Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
JENNY



Joe dan Hannah masih berada di rumah sakit dan masih di posisi duduk mereka seperti semula.


Hannah hanya diam dengan tatapan kosong.Lalu dia mengambil ponselnya yang ada dalam tas jinjing warna tosca yang ada disampingnya.


"Aku harus blokir nomor telpon Harry.Aku tidak mau dia menggangguku lagi." Gumamnya dalam hati sambil jemarinya mengotak atik layar ponselnya dengan lihai.


"Seharusnya sejak dulu aku blokir." Sesal Hannah.


Joe hanya diam sambil terus mengarahkan pandangannya kepada Hannah.


"Sepertinya ada beban berat yang Hannah pendam.Tapi apa itu?" Kata Joe dalam hati.


Joe melihat tatapan mata Hannah yang begitu sayu saat berbicara dengannya.Sorot mata Hannah tidak bisa berbohong.Tapi Joe tidak berani bertanya karena Hannah tidak pernah membicarakan hal yang bersifat pribadi kepada Joe selama mereka berteman.Dan Joe tidak mau merusak pertemanannya dengan Hannah hanya karena rasa penasarannya akan masa lalu Hannah.


"Kasihan sekali Hannah,,,sebenarnya apa yang menjadi beban pikiranmu?" Tanya Joe dalam hatinya.


Hingga tiba-tiba terdengar suara panggilan dari ponsel Joe.


Joe melihat siapa yang menelponnya dan itu adalah Jenny.


"Ada apa Jenny?" tanya Joe dengan nada malas.


"Aku sedang berada di rumah sakit..."Belum selesai Joe berbicara sepertinya Jenny sudah memotong ucapan Joe.


"Bukan....Aku tidak apa-apa.Nyonya Lee yang dirawat di rumah sakit."jawab Joe.


"Iya.Kau tidak perlu mengkhawatirkanku." Ucap Joe lalu menutup telponnya.


"Jenny ?" tanya Hannah singkat.


"Iya" jawab Joe.


"Joe....sebaiknya kau pulang saja.Aku tidak apa-apa disini sendiri. Takutnya Jenny khawatir." Pinta Hannah dengan tatapan sayunya.Dia tidak ingin kejadian tadi siang terulang lagi.


"Aku akan tetap disini denganmu.Tidak perlu pedulikan Jenny.Dia memang seperti itu." tukas Joe.


"Kau tidak tau saja apa yang tadi dia lakukan padaku." Gumam Hannah pelan sehingga Joe hanya samar-samar mendengarnya.


"Apa?" Joe penasaran.


"Eh..tidak.Ya sudah aku mau beli minum dulu.Kau titip apa ?" Hannah beranjak dari tempat duduknya.


"Tidak usah." jawab Joe.


Hannah lalu berjalan meninggalkan Joe yang masih duduk di kursi tunggu.


Joe memperhatikan Hannah dari belakang.


"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan Hannah?" ucap Joe lirih sambil terus memperhatikan Hannah yang berjalan kian jauh darinya.


20 menit berlalu.


"Hannah kemana ya ?! Lama sekali beli minumnya." Joe mulai khawatir karena Hannah belum juga kembali.


Joe kemudian bergegas menyusul Hannah ke minimarket depan rumah sakit.


"Hannah..!!" ucap Joe sambil menajamkan pandangannya yang melihat Hannah dan Jenny dari kejauhan.


Mereka tampak sedang berdebat.Bahkan Jenny terlihat mendorong tubuh Hannah ke tembok lalu mencekik leher Hannah dengan telapak tangannya.


Joe yang melihat kejadian itu pun langsung berlari ke arah mereka.


"Jenny..!! Lepaskan Hannah..!!" Teriak Joe sambil menarik tangan Jenny dari leher Hannah.


Hannah yang sudah terlepas dari cekikan Jenny lalu memegang lehernya sambil terbatuk-batuk.


"Joe..?" Jenny terkejut.Tidak menyangka Joe melihat apa yang dia lakukan.


"Apa yang kau lakukan pada Hannah..?!"Ucap Joe setengah berteriak.Dia begitu geram dengan apa yang dilakukan Jenny.


"A-aku....aku...." Jenny tidak bisa berkata-kata.


"Dengarkan aku baik-baik Jenny ! Aku sudah pernah memperingatkanmu untuk tidak mengganggu Hannah.Hannah sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah kita.Jadi jangan pernah kau mengganggunya lagi.Atau aku akan membencimu dan tidak akan pernah sudi melihatmu lagi.!!" Ucap Joe sambil menunjuk wajah Jenny dengan telunjuknya.Dia terlihat begitu kesal.Lalu Joe menggandeng tangan Hannah dan mengajaknya kembali ke dalam rumah sakit.


