
Dirumah Hannah memandangi jas abu-abu milik Mike yang tergantung di kamarnya.
"Aku harus mengembalikan jasmu kemana Tuan...?!" Hannah jadi gemas mengingat si Tuan tampan yang membuatnya berlari di jalanan itu.
Hannah tidur tengkurap di kasurnya yang tidak terlalu lebar.Matanya masih memandangi jas Mike.Dan lagi-lagi Hannah tidak bisa menahan senyumnya.
"Oya....bukankah Joe mengenal orang itu.Aku pernah melihat mereka mengobrol." Hannah mengingat-ingat.
"Apa aku tanya Joe saja ya.Tapi bagaimana aku menanyakannya.Namanya saja aku tidak tau." wajah Hannah tampak kecewa.
Ponsel Hannah berdering di tengah lamunannya tentang Mike.
Ternyata itu panggilan dari Joe.
Hannah langsung menjawabnya.
"Hallo Joe." sapa Hannah.
"Hallo Hannah.Tadi kau menelponku ada apa ?" tanya Joe dari balik ponsel.
"Kau tidak datang ke kedai beberapa hari ini.Eve mengkhawatirkanmu."jawab Hannah.
"Owh....aku sedang di luar kota mengurus pembukaan cabang baru.Apa hanya Eve yang mengkhawatirkanku ?" Joe berharap Hannah juga mengkhawatirkannya.
"Maksudmu apa ? " Hannah tertawa mendengar pertanyaan konyol temannya itu.
"Maksudku.....apa kau tidak mengkhawatirkanku seperti Eve? Ha...ha...ha..." Joe ikut tertawa.
"Kapan kau pulang ?" Hannah balik bertanya.
"Mungkin dua minggu lagi.Aku harus memastikan cabang yang baru ini bisa berjalan dengan baik." terang Joe.
Mereka mengobrol via telpon cukup lama.Joe adalah teman bicara yang nyaman menurut Hannah.Apalagi dengan kedekatan mereka sejauh ini Joe sangat sopan terhadap dirinya.Maka dari itu Hannah juga merasa nyaman berteman dengan Joe.
Awalnya Hannah takut berteman dengan Joe.Tentu saja karena Harry benar-benar membuat Hannah trauma dengan yang namanya laki-laki.
Tapi karena sifat Joe yang supel dan sangat mudah bergaul lama kelamaan Hannah mulai bisa membuka pikirannya kalau tidak semua laki-laki seperti Harry.Meskipun begitu Hannah masih membatasi diri.Harry yang awalnya sangat baik kepadanya saja bisa berubah drastis menjadi sangat kasar.Hannah masih mempunyai ketakutan kalau Joe bisa saja seperti Harry.
*****
Keesokan harinya Hannah kedatangan seorang tamu di rumahnya.
Tok...Tok...Tok...!
Hannah bergegas hendak membuka pintu setelah mendengar ketukan pintu.
Hannah mengintip dari jendela siapa gerangan yang bertamu ke rumahnya.
Dari balik jendela Hannah melihat sebuah mobil mewah berwarna putih.
Lalu Hannah membuka pintu rumahnya.
"Nyonya ?" Hannah terkejut ternyata yang mengetuk pintu adalah Melly.
"Hannah." sapa Melly sambil melepas kacamata hitam mewahnya.
Hannah mematung karena tidak mengira wanita yang dia bantu beberapa hari lalu mau berkunjung lagi kerumahnya.
"Boleh saya masuk ?" pertanyaan Melly menyadarkan Hannah untuk segera mempersilahkan tamunya itu masuk.
"E...ma-maaf Nyonya.Silahkan masuk." kata Hannah yang lalu melebarkan pintunya untuk Melly.
"Maaf rumah saya jelek dan kecil." imbuh Hannah yang lalu mempersilahkan Melly untuk duduk di sofa ruang tamu.
Melly duduk di sofa itu.Matanya melihat sekeliling ruangan yang luasnya hanya seluas kamar mandi di rumahnya itu.
"Tidak apa-apa." ucap Melly sambil tersenyum.
"Saya buatkan minum untuk Nyonya dulu ya." Hannah jadi salah tingkah.Lalu dia pergi ke dapur untuk membuatkan Melly minuman.
