
BRAK...!
Sebuah map berwarna coklat dilempar ke hadapan Mike di ruang kerjanya.Jhon memasuki ruang kerja anaknya itu dengan wajah garang.Sepertinya dia sedang marah besar.
Mike tampak biasa saja dengan kedatangan papanya itu.Dengan santainya dia tidak menghentikan pekerjaannya hingga Jhon mulai angkat bicara.Dia sudah tau kenapa papanya bersikap seperti itu.
"Apa yang kau lakukan ?!" Tanya Jhon dengan nada tinggi.
Mike berhenti dari aktivitasnya dan memandang wajah papanya dengan tegas.
"Kalau Papa sudah tau kenapa bertanya ?" Jawabnya santai tapi penuh makna.
Jhon berdiri di samping meja Mike sambil mengetatkan rahangnya.Laki-laki itu tidak puas dengan jawaban Mike.
"Sudah berapa tahun perusahaan kita bekerja sama dengan HWC hah ?! Kenapa dengan seenaknya kau putuskan kerja sama dengan mereka ? Apa kau sudah gila ?" Jhon masih berbicara dengan nada tinggi.
Ya....dia baru saja mendapat laporan jika perusahaannya memutuskan hubungan kerja sama dengan HWC serta menarik semua saham dari perusahaan itu beserta beberapa perusahaan yang berhubungan dengan HWC.
Mike tersenyum sinis menanggapi kemarahan Jhon.
"Mike punya alasan kenapa melakukan semua itu." kata Mike tanpa rasa takut.
"Apa kau tau berapa kerugian perusahaan kita dengan keputusan yang kau buat ini hah ?! Papa membangun bisnis ini dari nol ! Hingga sekarang bisa seperti ini. Tapi dengan keputusanmu yang gegabah itu perusahaan bisa hancur dalam sekejap ! " Jhon semakin naik pitam.
Jhon mondar-mandir di depan meja kerja Mike.Dia terlihat sangat gusar.Pasalnya kerja sama dengan HWC tidak hanya satu atau dua proyek.Tetapi setidaknya ada lebih dari sepuluh proyek yang melibatkan HWC.Dan tentunya itu akan sangat berdampak pada kelangsungan perusahaan.
"Papa tidak habis pikir Mike.Kau membuat keputusan seperti ini tanpa memberi tau Papa.Apa kau mau menghancurkan apa yang sudah Papa rintis dengan susah payah ?!" Jhon menggeleng kesal pada anak laki-lakinya itu.
Mike masih tampak tenang menanggapi segala teriakan Jhon.Dia tau betul keputusan apa yang telah dia buat.
"Bukankah Papa sudah menyerahkan perusahaan ini padaku ?" Kata Mike dengan entengnya.
Jhon semakin geram mendengar kalimat anaknya itu.Jhon duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Mike.
"Papa memang menyerahkan perusahaan ini kepadamu.Tapi Papa tidak mau kau dengan seenaknya membuat keputusan yang sangat merugikan seperti ini !" Seru Jhon sambil menunjuk Mike dengan jari telunjuknya.
"Atau jangan-jangan ini ada hubungannya dengan gadis itu ?" Jhon melirik tajam pada Mike.Mike tau betul siapa yang dimaksud oleh Papanya.
"Jangan katakan kalau kau melakukan ini semua karena Harry adalah mantan suami gadis itu !" Desak Jhon.Rupanya Jhon sudah bisa mengingat dimana pernah bertemu Hannah.Tentu saja di acara pernikahan Hannah dengan Harry.
"Come on Mike ! Bersikaplah profesional meskipun kau menyukai gadis itu !" Seru Jhon.
Telinga Mike panas ketika lagi-lagi mendengar nama Hannah di sangkut pautkan dengan bisnis.Ya....Meskipun sedikit banyak perasaan Mike juga ikut andil di dalamnya.Tapi bukan itu alasan utama Mike memutus kerja sama.Mike menggeser kursinya ke samping lalu mengambil sebuah map dari dalam laci mejanya.Dia lempar keatas meja di hadapan Jhon.
