
"Sudah siap ?" Tanya Joe yang sudah menunggu di ruang tamu Hannah.
Hannah tersenyum dan mengangguk.
Rencananya hari ini mereka akan fitting baju untuk acara pernikahan mereka di salah satu butik ternama di kota itu.
Joe berjalan mendahului Hannah dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Silahkan princess !" Goda Joe.
"Apa sih ?" Hannah hanya tersenyum geli melihat kelakuan Joe.
Setelah Hannah masuk ke dalam mobil Joe segera menutup pintu mobil dan berjalan memutar lalu masuk ke dalam mobil melalui sisi satunya.
Meskipun mereka akan segera menikah tetapi sikap Joe terhadap Hannah tidak banyak berubah dari sebelumnya.Joe sangat menghargai perasaan Hannah.Dia tidak ingin membebani gadis itu dengan pernikahan ini.
Mereka menempuh perjalanan selama 30 menit untuk sampai di butik.
"Aku penasaran bagaimana wajahmu dengan gaun pengantin.Pasti seperti badut !" Tawa Joe mengiringi candaannya pada Hannah.
Sontak Hannah memukul bahu laki-laki di sampingnya itu.
"Enak saja ! Awas saja kalau nanti kau sampai tidak berkedip melihatku !" Balas Hannah.
"Oya...kita lihat saja nanti.Kau atau aku yang tidak berkedip !" Joe melirik Hannah dengan tatapan menggoda.
Keduanya tertawa merasa konyol dengan perdebatan mereka.
Akhirnya mereka sampai di butik yang di tuju.Hannah melihat ke kanan dan ke kiri banyak sekali di pajang gaun-gaun cantik.Mata Hannah tak henti mengagumi hasil design yang ada di butik itu.
"Hallo.....calon pengantin !" Sapa seorang pria gemulai dengan dandanan 'machocantik' yang sedang berjalan ke arah Hannah dan Joe.
"Hai.....Emil !" Balas Joe.
"Tidak perlu berlama-lama.Ayo kita mulai !" Seringai manja terlihat dari wajah Emil sang pemilik butik.
Joe dan Hannah hanya bisa menggeleng dan senyum melihat kelakuan pemilik butik yang gemulai itu.
Mereka berjalan ke ruangan yang ada di belakang.Pemandangan yang sangat indah untuk para calon pengantin kalau mereka kesini.Karena di sisi kanan dan kiri mereka terpajang berbagai macam gaun dan dress yang cantik dan eksklusif.Tidak akan ditemukan di tempat lain.
Akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan yang dikelilingi dinding kaca.Ada satu kamar ganti yang cukup luas di tempat itu.
Emil menjentikkan jarinya dengan manja untuk memanggil pegawainya.Mereka langsung paham dengan maksud Emil.Tiga orang pegawai masing-masing membawa satu gaun yang menjadi alternatif untuk menjadi gaun pengantin Hannah.
"Kemarilah cantik !" Seru Emil pada Hannah.Hannah berjalan mendekat.Sementara Joe duduk di sofa sambil memperhatikan calon istrinya yang sedang sibuk mempertimbangkan pilihannya.
"Kau mau yang mana Joe ?" Hannah membalikkan badan dan bertanya pada Joe.
"Pilih saja yang paling kau suka !" Kata Joe dengan senyum tampannya.
Lalu Hannah menjatuhkan pilihan pada gaun berwarna soft blue yang dipadukan dengan warna putih.
"Oke.....masuk dan ganti baju jelekmu itu !" Emil mendorong pelan tubuh Hannah sambil tersenyum manja.
Hannah memasuki ruang ganti dan mencoba gaun itu.Para pegawai itu juga menata rambut Hannah agar tampilannya terlihat lebih maksimal saat mencoba gaun itu.
Tidak butuh waktu lama.Cukup 15 menit dan Hannah sudah keluar dari ruang ganti dengan gaun yang dia pilih tadi.
Dengan langkah pelan dan wajah menunduk malu dia berjalan keluar.
Joe memperhatikan penampilan Hannah dengan gaun soft blue yang memperlihatkan bahu putih dan leher jenjangnya membuat Joe tercengang.
Hannah cantik sekali !
Mata Joe tidak berkedip ketika Hannah berjalan ke arahnya.Tubuh Joe seakan kaku saat melihat Hannah yang terlihat begitu cantik dengan balutan gaun itu.Joe merasa ada yang salah dengan jantungnya saat tiba-tiba berdetak kencang tidak beraturan.Dengan rambut digulung keatas membuat penampilan Hannah benar-benar maksimal.
"Kau cantik sekali !" Kata Joe tanpa dia sadari.Kata pujian yang benar-benar tulus dari dalam hatinya.
Hannah menjadi semakin malu karena pujian Joe.Dia jadi salah tingkah.Sedangkan Joe masih tidak berkedip.Hingga Joe menyadari kalau gadis di hadapannya menjadi salah tingkah dengan wajah yang merona.
Joe berdehem dan dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Yang itu saja !" Kata Joe sambil melihat sekilas pada Hannah.
Hannah kembali ke ruang ganti dan segera keluar setelah selesai mengganti baju.
Sementara laki-laki yang ada diluar sedang berusaha mengendalikan detak jantungnya.Baru kali ini Joe berhadapan dengan Hannah dan membuatnya jadi kacau.Terlihat Joe menghela nafas lega ketika Hannah masuk ke ruang ganti.
