Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
MISS YOU



Di ruangan yang bernuansa putih di lantai tertinggi perusahaan property terbesar di kota itu, anak dari Jhon Bennings tengah sibuk dengan pekerjaannya.Dia sudah kembali menghandle perusahaan.Kondisi kesehatannya semakin membaik.Hanya sesekali kepalanya masih terasa sakit.


Suara ketukan pintu tidak mengganggu konsentrasinya sama sekali.


Jane si sekretaris masuk ke ruangan Mike.


"Maaf Tuan....di lobi ada Tuan Smith ingin menemui Anda."


Mike menghentikan pekerjaannya sebentar.


"Biarkan saja dia."


Kata Mike tanpa melihat ke arah sekretarisnya lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.


"Tapi Tuan...Tuan Smith sangat memohon untuk bertemu dengan Anda."


"Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan ?!" Kata Mike dengan nada tinggi.


Sekretaris itu pun mundur.Dia tidak ingin mencari masalah dengan atasannya.


"Baik Tuan." Dia meninggalkan ruang kerja Mike dan turun ke lobi dengan lift khusus.


Sesampainya di lobi dia melihat seorang laki-laki paruh baya bertubuh tambun sedang duduk di sofa.Laki-laki itu tampak kebingungan.Dan ketika Jane berjalan mendekat padanya, laki-laki itu langsung bangkit dari duduknya.


"Nona...tolong bantu Saya.Saya ingin bertemu dengan Tuan Bennings.Saya sangat menyesal dengan kesalahan Saya." Smith tampak berkaca-kaca.


"Maaf Tuan.Tuan Bennings sedang sibuk.Sebaiknya Anda tidak mengganggu beliau."


"Saya mohon Nona.Saya mempunyai dua orang istri dan enam orang anak.Bagaimana nasib mereka nanti kalau Tuan Bennings tidak mengampuni Saya ? Saya mohon Nona.Pertemukan Saya dengan Tuan Bennings." Smith terus memohon.


"Maaf Saya masih banyak pekerjaan.Saya permisi." Jane berlalu meninggalkan Smith yang menangis sambil terus memohon lalu masuk ke dalam lift untuk kembali ke ruang kerjanya.


Di lantai teratas gedung itu Mike tampak memperhatikan layar komputernya.Dia tersenyum puas dengan apa yang dia lihat di layar komputer itu.


Tentu saja karena dia mendapat hiburan gratis dari kamera cctv yang ada di lobi.


"Sekarang kau tau siapa Mike Bennings." Dengus Mike.


Smith adalah salah satu mitra kerjanya di kota X yang telah melakukan kecurangan terhadap perusahaannya.Tidak tanggung-tanggung Mike menghancurkan perusahaan miliknya semudah dia membalikkan telapak tangan.


"Sebentar lagi akan kita lihat siapa aktor utama dalam permainan ini." Mike tersenyum yakin dengan apa yang sedang dia rencanakan.


***


Belakangan ini Mike sering pulang larut malam.Semenjak kecelakaan itu dia juga jarang sekali ikut sarapan atau makan malam di rumah.


Emma menyadari ada perubahan dalam diri anaknya itu.Dan itu membuatnya semakin khawatir.Emma semakin tidak mengenali Mike.Yang dilihat Emma sekarang Mike adalah sosok yang dingin.Dia juga jarang berbicara pada anggota keluarganya.Dia hanya pulang untuk tidur.Dan pagi-pagi sekali dia sudah berangkat ke kantor.


Malam itu Mike pulang dari kantor dengan penampilan yang cukup berantakan.Rumah sudah sepi ketika dia melangkah masuk.Lampu utama sudah di padamkan.Hanya meninggalkan beberapa lampu sudut yang menyala menciptakan nuansa temaram.


Mike berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.Pergerakannya terhenti saat dia hendak membuka pintu kamarnya.Mata Mike tertuju pada pintu kamar di sebelah kamarnya.Yaitu kamar tidur Isabel.Semenjak kecelakaan Mike sama sekali tidak berbicara dengan adiknya itu.Ada rasa rindu di hati Mike dengan segala tingkah adiknya.


Perlahan Mike mengarahkan kakinya ke kamar Isabel.Dia buka pintu kamar itu dengan hati-hati.Lalu dia masuk ke dalam kamar dan mendekat pada ranjang Isabel.


Gadis itu tampak tertidur pulas tanpa terbalut selimut.Senyum tipis mengembang di wajah Mike ketika melihat wajah polos adiknya itu.