"Mike bukan pemain baru di dunia bisnis Pa ! Mike tau betul apa yang Mike lakukan !" Mike mulai geram.
Jhon meraih map itu dan membukanya.Mata Jhon terbelalak saat membaca isi dari map itu.Itu adalah laporan bukti kecurangan HWC dan beberapa perusahaan kecil dibawah naungan HWC yang sudah Mike selidiki dan kumpulkan.
Semuanya bermula sejak sebelum kecelakaan.Mike pergi ke kota XX karena adanya laporan permasalahan disana.Setelah di selidiki ternyata mitra bisnisnya lah yang turut andil dalam permasalahan itu.Lalu setelah kecelakaan Mike kembali mendapat laporan dari cabangnya di kota X yang menemukan beberapa kejanggalan dari proyek yang sedang mereka garap.Dari situ Mike mulai melakukan penyelidikan sendiri pada permasalahan itu hingga akhirnya dia menemukan benang merah dari mitra-mitra bisnisnya dengan HWC yang ternyata bekerja sama untuk meraup keuntungan lebih banyak dari proyek kerja sama yang mereka sepakati dan itu sangat merugikan perusahaan.
Dan parahnya semua kecurangan itu bermula saat Mike mulai menggantikan posisi Papanya sebagai CEO di perusahaan itu.Mungkin mereka mengira Mike adalah orang baru di dunia mereka.Jadi bisa dengan mudah mereka kelabuhi.
"Mike tidak sembarangan mengambil keputusan ini Pa.Dan Mike tau betul apa konsekuensi dari keputusan yang sudah Mike ambil." Mike menegaskan.
Jhon masih sibuk membolak balikkan berkas yang ada di tangannya.Seakan masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Bagaimana bisa Harry melakukan semua ini ?!" Nada bicara Jhon melunak.Dia sangat kecewa dengan Harry.Sangat terlihat dari ekspresi wajahnya.
Selama Jhon memegang perusahaan, Harry adalah salah satu rekan bisnis yang sangat dia percayai.Sudah puluhan bahkan ratusan proyek yang mereka kerjakan bersama.Jhon merasa sangat terhianati.
"Dan satu lagi Pa.Jangan meragukan profesionalitas Mike dalam bekerja !" Kata Mike penuh penekanan.Mike tidak suka pribadinya di sangkut pautkan dengan pekerjaan.
Jhon tampak sangat kecewa.Dia merasa bersalah karena sudah menuduh Mike tidak profesional.
Padahal dia sangat mengenal anaknya itu.Bagaimana Mike menghandle perusahaan mereka diluar negeri yang hampir colaps dan Mike bisa membuat perusahaan itu bangkit kembali hanya dalam waktu singkat.
Mike meninggalkan Jhon yang masih duduk mematung sambil terus membaca laporan yang diberikan Mike tadi.Mike berniat keluar untuk makan siang karena kebetulan sudah saatnya istirahat.
***
Mike malajukan mobilnya menyusuri jalanan kota.Hingga akhirnya dia sampai di taman kota.Mike turun dari mobil dengan membawa kotak berisi fastfood yang dia beli dalam perjalanan ke taman.Dia berjalan ke taman dan mencari tempat duduk favoritnya di taman itu.
Dibawah pohon rindang Mike duduk di sebuah kursi putih.Dari dulu dia sangat suka duduk di kursi itu karena memang teduh dan nyaman sekali di siang hari.
Mike membuka kotak makanannya dan mengambil tortila isi tuna dari dalam kotak itu.Dengan cepat Mike menghabiskan makanannya dan sejenak merebahkan tubuhnya di kursi itu.
