Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
PERESMIAN PERPUSTAKAAN (part 1)



Sabtu malam pun tiba.Hannah terlihat sedang sibuk memilih milih dress untuk dia pakai di acara peresmian perputakaan kota.


"Yang mana ya...." Hannah mengambil tiga dress terbaik yang dia miliki dari lemarinya.


"Coklat....merah...atau soft pink...." Hannah masih bingung mau pakai yang mana.


"Yang ini sepertinya bagus." Hannah mengambil dress warna merah lalu memakainya.


Dia memutar tubuhnya di depan cermin.


Wajahnya nampak kecewa melihat bayangan dirinya dalam cermin.


"Terlalu mencolok..." gerutu Hannah.


Lalu dia ambil dress warna soft pink dari atas tempat tidur.


Dia melepas dress merah dan menggantinya dengan dress warna soft pink.


"Bagus...." Hannah tersenyum melihat bayangannya sendiri.


Dia merubah gaya rambutnya jadi curly gantung dan riasan wajah yang natural.Dipadukan dengan dress panjang warna soft pink membuat penampilannya begitu mempesona (Menurut Hannah).


Hannah sudah menunggu Joe untuk menjemputnya.


Suara mesin mobil Joe sudah terdengar di depan rumah Hannah.


Joe turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke halaman rumah Hannah.


Perlahan Joe mengetuk pintu rumah itu.


"Hannah...!" panggil Joe seraya mengetuk pintu.


Hanya butuh satu kali ketukan dan Hannah sudah muncul dari balik pintu.


Hannah muncul sambil menundukkan kepalanya dan tersenyum malu.Dia malu dengan penampilannya waktu itu.


Namun hal lain dirasakan oleh Joe.Joe merasa orang yang muncul dari balik pintu itu seperti seorang bidadari.Sampai-sampai mulut Joe ternganga karena kagum dengan penampilan Hannah.


Lidahnya seakan mati rasa.


"Joe....Dandananku aneh ya ?" Hannah menjadi panik karena melihat reaksi Joe yang seperti sedang melihat orang aneh di hadapannya.


Joe gelagapan dengan pertanyaan Hannah.


"Oh....Ti-tidak...tidak aneh kok.Tapi kamu sangat cantik..." ucap Joe sambil berusaha menahan dirinya agar tidak terlalu kelihatan kalau dirinya juga terkejut dengan perubahan penampilan Hannah.


"Benar aku tidak terlihat aneh..?" Hannah masih meyakinkan dirinya.


"Kamu sangat cantik dengan model rambut seperti itu.Aku hampir tidak mengenalimu." Joe memuji Hannah.


Hannah tersenyum malu lalu keluar dari pintu dan segera mengunci pintu rumahnya.


"Ayo buruan berangkat sebelum aku berubah pikiran." ajak Hannah yang berjalan mendahului Joe.


"Silahkan Nona Moore..!" Joe membukakan pintu mobil untuk Hannah.


"Apa sih..." Hannah tersenyum kecut lalu masuk ke dalam mobil Joe.


Entah mengapa suasana di dalam mobil jadi sangat canggung.


Bahkan Joe kedapatan beberapa kali melirik Hannah.


"Kenapa diam saja..?" Hannah berusaha membuka pembicaraan.


"Entahlah....rasanya aku semobil dengan orang asing." saut Joe sambil melempar senyum.


"Kok orang asing ?" Hannah cemberut.


"Maksudnya.....aku sampai hampir tidak mengenalimu." jelas Joe sambil melirik Hannah.


"Owh....." Hannah masih cemberut.


Joe hanya tersenyum melihat wajah cemberut Hannah.


Sesampainya di tempat peresmian Joe mengajak Hannah untuk masuk ke dalam perpustakaan.


Hannah terlihat sangat gugup ketika memasuki beberapa petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk.


Joe yang melihat Hannah begitu gugup langsung berinisiatif menggandeng tangan Hannah.


"Ayo." ajak Joe sambil meraih tangan Hannah.


Hannah mengangguk pelan lalu mengikuti langkah kaki Joe masuk ke dalam perpustakaan.


Mata Hannah seolah tak henti menjelajah setiap buku yang tertata rapi dalam rak di tepi ruangan itu.


"Luas sekali...." gumam Hannah.


Hannah juga memperhatikan beberapa tamu undangan yang sudah hadir terlebih dahulu disana.


Mereka sepertinya orang-orang penting di kota ini.Sangat terlihat dari gaya berpakaian mereka yang tampak elegan.


Para wanita yang hadir juga tampak mengenakan gaun-gaun mahal.Membuat Hannah menjadi minder.Seolah dirinya terlihat seperti sebutir pasir diantara ratusan mutiara.


Joe dan Hannah mengambil tempat duduk di barisan kedua.Baru beberapa orang saja yang duduk di barisan itu.


"Joe....aku takut."Bisik Hannah.


"Kau takut kenapa ?" tanya Joe.


"Entahlah....sepertinya ini bukan lingkungan yang cocok denganku." bisik Hannah lagi.


Joe meraih tangan Hannah dan menggenggamnya.


"Jangan takut.Ikuti alurnya saja." kata Joe.