Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
PERNIKAHAN (part 1)



The final day has begun !


No no no ! Ini bukan akhir tapi ini adalah permulaan.


Ini adalah hari dimana sebuah kehidupan baru akan dimulai. Ya, sebentar lagi Hannah akan resmi menjadi Ny. Thompson. Beberapa kali Hannah menghela nafas menguatkan dirinya. Ini bukanlah pernikahan yang buruk. Tidak seperti pernikahan sebelumnya. Karena dia yakin Joe tidak akan menyakitinya. Tapi ini juga bukan pernikahan yang dia impikan. Karena sampai saat ini dia belum bisa mencintai Joe layaknya sepasang calon pengantin.


Hannah duduk di sebuah bangku sambil terus memandangi gaun berwarna putih dan soft blue yang ada di smpingnya. Gaun yang sangat cantik ! Gaun yang akan dia gunakan untuk acara pernikahannya. Tidak ada resepsi di gedung mewah. Tema pernikahan mereka adalah garden party. Semua acara tidak keluar dari rumah mewah keluarga Thompson yang memang memiliki lahan sangat luas. Acara pemberkatan akan langsung dilanjutkan dengan resepsi di rumah itu juga.


Bunga-bunga bertebaran dimana-mana. Bunga dengan warna senada dengan gaun pengantinnya. Nuansa biru putih menghiasai seluruh rumah. Sungguh indah. Rumah yang sebelumnya memang sudah tampak elegan itu kini di sulap menjadi lebih menakjubkan. Taman belakang yang biasanya tampak begitu hijau segar kini melebur dengan warna biru putih yang elegan. Di ujung sana, dimana bunga-bunga melintang dengan begitu indah tepat di depan kursi para tamu, akan menjadi saksi dimana janji suci pernikahan itu mereka ikrarkan. Dan pada saat itu sebuah ikatan suci akan mengikat kedua mempelai.


Para pekerja WO terlihat sangat sibuk. Mereka berjalan kesana kemari memastikan semua sudah sesuai dengan harapan orang yang mempekerjakan mereka. Tidak ingin satupun luput dari rencana.


Tok...tok...tok...!


Seorang perempuan masuk ke dalam ruangan dimana Hannah sedang dudukĀ  berdampingan dengan gaun pengantinnya. Sendirian !


"Permisi Nona. Saya Agnes. Saya yang akan merias Anda." Kata perempuan itu.


"Saya Hannah." Balasnya.


Hannah mengangguk lalu berpindah ke kursi yang berada di depan cermin besar.


Sementara perempuan itu mengeluarkan peralatan tempur make up nya, Hannah memandang wajahnya dari pantulan cermin itu. Ini kedua kalinya dia berada dalam situasi seperti ini. Namun perasaan gugup masih saja menggeliat di benaknya. Bukan hanya karena ini adalah hari besar pernikahannya, tapi juga karena hari ini dia harus rela melepaskan cintanya.


Hari ini akhirnya tiba. Hari dimana aku harus benar-benar menanggalkan perasaanku terhadap Mike. Waktuku untuk belajar melupakannya sudah habis. Karena sekarang aku benar-benar harus melupakannya. Aku harus mengubur dalam-dalam cintaku untuknya. Aku akan menjadi Hannah Thompson. Ya, itu akan menjadi namaku. Aku akan terus belajar untuk mencintai Joe hingga aku bisa benar-benar mencintainya. Kau pasti bisa Hannah !


"Maaf Nona, Saya akan mulai merias Anda." Kata Agnes. Hannah menarik diri dari lamunannya. Dan membiarkan Agnes memainkan keahliannya.


"Agnes ? Kau sudah menikah ?" Tanya Hannah yang berusaha melumerkan suasana canggung di ruangan itu.


Agnes melihat ke pantulan wajah Hannah dalam cermin. " Sudah Nona." Jawabnya sambil tersenyum.


"Sudah berapa lama kau menikah ?" Tanya Hannah lagi.


Wajah Agnes bersemu. " Dua minggu." Jawabnya sambil malu-malu.


Rupanya Agnes adalah pengantin baru. Sungguh mengejutkan. Harusnya dia masih bulan madu atau apalah. Tapi lihatlah dia sekarang sudah sibuk dengan pekerjaannya.


"Wah....Pengantin baru ! Harusnya saat ini kau sedang meniknati bulan madumu Agnes !" Refleks Hannah. Dan wajah Agnes semakin merah seperti tomat.


"Bulan madu tidak harus pergi jauh kan Nona ." Sautnya malu-malu.


Hannah mengangkat kedua alisnya tanda menyetujui pernyataan Agnes.


" Apa kau sangat mencintai suamimu ?" Tanya Hannah lagi.


Tada ! Wajah Agnes semakin merah.


"Sangat ! Dia adalah belahan jiwa Saya. Saya sangat beruntung menikah dengan laki-laki sebaik dia Nona." Jawabnya penuh kebanggaan.