Angin sepoi-sepoi menerpa tubuh laki-laki berwajah tampan yang kini ternoda dengan bekas jahitan di pelipis itu.Membuatnya merasa nyaman di suasana yang terik seperti saat ini.
Hingga tak sadar Mike memejamkan matanya.Hanyut dalam alam bawah sadar.Kebiasaan Mike kalau merebahkan tubuhnya di kursi itu pasti akan dengan mudah terlelap.Tidak lama Mike terlelap dan dia sudah terbangun kembali karena mendengar suara dering ponsel dari saku celananya.
Ternyata itu panggilan dari sekretarisnya.
Mike mengubah posisi rebahannya.Kini dia duduk bersandar pada kursi itu.
"Ada apa ?" tanya Mike datar.
"Kau urus saja mereka.Aku tidak mau lagi berurusan dengan serangga pengganggu seperti mereka." Mike menutup telponnya.
Setelah selesai menerima telpon pandangan Mike tetap mengarah pada layar ponsel itu.Dia sedang memeriksa beberapa email yang masuk dari ponselnya.Untuk beberapa saat konsentrasi Mike terfokus pada email-email yang dia terima.Lalu tiba-tiba kepalanya terasa sakit lagi.Mike memegang kedua pelipisnya dengan jari-jarinya.
"Aakh..! Kenapa sakit lagi ?" Gerutunya.Mike berusaha menjaga keseimbangannya dan berniat kembali ke mobil untuk mengambil obat.Namun rasa sakit di kepalanya kian bertambah hingga membuat keseimbangannya tidak terjaga.
"Duduklah dulu !" Kata perempuan itu sambil memapah tubuh Mike ke kursi yang dia duduki tadi.
Dengan dibantu oleh perempuan itu Mike duduk bersandar pada kursi dan masih terus memijit pelipisnya dengan jari tanpa menyadari siapa orang yang sedang membantunya itu.
"Apa kau baik-baik saja ?" Tanyanya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Mike terkesiap mendengar suara yang sangat dia kenal itu.Secepat kilat Mike membuka matanya dan melihat ke sisi kanan.
Jantung Mike seketika berdetak cepat saat melihat orang yang berada di sampingnya itu.Rasa sakit di kepalanya seakan sirna dan berganti getir pada hatinya saat menatap wajah itu
"Apa kau baik-baik saja ?" Dia bertanya sekali lagi.
"Hannah ?" Mike merasa seperti sedang bermimpi.Perasaan yang sama masih menggelayuti hatinya ketika berada dekat dengan Hannah.Detak jantung yang tidak beraturan membuatnya sulit untuk mengeluarkan kata-kata.Pasalnya ini adalah kali pertama mereka bertatap muka sejak Mike mengungkapkan perasaannya.
"Apa perlu kita ke rumah sakit ?" Tanya Hannah lagi.Karena yang ditanya tidak kunjung menjawab dan malah memandanginya terus menerus.
Mike sadar dari ketertegunannya.Lalu dia memalingkan wajah ke sembarang arah untuk menghilangkan perasaan gugup di hatinya.
Lain lagi dengan Hannah.Melihat Mike yang tadi hampir saja terjatuh membuatnya sangat khawatir.Dia takut terjadi hal buruk pada Mike karena laki-laki itu tampak sangat kesakitan.Yang membuatnya menepis ego dan langsung mendekat dan menahan tubuh kekar itu.
"Aku butuh obatku." Jawab Mike tanpa melihat wajah Hannah.
"Dimana ?"
"Di mobil."
Hannah mengulurkan tangannya meminta kunci mobil pada Mike untuk segera mengambilkan obatnya.
"Aku akan mengambilnya."
Mike memasukkan tangannya ke saku celana mengambil kunci mobil dan memberikannya pada Hannah.
"Kau tunggulah disini dulu.Aku akan segera kembali." Hannah berlari ke area parkir taman dan mencari mobil Mike.
