
Hannah jatuh tersungkur di lantai dan tidak sadarkan diri.
Mata Hannah mengerjap ketika dia merasakan hawa yang sangat dingin menembus kulit lembutnya.Hari masih gelap.Hannah mendapati tubuhnya masih terbaring di lantai karena pingsan tadi.Hannah berpegangan pada sisi tempat tidurnya dan berusaha untuk bangkit.Dengan sekuat tenaga Hannah berdiri dan menjatuhkan tubuhnya diatas kasur.Hannah melihat jam yang ada di meja samping tempat tidurnya dan waktu masih menunjukan pukul 3 dinihari.
Hannah ingin menelpon seseorang untuk meminta pertolongan.Tetapi ponsel Hannah berada di dalam tas selempangnya.Dan tas itu masih tergeletak di ruang tamu sewaktu Harry menerobos masuk tadi.
Hannah merasakan tubuhnya semakin lemah.Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.Dia menahan sakitnya sendirian.
Tidak ada siapapun disana.Dalam kondisi mata terpejam Hannah mulai meracau lagi.
"Ayah....Ibu...." Hannah mengigau dalam tidur tak nyenyaknya.
Tubuhnya semakin menggigil meskipun selimut tebal sudah membalut tubuhnya.
"Pergi....!Jangan sentuh aku !" pekik Hannah yang lantas terduduk dan membuka kedua matanya dengan nafas tersengal-sengal.
Hannah mengatur nafasnya yang terasa panas agar bisa lebih tenang.Benar-benar mimpi yang sangat buruk.Hannah terduduk sambil memeluk bantal dan dengan selimut tebal yang masih membungkus tubuhnya.Matanya berkaca-kaca mengingat kejadian yang dia alami.
Hannah memalingkan pandangannya ke arah jendela dan bias cahaya matahari sudah mulai nampak dari balik jendela kamarnya itu.
"Ternyata sudah pagi." gumamnya dengan suara lemah.
Kepalanya masih terasa sangat berat.Badannya juga masih demam.
Hannah berusaha untuk turun dari tempat tidur.Kali ini dia berhasil berdiri meskipun dengan tubuh yang sempoyongan.
Langkahnya berat menuju ke ruang tamu untuk mengambil ponselnya.Dengan langkah yang terhuyung-huyung akhirnya dia sampai di tempat yang dia tuju.
Melihat sofa merah di ruang tamunya membuat bayangan menjijikkan Harry kembali menari-nari di ingatannya.Hannah memejamkan matanya untuk menepis kegetirannya.
Dia berjalan menghampiri tas selempang yang ada di lantai dan segera mengambil ponselnya dari dalam tas.
Sialnya ponsel Hannah habis baterei.Hannah bergegas mengambil charger dan segera mengisi daya batereinya.
Hannah merasa tubuhnya sudah tidak kuat untuk berdiri.Dia hendak duduk di sofa....tetapi dia mengurungkannya.Masih sangat terasa aura jahat Harry disana.
Hannah berjalan dengan berpegangan pada apapun yang bisa dia pakai untuk tumpuan menuju ke dapur.
Hannah membuat teh untuk menghangatkan tubuhnya.Meskipun dengan tangan gemetaran tapi dia berhasil membuat secangkir teh.Hannah menjatuhkan dirinya di kursi kayu meja makan.Setelah menyesap teh itu Hannah merasa sedikit lebih baik.
Lalu dia beralih ke kotak obat yang menempel di dinding.Dia mengambil sebutir obat dan membawanya ke meja makan.Hannah meminum obat itu agar kondisinya segera membaik.
Setelah menghabiskan tehnya,Hannah kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuh lemahnya diatas tempat tidur.
Karena pengaruh obat akhirnya dia bisa tertidur pulas.
***
"Hannah kenapa belum datang juga ?" gumam Eve.Eve khawatir karena ponsel Hannah bahkan tidak bisa di hubungi.
Hingga siang Hannah tak kunjung datang.Eve yang keteteran dengan pekerjaannya akhirnya menghubungi Kelly untuk membantunya.
Lalu terbesit dalam pikran Eve untuk menghubungi Joe juga.Mungkin Joe tau apa yang terjadi pada Hannah.
***
Ketika sedang berjalan di lobi kantornya,ponsel Joe berdering.
Eve Calling......
"Baiklah.Nanti aku akan kerumahnya.Aku akan mengabarimu setelah tau kondisinya."
Joe menerima informasi dari Eve kalau Hannah tidak pergi kerja dan ponselnya tidak bisa dihubungi.
Raut wajah Joe menunjukkan kecemasan.Dia mengurungkan niatnya untuk makan siang dan segera meluncur ke rumah Hannah untuk mencari tau apa yang terjadi pada Hannah.
Joe masih dalam perjalanan ke tempat yang dia tuju ketika ponselnya berdering.
Mike Calling......
"Shit..! Aku lupa ada janji dengan Mike untuk makan siang." umpat Joe.
Joe mengaktifkan bluetooth di telinganya dan menjawab panggilan Mike.
"Maaf Mike....sepertinya kita bahas lain waktu saja proyek baru kita.Aku sedang dalam perjalanan ke rumah Hannah." kata Joe dengan nada khawatir.
Mike yang menangkap kekhawatiran dari suara Joe pun mengiyakan penundaan pembahasan proyek mereka.
