Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
TIDAK TENANG



Perasaan tidak tenang bersarang di hati Joe saat meninggalkan Hannah untuk mengurus bisnisnya di luar kota.Sepanjang perjalanan pikiran Joe selalu berpusat pada Hannah.Entahlah rasanya ada yang mengganjal dalam hatinya.Sepertinya ada yang salah dengan pernikahan yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini.


"Apa aku harus membatalkan pernikahan ini ?" Gumam Joe sembari mengemudikan mobilnya menuju keluar kota.


Tidak dipungkiri pernikahan ini bukanlah berdasarkan cinta.Namun seiring berjalannya waktu. Kedekatannya dengan Hannah belakangan ini sedikit banyak membuat Joe lebih mengenal pribadi Hannah.Dan semakin memasuki kehidupan pribadi Hannah membuat Joe semakin....kagum dengan gadis itu.


Ya....sebatas kagum ! Joe berulang kali meyakinkan dirinya. Siapa saja yang mengenal pribadi Hannah pastilah bisa dengan mudah mengagumi gadis itu.Ketegarannya dalam bertahan hidupĀ  membuktikan kalau dia adalah gadis yang tangguh.Bagaimana tidak....dengan serentetan penderitaan yang bertubi-tubi sekarang dia masih bisa tersenyum dan menjalani hidupnya dengan baik.


Meskipun terkadang dia jatuh dan merasa hancur tetapi dia bisa bangkit lagi dengan hati yang semakin kuat.Disitulah letak keistimewaan Hannah.Dan disitulah kau bisa dengan mudah untuk mengaguminya.


"Apa Hannah merasa tertekan dengan pernikahan ini ? Aargghhh....! Kenapa hal itu baru terpikirkan olehku sekarang ?" Joe kesal dengan dirinya sendiri.


"Tapi.....kenapa aku merasa...." ucapan Joe terhenti.


"Jangan berpikir macam-macam Joe ! Ingatlah....Semua ini demi melindungi Hannah !" Joe menggelengkan kepala menepis pikirannya yang mulai meracau kemana-mana.


Yang ingin dilakukan Joe saat ini adalah segera menyelesaikan urusannya di luar kota dan segera pulang.


Benar saja sesampainya di cabang, Joe menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.Rencana awal memang Joe akan disana selama dua hari.Tapi dengan menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin Joe bisa kembali ke rumahnya malam ini juga.


Joe berhasil menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam 7 malam.Seharian ini dia tidak istirahat.Bahkan dia makan siang sambil bekerja.Uh...benar-benar hari yang melelahkan !


Joe menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi kerjanya.Tubuhnya terasa sangat lelah dan pegal-pegal.Matanya juga terasa pedih karena seharian hanya menatap layar komputer dan deretan huruf serta angka diatas kertas putih.


Dengan kedua jarinya Joe memijit kening untuk sekedar meringankan penat di kepalanya.


"Aku harus segera pulang." Gumamnya.


Entahlah apa yang membuat Joe ingin segera pulang.Yang jelas dia ingin secepatnya sampai di rumah.


Setelah memastikan semua pekerjaannya beres,Joe bergegas menuju ke area parkir kantor untuk mengambil mobilnya.


Meskipun tubuhnya terasa sangat lelah Joe memaksakan dirinya untuk kembali melajukan mobil ke kota asalnya.


Joe duduk dibelakang kemudi mobil lalu memasang seatbelt.Lalu dia mulai melajukan mobil meninggalkan area parkir.Sesekali Joe mengerjapkan matanya agar mata lelahnya bisa tetap fokus memandang ke depan.


Di tengah perjalanan Joe merasa matanya sudah sangat lelah.Akan sangat membahayakan kalau dia tetap memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan.Akhirnya dia memarkirkan mobilnya di halaman sebuah kedai yang ada di pinggir jalan.Joe membeli secangkir kopi dan beberapa makanan sekalian untuk menghilangkan rasa lelahnya hingga dia bisa melanjutkan perjalanan lagi.


