Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
MANTAN SUAMI



Joe masih memperhatikan Hannah yang tampak begitu marah,kecewa, dan sedih.


Perlahan Hannah membuka matanya.Tangan lembutnya bergerak menyeka air mata yang masih menetes dari ujung matanya.


"Aku sudah lelah." ucap Hannah lirih.Bahkan Joe hampir tidak bisa mendengarnya.


"Kau bisa cerita padaku Hannah." Joe menggeser duduknya lebih dekat dengan Hannah.


Hannah berusaha terlihat tegar.Dengan mata yang basah dan memerah dia memandang kedua mata Joe.Namun lagi-lagi buliran air mata kembali berjatuhan dari mata sendu itu.


"Sudah cukup dia membuatku menderita ! Kalau dia menginginkan rumah ini aku akan berikan padanya!" Hannah sangat geram dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Joe meraih tangan Hannah dan menggenggamnya.Joe berusaha menjadi pendengar yang baik.Dia membiarkan Hannah mengeluarkan semua kekalutannya.


"Kenapa dia selalu mengusikku.Aku hanya ingin hidup tenang jauh darinya." Hannah menangis sesenggukan.


Joe pun tak kuasa menahan dirinya.Dia menggeser duduknya lebih dekat dengan Hannah dan menyandarkan kepala Hannah di bahunya.Dia tidak tega melihat Hannah yang seperti itu.


"Kau bisa percaya padaku." ucap Joe lirih.


Hannah pun menangis sejadinya di bahu Joe sampai-sampai kemeja Joe jadi basah karena air mata Hannah.


Setelah agak tenang Hannah mengalihkan kepalanya dari bahu Joe dan menyeka air mata di kedua matanya dengan kedua tangannya.


"Aku bukan gadis lemah yang dia kenal dulu.Dia menginginkan rumah ini maka aku akan berikan.Tapi dia tidak bisa semudah itu menghancurkanku." kata Hannah dengan begitu yakin.


"Dia siapa Hannah ?" tanya Joe pelan.


Hannah menghela nafas dalam-dalam.Sebenarnya dia enggan untuk bercerita.Tapi rasa kesal di hatinya yang begitu memuncak membuat Hannah tidak bisa menahannya lagi.


"Mantan suamiku." jawab Hannah lirih.


Joe sangat terkejut dengan jawaban Hannah.Tapi dia berusaha untuk tetap diam dan mendengarkan apa yang akan Hannah katakan.


"Dia adalah pemilik perusahaan dimana Ayahku bekerja.Setelah kedua orang tuaku meninggal dia menikahiku." Hannah tersenyum kecut di sela ceritanya.


"Dia dengan mudah membodohiku.Disaat aku tidak punya tempat untuk bersandar dia datang dan menawarkan kebahagiaan padaku.Dan dengan begitu bodohnya aku menerima lamarannya." Hannah tertawa lagi.Mentertawakan dirinya sendiri.Tapi matanya berkaca-kaca.


"Sifat aslinya terlihat setelah kami menikah.Dia ambil semua aset Ayahku.Selama tiga tahun dia menyiksaku.Bahkan orang tuanya juga memperlakukanku seperti sampah." ucap Hannah berapi-api.Dia tak kuasa menahan air matanya lagi.


"Tapi sekarang.....dia muncul dan mau merampas rumah ini juga." Mata Hannah menyiratkan kebencian yang dalam.


"Aku akan membantumu Hannah.Aku akan carikan pengacara terbaik di kota ini untukmu." tawar Joe.


Hannah tersenyum kecut sambil menundukkan kepalanya.


"Percuma! Dia sudah merubah sertifikat tanah ini atas namanya." tukas Hannah.


"Setidaknya kita berusaha dulu....." Joe belum lagi menyelesaikan ucapannya,Hannah sudah menyela.


"Aku bilang tidak! Biarkan dia ambil rumah ini." Hannah memotong ucapan Joe.


Joe seketika diam.Dengan kondisi Hannah yang seperti itu Joe tidak ingin memaksanya.


"Berjanjilah padaku...kalau kau butuh bantuan....apapun itu kau akan bilang padaku." Joe menggenggam tangan Hannah dengan erat.


"Terima kasih untuk tawarannya." ujar Hannah.


Joe menemani Hannah untuk beberapa waktu.Dia tidak ingin meninggalkan temannya dalam keadaan kalut seperti itu.


"Sudah hampir gelap sebaiknya kau pulang." suruh Hannah pada Joe.


Joe melihat jam warna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Dan diluar memang sudah hampir gelap.


"Hannah aku mau kau berjanji padaku.Jangan lakukan hal konyol apapun yang bisa merugikan dirimu sendiri." pesan Joe sebelum dia meninggalkan Hannah sendirian.


"Kau tenang saja.Aku tidak sebodoh itu." jawab Hannah ketus.Joe memaklumi sikap Hannah yang seperti itu.


"Kalau begitu aku pulang dulu."Pamit Joe.


Hannah hanya mengangguk.Joe segera beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu.Sebelum keluar dari pintu Joe berhenti melangkah dan membalikkan badannya.


"Hannah....pertimbangkanlah tawaranku tadi." kata Joe.Lalu dia melanjutkan lagi langkahnya untuk pulang.