Tapi jawaban Agnes itu malah terasa menusuk di hati Hannah. Seorang wanita pasti akan sangat bahagia di hari pernikahannya. Dan pasti akan sangat membanggakan suaminya seperti yang dilakukan Agnes. Tidak bisakah Hannah melakukan hal yang serupa ? Ayolah...ini adalah hari pernikahan bukan pemakaman ! Tunjukkan wajah ceria dan bahagia !


***


"Kau yakin tidak akan menghadiri pernikahan Joe dan Hannah ?" Tanya Jhon yang sedang berada di dalam kamar Mike.


Sekilas melirik pada Papanya, Mike tidak menghentikan aktivitasnya. Dia sedang mengemasi pakaian yang hendak dia bawa untuk pindah ke luar negeri.


"Setidaknya hargailah temanmu. Datanglah walau hanya sebentar." Saran Jhon.


"Tidak bisa Pa. Mike bisa ketinggalan pesawat kalau harus kesana dulu." Terang Mike sambil memilah beberapa kemeja dalam lemari.


Menghela nafas kasar. Jhon mendekat pada Mike. " Seharusnya kau berangkat besok pagi."


Mike berbalik dan mengangkat kedua bahunya. " Tiket sudah terbeli." Jawabnya santai.


Jawaban Mike membuat Jhon frustasi menghadapi anak laki-lakinya itu.


"Terserah kau saja ! Papa mau bersiap-siap dulu." Jhon menepuk bahu Mike lalu melenggang keluar dari kamar.


Tanpa ambil pusing Mike terus mengemasi pakaiannya. Saat dia mengambil t-shirt di lemari atas, tanpa sengaja dia menjatuhkan sebuah map yang ada disana.


Dahinya mengernyit, memperhatikan sebuah map hijau yang terjatuh tepat di depan kakinya. Lalu dia membungkuk dan memungut map itu.


"Apa ini ?" Gumam Mike sembari membuka isi map itu.


Senyum tipis mengembang saat Mike mengetahui isi map itu. Sertifikat kepemilikan tanah atas nama Hannah. Ya, Mike langsung merubah sertifikat itu atas nama Hannah ketika membelinya dari pelelangan dulu. Itu bukan hal sulit bagi Mike. Dia tetap bisa melakukannya meskipun tanpa sepengetahuan Hannah.


"Aku harus mengembalikan ini pada Hannah." Gumam Mike.


Lalu dia mengambil amplop tali yang lebih besar dari dalam laci dan memasukkan map hijau itu ke dalamnya.


Mike hendak keluar untuk menitipkan map itu pada Jhon, tapi dia teringat sesuatu. Dia mengambil dompetnya diatas nakas lalu membukanya.


"Tidak cukup." Mike mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya. Tapi sepertinya masih kurang untuk mengembalikan biaya sewa selama tiga bulan yang sudah di bayar Hannah saat menempati rumah itu.


Kembali mengacak lemarinya, Mike mengambil sebuah amplop berwarna coklat lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalamnya.


"Untung saja masih ada." Ucapnya lega.


Setelah uang itu genap, Mike segera memasukkannya ke dalam map hijau bersama dengan sertifikatnya.


"Pa !" Panggil Mike.


Kedua orang tuanya menoleh ke arah Mike. " Kau berubah pikiran ?" Tanya Jhon yang masih berharap Mike akan ikut ke pesta bersamanya.


Mike hanya mendengus tanpa menjawab.


"Mike titip ini untuk Hannah." Katanya sambil menyodorkan amplop coklat yang dia bawa.


"Apa ini ?" Dahi Jhon dan Emma mengernyit penasaran.


"Berikan saja pada Hannah." Tukas Mike yang langsung berbalik meninggalkan orang tuanya.


Tak lama kemudian keluarga Mike berangkat ke pesta pernikahan. Tinggal Mike seorang diri yang masih berada di dalam kamar sambil menyibukkan diri dengan persiapannya ke luar negeri.


"Beres." Gumam Mike setelah semua persiapannya lengkap.


Masih ada waktu satu setengah jam sebelum pesawatnya take off.


"Maafkan aku tidak bisa datang di pernikahan kalian." Gumamnya sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur.


Tok....tok...tok....!


Suara ketukan pintu memaksa Mike mengangkat tubuhnya. Dia menyeret kakinya melangkah ke arah pintu.


"Ada apa Bi ?" Tanya Mike pada pembantunya.


"Mobil Tuan sudah siap." Kata pembantu itu.


Mike melirik arloji yang melingkar di tangannya. Menaikkan satu alisnya lalu berkata, " Baiklah Bi, Saya akan segera turun. Tolong bawakan koper saya ya Bi." Perintah Mike.


"Baik Tuan." Pembantu itu segera masuk dan menyeret koper besar milik Mike keluar.


Masih ada waktu untuk Mike membersihkan diri. Jarak rumahnya ke bandara hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Jadi dia tidak perlu terburu-buru.


