Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
TERLAMBAT



Di rumah Melly para tamu undangan sudah mulai berdatangan.Mereka terlihat begitu elegan dengan barang-barang branded melekat ditubuh mereka.


Melly sibuk menyalami para tamu yang hadir.Joe berada di samping Melly untuk mendampingi mamanya.Kalau semasa Papanya masih hidup mereka akan berdiri bertiga menyalami tamu.Kini hanya mereka berdua yang mengembangkan senyuman untuk para tamu undangan.


Dari kejauhan tampak seorang gadis cantik dengan gaun seksi yang indah berwarna merah sedang berjalan mendekat pada Melly dan Joe.Sepatu merah dengan heels yang tinggi senada dengan gaunnya sedang beradu dengan lantai.Senyum sumringah penuh kebahagiaan mekar di wajah gadis itu.Senyum kemenangan karena diundang langsung oleh yang punya hajat.Siapa lagi kalau bukan Jenny.Dia merasa bangga dan merasa diakui oleh Melly sebagai kekasih putranya.


"Selamat ulang tahun ya Tante.Semoga kebaikan selalu menyertai Tante." ucap Jenny sambil cium pipi kanan kiri pada Melly.


"Terima kasih ya Sayang." balas Melly.


"Jenny ada hadiah kecil untuk Tante." Jenny memberikan kado dengan bungkus warna merah kepada Melly.


Melly menerima kado itu sambil tesenyum dan berterima kasih.


"Joe..."


Jenny beralih pada Joe yang ada di samping Melly.Jenny bersalaman dan hendak mencium pipi Joe.Tapi Joe dengan sadar langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Jenny.


Seketika wajah Jenny berubah geram.Dia malu dan kecewa karena Joe menolaknya.


"Silahkan menikmati pestanya." kata Joe sambil melepaskan tangan Jenny yang dari tadi menjabat tangannya dan tak kunjung melepaskannya.


Jenny terlihat begitu kesal dengan sikap Joe.Tapi dia berusaha untuk tetap tampil cantik karena dia memang menomor satukan kecantikannya.


"Maafkan Mama ya Sayang.Mama sudah mengundang Jenny ke ulang tahun Mama." Melly menggenggam tangan kiri anaknya setelah Jenny menjauh dari mereka.


"Tidak apa-apa Ma." Joe tersenyum.


"Lagipula Hannah tidak akan ada disini.Jadi tidak masalah kalau Jenny datang." batin Joe.


***


Acara inti akan segera di mulai.Tapi Melly masih tampak gelisah.Seperti masih menunggu seseorang.


"Ma...acaranya akan segera dimulai.Kenapa Mama tampak gelisah ?" Joe memperhatikan air muka mamanya.


"Masih ada satu tamu Mama yang belum hadir Sayang." jawab Melly.


"Mungkin dia berhalangan untuk hadir Ma." Joe berusaha menenangkan.


"Tidak Sayang....dia sudah dalam perjalanan dari tadi.Tapi sampai sekarang belum datang.Mama jadi khawatir." Guratan kekhawatiran tergambar jelaa di wajah Melly.


"Memangnya siapa tamu yang Mama tunggu ?" Joe berpikir apa jangan-jangan mama sudah menemukan pengganti papa.Oh tidak....Joe belum siap dengan hal itu.


"Eh...dia...." belum juga Melly melanjutkan kalimatnya ponsel Melly berdering tanda panggilan masuk.


"Maaf Nyonya.....Nona Hannah akan sedikit terlambat.Kami terjebak macet karena ada kecelakaan." kata orang dari seberang telpon.


"Oke.Usahakan sebelum acara berakhir dia sudah sampai disini." Melly tenang meskipun Hannah akan terlambat.


"Baik Nyonya." Sopir itu mengakhiri panggilannya.


Joe semakin dibuat penasaran dengan tamu Melly yang satu ini.Namun dia memendam keingintahuannya itu untuk dia tanyakan nanti setelah ada waktu longgar.


Melly pun melanjutkan acaranya meski tanpa Hannah.Padahal Melly sudah merencanakan sesuatu pada acara inti itu.Tapi ternyata keadaannya tidak sesuai yang dia harapkan.


***


Di dalam mobil.


"Maaf Nona sepertinya kita akan sedikit terlambat." kata sopir itu dengan sopan.


"Di depan ada apa ya pak ? kenapa macet begini ?" Hannah mencoba melihat kedepan menembus kaca mobil.


"Kecelakaan Nona."


"Owh...." Hannah mengalihkan pandangan keluar kaca jendela.Dia berharap ketika dia sampai disana acara sudah selesai.Jadi dia tidak perlu bertemu dengan orang-orang dari kalangan atas yang bisa saja membuat dirinya terlihat hina.


"Nona....kenapa Anda terlihat gelisah ?" pak Eddy bisa membaca wajah Hannah dengan mudah hanya dengan melihat dari kaca spion.


"Sejujurnya saya takut pak.Tamu-tamu disana pasti orang-orang dari kalangan atas semua.Sedangkan saya hanya seorang pelayan kedai dari kalangan bawah.Saya merasa sangat hina diantara mereka." Hannah mencurahkan isi hatinya.Karena tak dipungkiri pak Eddy adalah orang yang enak diajak bicara.


Pak Eddy tersenyum mendengar curahan hati Hannah.


"Nona tidak perlu khawatir.Nyonya Besar adalah orang yang sangat baik.Tidak hanya kepada teman-teman beliau,tapi kepada semua yang bekerja pada beliau pun Nyonya tidak membeda-bedakan.Dan dari perhatian Nyonya kepada Anda...Saya pastikan Anda adalah salah satu yang di istimewakan oleh Nyonya."Penjelasan pak Eddy seperti menggali ruang tersendiri dalam benak Hannah.


Rasa ingin taunya tentang Nyonya Besar ini pun tumbuh dengan subur.


"Kenapa Bapak bisa bilang begitu ?"


Sekali lagi pak Eddy tersenyum.Sepertinya memang benar-benar ada gaji tersendiri untuk senyumnya.


"Karena semenjak Nyonya mengenal Anda,Nyonya jadi berubah.Nyonya kembali seperti dulu lagi.Sangat peduli dengan orang lain."


Jawaban pak Eddy ini menggali lubang keingintahuan yang lebih dalam lagi di pikiran Hannah.


"Saya jadi bingung pak.Tadi Bapak bilang Nyonya sangat baik.Tapi baru saja Bapak bilang Nyonya berubah seperti dulu lagi.Peduli dengan orang lain.Memangnya sebelum kenal saya...Nyonya seperti apa pak ?" pertanyaan berbelit-belit mulai di lontarkan Hannah.


"Sepertinya kemacetan sudah terurai.Saya akan melajukan mobil dengan sedikit cepat karena Nyonya berpesan sebelum acara selesai Anda harus sudah sampai disana."pak Eddy menggantung rasa penasaran Hannah.Dan dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya dia melajukan mobil tetap dengan berhati-hati.