Disana Hannah tidak menemukan mobil Mike yang biasa dia gunakan.Lalu dia pencet remot pada kunci mobilnya.Hingga salah satu mobil menerima sensor dengan respon suara.Hannah cukup terkejut ketika mobil yang dia cari ternyata sebuah mobil sport warna merah dan sama persis seperti yang pernah dia lihat di depan rumahnya dan juga dia lihat setiap pagi terparkir tak jauh dari kedai.Kecuali kalau dia sedang libur seperti hari ini.
Hannah mengabaikan rasa penasarannya dan segera berlari ke mobil itu untuk mengambil obat.Tidak butuh waktu lama bagi Hannah untuk menemukan obat itu karena Mike menaruhnya di kursi penumpang depan.
Setelah mendapatkan yang dia cari,Hannah segera berlari ke tempat Mike menunggunya.
"Ini kan obatnya ?" Tanya Hannah dengan nafas tersengal sambil menunjukkan obat di tangannya.
Mike mengangguk.
Hannah duduk di samping Mike dan mengambil satu butir obat untuknya.
"Ini." Hannah menyodorkan obat dan air mineral yang tadi dia bawa pada Mike.
Mike segera meminum obat itu untuk menekan rasa sakitnya.Tidak ada pembicaraan apapun antara mereka setelah itu.
Setelah beberapa saat Mike merasa lebih baik.Sakit di kepalanya mulai mereda.
"Terima kasih." Ucap Mike kikuk.
Hannah memperhatikan Mike masih dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Apa tidak sebaiknya kau ke rumah sakit saja ?" kata Hannah.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Mike singkat.
Mike berusaha menghindari bertatapan langsung dengan Hannah.Karena itu membuat hatinya sakit.Bagaimana tidak.....? Gadis disampingnya yang sangat dia cintai itu akan segera menikah dengan temannya sendiri.
Hening.
Mereka berdua sama-sama bingung mau bicara apa.Pikiran mereka tersita untuk meredam detak jantung yang menggila dalam dada masing-masing.Perasaan yang masih sama seperti dulu saat keduanya berdekatan.
"Aku...." kata Hannah dan Mike secara bersamaan dengan tatapan mata yang terpaut.Hingga membuat mereka kembali menjadi gugup dan segera mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Kau saja dulu !" Kata Mike kemudian.
Hannah bahkan lupa dengan apa yang tadi ingin dia katakan.Dan hanya menyisakan ekspresi kebingungan di wajahnya.
"Aku.....aku....."
"Aku harus segera pergi.Terima kasih sudah menolongku." Potong Mike karena sepertinya Hannah kehilangan kata-kata.Mike tidak ingin berlama-lama bersama Hannah disana.Karena semakin lama dia disana perasaannya pada Hannah akan semakin tumbuh subur.Dengan perasaan yang semakin dalam maka akan semakin dalam pula rasa sakit yang dia rasakan saat Hannah akhirnya akan menikah dengan orang lain.
Hannah tampak salah tingkah karena dia tidak berhasil menyusun kalimat yang seharusnya dia ucapkan.
"Ah iya...sama-sama." Hannah sebisa mungkin bersikap normal.
Mike beranjak dari duduknya dan meninggalkan Hannah disana tanpa menoleh lagi pada gadis itu.
Terlalu menyakitkan bagi Mike untuk bertatapan dengan Hannah.
Hannah hanya mematung ditempatnya duduk sambil memandang punggung Mike yang kian jauh darinya.Sementara perasaannya....jangan ditanya lagi.Sudah pasti sangat tidak karuan.Antara senang karena setelah sekian lama dia bisa bertemu lagi dengan Mike.Dan sedih karena mereka tidak ditakdirkan untuk bersama.
Jauh di depan sana Mike membuka pintu mobilnya dan segera masuk ke dalam.Di dalam mobil itu Mike mengatur nafasnya yang tak beraturan akibat detak jantungnya yang begitu cepat.