Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
LUNAS



Mike memutar langkahnya menjauhi ruangan tersebut.


Lalu dia beralih menuju ke bagian administrasi.


"Suster...apa Nona Moore hari ini sudah diperbolehkan pulang ?" Tanya Mike pada salah satu perawat yang berjaga di balik meja administrasi.


Perawat itu terlihat memeriksa data di komputernya.


"Harusnya sudah boleh pulang karena tidak ada luka yang serius.Tapi harus menunggu hasil pemeriksaan dari dokter dulu." jawab si perawat.


"Begitu ya."Saut Mike


"Kalau begitu biaya perawatannya akan saya bayar terlebih dahulu.Nanti seandainya ada tambahan lagi suster bisa menghubungi saya di nomor yang kemarin saya berikan." Mike mengambil kartu debit dari dompetnya.


Perawat itupun mengiyakan dan segera memberikan data tagihannya pada Mike.


Setelah semua administrasi beres Mike berniat meninggalkan rumah sakit dan segera menuju ke kantornya.


Tapi langkah Mike terhenti lalu berbalik lagi ke bagian administrasi tadi.


"Eh...suster....tolong jangan memberi tahu Nona Moore kalau saya yang melunasi administrasinya." pinta Mike.


"Baik Tuan." jawab suster itu.


"Terima kasih suster." Mike berbalik dan berjalan menuju ke parkiran mobil lalu melajukan mobilnya menuju ke kantor.


*******


Dalam ruang rawat Hannah.


"Joe...sebaiknya kau pulang .Hari ini kan kau masih harus bekerja." pinta Hannah pada temannya itu.


"Gampang...Nanti juga aku pulang." saut Joe.


" Tapi kau sudah semalaman disini.Aku benar benar merasa tidak enak denganmu." ucap Hannah seraya menautkan kedua alisnyĆ .


"Nanti aku akan mengantarmu pulang dulu." Joe menolak untuk pulang.


Eve yang mendengarkan obrolah kedua temannya itu sekarang terlihat senyum senyum sendiri.Pandangan Eve bergantian pada Hannah dan joe.


Senyum jahil pun mulai mengembang di bibirnya.


"Ehem...ehem..!" Apa ada orang lain disini.?!" Goda Eve pada kedua temannya itu.


Hannah dan Joe mengalihkan pandangan pada Eve dengan serentak keheranan.


"Eve...!" seru Hannah.sambil mengkode temannya itu untuk berhenti menggoda mereka.Karena Hannah tau persis kemana arah pembicaraan Eve.


"Selamat pagi Nona Moore.!" suara dokter yang memasuki ruang rawat Hannah seketika menghentikan candaan mereka.


"Saya periksa dulu ya Nona." Ucap si dokter sambil mengecek detak jantung Hannah dengan stetoskop.


Lalu perawat yang bersamanya memeriksa tekanan darah Hannah.


Setelah beberapa saat


"Hari ini Nona Moore sudah boleh pulang.Tapi ingat....harus banyak banyak istirahat dulu sampai benar benar pulih." pesan si dokter dengan menyunggingkan senyum ramahnya.


"Baik dok." saut Hannah membalas senyum si dokter.


Tak lama kemudian dokter sudah meninggalkan mereka bertiga.


"Eh....Hannah....aku harus segera ke kedai.Takut Tuan Lee marah kalau aku terlambat membuka kedai." pamit Eve sembari menaikkan alisnya dua kali dan tersenyum menggoda lagi pada temannya itu.


Hannah melotot pada Eve.


"Maaf aku tidak bisa membantumu bekerja." ucap Hannah kemudian.


"Nanti kalau kau sudah pulih kau harus membayarnya." timpal Eve bercanda.


"Jaga temanku baik baik..!" imbuh Eve seraya menepuk bahu Joe dua kali.Tak lupa senyum menggoda dia tebarkan lagi.


Eve kemudian berlalu dari ruangan itu yang menyisakan Hannah dan joe hanya berdua sambil menunggu perawat mencopot jarum infus dari tangan Hannah.


