
Mike dan Hannah berjalan beriringan menuju ruangan tempat dimana Joe dirawat. Saat berjalan menyusuri koridor perasaan hangat menjalar ke seluruh sel tubuh Hannah. Ketika tiba-tiba Mike menautkan jemarinya dengan jemari Hannah. Gadis itu memandang tangan dan lelaki disampingnya secara bergantian. Lalu ia menunduk. Perlahan sudut bibir Hannah tertarik keatas membentuk sebuah senyuman dengan wajah yang bersemu merona.
Sedangkan Mike terus saja melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke samping. Diam-diam dia tersenyum. Biarlah untuk yang terakhir kalinya dia bisa berjalan bergandengan dengan gadis yang dia cintai.
Begitu sampai di depan pintu ruangan dimana Joe dirawat, mereka melepas tautan jemarinya. Mike memutar handle pintu lalu membukanya perlahan. Mempersilahkan Hannah untuk masuk lebih dulu.
"Hai Hannah, kau sudah datang rupanya." Sapa Melly yang menoleh ke arah pintu.
"Iya Ma. Maaf kalian menunggu lama." Hannah berjalan mendekat yang diikuti Mike di belakangnya.
"Tidak apa Sayang." Kata Melly.
"Tante, Joe ." Sapa Mike.
Sapaan Mike dibalas dengan senyuman oleh ibu dan anak itu. Mike berdiri di samping Hannah.
"Sudah siap pulang ?" Tanya Mike pada Joe.
Joe mengangguk dibarengi senyuman.
"Terima kasih Mike. Kau sudah sangat baik padaku."
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu." Mike menepuk bahu Joe.
"Oya...aku minta maaf karena aku harus segera pergi. Jadwalku sangat padat hari ini." Lanjutnya. Sebenarnya dia tidak ada jadwal apapun hari ini. Dia hanya tidak ingin melihat kedekatan Hannah dengan Joe. Karena rasanya sakit.
"Tidak perlu minta maaf. Terima kasih sudah meluangkan waktumu untukku. Aku tau kau sangat sibuk." Kata Joe.
"Joe benar Nak. Kau tidak perlu minta maaf seperti itu. Semua yang kau lakukan selama ini sudah lebih dari cukup." Tambah Melly.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tante, Joe." Pamit Mike.
"Baiklah. Semoga bisnismu lancar." Saut Joe.
Mike menoleh sekilas pada Hannah sambil melayangkan pandangan yang penuh makna. Begitu pula Hannah membalas pandangan Mike. Dan sepertinya hal itu tidak di sadari oleh Melly maupun Joe.
Setelah Mike benar-benar hilang dari pandangannya, Hati Hannah terasa kosong. Apakah ini akhir cerita cintanya ? Akankah esok hari dia masih bisa bertemu lagi dengannya ? Tapi ini sudah menjadi keputusan mereka berdua. Meskipun berat harus mereka jalani.
***
Tiga hari sudah semenjak kepulangan Joe dari rumah sakit. Dan tiga hari sudah Hannah tidak bertemu dengan Mike. Ada perasaan hampa di hati Hannah. Beberapa minggu ini tidak pernah dia lewati seharipun tanpa bertemu dengan Mike. Percayalah perasaan Hannah saat ini sangat tersiksa. Rindu yang menjalar ke seluruh urat nadinya membuat Hannah hampir gila.
Malam itu Hannah benar-benar dibuat gila oleh rasa rindunya pada Mike. Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul 11.45 malam. Dan dia belum juga bisa memejamkan matanya. Bagaimana bisa dia terlelap kalau setiap kali dia memejamkan mata selalu saja wajah Mike yang muncul.
Sambil terus menepuk-nepukkan ponsel ke telapak tangannya, Hannah duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Telpon tidak ya ?" Hannah sangat gelisah. Satu kesalahan besar karena telah menyimpan nomor ponsel Mike. Begini kan jadinya ! Godaan untuk menelpon Mike sangatlah besar. Terlebih karena kerinduan yang dia rasakan.
"Dia pasti sudah tidur." Gumam Hannah.
Ketika dia hampir putus asa karena kerinduan yang tak tertahankan tiba-tiba ponselnya berdering.
Hannah berkali-kali mengucek matanya. Memastikan kalau dia tidak salah membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
Setelah benar-benar yakin, bibirnya tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum.
Mike Calling
Segera dia geser icon berwarna hijau di layar ponselnya.