10 menit kemudian Mike sudah selesai dengan ritual bersih-bersihnya. Dengan mengenakan t-shirt ketat warna abu-abu yang menampakkan otot tubuh sempurnanya dilapisi rompi tebal berwarna hitam.Dipadukan dengan celana jeans hitam, Mike keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga. Keputusannya sudah bulat. Sudah tidak ada keraguan lagi dihatinya untuk meninggalkan negara kelahirannya itu.


Selamat tinggal Hannah. Semoga kau bahagia.


***


"Anda cantik sekali Nona. Sangat natural." Ujar Agnes sambil menatap pantulan wajah Hannah dalam cermin.


Hannah menatap pantulan wajahnya dalam cermin. Melihat bayangan wajahnya menatap dirinya dengan begitu intens.


"Hei, apa yang kau lihat ? Aku memang cantik. Tidak perlu melotot seperti itu ! Kenapa kau tidak tersenyum ? Bukankah ini hari bahagia untukmu ? Kau ini harusnya bersyukur bisa menikah dengan laki-laki yang begitu baik. Diluar sana banyak gadis-gadis yang bermimpi untuk bisa seperti dirimu. Lantas apa lagi yang membuat wajahmu semurung itu ? Ayo tersenyumlah ! Jangan membuat hari ini terlihat buruk di depan tamu undangan ! Hei, kenapa kau malah menangis ? Hentikan ! Atau kau akan merusak riasanmu ! Tidak kasihankah kau pada pengantin baru yang sudah meriasmu itu ? Dia mengorbankan waktu bulan madunya hanya untuk meriasmu. Kau tau harusnya saat ini dia sedang berbulan madu dengan suami tercintanya. Tapi demi pernikahanmu yang mundur ini dia rela mengorbankan bulan madunya. Jadi berhentilah menangis dan senyumlah yang lebar !"


Bayangan wajah dalam cermin itu seolah sedang meneriaki Hannah. Dan air mata Hannah tidak tertahan lagi. Rasanya sangat sesak. Perih !


"Nona, kenapa Anda menangis ?" Agnes bergegas mengambil tissue dan diberikan pada Hannah.


Hannah menyeka air matanya dengan hati-hati. Dia tidak ingin menyusahkan Agnes dengan merusak make up nya.


"Nona pasti sangat terharu. Saya mengerti apa yang Nona rasakan. Semua perempuan pasti akan merasa senang dan terharu ketika harus melepaskan masa lajangnya untuk berbakti pada suami." Agnes berusaha menenangkan. Hhh.....andai saja Agnes tau apa yang membuatnya menangis saat ini.


Ceklek !


Seseorang membuka pintu. Melly masuk ke dalam ruangan dengan penampilannya yang begitu anggun. Meskipun sudah berumur tapi dia masih terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna putih yang dipenuhi aksen bunga-bunga kecil berwarna biru. Ditambah dengan kalung mutiara yang menggantung di leher jenjangnya. Dia seperti 20 tahun lebih muda.


Wanita itu tampak histeris saat melihat Hannah yang tampak begitu cantik.


"Sayang, kau cantik sekali !" Pekiknya.


Hannah memandang Melly dari pantulan cermin.Dia tersenyum. Namun senyum itu terlihat penuh luka. Melly yang menyadari akan hal itu langsung mendekat dan menyentuh kedua bahu Hannah dari belakang.


"Kenapa ?" Tanya Melly. Mata mereka bertemu dalam pantulan cermin.


"Hannah sedih Ma." Jawab Hannah yang berusaha menahan air matanya.


"Kenapa bersedih ? Ini kan hari bahagiamu."


"Dulu Ayah pernah berjanji akan menuntun Hannah ke altar untuk mengikat janji suci pernikahan dengan orang yang Hannah cintai. Tapi Hannah tidak pernah mendapatkan kesempatan itu. Hannah merindukan Ayah dan Ibu." Lagi-lagi Hannah tak kuasa membendung air matanya.


"Sshh....Sayang...Mama dan Joe pasti akan selalu memberikan kasih sayang yang besar untukmu. Jangan bersedih. Lihatlah riasanmu bisa rusak." Melly merengkuh bahu gadis itu.


"Maafkan Hannah Ma." Hannah menyeka air matanya lagi.


"Ya sudah.....bersiap-siap ya. Sebentar lagi acaranya akan di mulai." Melly mengusap punggung Hannah kemudian meninggalkan Hannah untuk menyelesaikan persiapannya.


Tarik nafas....hembuskan....! Berulang kali Hannah melakukannya. Demi apa ? Demi menjaga kewarasannya. Dia tidak ingin mengecewakan Melly dan Joe.


Kalau boleh jujur perasaannya saat ini sangat amburadul. Berusaha tersenyum dan terlihat bahagia di saat seperti ini ternyata sangat susah. Kenapa tiba-tiba tersenyum menjadi satu hal yang sangat sulit dilakukan ?


Ayo, angkat wajahmu dan tersenyumlah ! Buang jauh-jauh wajah sedihmu itu !


Bayangan wajahnya dalam cermin seolah meneriakinya lagi.


Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Hannah berusaha membuang wajah sedihnya dengan tersenyum.