
Mike mengerjapkan matanya perlahan.Kepalanya terasa sangat berat.Seluruh tubuhnya terasa sakit.Dengan perban yang membalut kepala dan pangkal hidung yang semburat merah kebiruan membuat kondisi Mike terlihat sangat menyedihkan.
Pantulan cahaya putih serasa menusuk saat ia mencoba untuk membuka matanya.Dengan berlindung dibalik punggung tangannya Mike mencoba membuka mata kembali.
Mike mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil menyipitkan matanya.
Dimana aku ? Apa yang terjadi ?
Mike belum menyadari kejadian apa yang baru saja dia alami.
Lalu pandangan Mike berhenti pada sosok seseorang yang sedang berdiri di samping ranjang sambil menggenggam erat tangannya.
"Sayang....kau sudah siuman ?" Suara lembut seseorang yang masih tampak buram di mata Mike.
"Hannah ?" Suara lemah Mike yang nyaris tidak bisa di dengar menyebut nama seseorang.
"Ini Mama Sayang....syukurlah kau sudah siuman.Mama sangat khawatir." Emma mengusap lembut wajah Mike.
Raut wajah Mike berubah kecewa saat dia bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang berdiri di sampingnya.
Mike memegang kepalanya yang masih terasa sakit.Saat dia merasakan ada benda yang menempel di kepalanya, Mike berusaha untuk membuang benda itu karena merasa risih.Namun dengan cepat tangan Emma menghentikan gerakan tangan Mike.
"Kepalamu terluka Sayang." Kata Emma.
Setelah mendengar perkataan Emma,Mike baru ingat kalau mobil yang dia kendarai mengalami kecelakaan.Dan itu membuatnya teringat dengan luka yang baru saja tertoreh di hatinya.Bahkan rasa sakit di tubuhnya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
Gagal melepaskan perban dari kepalanya, kini Mike mencoba untuk bangkit dari posisi berbaringnya.
Kali ini Jhon yang dengan cepat menahan tubuh Mike agar tidak banyak bergerak.
"Jangan banyak bergerak dulu Nak.Tubuhmu masih lemah." Kata Jhon.
Menyadari kondisinya yang sangat lemah Mike akhirnya menyerah.Memaksa pun tubuhnya tidak akan kuat.
"Papa dan Mama sangat khawatir denganmu Nak.Lihatlah Isabel....matanya sampai bengkak karena menangis." Kata Jhon dengan Isabel yang berdiri di sampingnya.
Mike sama sekali tidak merespon.Dia hanya diam dengan tatapan kosong.
"Sayang...apa kau membutuhkan sesuatu ?" Tanya Emma.
Tapi Mike tetap tidak bergeming.Dia masih diam seribu bahasa.
Kenapa aku masih hidup ?
Mike begitu putus asa karena kekecewaan yang dia rasakan begitu mendalam.
Emma,Jhon dan Isabel memandang heran pada Mike.Tidak biasanya Mike bersikap seperti ini.
"Tinggalkan aku sendiri !" Seru Mike dengan suara lemahnya.
Emma memandang suaminya dengan tatapan penuh tanya.Lalu Jhon memberi isyarat untuk menuruti keinginan putranya itu.Mungkin Mike masih syok karena kecelakaan itu.
"Baiklah.Kami ada diluar kalau kau membutuhkan sesuatu." Emma mencium kening Mike lalu mereka bertiga beranjak dari ruangan itu.Meninggalkan Mike seorang diri.
Suasana dalam ruangan itu begitu hening sepeninggal keluarganya.Mike memejamkan kedua matanya.Rasa sesak memenuhi seluruh hatinya.
Lagi-lagi kata-kata Joe yang menyatakan dia adalah calon suami Hannah terngiang dengan jelas di telinga Mike.Dengan tubuh yang begitu lemah Mike masih bisa merasakan amarah menjalar ke seluruh tubuhnya.Kekecewaan yang perlahan-lahan bisa membunuhnya.
Tak lama berselang derap langkah terdengar mendekati ruangan Mike.Suara heels yang beradu dengan lantai terdengar begitu nyaring hingga ke dalam ruangan.
"Dia sedang ingin sendiri !" Suara Emma sedikit berteriak.Namun tidak dihiraukan.
Jessica masuk ke dalam ruangan dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal.Perlahan dia mendekati ranjang Mike.Melihat kondisi Mike seperti itu benar-benar membuatnya sedih.Air mata mulai membanjiri pipi gadis berparas ayu itu.
"Kenapa bisa begini Mike ?" Tanya Jessica dalam isakan tangisnya sambil menggenggam tangan Mike.
Mike hanya melirik Jessica dengan tatapan dingin.Dia sama sekali tidak menjawab.Bahkan dia tidak berharap Jessica berada disana.Karena saat ini dia hanya butuh sendiri.
Sementara itu di lobi rumah sakit dua orang setengah berlari menuju ke bagian informasi.
Setelah mendapatkan informasi yang mereka inginkan, mereka kembali setengah berlari menuju ke tempat yang dituju.
Hingga mereka sampai di depan pintu sebuah ruangan dimana tiga orang sedang duduk di kursi tunggu depan ruangan itu.
"Paman bagaimana kondisi Mike ?" Tanya Joe yang sangat khawatir.