Hannah kembali dengan membawa nampan berisi secangkir teh dan piring berisi kue kacang.
Hannah meletakkan isi nampan itu diatas meja.
"Terima kasih.Tidak perlu repot-repot Hannah." timpal Melly.
Hannah mendudukkan badannya di sofa.Hannah masih tidak mengira kalau Melly akan benar-benar berkunjung kerumahnya.
Melly menyeruput teh yang dibuatkan Hannah.Cara wanita itu duduk dan minum benar-benar mencerminkan kalau dia adalah orang yang berkelas.
"Maaf kalau Nyonya merasa kurang nyaman.Saya tidak mengira Nyonya benar-benar mau berkunjung kerumah saya." kata Hannah.
Melly meletakkan cangkir teh itu pelan-pelan.
"Sudah jangan sungkan.Dan jangan panggil saya Nyonya." kata Melly dengan senyum hangatnya.
"Lantas saya harus panggil anda apa Nyonya ?" dengan polosnya Hannah bertanya.
"Panggil saja Tante." jawab Melly.
"Baik Tante." saut Hannah agak canggung.
Melly memandang gadis di hadapannya itu dengan seksama.
"Kau manis sekali Hannah." kata Melly kemudian.
Hannah hanya membalasnya dengan senyum simpulnya.Dan itu benar-benar membuat Hannah jadi canggung.Bahkan berkali-kali Hannah menggeser duduknya.
Melly menggeser duduknya mendekat pada Hannah.Parfum elegan wanita itu seakan mengisi seluruh ruangan.
"Hannah....Tante mau berterima kasih padamu." tutur wanita yang sudah berumur tapi masih terlihat muda itu.
"Kemarin kan Tente sudah berterima kasih." tukas Hannah.
Melly tersenyum lalu tangan kanannya meraih tangan Hannah dan menggenggamnya.
"Bukan itu."kata Melly.
"Tapi karena kau sudah membuat Tante sadar akan pentingnya sebuah keluarga." imbuh Melly.
Hannah mengernyitkan dahinya.Dia masih belum memahami maksud wanita itu.
"Begini....dua tahun lalu suami Tante meninggal karena serangan jantung.Dan sejak saat itu Tante sangat terpukul.Tante selalu menghabiskan waktu untuk melupakan kesedihan dengan bersenang-senang dan liburan.Karena suasana di rumah selalu mengingatkan Tante dengan mendiang suami Tante.Tante bahkan tidak memikirkan perasaan anak Tante karena hanya sibuk dengan kesedihan Tante.Tapi berkat dirimu,Tante sadar kalau anak Tante pun merasakan kehilangan yang amat dalam seperti Tante.Dan tidak sepantasnya Tante bersikap egois." mata Melly berkaca-kaca.
"Tante...." Hannah menggenggam balik tangan Melly.
"Ah sudah....Tante tidak mau bersedih lagi.Dan Tante ingin menebus kesalahan Tante pada anak Tante." Melly menyeka air mata yang sempat menetes dari ujung matanya.
"Apa kau bekerja Hannah ?" Tanya Melly yang tidak ingin larut dalam sedihnya.
"Iya Tante.Saya bekerja di kedai kopi dekat taman kota." jawab Hannah.
"Apa maksudmu kedai milik Tuan Lee ?" Tanya Melly.
"Iya Tante.Tante kenal dengan Tuan Lee ?" Hannah penasaran.
"Tentu saja Tante kenal.Karena Tuan Lee lah yang menjodohkan Tante dengan mendiang suami Tante." Melly menerawang mengingat bagaimana awal hubungannya dengan Hendrik.
Hannah ikut tersenyum dengan cerita Melly.
Merekapun berbincang banyak hingga tak terasa satu jam sudah Melly berada di rumah Hannah.
"Kapan-kapan mainlah ke rumah Tante." pinta Melly.
"Tapi saya tidak tau dimana rumah Tante." saut Hannah.
"Nanti biar sopir Tante yang menjemputmu." tukas Melly.
"Boleh Tante minta nomor telponmu Hannah?" imbuh Melly.
"Boleh Tante." Hannah mendikte nomor ponselnya pada Melly.Dan mereka bertukar nomor ponsel.
Tak lama setelah itu Melly pamit pulang.
Hannah mengantarkan sampai depan pintu.