Sesaat setelah tersambung dia hanya terdiam sambil terus menggigit bibir bawahnya. Senyum itu belum juga menghilang dari wajahnya.
"Kau sudah tidur ?" Tanya Mike dari seberang telpon.
Pertanyaan itu lantas menarik Hannah ke alam sadarnya.
"Eh...a-aku....belum." jawab Hannah terbata-bata karena gugup. Wajahnya kini merona hanya karena mendengar suara Mike.
"Syukurlah. Aku takut mengganggu istirahatmu." Saut Mike.
"Tentu saja tidak. Ada apa menelponku ?" Tanya Hannah yang berpura-pura bersikap biasa.Meskipun sebenarnya jantungnya hampir copot.
Hening sejenak.
"Bagaimana kabar Joe ?" Tanya Mike.
Wajah Hannah menunjukkan sedikit kekecewaan karena ternyata Mike hanya ingin menanyakan kabar Joe.
"Dia....baik. Sebentar lagi juga pulih." Jawab Hannah dengan suara rendah. Sangat jelas menunjukkan kekecewaan.
"Oh...." saut Mike. Hening lagi.
"Kenapa kau belum tidur ?" Tanya Mike lagi.
"Aku....belum mengantuk." Jawab Hannah.
"Cepatlah tidur. Ini sudah hampir pagi.Jagalah kesehatanmu." Kata Mike.
"Eh..iya. Ini juga mau tidur." Kata Hannah.
"Baiklah. Selamat tidur. Nice dream." Kata Mike.
"Nice dream for you too." Saut Hannah.Ucapan Mike bagaikan oase di padang pasir. Kerinduan Hannah sedikit terobati dengan mendengar suaranya.
Mike melempar ponselnya diatas kasur. Dia menghela nafas lega. Sudah tiga hari ini dia kesulitan untuk memejamkan mata. Rasanya konyol tengah malam menelpon Hannah hanya untuk menanyakan kabar Joe. Tapi saat itu hanya alasan itu yang terlintas di otaknya.
"Harusnya aku tidak menyimpan nomor ponselmu." Gumam Mike. Dia takut tidak bisa move on karena godaan untuk mendengar suara Hannah begitu besar. Ya...hanya suaranya saja tapi bisa merubah suasana hati Mike.
***
Keesokan harinya seperti biasa Hannah dan Melly sedang memasak di dapur. Setelah semua siap mereka segera sarapan.
"Hannah...Mama titip Joe ya. Karena tiga hari kedepan Mama harus keluar kota." Kata Melly seusai sarapan.
"Iya Ma. Mama tenang saja. Hannah pasti menjaga Joe." Hannah menumpuk piring kotor bekas mereka sarapan.
"Maafkan Joe ya Ma. Joe belum bisa membantu Mama mengurus perusahaan." Joe merasa kasihan melihat Mamanya yang pontang panting sendirian mengurus perusahaan.
"Kau ini bicara apa ? Yang terpenting bagi Mama adalah kesembuhanmu. Banyaklah beristirahat agar cepat pulih." Melly menggenggam tangan anaknya itu.
"Pasti Ma. Joe akan segera pulih." Kata Joe.
Hannah seperti menemukan keluarga baru di tengah-tengah mereka. Keluarga yang selama ini dia rindukan. Baik Melly maupun Joe memperlakukan Hannah dengan sangat baik.
Senyum Hannah pudar ketika mengingat tentang keputusannya dengan Mike. Bagaimana dia harus memupus perasaannya disaat perasaan itu sedang subur-suburnya. Ah...sungguh berat. Tapi keputusan sudah diambil dan harus dijalani. Dan disinilah jalan Hannah.
"Terlalu banyak melamun bisa membuatmu menua sebelum waktunya." Suara Joe mengagetkan Hannah yang tengah duduk di tepi kolam renang dengan kedua kakinya yang terendam air.
"Siapa yang melamun ?" Kilah Hannah.
Joe duduk di sebelah Hannah dan ikut menyelupkan kaki telanjangnya ke dalam air. Persis seperti yang dilakukan Hannah.
"Kau sama sekali tidak pandai berbohong." Kata Joe dengan senyum jenakanya.
"Terserahlah." Saut Hannah.
"Aku lihat beberapa hari ini kau sering melamun. Ada masalah ? Atau kau bosan dirumah ?" Tebak Joe.
Pertanyaan Joe membuat Hannah salah tingkah. Bingung harus menjawab apa. Hannah membuang pandangannya ke sembarang arah.
