Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
PESAN SINGKAT



Joe merasa sangat iba melihat Hannah dalam kondisi seperti itu.Apalagi dia sudah mengetahui betapa menderitanya Hannah sebelum pindah ke kota itu.


"Aku janji akan segera mencarikanmu


rumah." batin Joe.


Hannah bangkit dari pelukan Eve.Dia menyeka air mata yang membanjiri wajahnya.


"Aku ke toilet dulu." pamit Hannah pada temannya itu.


Hannah berjalan memutar melewati Joe.Joe dan Eve hanya bisa memandang Hannah dengan tatapan iba.


"Kasihan sekali dia." ucap Eve.


"Aku meminta bantuan temanku yang punya bisnis properti.Mudah-mudahan dia bisa mencarikan rumah yang layak untuk Hannah." timpal Joe.


"Kau baik sekali Joe." Eve tersenyum.


"Oya semenjak pulang dari luar kota kau tidak pernah sarapan disini lagi.Apa jangan-jangan kau pulang membawa seorang istri yang setiap pagi menyiapkan sarapan untukmu." Eve mencurigai Joe.


Joe tertawa keras mendengar perkataan Eve.


"Jangan asal bicara !" kata Joe.


"Lantas kenapa tidak sarapan disini lagi ?" tukas Eve.


"Masakan mamaku lebih lezat daripada roti lapismu." jawab Joe sambil tertawa.


"Memangnya kemarin-kemarin Mamamu kemana sampai setiap hari sarapan disini ?" tanya Eve sedikit mengejek karena dia tidak tau cerita tentang Melly.


"Panjang ceritanya." tukas Joe.


Joe menyeruput capuccino nya.Hannah sudah kembali dari toilet.Mata Hannah masih terlihat merah karena menangis tadi.


"Sudah lebih baik ?" tanya Eve pada Hannah.


Hannah mengangguk.Meskipun dadanya masih terasa sesak.


Joe memeriksa pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya.Wajahnya berubah jadi serius.Kedua alisnya hampir menyatu.Keningnya mengkerut.


Dengan wajah kesal dia mengangkat ponselnya dan mulai membuat panggilan.


"Kalian bisa kerja tidak ?! Mengatasi masalah sepele begitu saja tidak becus !" Joe meninggikan suaranya.


Lantas dia menutup telponnya dengan kasar.


Eve dan Hannah melongo.Baru kali ini mereka melihat Joe begitu emosi.


Dari dalam kedai Eve dan Hannah bisa melihat Joe memundurkan mobilnya lalu berbelok dengan kecepatan tinggi meninggalkan kedai.


Suara ban yang berdecit pun terdengar sangat jelas dari dalam kedai.


"Serem juga melihat Joe seperti itu." komentar Eve.


"Maka jangan berani mencoba membuat dia marah." timpal Hannah.


"Sepertinya masalah yang serius." tambah Eve lagi.


*****


Hannah memeriksa ponselnya.Beberapa pesan singkat masuk diantaranya dari Nyonya Lee dan Melly.


Dua panggilan tidak terjawab dari Melly.


Lalu Melly meninggalkan pesan.


"Hannah sayang.....jumat malam nanti Tente ulang tahun.Datang ya!"


pesan dari Melly.


Hannah berdecak.Dia bingung harus datang apa tidak.


"Ada apa ?" tanya Eve.


"Tante Melly ulang tahun jumat nanti.Dia mengundangku." jawab Hannah.Tapi wajahnya menunjukkan ekspresi yang ambigu.


"Tante Melly yang kaya raya itu ?" Eve memastikan.Sebelumnya Hannah pernah bercerita tentang dirinya yang di undang makan malam dengan orang kaya bernama Melly.


Hannah mengangguk.


"Kau harus datang Hannah.Sepertinya Tante Melly ini orang yang baik." bujuk Eve.


"Tapi....yang hadir disana pasti orang-orang kaya semua.Sedangkan aku..." Hannah minder dengan keadaannya.


Eve mendekat pada Hannah.Eve menunjukkan wajah dewasanya yang serius.


"Sayang...jangan menyia-nyiakan kebaikan orang lain kepadamu.Datanglah kalau dia mengundangmu." saran Eve.


Hannah diam dan mencerna perkataan Eve.Dia pikir-pikir ada benarnya juga apa yang dikatakan temannya itu.Apalagi Melly sudah sangat baik pada Hannah.Meskipun baru kenal tapi Melly sangat baik terhadapnya.


"Kau benar Eve.Aku akan datang." kata Hannah kemudian.