Mike menarik selimut hingga ke leher Isabel lalu mencium kilas kening gadis itu.


Mike berjalan meninggalkan kamar Isabel dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Mike membersihkan diri di kamar mandi.Setelah selesai dia duduk di sofa tunggal yang menghadap ke jendela.Pemandangan taman di halaman rumahnya tampak indah di malam hari.


Tak tau kenapa rasanya malam itu Mike merasa sangat merindukan keluarganya.Tawa riang Isabel, senyum hangat Emma, dan nasehat bijak Jhon.


Mike merasa sangat merindukan susana berkumpul dengan keluarganya.


"Aakhh !" Mike memegang kepalanya yang terasa sakit.Bekas jahitan di kepala Mike memang sudah mulai kering.Tapi rasa sakit di kepalanya masih saja tiba-tiba muncul.


Mike berjalan ke tempat tidurnya.Dia ambil obat dari dalam laci meja samping tempat tidur dan segera meminumnya untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya.


Setelah itu Mike merebahkan tubuhnya diatas kasur dan membiarkan alam bawah sadar mengambil alih tubuhnya.


***


Joe menjemput Hannah dirumahnya untuk mengantarkan Hannah ke tempat kerja.


Semenjak Hannah menerima lamaran Joe memang sudah menjadi rutinitas Joe untuk mengantar dan menjemput Hannah.


"Apa kau baik-baik saja ?" Joe memperhatikan calon istrinya itu sedari tadi hanya melamun.Selalu mengarahkan pandangannya keluar jendela mobil.


Hannah yang mendengar pertanyaan Joe segera mengalihkan pandangannya pada laki-laki disampingnya itu.


"Aku baik-baik saja."


"Oya tadi waktu sarapan....Mama mengatakan padaku kalau dia ingin kau segera pindah ke rumah." Kata Joe.


"A-aku...aku merasa tidak enak kalau pindah kesana." Hannah merasa itu terlalu terburu-buru.


Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan kedai.


"Kenapa merasa seperti itu ? Nantinya kau juga akan tinggal disana." Kata Joe.


Hannah menunduk.Dia masih merasa semua ini terlalu cepat.Bahkan rencana pernikahan ini masih seperti mimpi untuknya.


Joe meraih tangan Hannah dan menggenggamnya.


"Aku tidak akan memaksa kalau kau belum siap untuk pindah ke rumahku."


Joe tersenyum menenangkan Hannah.Karena sepertinya Hannah sedang memikirkan sesuatu.


Dan sikap baik Joe itu yang membuat Hannah semakin merasa bersalah.Bagaimana bisa Hannah menyakiti hati orang yang sudah begitu baik padanya.


"Mm....apa akhir-akhir ini kau bertemu dengan Mike ? Karena semenjak kecelakaan itu aku belum pernah bertemu dengannya.Meeting denganku pun dia hanya di wakili sekretarisnya."


Pertanyaan Joe sukses membuat hati Hannah tersayat.Kenapa harus mengingatkan tentang Mike lagi ?


"Aku tidak pernah bertemu dengannya." Jawa Hannah dengan suara sedikit bergetar.


Joe tampak berpikir.


"Dia juga belum tau kalau kita akan menikah.Bagaimana kalau nanti malam kita ke rumahnya ? Sekalian mengundang mereka ke pernikahan kita."


Deg....


Hannah menjadi sangat gugupĀ  mendengar apa yang baru saja Joe katakan.Memang pernikahan mereka tidak akan dirayakan besar-besaran.Hanya keluarga dan kerabat dekat yang diundang.


"J-jangan !" Jawab Hannah spontan.


"Ma-maksudku....jangan kita berdua.Kau saja yang kesana." Lanjut Hannah.


Joe menangkap keganjalan dalam ekspresi Hannah.Dan dia menatap curiga pada gadis disampingnya itu.


"Kenapa kau jadi gugup begitu ?"


Hannah jadi salah tingkah dengan tatapan Joe yang seperti itu.


"A-aku....."


"Baiklah....aku akan kesana sendiri." Lagi-lagi Joe tersenyum.Dia tidak ingin membebani Hannah.


Hannah menghela nafas lega dalam hatinya.


"Kalau begitu aku turun dulu." Hannah ingin segera keluar dari mobil itu agar Joe tidak semakin curiga.


Hannah turun dari mobil Joe dan melambaikan tangan ketika mobil itu hendak melaju.


