Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
UNDANGAN



Pagi itu seperti biasa Joe mampir ke kedai untuk sarapan dan minum kopi.


Hannah sudah terlihat mulai bekerja kembali.


Joe tidak beranjak dari meja bartender.


Dia menikmati pesanannya disitu sambil asyik mengobrol dengan pegawainya.


Joe memang orang yang supel.Dia bisa dengan mudah bergaul dengan siapa saja.Dia juga sangat baik.


Pagi itu Joe memakai setelan jas berwarna abu-abu dengan kemeja putih.


"Hari ini kau terlihat sangat tampan." puji Eve dengan nada sedikit menggoda.


Eve memang orang yang suka bercanda dan menggoda teman-temannya.


Joe hanya tersenyum mendengar pujian dari Eve sambil terus menikmati roti lapis pesannannya.


Eve melirik Hannah yang tengah sibuk melayani pembeli di ujung ruangan.


Lalu Eve melongokkan tubuhnya sedikit ke arah Joe.


"Lihatlah gadis disana itu.Dia akan sangat cocok menjadi kekasihmu." Eve setengah berbisik.Matanya mengisyaratkan Joe untuk melihat ke arah Hannah.


Joe mengalihkan pandangan ke arah yang dimaksud Eve.


Joe menyunggingkan senyuman jahil seraya berkata...


"Kenapa bukan kau saja."


Eve segera memundurkan badannya menjauh dari Joe.


"Kalau kau mau denganku pasti sudah dari dulu aku jadi kekasihmu..." tukas Eve membalas candaan Joe.


Eve melanjutkan lagi apa yang dia kerjakan tadi.


"Ya....dia cantik dan baik."gumam Joe.Tangan kanannya mengangkat cangkir berisi capuccino di hadapannya dan segera menyeruput isi cangkir itu.


Sejenak Joe memperhatikan Hannah.Tiba-tiba Joe teringat histeria Hannah di rumah sakit tempo hari.


"Eve....apa Hannah sedang ada masalah dengan seseorang?" Joe mencoba mencari informasi tentang Hannah.


"Satu-satunya orang yang bermasalah dengan Hannah tentu saja Jenny si nenek sihir." Jawab Eve tanpa memyadari kalau yang dia bicarakan adalah orang yang pernah dekat dengan Joe.Setelah sadar akan perkataannya Eve lantas menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Joe melirik tajam pada Eve.


"Oops....maaf." Eve merespon lirikan Joe.


"Masalahnya sewaktu dia dirawat di rumah sakit dia sempat histeris.Seperti ada orang yang sedang mengganggunya."ucap Joe kemudian.


"Oya...." Eve mulai serius.


"Hannah tidak pernah bercerita tentang dirinya selain soal kedua orang tuanya yang sudah meninggal." imbuh Eve.


Joe mengangguk-ngangguk mendengar ucapan Eve.


"Sebenarnya ada apa denganmu Hannah..." kata hati Joe.


Hannah berjalan mendekati mereka berdua.


"Kalian membicarakanku ya..." tebak Hannah dengan mengembangkan senyum tipisnya dan berjalan melewati Joe.


" Iya....tepatnya kapan kau dan Joe akan menjadi sepasang kekasih...!" Eve asal menjawab.


Hannah lantas memandang Eve dengan tatapan tajam seakan ingin memakan Eve hidup-hidup.


"Aku tidak ikut campur..!" Joe mengangkat kedua tangannya lalu meninggalkan selembar uang di bawah cangkir untuk membayar pesanannya tadi.Joe berjalan keluar kedai sambil tersenyum jahil pada Eve.


"Kembalilah bekerja...!" seru Eve pada Hannah.


*****


Hari ini Joe ada janji temu dengan Mike untuk membahas kerja sama mereka tempo hari.


Joe melajukan mobilnya menuju kantor Mike.Sesampainya disana,,Joe langsung dipersilahkan masuk ke dalam ruang kerja oleh sekretaris Mike.


Satu jam kemudian pembahasan bisnis sudah selesai.Akan tetapi mereka masih tampak begitu menikmati obrolan.


"Iya....tadi pagi undangannya baru aku terima." jawab Joe.


"Kalau begitu besok aku akan mengenalkanmu pada Tuan Wellington.Dia pengusaha properti yang cukup tenar di kotanya.Dan aku juga belum lama ini teken kontrak dengan perusahaannya." jelas Mike.


"Baiklah....Siapa tahu aku juga bisa kerja sama dengan perusahaannya." saut Joe.


"Sebenarnya Papaku yang merekomendasikannya.Aku juga belum terlalu paham dengan cara kerjanya."


ujar Mike.


"Percaya saja kalau Papamu yang merekomendasikan.Pengalaman Papamu jauh lebih banyak dibandingkan dengan kita."Kata Joe.


"Siapa yang akan kau ajak kesana nanti ?" Tanya Mike lagi.


"Entahlah....mungkin aku akan datang sendiri." jawab Joe santai.


"Kenapa tidak kau ajak saja kekasihmu ?" Mike melirik kearah Joe.


Joe tersenyum....lalu mengubah posisi duduknya jadi menghadap Mike.


"Aku tidak punya kekasih." ucap Joe masih dengan nada santai.


"Lantas kau sendiri akan datang dengan siapa ?" Joe bertanya balik.


"Ha...ha...ha....aku...? Jelas datang sendiri lah..!" jawab Mike dengan tawa lantangnya.


Joe ikut tertawa mendengar jawaban Mike.


"Kenapa.....apa kau juga tidak punya kekasih ?!" ucap Joe meledek balik temannya itu.


Mike hanya tertawa sambil memukul ringan lengan Joe.


Dalam benak Mike sebenarnya dia masih memikirkan Jessica yang akan segera menikah.


Tak lama kemudian


Joe lantas berpamitan pada Mike.


******


Selesai bekerja Hannah pulang dengan berjalan kaki seperti biasa.


Sebuah mobil suv berjalan pelan disamping Hannah.Pemilik mobil itu membuka kaca mobil hingga terlihat siapa yang mengemudikan mobil tersebut.


Joe tersenyum sambil menyapa Hannah.


"Naiklah....!" suruh Joe yang menghentikan mobilnya ketika Hannah juga menghentikan langkahnya.


"Mau kemana...?" tanya Hannah.


"Ikut saja...." tukas Joe.


Hannah mendekat ke mobil Joe.dibukanya pintu depan mobil itu.


Dia masuk dan duduk di kursi sebelah Joe.


Joe memutar mobilnya ke arah yang berlawanan dengan arah rumah Hannah.


"Kita mau kemana ?" Hannah bertanya sekali lagi.


"Kita jemput Ny. Lee.Hari ini dia sudah diperbolehkan pulang." jawab Joe dengan terus fokus mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.


"Tuan Lee..?" Hannah berpikir kalau Tuan Lee juga akan menjemput Ny.Lee.


"Tuan Lee ada urusan lain.Jadi dia menelponku untuk menjemput Ny. Lee."


"Owh..." Hannah hanya mengangguk ngangguk mendengar jawaban Joe.


Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di rumah sakit.


Nyonya Lee sudah menunggu kedatangan mereka di ruang tunggu.


Hannah menghampiri Ny.Lee dan menghamburkan tubuhnya memeluk wanita tua itu.


Akhirnya mereka membawa Ny. Lee pulang ke rumahnya.