Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
OBAT TIDUR



"Ajak.....tidak.....ajak....tidak....."


Joe mondar mandir di teras rumah Hannah.


Joe sengaja menunggu Hannah pulang kerja.


Hannah yang melihat sebuah mobil suv terparkir di jalanan depan rumahnya pun segera mempercepat langkah kakinya.


Rumah Hannah memang rumah yang sangat sederhana.Halamannya juga tidak luas.Jadi tidak ada cukup lahan untuk sekedar memarkirkan mobil.


"Sedang apa kau disini ?" Pertanyaan Hannah membuat Joe yang waktu itu berdiri membelakangi Hannah jadi terkejut.


Joe segera membalikkan badannya ketika mendengar suara Hannah yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.


"Kau ini.....mengagetkanku saja..." ucap Joe dengan raut wajah sangat terkejut.


Hannah tertawa melihat raut wajah temannya yang seperti itu.


"Kau kenapa....?" tanyanya masih dengan sedikit tawa.


Hannah memasukkan kunci ke lubang yang ada dipintunya.Dia membuka pintu itu lalu berkata pada Joe...


"Kau......tunggu disana..!Aku mau mandi." katanya sambil menunjuk kursi di teras rumahnya.


Joe melangkah mendekati kursi itu lalu duduk disana tanpa menjawab Hannah.


Setelah selesai mandi Hannah bergegas kembali ke teras dengan membawa dua gelas teh ditangannya.


Rambutnya tampak masih sedikit basah karena terkena air saat mandi.


Lantas dia duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi yang di duduki Joe setelah menaruh dua gelas tadi diatas meja.


"Ada apa tadi kau kemari ?" Hannah membuka percakapan.


"Eh....sabtu besok apa kau ada acara.?" tanya Joe ragu-ragu.


"Sepertinya tidak." Hannah menggelengkan kepalanya.


"Memangnya ada apa ?" tanyanya kemudian.


"Aku mau mengajakmu ke acara peresmian perpustakaan kota." ajak Joe masih dengan wajah ragu.


Hannah melirik ke arah Joe.Dia tampak berpikir.


"Hmmmm......Bisa tidak ya..." Hannah masih berpikir.


"Ayolah....apa kau tega melihat temanmu ini datang ke acara itu sendirian sedang yang lain membawa pasangannya masing-masing.Kau kan tahu aku tidak punya pasangan." rayu Joe dengan wajah memelas.


"Salah sendiri punya pasangan tapi di putusin.." tukas Hannah.


"Ayolah...." Joe masih berusaha merayu Hannah untuk mau ikut dengannya.


Hannah menghela nafas lalu berkata..


"Baiklah...." sambil memutar kedua bola matanya.


"Yess...!" Joe tampak begitu senang.


******


Sepulang dari rumah Hannah Joe tidak kemana-mana lagi.Dia langsung pulang ke rumahnya.


"Bi....apa Mama sudah pulang ?" Tanya Joe pada pembantunya.


"Belum Tuan...." jawab pembantu Joe dengan menundukkan kepalanya.


Dirumah besar itu Joe tinggal dengan mamanya dan beberapa pembantu saja.


Papa Joe sudah meninggal.Dan semenjak Papanya meninggal,hubungan Joe dan mamanya jadi agak jauh.


Mamanya jadi jarang di rumah.Selalu berpesta,jalan-jalan ke luar negeri atau sekedar shopping yang kadang bisa memakan waktu seharian.Oleh karena itu mereka jadi jarang berbicara satu sama lain.


Melly (mamanya Joe) memang sangat mencintai Hendrik (papanya Joe).Bagi Melly rumah itu selalu mengingatkannya akan kenangan mendiang suaminya.


Meskipun Melly selalu bersenang-senang untuk melupakan kesedihannya,namun ketika dia ada di rumah dia jadi sering menangis mengenang mendiang suaminya itu.


Tak jarang Joe melihat mamanya itu menangis sesenggukan di ruang kerja papanya sambil memeluk erat foto papanya.Meskipun rumah itu selalu membuat Melly sedih tapi Melly enggan untuk pindah.Karena rumah itu meninggalkan begitu banyak kenangan untuk Melly.


Joe merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan sembarangan.


"Aku merindukanmu Ma...." ucap Joe lirih.


Sebenarnya Joe merasa sangat kesepian.Dulu sebelum papanya meninggal, dia dan mamanya begitu dekat.Bahkan kadang mamanya masih suka menyuapinya makan meskipun Joe sudah dewasa.


Tapi semenjak kepergian papanya, semua kedekatan itu seakan sirna.


Tidak ada lagi pelukan hangat penuh kasih.Tidak ada lagi senyuman lembut yang selalu menenangkan hati.


Joe pun sebenarnya sangat terpukul.Tapi dia harus segera bangkit karena sebagai anak Hendrik satu-satunya dia harus menggantikan papanya mengurus perusahaan-perusahaan milik papanya itu.


Sudah lewat tengah malam dan Joe masih terjaga dari tidurnya saat dia mendengar suara mobil memasuki garasi rumahnya.


Melly baru pulang dari liburannya ke luar negeri.


"Bawakan barang-barang saya ke kamar." suruh Melly pada pembantunya.


"Baik Nyonya." jawab pembantu itu.


Dua orang pembantu segera mendekati dua koper dan satu paper bag besar yang baru diturunkan dari bagasi mobil oleh supir.


Suara heels sepatu Melly yang beradu dengan lantai terdengar hingga ke dalam kamar Joe.


Joe membuka sedikit pintu kamarnya.


Diluar kamar tampak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan balutan mantel bulu tebal berwarna hitam sedang berjalan menuju ke sebuah kamar besar di rumah itu.


Joe menutup kembali pintu kamarnya.Dia lega setidaknya Melly pulang dalam keadaan baik-baik saja karena sudah dua minggu Melly pergi berlibur tanpa ada komunikasi sama sekali dengan Joe.


Dikamar Melly


Wanita itu melepas lelahnya dengan segera membenamkan diri dalam air hangat di kamar mandinya.


Selesai mandi Melly mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Melly duduk di depan cermin besar yang ada di kamarnya dan menatap wajahnya sendiri di dalam cermin.


Tak terasa air matanya mulai menetes membasahi pipinya.


Melly segera menyeka air mata itu dengan tangannya.


Dia beranjak menuju tempat tidurnya.Dia duduk di tepi kasur lalu meraih botol obat yang ada di meja sebelah tempat tidurnya.


Dia ambil satu butir pil dari dalam botol itu dan menelannya dengan seteguk air putih yang sudah tersedia juga di meja itu.


Semenjak kehilangan suaminya, Melly hampir setiap malam mengkonsumsi obat tidur hanya agar dia bisa tidur dengan nyenyak.


Tak lama kemudian Melly sudah jauh terlelap dalam tidurnya.