"Joe...!!" panggil Jenny.


Namun Joe tidak mempedulikannya.


"Arrgghhh...!!" Jenny menendangkan kaki kanannya ke udara.


Sesampainya didepan ruangan Nyonya Lee,Joe dan Hannah lantas duduk di kursi tunggu.


"Apa saja yang sudah dilakukan Jenny padamu ?" tanya Joe dengan tatapan tajam pada Hannah.Karena yang Joe tau Jenny memang pernah melabrak Hannah tetapi tidak sampai berbuat kasar seperti tadi.


"Jawab Hannah..!" Suara Joe terdengar meninggi sambil memegang kedua bahu Hannah.Tetapi Hannah masih mempertahankan pandangannya kebawah agar tidak beradu pandang dengan mata Joe yang saat ini tepat berada di depannya.


Joe melepaskan tangannya dari bahu Hannah.Lalu dia menyandarkan tubuh nya pada sandaran kursi yang dia duduki.


Kedua tangannya mengusap keras wajah Joe.


"Hannah.....aku minta maaf.Aku tidak bermaksud kasar padamu." Suara Joe kembali rendah.


"Joe...." Suara Hannah terdengar lirih.


"Aku sudah memaafkan Jenny." sambung Hannah.


"Jenny sungguh keterlaluan.Kau tidak pentas diperlakukan seperti itu." tukas Joe menyesali apa yang sudah Jenny lakukan.


"Aku sudah biasa" saut Hannah tanpa sadar.


"Apa ?" Joe seketika menoleh ke arah Hannah.


"Eh....maksudku....aku tidak mempermasalahkan hal itu.Lagipula aku juga tidak apa-apa.Sudahlah lupakan saja." Hannah berkilah.


Joe hanya menatap heran kepada temannya itu.


Tak lama berselang ponsel Joe berdering lagi.


"Hallo." Ucap Joe kepada orang di seberang telpon.


"Aku minta maaf Mike....Malam ini aku tidak bisa kesana.Mungkin lain waktu." Ternyata yang menelpon adalah Mike.


"Baiklah.Lain waktu akan kutemani kau minum kopi." ucap Joe sambil tersenyum tipis.Lalu Joe menutup telponnya.


Hannah hanya diam saja mendengar Joe sedang menerima telpon dari temannya.Hannah merasa tidak enak karena merepotkan Joe.


"Maafkan aku Joe....aku benar-benar merepotkanmu." ucap Hannah.


"Apa yang kau katakan Hannah.Ini kan juga kemauanku sendiri untuk menemanimu."tukas Joe sembari menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.


Lalu pandangan Joe tertuju pada lengan Hannah yang tampak memerah.


"Ya ampun Hannah...lihatlah lenganmu.! Jenny benar-benar keterlaluan.Aku tidak menyangka dia bisa berbuat seperti itu.


" Joe geram melihat apa yang sudah dilakukan Jenny sampai berbekas seperti itu.


"Joe....Jenny seperti ini pasti karena dia sangat mencintaimu.Aku bisa mengerti dengan apa yang dia rasakan.Hanya saja cara Jenny sedikit berlebihan" Hannah membela Jenny.Dia membayangkan seandainya saja ada orang yang sebegitu mencintai dirinya sampai tidak rela orang lain merebut cintanya.


"Sedikit berlebihan ?" Joe mengernyitkan keningnya.


"Itu sudah sangat berlebihan.Padahal dulu Jenny itu orang yang baik dan lembut."Joe mengingat mantan kekaihnya itu.


Hannah tersenyum....lalu tangannya menepuk pundak Joe.


"Kau sangat beruntung ada orang yang begitu mencintaimu seperti Jenny.Sementara diluar sana masih banyak orang yang merindukan untuk dicintai dengan tulus."


"Kau kenapa Hannah ?! Kau ini bodoh atau apa...Jenny sudah memperlakukanmu dengan buruk tapi kau masih saja membelanya." Joe tersenyum sinis.


"Ha...ha...ha...." Hannah malah tertawa mendengar apa yang Joe katakan.


"Kenapa kau malah tertawa?" Joe terheran-heran dengan temannya itu.


"Karena aku berharap ada orang yang sangat mencintaiku seperti Jenny sangat mencintaimu Joe." Gumam Hannah dalam hati.


Hannah hanya menjawab pertanyaan Joe dengan senyum tipis.


"Setidaknya lebih menyenangkan melihatmu bisa tertawa daripada melihatmu menangis seperti tadi." Gumam Joe dalam hati.


*


*


*


*


*


Terimakasih guys...


Like dan Vote nya ditunggu ya


Salam sayang dari author yang masih banyak belajar....😊😊😊