Mobil Joe sudah meninggalkan kedai.Hannah hendak berbalik dan masuk ke kedai tapi pandangannya menangkap sebuah mobil sport merah yang terparkir tidak jauh dari kedai.Hannah mengernyitkan keningnya.Seperti pernah melihat mobil itu.Ah mungkin hanya kebetulan.Mobil seperti itu tidak hanya ada satu di kota ini.


Hannah melanjutkan langkahnya memasuki kedai.


Di dalam mobil sport merah itu Mike memperhatikan Hannah hingga benar-benar hilang dari pandangannya.


"Harusnya dari dalam mobil ini kau keluar." Gumam Mike.


Sekali lagi Mike harus mencintai dalam diam.Meskipun rasanya sakit saat melihat Hannah bersama Joe tapi Mike tidak bisa sehari saja untuk tidak melihat gadis itu.


Dia sudah seperti paparazzi yang diam-diam memperhatikan Hannah dari kejauhan.


Seperti biasa Mike begitu fokus dengan pekerjaannya.Hingga suara ketukan membuatnya berhenti sejenak dari aktivitasnya.


Sekretarisnya masuk dengn wajah cemas.


"Tuan....di lobi ada Tuan Wellington memaksa untuk menemui Anda." Kata Jane dengan nada khawatir.Karena Harry datang ke kantor itu dengan penuh amarah.Sejak datang dia sudah berteriak-teriak ingin bertemu dengan Mike.Sepertinya dia sedang ada masalah dengan Mike.


"Aku sudah tau." Kata Mike dengan tenangnya.


"Tapi Tuan...." Jane belum menyelesaikan ucapannya ketika seseorang membuka pintu ruangan Mike dengan kasar.


"Kenapa kau tidak menemuiku Mike ?! Apa kau takut padaku ?!" Teriak Harry.


Mike duduk menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya sambil tersenyum sinis.


"Aku hanya tidak ingin membuang waktuku untuk orang yang sama sekali tidak penting sepertimu !"


Mendengar jawaban Mike ,amarah Harry semakin tersulut.Dia menyergap Mike dan menarik kerah kemeja Mike hingga laki-laki itu hengkang dari duduknya.


"Berani sekali kau berkata seperti itu padaku !" Kata Harry penuh intimidasi.


Mike masih bisa tersenyum sinis dalam cengkeraman Harry.


"Memangnya kau siapa ?"


Harry menjadi naik pitam mendengar kata-kata Mike.Dengan cepat Harry melayangkan satu pukulan ke wajah Mike hingga membuat Mike mundur beberapa langkah ke belakang.


Jane ketakutan dan berteriak melihat kejadian itu lalu secepatnya dia kembali ke mejanya dan memanggil security.


Mike memegang pipi kirinya.Masih dengan tersenyum sinis.


"Kau pikir kau sedang bermain dengan siapa ? Sekarang juga aku bisa menghancurkan bisnismu dan kupastikan namamu tidak akan pernah terdengar lagi !" Ancam Mike.


Kini Harry yang tersenyum sinis pada Mike.Dengan berkacak pinggang Harry menatap tajam pada Mike.


"Apa semua ini karena mantan istriku yang cantik itu ?!" Kata Harry pelan tapi sungguh berhasil mengintimidasi Mike.


Wajah Mike berubah merah padam mendengar Hannah dibawa-bawa dalam masalah ini.


Dengan cepat Mike ambil langkah dan satu pukulan balasan mendarat di wajah Harry.


"Tutup mulutmu !" Teriak Mike.


Harry mundur beberapa langkah karena pukulan Mike.Harry tak kalah sinis dari Mike.Merasa sudah bisa memprovokasi Mike,Harry melancarkan kata-kata intimidasinya lagi.


"Ayolah....Kau sudah kalah.Dia akan menikah dengan temanmu sendiri.Tidak perlu malu...datanglah padaku...aku akan dengan senang hati menceritakan betapa nikmatnya saat menyentuh tubuhnya." Senyum Harry seperti iblis.


Amarah Mike semakin memuncak mendengar kata-kata Harry.Dengan cepat Mike mendekat pada Harry dan kali ini Mike melancarkan beberapa pukulan ke wajah Harry hingga akhirnya security datang dan menahannya.


"Hahahaa.....Lihatlah betapa menyedihkannya dirimu Bennings kecil !" Kata Harry dengan wajah yang penuh bekas pukulan.


"Jangan panggil namaku Mike Bennings kalau aku tidak menghancurkanmu !" Teriak Mike ketika Harry diseret keluar oleh security.


"Aaargghhh...!" Mike memporak porandakan mejanya.Lalu dia menatap sekretarisnya yang dari tadi berdiri ketakutan di dekat pintu.