Usai menghabiskan kopinya Joe segera membayar ke kasir.Tidak lupa dia membeli satu cup kopi lagi dan cemilan untuk menemaninya selama perjalanan.Malam sudah semakin larut dan tentunya tubuhnya butuh waktu untuk beristirahat.


Joe kembali ke dalam mobil.Untuk sejenak Joe menurunkan sandaran kursinya dan merebahkan tubuhnya dengan posisi nyaman.Ya....untuk menghilangkan kantuk yang memang sudah sejak tadi dia rasakan.Tidak lupa Joe memasang alarm selama satu jam.Karena dia tidak ingin semalaman tidur disana.Walau bagaimanapun tidur diatas kasur empuk di rumahnya sendiri adalah tidur paling nyaman yang pernah dia rasakan selama hidupnya.


Dalam posisi itu Joe tertidur hingga akhirnya alarm berbunyi.


Joe mengerjapkan matanya lalu mengucek pangkal mata dengan ibu jari dan telunjuknya untuk mengembalikan fokus pandangannya.


Dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangan.Jarum jam itu menunjukkan waktu pukul 10 malam.Joe menegakkan kembali sandaran kursinya hingga posisi nyaman untuk mengemudi.


Sebelum mulai melajukan mobilnya Joe menyeruput kopi yang sempat dia beli tadi.Meskipun kopi itu sudah mulai dingin setidaknya bisa membuatnya terjaga.Dengan kecepatan sedang Joe bisa sampai di rumah sekitar satu setengah jam lagi.


Setelah istirahat sebentar kini tubuh Joe terasa sedikit lebih segar.Pegal yang dia rasakan pun sedikit berkurang.Tidak pikir panjang lagi Joe kembali melajukan mobilnya untuk melanjutkan perjalanan.


Joe melintasi jalanan yang sedikit lengang.Kanan kiri jalan itu adalah perkebunan kopi.Tidak banyak kendaraan yang melintas di jalan itu.Kondisi jalanan juga sedikit gelap karena minimnya penerangan.


Di depan sana tepatnya di tepi jalan yang lengang itu Joe melihat beberapa orang sedang berkelahi.Samar-samar Joe melihat seseorang dengan kedua tangan yang ditahan oleh dua orang berbadan besar sedang dipukuli habis-habisan di bagian perutnya oleh satu orang lagi.


Naluri laki-laki sejati Joe membuat Joe tidak bisa membiarkan kejadian itu begitu saja.Joe memarkirkan mobilnya di belakang mobil jeep yang terparkir di tepi jalan.Joe turun dari mobil dan mengambil sebuah obeng dari kotak perkakas di mobilnya.


Langkah cepat Joe membuat keempat orang disana menoleh.


Satu orang yang tadi sibuk memukuli lawannya itu membalikkan badan menghadap Joe.Terlihat wajah geram pada laki-laki itu karena Joe sudah mengganggu kepentingan mereka.


Sementara orang yang dipukuli itu masih di tahan tangannya oleh dua orang lainnya .Sepertinya dia sudah tidak berdaya.Wajahnya menunduk lemah.


"Jangan ikut campur urusan kami !" Teriak orang itu.


Tanpa rasa takut Joe terus mendekat sambil memutar-mutar obeng yang ada di tangannya.


"Apa setelah ini kalian masih mengaku sebagai laki-laki hah ? Lihatlah cara kalian berkelahi ini ! Tiga orang melawan satu orang yang sudah tidak berdaya seperti itu." Nada suara Joe menantang.


Merasa tidak terima satu orang itu bergerak maju untuk melawan Joe.


"Kurang ajar ! Aku akan menghabisimu !" Teriak orang itu sambil mengarahkan tinju ke arah Joe.


Dengan sigap Joe menangkis pukulan itu hingga terjadi adu jotos antara mereka.Joe beberapa kali terkena pukulan begitu juga dengan lawannya.Hingga akhirnya Joe berhasil memukulkan obeng yang ada ditangannya tepat di tengkuk laki-laki itu hingga dia jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri.


Lalu dua orang yang lain segera melepaskan orang yang mereka tahan tadi dan dengan cepat menyerang Joe secara bersamaan.


