
Hannah sudah bisa tenang ketika di dalam mobil.Hannah memalingkan pandangannya menembus kaca mobil di sampingnya.Joe beberapa kali melirik Hannah.Memprediksi apa yang Hannah lakukan disana.
"Kenapa tadi kau menangis ?" Suara Joe memecah kesunyian.
Hannah menoleh ke arah Joe.Matanya yang merah menyiratkan kepedihan yang dia alami.
"Aku pergi melihat rumah." suara Hannah sedikit serak.Dia menjawab sambil menundukkan kepalanya.
"Rumah ? dimana ?"
"Di gang belakang Jl.West."
Joe mendadak menginjak pedal rem dan dengan cepat mobil yang di kemudikannya berhenti.
"Apa kau sudah gila ? Banyak orang jahat yang tinggal disana !" Emosi Joe seakan mau meledak.Melihat kondisi Hannah yang ketakutan tadi Joe yakin ada orang yang mengganggu Hannah disana.
Hannah terkejut melihat Joe semarah itu hanya karena dia mendatangi rumah di gang tadi.
Guratan di wajahnya menunjukkan tanda tanya.Dia hanya berusaha mendapatkan tempat tinggal sesuai kemampuannya.Kenapa Joe bereaksi semacam itu.
Joe menarik nafas dalam lalu menghembuskannya lagi.
"Maafkan aku.Aku hanya mengkhawatirkanmu." suara Joe kembali rendah.
"Aku hanya berusaha.Dengan tabungan yang aku miliki....hanya rumah itu yang mampu aku bayar." Hannah menyembunyikan kegetirannya.Dia menunduk sedih.
Joe menginjak pedal gasnya lagi pelan-pelan.Dia menyesal.Dia tidak bermaksud membentak Hannah.
"Biarkan aku membantumu.Hannah....aku janji akan mencarikan rumah yang layak untukmu.Tidak perlu di tempat yang berbahaya seperti tadi." Joe meyakinkan Hannah.
"Maafkan aku.Aku tidak tau." tutur Hannah.
***
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Hannah.Sebelum turun Joe menahan Hannah.
"Hannah....jumat malam nanti apa kau ada acara ?" tanya Joe.
"Jumat malam ?" tanya Hannah.
"Iya." jawab Joe.
"Jumat malam aku ada undangan ke pesta kenalanku." jawab Hannah lugas.
"Oh begitu." Joe tampak kecewa.
"Memangnya ada apa ?" Hannah penasaran.
"Oh tidak.Tidak ada apa-apa.Ya sudah turunlah dan cepat istirahat." Wajah Joe kembali tersenyum.Kekecewaannya sudah dia sembunyikan dengan sangat baik.
Hannah tersenyum dan mengangguk.Lantas dia turun dari mobil Joe.Dia menunggu mobil itu meninggalkan rumahnya.
Sebelum melajukan mobilnya Joe membuka kaca mobil dan berkata pada Hannah."Dan jangan pergi ke tempat seperti itu lagi."
Hannah menunggu mobil Joe sampai benar-benar hilang dari pandangannya.Lalu dia masuk ke dalam rumah.
Di dalam kamar Hannah menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.Rasanya sekujur tubuhnya lunglai mengingat kembali kejadian yang baru saja menimpanya.
Pandangan matanya tertuju pada paperbag yang dia letakkan di atas tempat tidur.Untung tadi tidak rusak.
"Aku pasti akan terlihat kampungan sekali dengan baju yang aku punya." gumamnya.Dia membayangkan semua yang hadir disana dengan baju pesta mewah dan mahal.
***
Joe sampai di rumah dan dia segera masuk ke kamar untuk membersihkan diri.Seusai mandi dia duduk bersandar di tempat tidurnya sambil memangku laptop.
Dia scroll ke bawah daftar rumah yang di sewakan di layar laptopnya.
Tapi nihil.......rumah yang dirasa Joe sudah cukup sederhana pun masih di bandrol dengan harga sewa yang lumayan tinggi untuk ukuran Hannah.
Joe terlihat sedikit frustasi karena belum menemukan rumah yang layak untuk Hannah.Matanya tajam memandangi layar laptop dengan serius.
Suara ketukan pintu membuyarkan fokus Joe pada laptopnya.
Saking seriusnya tanpa terasa waktu makan malam sudah tiba.
Joe menutup laptopnya dan bergegas ke ruang makan.
Disana Melly sudah menunggu Joe dengan senyum hangatnya.
Joe menggeser kursi dan duduk di sebelah mamanya.
"Ada apa ?" Melly melihat anaknya yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang berat.
Joe tersenyum manis di hadapan Melly.
"Mama cantik malam ini." seringai Joe dengan melontarkan pujian pada Mamanya.
"Mama bertanya ada apa wajahmu di tekuk seperti itu ?" Melly tidak terpengaruh dan hanya tersenyum sambil menegaskan pertanyaannya tadi.
"Tidak ada apa-apa Ma.Oya untuk acara ulang tahun Mama apa semuanya sudah fix?"Joe mengalihkan pembicaraan.
"Sudah Sayang.Pihak EO sudah memberi kabar kalau semuanya sudah fix.Mama ingin pesta yang sederhana saja." Melly menaruh makanan di piringnya.
"Baguslah kalau begitu." timpal Joe.
Kini mereka sedang lahap memakan makanan yang ada di piring masing-masing.
"Mama juga mengundang kekasihmu Jenny.Meskipun tanpa Mama undang pasti kau juga akan mengajaknya kan." tiba-tiba perkataan Melly begitu menohok di hati Joe.
"Ma....Joe dan Jenny sudah tidak berhubungan lagi." tukas Joe.Melly memang melewatkan informasi itu disaat dia sibuk dengan dirinya sendiri.
"Kenapa ? Padahal dia gadis yang lembut dan sopan." Itu yang diketahui Melly tentang Jenny yang waktu itu baru saja memulai hubungan dengan anaknya.
"Kami tidak cocok lagi Ma." jawab Joe.
"Mama tidak tau saja sifat aslinya."batin Joe.
"Sayang sekali." timpal Melly dengan wajah sedikit kecewa.Tapi hanya sekejap ekspresi Melly berubah sumringah.
"Kalau begitu....kau harus coba membuka hati untuk gadis lain." Hannah adalah yang ada di pikiran Melly.
"Joe masih ingin sendiri Ma." perkataan Melly segera dipupus oleh Joe.
"Iya...Mama tau." Melly menggenggam tangan kanan Joe yang ada diatas meja.
Dalam hati Melly dia sedikit lega karena anaknya tidak terikat hubungan dengan siapa-siapa.Jadi dia bisa mengenalkan gadis yang menurutnya akan cocok dengan Joe.