" Joe...." Hannah menunduk lalu beralih menatap wajah laki-laki disampingnya. Mungkin ini saat yang tepat untuk meminta Joe melanjutkan pernikahan.
"Soal.....pernikahan kita...." Hannah mengerjap beberapa kali. Menandakan keraguan untuk melanjutkan kalimatnya.
Joe yang tanggap dengan situasi itu lantas meraih tangan Hannah dan menggenggamnya. Tidak lupa senyum yang selalu menghiasi wajah tampan itu.
"Kenapa ?" Tanya Joe.
Hannah menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya tadi.
"Aku ingin kita meneruskan rencana pernikahan kita."
Huft....akhirnya kalimat itu terlontar juga.
Reaksi yang tidak terduga dari Joe. Joe melepaskan genggaman tangannya lalu tergelak. Sepertinya kalimat Hannah itu terdengar konyol di telinga Joe.
"Kenapa tertawa ?" Hannah dibuat bingung dengan reaksi Joe.
Joe menoleh dan menatap mata Hannah. Sungguh wajah itu pasti akan dengan mudah membuat para gadis diluar sana jatuh cinta. Tapi sayangnya tidak dengan Hannah. Karena hatinya sudah dimiliki orang lain.
"Lihat mataku." Pinta Joe. Hannah bahkan tidak berani melakukan apa yang diminta Joe.
"Hannah...lihat mataku." Pinta Joe lagi. Dan kali ini Hannah memaksakan matanya untuk bertemu dengan mata Joe. Joe sukses membuat Hannah semakin gugup.
"Sekarang ulangi kalimatmu yang tadi." Pinta Joe.
Gila ! Mana bisa Hannah mengatakannya sambil menatap mata Joe ! Yang ada mata Hannah akan berkata sebaliknya.
"Aku mau kita melanjutkan pernikahan kita." Kata Hannah sambil menurunkan pandangannya. See, dia tidak akan sanggup mengatakannya sambil menatap mata Joe. Terlalu berat.
Joe tersenyum lalu menyangga tubuhnya ke belakang dengan kedua tangan.
"Aku tidak ingin membebanimu. Kalau kau merasa tidak nyaman tidak perlu dilanjutkan." Kata Joe sambil menatap langit biru diatas mereka.
"Tapi aku menginginkannya Joe. Aku ingin menikah denganmu." Bohong lagi. Tapi Hannah tidak punya pilihan lain untuk meyakinkan Joe.
"Benar kau menginginkannya ?" Joe sebenarnya sudah tau kalau Hannah hanya berbohong. Mungkin karena merasa tidak enak atau sekedar ingin balas budi.
Bagaimana caranya meyakinkan Joe ? Kalau dia mendesakku terus aku tidak akan bisa berbohong lagi.
Hannah semakin gelisah mendengar pertanyaan Joe. Dan entah mendapat keberanian dari mana sehingga dia melakukan hal yang frontal dengan memeluk tubuh Joe. Bukan memeluk untuk mencari perlindungan seperti yang sudah-sudah. Tapi lebih seperti seorang kekasih yang memaksa ingin dinikahi. Hannah bergelayut manja di dada Joe.
"Iya. Aku ingin menikah denganmu." Kata Hannah setelah pergolakan batinnya selesai.
Joe menghela nafas lalu menepuk bahu Hannah pelan.
"Hannah....lukaku belum benar-benar sembuh. Dan sekarang tanganmu tepat berada diatas lukaku." Joe meringis karena Hannah memeluknya dengan erat hingga lupa kalau punggung Joe masih terluka.
Sontak Hannah melepaskan pelukannya dan merasa khawatir kalau Joe kesakitan karenanya.
"Maafkan aku. Aku tidak sengaja." Hannah memeriksa punggung Joe kalau-kalau berdarah lagi.
"Sudah...sudah...aku tidak apa-apa." Joe menenangkan Hannah dengan menggenggam tangan gadis itu.
Setelah Hannah tenang, Joe menarik dagu Hannah hingga wajah mereka saling berhadapan. Mata mereka bertemu.
"Baiklah kalau kau ingin pernikahan dilanjutkan. Tapi aku tidak ingin membuatmu terbebani. Katakan padaku kalau kau berubah pikiran. Oke ?" Joe menatap dalam mata Hannah. Gadis itu mengangguk pelan lalu Joe memeluknya.
Aku tau kau berbohong Hannah. Karena aku tau siapa pemilik hatimu.