Tubuh mereka memang besar tapi itu membuat gerakan mereka menjadi lambat.Hingga dengan mudah Joe bisa menumbangkan salah satu dari mereka.


Tinggal satu orang lagi yang harus dihadapi Joe.Orang itu terlihat mengambil sabuah pisau lipat dari saku celananya dan mengarahkannya pada Joe.Tanpa rasa takut sedikitpun Joe tetap mengandalkan obeng di tangannya sebagai senjata.


Kedua orang itu maju mundur mengatur strategi untuk menyerang.Lalu orang bertubuh besar itu bergerak maju sambil mengarahkan pisaunya pada Joe.Joe mundur untuk menghindari serangan.Saat Joe mengayunkan obengnya ke tubuh bagian kiri laki-laki itu,dia kalah cepat dengan gerakan tangan kanan laki-laki itu yang menghunuskan pisaunya ke lengan kiri Joe.


Joe memekik kesakitan saat pisau itu menggores kulitnya hingga darah segar mengucur begitu saja.


Merasa tidak terima Joe dengan cepat menendangkan kaki kanannya ke perut lawan.Dan tendangan itu berhasil membuat lawannya itu terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang.Tidak mau ambil jeda Joe dengan cepat mengayunkan obeng ke arah lawan dan menghantamkannya berkali-kali hingga laki-laki itu tidak berdaya lagi.


Setelah memastikan ketiga orang itu sudah tidak berkutik lagi, Joe segera menghampiri laki-laki yang mereka pukuli tadi hingga babak belur.


Joe meletakkan obeng yang berlumuran darah itu di sisi kanannya lalu meraih tubuh laki-laki yang sudah hampir tidak sadarkan diri itu.


Dia melepaskan jas yang dia pakai lalu menyelimutkannya ke tubuh laki-laki itu agar tubuhnya sedikit hangat.


"Tuan ! Anda tidak apa-apa ?" Tanya Joe sambil membantu laki-laki itu duduk.


Sebentar ! Joe merasa tidak asing dengan laki-laki itu.Dalam keadaan remang-remang Joe menengadahkan wajah laki-laki yang ada dihadapannya itu untuk melihat wajahnya.


Oh my God !!!


"Mike ?! " pekik Joe saat mengetahui laki-laki tidak berdaya itu adalah Mike.


Dengan wajah yang sudah babak belur Mike hampir tidak sadarkan diri.Sepertinya ketiga orang itu menghajar Mike habis-habisan.Dengan basic Mike yang juga menguasai ilmu bela diri Joe sedikit heran kenapa Mike bisa dibuat babak belur oleh mereka bertiga.


Joe segera memapah Mike menuju ke mobilnya.Joe mendudukkan tubuh Mike di kursi penumpang depan dan memasangkan seatbelt.Lalu Joe menutup pintu mobil dan berjalan memutar ke sisi lain mobil.


Ketika hendak membuka pintu mobil Joe berhenti sejenak.Lalu dia buka pintu mobil itu dan mengambil ponsel dari dashboard.


Joe berlari ke arah tiga orang yang sudah tidak berdaya itu dan mengambil foto mereka.Lalu Joe juga mengambil foto plat nomor mobil jeep yang mereka tunpangi.Setelahnya Joe kembali masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.


"Bertahanlah Mike ! " Joe sangat khawatir melihat kondisi Mike yang terlihat begitu menyedihkan.


Kenapa Mike bisa berurusan dengan mereka ? Tempat ini cukup jauh dari rumah.Ada masalah apa Mike dengan orang-orang itu ? Seingatku kemampuan bela diri Mike cukup bagus.Kenapa hanya dengan tiga orang lemah seperti itu Mike bisa kalah ?


Pikiran Joe mengembara kemana-mana.Dia sampai tidak mempedulikan luka di lengan kirinya yang sampai sekarang masih mengeluarkan darah segar.Terasa perih memang.Tapi perasaan khawatirnya pada Mike melebihi perih yang dia rasakan karena lukanya itu.