....kenapa jadi seperti ini ? Aku hanya ingin menjadi upik abu yang hidup tenang tanpa berharap menjadi cinderella.Kenapa sulit sekali ?
"Jadi....kau sudah bertemu keluargaku ?" Mike mengawali percakapan.
Hannah mengangguk.Dia tidak berani mengangkat wajahnya.
"Apa Isabel bicara yang tidak-tidak tentang kita ?"
"Tidak." Jawab Hannah singkat.
Mike melihat ada perubahan sikap dalam diri Hannah.Bahkan sedari tadi Hannah tidak melihat ke arahnya.Seperti sedang menghindar.
Dan entah kenapa itu membuat hati Mike merasa bersalah.
Apakah karena dirinya terlalu lancang memeluk Hannah kemarin ? Sungguh...Mike tidak ingin Hannah berpikiran buruk tentangnya.
Mike harus segera menyelesaikan masalah itu.
"Hannah....boleh aku bertanya ?"
"Tanya saja." Hannah bersikukuh menekan perasaannya tentang Mike.Dia hanya tidak ingin terluka.
"Apa kau marah denganku ?" Mata Mike menunjukkan rasa bersalah.
Hannah tersenyum tipis tanpa memandang orang yang mengajaknya bicara.
"Untuk apa aku marah ?"
"Aku minta maaf kalau kemarin aku berbuat lancang kepadamu."
"Sudahlah...tidak perlu dibahas lagi."
Hening sejenak.Riuh para pengunjung pekan raya sepertinya tidak bisa menembus keheningan yang mereka rasakan.
"Kau kesini sendirian ?" Tanya Mike memecah keheningan antara mereka berdua.
"Tidak.Aku datang bersama Joe." Jawab Hannah tanpa melihat pada Mike.
Mendengar jawaban Hannah....kenapa seperti ada jarum yang menyelinap ke dalam dada ya ?! Oke...paham sekarang.Perempuan mana yang tidak luluh hatinya jika ada seorang pria tampan yang selalu pasang badan untuk melindunginya ?!
Hati Hannah sendiri sedang bergejolak.Disatu sisi dia merasa laki-laki disampingnya bisa membuatnya merasa nyaman.Tapi disisi lain dia harus sadar diri kalau laki-laki disampingnya itu sangat jauh dari jangkauannya.Seorang perempuan cantik sudah memeluk hatinya.
Siapa aku ? Kalau dia tau masa laluku aku tidak yakin dia masih bisa bersikap baik terhadapku.Tidak seperti......Joe.
Bayangan Joe sekelebat muncul dalam benak Hannah.Laki-laki baik yang selama ini selalu menjaganya.Laki-laki pertama yang membuatnya tidak merasa ketakutan saat berada dekat dengannya.
Kembali ke obrolan mereka.
Mike sebisa mungkin bersikap biasa.Meskipun ada sesuatu yang menggelitik di hatinya ketika nama Joe disebut.
Mungkin Hannah menyukai Joe.
"Mike !" Teriakan dari arah samping kiri Mike membuat kedua orang tadi menoleh ke arah yang sama.Joe sedang melambaikan tangannya.
Hannah dan Mike beranjak dari duduknya saat mereka mulai mendekat.
"Hei...Boy ! Kau bilang tidak berminat datang ke pekan raya ?" Jhon menepuk bahu Mike.
Mike hanya membalas pertanyaan Jhon dengan senyuman.
"Dimana Mama dan adikmu ?" Tanya Jhon.
"Tadi mereka bilang mau beli es krim." Jawab Mike datar.
Hannah memberi kode pada Joe untuk berpamitan pada Jhon dan Mike.Rasanya dia sudah tidak tahan berada disana.Apalagi bayangan Nona Jessica yang cantik selalu berada disamping Mike.
"Paman....Saya pamit pulang dulu.Sudah malam.Dan gadis itu besok harus bekerja.Joe tidak mau jadi penyebab dia dipecat gara-gara terlambat." Joe terkekeh sambil matanya mengisyaratkan menunjuk pada Hannah.
Joe berpmitan pada Jhon dan Mike.Begitu juga dengan Hannah.
"Salam untuk Tante Emma dan Isabel" tambah Hannah.
Dan mereka berlalu berjalan memunggungi Jhon dan Mike yang masih berada di tempat itu.
Buka matamu Mike ! Mereka sangat cocok.Hannah pasti sangat nyaman berada disamping Joe.Laki-laki yang selalu ada untuk menjaganya.Laki-laki yang tidak akan membiarkannya terluka sedikitpun.Sedangkan kau.....apa yang kau lakukan ? Kau bahkan tidak tau apa-apa tentang gadis itu.