"Dia kehilangan banyak darah.Untungnya dia segera dilarikan ke rumah sakit jadi masih bisa di selamatkan.Hanya saja kondisinya sekarang masih sangat lemah."
Jawaban Jhon itu membuat gadis yang berdiri di samping Joe semakin cemas.Pasalnya semenjak mendapat kabar tentang kecelakaan Mike dia hanya bisa mencuri tangis.Karena dia tidak ingin Joe mengetahui rasa khawatirnya yang amat sangat.
Jhon menghela nafas.
"Masuklah." Mungkin dengan kedatangan teman-temannya Mike bisa merasa sedikit lebih baik.Pikir Jhon.
Joe dan Hannah melangkah masuk ke dalam ruangan.Dari dalam ruangan itu terdengar isakan tangis yang tak lain adalah Jessica.Melihat Jessica yang tampak begitu sedih membuat Hannah ragu untuk melanjutkan langkahnya.Bahkan dia sempat berpikir untuk mundur.
Tapi tidak dipungkiri kalau Hannah sangat khawatir dengan kondisi Mike.Dia ingin melihat sendiri keadaan Mike.
Hannah berjalan di belakang Joe.Hingga mereka sampai di tepi ranjang Mike bersebelahan dengan Jessica.
"Hei Buddy ! Aku dengar kau menghancurkan taman yang bahkan belum selesai di bangun." Joe menyelipkan candaan pada sapaannya dengan maksud agar Mike terhibur.
Tapi reaksi Mike sungguh diluar dugaan.Jangankan tersenyum.Dia sama sekali tidak bergeming dari diamnya.
Lalu pandangan Mike beralih pada seseorang dibelakang Joe yang terlihat menggeser posisi berdirinya.
Seorang gadis dengan raut wajah sedih dan dengan mata berkaca-kaca.Gadis itu terlihat mengusap air mata yang bahkan belum sempat menetes di pipinya.
Mike memejamkan mata sejenak lalu memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dengan ketiga orang yang ada disana.
"Tinggalkan aku sendiri !" Seru Mike masih dengan suara lemahnya.
Joe dan Jessica saling pandang.Tanpa pembicaraan mereka seolah sudah sepakat untuk melakukan hal yang sama.
"Baiklah.Kami akan meninggalkanmu sendiri." Ucap Jessica.
Lalu Jessica dan Joe berbalik dan berjalan meninggalkan ranjang Mike.
Hannah masih mematung di tempatnya berdiri tadi.Dia sangat sedih,hatinya begitu hancur melihat kondisi Mike yang terlihat tidak berdaya.Air matanya meleleh.Ingin sekali rasanya Hannah memeluk tubuh laki-laki yang sedang terbaring lemah itu.Namun Hannah merasa Mike bahkan tidak menginginkan kehadirannya di sana.
Hannah berbalik dan mengikuti langkah Joe dan Jessica.
Mike menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara pintu itu tertutup.
Kehadiran Joe bersama Hannah benar-benar menyiksanya.Mike merasa sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.
Sementara itu diluar ruangan mereka masih berkumpul.
"Aku ingin pulang." Bisik Hannah pada Joe.Dia merasa tidak nyaman melihat Jessica bisa akrab dengan Emma dan Isabel.Entah mengapa itu membuat dadanya terasa sesak.
"Baiklah."
Joe lalu berpamitan pada mereka untuk segera pulang.
"Kak Hannah !" Teriakan Isabel menghentikan langkah kaki Joe dan Hannah yang sudah beberapa meter meninggalkan ruangan itu.
Joe dan Hannah menoleh bersamaan.
"Aku akan menunggumu di depan." Kata Joe lalu meninggalkan Hannah disana.
Isabel berlari ke arah Hannah dan memeluknya dengan erat lalu terdengar isak tangis dalam pelukan itu.
Kenapa Isabel seperti ini ?
Hannah yang belum memahami maksud Isabel segera membalas pelukan gadis itu dan mengusap punggungnya dengan lembut.
"Kak Hannah jangan pergi ! Kakak disini saja menemani Kak Mike !" Pinta Isabel.
Hannah melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Isabel.
"Disini kan sudah ada kalian yang akan menjaga Kak Mike dengan baik."
"Isabel merasa bukan hanya luka fisik yang Kak Mike rasakan Kak.Isabel yakin kalau Kak Hannah disini Kak Mike akan segera pulih." Rengek Isabel.
Hannah menghela nafas pelan.Tetap menjaga agar air matanya tidak tumpah.
"Maksudmu karena sikap Kakakmu tadi ?" Hannah berusaha tersenyum.
"Sayang....Kakakmu itu orang yang kuat.Dia pasti cepat pulih.Apalagi disini ada kedua orang tuamu dan Kak Jessica juga.Kau menyayangi Kakakmu kan ? Dengan perhatian dan kasih sayang kalian, Kakak yakin Kak Mike pasti segera sembuh." Hannah berusaha menenangkan Isabel.
Isabel mengangguk.
"Ya sudah....Kakak pulang dulu ya." Pamit Hannah sambil mengacak rambut Isabel.
Hannah berbalik dan berjalan meninggalkan Isabel.Seketika itu air matanya tidak terbendung lagi.