"Maafkan Eve ya Joe.Terkadang Eve memang menyebalkan." Hannah meruncingkan bibirnya.


"Santai saja.Eve kan hanya bercanda.Tidak usah diambil hati." tukas Joe.


Setelah beres dengan urusan infus.Joe dan Hannah bergegas menuju ke bagian administrasi bermaksud membayar tagihan rumah sakit.


Namun sesampainya disana Hannah dan Joe terkejut karena biaya rumah sakit sudah dibayar lunas.


"Semua biaya perawatan atas nama Nona Moore sudah dibayar lunas Tuan." kata perawat pada Joe.


"Tapi saya belum membayar apapun suster." Saut Hannah yang terkejut dengan lunasnya biaya perawatannya.


"Eh....kalau boleh tahu...siapa yang melunasinya suster?" Joe mencoba mencari tahu.


"Mohon maaf....kami tidak bisa memberi tahu Anda.Dan ini atas permintaan pembayar." jawab si perawat.


"Oh...ya sudah.Terima kasih suster."


Tukas Joe.


Kemudian Joe mengajak Hannah untuk pulang.


Joe dan Hannah berjalan menjauh dari meja administrasi sambil terus memikirkan siapa yang telah melunasi biaya rumah sakit Hannah.


"Joe....Aku mau menjenguk Nyonya Lee sebentar.Semalam aku tidak menjenguknya.Aku takut dia khawatir."


kata Hannah di sela langkah kakinya.


"Kau tidak perlu khawatir Hannah.Semalam aku sudah menemui Nyonya Lee dan mengatakan kalau kau tidak bisa menjenguknya karena sedang tidak enak badan."tukas Joe.


"Syukurlah." saut Hannah lirih.


Mereka kemudian melanjutkan berjalan lagi menuju ke mobil Joe yang ada di parkiran.


Sesampainya di rumah Hannah.


Joe membantu Hannah membukakan pintu rumahnya.Namun pandangan joe terhenti pada sebuah buket bunga yang tergeletak begitu saja di meja depan rumah Hannah.


Bunga itu tampak sudah agak layu.


"Terima kasih banyak Joe.Kau sudah banyak membantuku." ucap Hannah sambil mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu.Sesekali terlihat Hannah memegangi bahu kanannya.


"Bicara apa kau.Memang sudah seharusnya aku membantumu." saut Joe.


"Tapi lihatlah....hari ini saja kau sampai tidak masuk kerja hanya karena menemaniku." timpal Hannah.


"Apa bahumu terasa sakit ?" tanya Joe yang melihat Hannah beberapa kali memegangi bahunya.


"Hanya sedikit nyeri.Nanti juga sembuh."jawab Hannah.


"Aku ke dapur dulu ya.Akan kubuatkan kau roti lapis dan kopi.Kau kan belum sarapan." pamit Hannah yang setengah berdiri hendak menuju ke dapur.


Joe langsung menghampiri Hannah dan mendorong pelan tubuh Hannah agar duduk lagi.


"Tidak usah...! Lagipula aku juga mau pamit pulang.Nanti aku akan mampir ke kedai.Kau tidak perlu repot repot." larang Joe.


"Baiklah..." Hannah menuruti perkataan Joe.


Lalu Joe berpamitan dan keluar rumah Hannah.


Hannah mengantarkan Joe sampai depan pintu.


Joe menoleh kembali ke arah Hannah.


"Ingat pesan dokter...banyak istirahat."ucapnya kemudian.


Hannah hanya membalas ucapan Joe dengan senyum tipisnya.


Joe masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya.


Dia memundurkan mobilnya lalu berbelok ke kiri dan berlalu meninggalkan rumah Hannah.


Krucuk....krucuk....krucuk....!!


Cacing di perut Joe sudah protes minta diberi makan.Karena sebenarnya dari kemarin siang dia belum makan.


"Sabar ya cacing cacingku...!" Joe bicara sendiri di dalam mobil.Lalu dia mampir ke kedai Tuan Lee untuk membeli sarapan seperti biasanya.