"Eksekusi sekarang juga !" Perintah Mike sambil menunjuk sekretarianya.


Sekretarianya mengangguk lalu keluar dan segera melakukan apa yang Mike perintahkan.


Di dalam ruang kerjanya Mike masih diselimuti amarah.Dia berdiri dengan kedua tangannya bertumpu pada meja.


Sorot matanya yang tajam menandakan amarah yang begitu besar sedang meluap.


"Kau pikir aku pemain baru hah ?! Lihat saja apa yang bisa kulakukan padamu !" Kata Mike begitu penuh penekanan.


***


Malam harinya Mike pulang lebih awal tidak seperti biasa.Ketika dia berjalan menaiki tangga dia mendengar suara Emma dari kamar Isabel.Mike tidak menggubrisnya dan terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.


Selesai membersihkan diri Mike hendak turun ke dapur untuk mengambil minum.Langkahnya terhenti saat dia masih mendengar suara Emma dari kamar Isabel.


Di dalam kamar Isabel.


"Sayang....kau harus makan.Seharian perutmu belum terisi sama sekali.Bagaimana mau sembuh kalau kau tidak mau makan ?" Bujuk Emma dengan semangkok sup ditangannya.


Isabel hanya menggeleng.Badannya panas dan dia tidak mau makan sedari pagi.Berulang kali Emma membujuknya tapi tetap saja anak itu tidak mau makan.


Pandangan Isabel mengarah pada sosok yang berdiri di ambang pintunya.


"Kakak !"


Isabel memanggil Mike yang sedang berdiri disana.


Emma menoleh.Sedikit heran karena Mike sudah ada dirumah.Biasanya Mike akan pulang kalau seisi rumah sudah pada tidur.


"Mike ?"


Mike melangkah masuk ke dalam kamar.Lalu meminta mangkok sup dari tangan Emma.Emma berdiri dan memindahkan mangkok sup itu dari tangannya ke tangan Mike.


Mike bergeser lalu duduk di tepi ranjang Isabel.


"Buka mulutmu !" Kata Mike datar sambil mengarahkan satu sendok sup ke mulut Isabel.


Isabel menggeleng dan menutup mulutnya dengan tangan.


"Buka mulutmu !" Mike menatap tajam pada adiknya.


Lalu perlahan Isabel menurunkan tangannya dan membuka mulut.


Mike menyuapi Isabel dengan telaten meskipun sesekali adiknya itu menolak membuka mulut.Dan itu kembali mengingatkannya pada Hannah ketika di rumah sakit.Ketika dia menyuapi Hannah hingga makanannya habis.


Dengan menahan rasa getir Mike terus menyuapi Isabel hingga sup itu habis.Emma yang memperhatikan adegan kakak beradik itu dari belakang Mike ikut tersenyum karena seperti biasa Mike lah yang bisa membujuk Isabel untuk makan.Dibalik sifat manja Isabel, dia adalah anak yang penurut dengan kakaknya.


Mangkok sup di tangan Mike sudah kosong.


"Anak pintar !" Kata Mike sambil mengacak rambut Isabel.


Mata Isabel berkaca-kaca saat kakaknya memperlakukannya seperti itu.


Ketika Mike hendak berdiri tiba-tiba Isabel menarik tangan Mike dan memeluk tubuh kakaknya itu dengan erat.


"Kakak....Aku merindukanmu !" Isabel terisak sambil memeluk kakaknya.


Dada Mike bergetar saat mendengar isakan Isabel.Ada rasa bersalah di hatinya karena belakangan ini telah mengabaikan keluarganya.


Mike mengusap lembut punggung Isabel.Dan membuat gadis itu sedikit lebih tenang.Isabel melepaskan pelukannya dan menatap lekat ke mata Mike.


"Jadilah kakakku yang dulu lagi." Mata berair Isabel benar-benar membuat hati Mike bergetar.


Mike menyeka air mata Isabel yang meleleh di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.


"Maafkan Kakak !"


Mike memeluk adiknya kembali dengan erat.


Emma yang masih mematung di tempatnya berdiri menjadi sangat terharu.Air matanya ikut tumpah.Sebegitu rindunya Isabel dengan sosok kakaknya hingga dirinya sakit.


"We miss you Mike." gumam Emma dalam hati.


*


*


*


*


*


hai..hai..hai..lovely readers !


sekuel cerita ini sudah publish ya. judulnya 100 days. menceritakan tentang Isabel Bennings (adiknya Mike). yuk dibaca !


happy reading !