Joe kembali fokus melajukan mobilnya ke arah rumah Hannah.
Setibanya di rumah Hannah Joe mengetuk pintu rumah itu.Namun Joe terkejut saat mengetuk pintu itu dan ternyata pintunya tidak terkunci.
Beberapa kali Joe memanggil tetapi tidak ada yang menyahuti.Joe semakin khawatir karenanya.
Joe membuka pintu itu pelan-pelan.Rumah tampak lengang.Joe melangkahkan kakinya masuk.
"Hannah ?" Panggil Joe lagi.Tapi tetap saja tidak ada yang menjawab.
Joe melihat ke sekeliling.Tampak bantal sofa yang berserakan di lantai.Joe melihat ponsel Hannah masih tersambung dengan charger di meja sudut ruang tamu.
Yang membuat Joe tercengang adalah sebuah kemeja kotak-kotak berwarna biru yang tergeletak di lantai dekat sofa.
Joe berjalan mendekati kemeja itu dan memungutnya.
Joe memeriksa kemeja itu.Joe terperanjat ketika melihat kancing kemeja itu tampak lepas dengan paksa dan ada beberapa robekan di kemeja itu.
Pikiran Joe berlarian kemana-mana.
Kekhawatiran Joe semakin menjadi melihat kemeja itu.
"Hannah ?" Joe berlari ke arah dapur.Diatas meja hanya ada satu cangkir yang sudah kosong.Hannah tidak ada disana.
Di rumah yang hanya terdiri dari dua kamar tidur,satu ruang tamu dan ruang makan yang menyatu dengan dapur,pikiran Joe langsung tertuju pada kamar tidur Hannah.
Joe melangkah perlahan ke kamar tidur Hannah.
"Hannah ?" panggil Joe pelan di depan pintu kamar sambil mengetuknya.
Karena tidak ada sahutan juga akhirnya Joe membuka pintu itu pelan-pelan.Baru kali ini dia masuk ke kamar Hannah.Ada perasaan ragu dalam hati Joe namun dia menepisnya.
Pintu setengah terbuka dan Joe bisa melihat sebagian tubuh Hannah yang sedang terbaring diatas tempat tidur dengan terbalut selimut tebal.
Melihat pemandangan itu Joe langsung membuka pintu itu lebar-lebar dan melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur Hannah.
"Hannah ?" panggil Joe pelan.
Joe melihat Hannah tidur meringkuk dengan wajah pucat pasi.
Hannah menggeliat pelan ketika mendengar ada suara orang di dekatnya.Mata Hannah terbuka lebar dan sontak dia terduduk sambil memeluk selimut yang membalutnya tadi ketika melihat ada laki-laki yang berdiri tepat disamping tempat tidurnya.
Ekspresi Hannah begitu ketakutan.
"Hei...hei...ini aku Joe." kata Joe lirih seraya memegang bahu Hannah dengan tangan kirinya.Hannah berontak melepaskan tangan Joe dari bahunya dengan gerakan menghindar.
Hannah memperhatikan laki-laki dengan jas pas body yang berdiri di samping tempat tidurnya dengan seksama.
"Joe " ucapnya lirih.
Perlahan wajah tegang Hannah mulai berubah dengan ekspresi lega.
"Apa yang terjadi denganmu Hannah ? kau terlihat sangat berantakan." Joe prihatin melihat Hannah dengan rambut acak-acakan dan wajah pucat.
Hannah diam dan masih memeluk selimut tebalnya dengan erat.
"Apa kau sakit ?" tanya Joe.
Joe berniat memeriksa suhu tubuh Hannah dengan mengulurkan punggung tangannya ke dahi Hannah.Namun dengan cepat tangan Hannah menepisnya.
Joe mengernyitkan dahinya heran dengan reaksi Hannah.Tangan Hannah terasa panas saat menyentuh tangan Joe.
"Aku tidak bermaksud jahat.Aku hanya ingin memeriksa suhu tubuhmu."jelas Joe.
Lalu Joe mengulangi apa yang hendak dia lakukan tadi.Joe merasakan suhu tubuh Hannah sangat tinggi dan spontan Joe duduk di tepi tempat tidur Hannah.
Hannah masih diam tidak mau membuka suara.Joe menggenggam erat kemeja Hannah yang dia temukan di ruang tamu tadi.Joe menebak-nebak apa yang telah terjadi pada Hannah.Dan yang ada di pikiran Joe hanya satu.Mantan Suami Hannah.
"Kita ke dokter sekarang." ucap Joe seraya mengarahkan pandangan penuh iba pada Hannah.Dia mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang kemeja itu.
Hannah menggeleng pelan.Tatapannya kosong.
"Ayolah Hannah...kau ini sedang sakit." bujuk Joe.Tangannya masih menyembunyikan kemeja Hannah di belakang tubuhnya.
Hannah tetap menggelengkan kepalanya.Jelas sekali terlihat betapa terpukulnya Hannah.
Joe menghela nafasnya pelan.Lalu dia bertanya, " Apa kau sudah minum obat ?"
Hannah mengangguk.
"Kau pasti belum makan.Aku akan membelikanmu makanan." tambah Joe.
Joe beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar Hannah.Joe memutar tangannya yang menggenggam kemeja itu ke depan tubuhnya agar Hannah tidak melihatnya.