Selesai membayar dan membungkus gaun yang mereka pilih tadi, mereka berpindah ke toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan.
Kebetulan letak toko perhiasan itu tidak jauh dari butik.Jadi mereka lebih memilih berjalan kaki.Tidak ada obrolan apapun selama mereka berjalan beriringan.Joe terlihat sangat canggung tidak seperti biasanya.
Sampai di toko perhiasan mereka langsung disuguhi beberapa pilihan cincin cantik.
"Kau mau yang mana ?" Tanya Joe.
Hannah tampak bingung untuk menentukan pilihan.Pasalnya cincin-cincin yang ada dihadapannya cantik semua.
"Coba yang ini !" Joe memilihkan cincin simple bertahta berlian yang terlihat cocok dengan jari Hannah yang kecil.
Hannah mengulurkan jarinya dan Joe menyematkan cincin itu di jari Hannah.
Lagi-lagi Joe merasa dirinya sedang bermasalah saat menyematkan cincin itu di jari Hannah.
Kenapa dadaku rasanya sesak ya ? Batin Joe.
Joe merasa perlu menghirup oksigen sebanyak mungkin.
Cincin itu terlihat sangat cocok di jari Hannah.Hannah pun tersenyum saat memperhatikan cincin yang melingkar di jarinya.
"Sangat pas di jarimu." Kata Joe untuk membuyarkan pikirannya yang terasa kacau.
"Ya sudah yang ini saja." Kata Hannah.
Pegawai toko segera membungkus sepasang cincin untuk mereka bawa pulang.
Mereka berdua berjalan beriringan ke tempat Joe memarkirkan mobilnya.Hening sepanjang jalan.Keduanya hanya fokus memperhatikan jalanan di depan mereka.
"Joe !" Panggil Hannah.
Joe yang sedang fokus mengemudi tiba-tiba menginjak pedal rem hingga mobil itu berhenti mendadak di tengah jalan.
"I-iya ?" Kata Joe tergagap.
Hannah terkejut melihat reaksi Joe.Kenapa menghentikan mobilnya ?
"Apa...." belum selesai Hannah berbicara, suara klakson mobil dari belakang mereka membuat Hannah menghentikan ucapannya.
Joe yang tersadar akan apa yang dia lakukan segera menginjak pedal gasnya lagi.
"Apa kau sedang ada masalah ?" Hannah melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti.
"Aku ? Tidak....Tidak ada masalah.Memangnya kenapa ?" Tanya Joe sedikit gugup.
"Aku perhatikan dari tadi kau diam saja.Apa belanjaannya terlalu mahal ?" Hannah menatap Joe dengan tatapan bersalah.
"Tidak....Jangan berpikir yang aneh-aneh.Ini memang sudah kewajibanku." Tukas Joe.
"Lantas kenapa kau diam saja ?" Desak Hannah.
"Entahlah....Hanya bingung saja mau bicara apa." Jawab Joe.
Hannah semakin dibuat bingung oleh calon suaminya itu.Joe sama sekali tidak seperti Joe yang biasa dia kenal.
Hannah mengubah posisi duduknya hingga kini lebih menghadap ke arah Joe yang sedang mengemudi.
Dengan wajah sayunya Hannah berkata , " Aku bisa menjaga diriku sendiri.Jadi....kalau kau merasa tidak nyaman dengan semua ini....aku tidak keberatan kalau kau....."
Joe langsung menepikan mobilnya sebelum Hannah menyelesaikan ucapannya.Joe sudah tau arah pembicaraan Hannah.
"Sstt..! Jangan bicara seperti itu ! Dengarkan aku baik-baik ! Ini sudah keputusanku untuk menjagamu.Jadi kau tidak perlu meragukanku." Joe berhenti sebentar.Menyandarkan kepalanya pada kursi mobil.
"Justru aku merasa bersalah karena tidak memikirkan bagaimana perasaanmu." Joe bersandar sambil menoleh pada Hannah.
Pernikahan ini memang bukan berdasarkan cinta.Joe menunjukkan ketulusannya untuk menjaga Hannah dari Harry yang selama ini menerornya.Joe merasa dia berkewajiban melindungi Hannah.Meskipun status mereka nantinya adalah suami istri, Joe tidak ingin membebani Hannah dengan status itu.Dia juga akan membatasi diri dari Hannah.Karena dia tau hubungan mereka tidaklah lebih dari teman.
Sedangkan alasan Hannah menerima tawaran Joe adalah karena Hannah melihat ketulusan dari mata Joe.
Selama ini Joe lah yang selalu ada untuk Hannah.Dan dia adalah orang pertama yang mengajarkan ketulusan pada Hannah setelah terlepas dari Harry.Hannah yakin Joe bisa menjaganya dengan baik.Selain itu.....Hannah tidak mau terlalu larut memikirkan Mike yang jelas-jelas sudah memiliki kekasih (setau Hannah).
"Tidak perlu memikirkanku ! Aku sudah menyetujuinya.Sebenarnya aku juga merasa bersalah padamu.Kau sendiri berhak untuk bahagia dengan orang yang kau cintai.Tapi malah terjebak bersamaku." Kata Hannah dengan raut wajah mengkerut.
Joe mengacak rambut Hannah.
"Sudah.Kita jalani saja dulu."
Dan kali ini terasa berbeda saat Joe melakukannya.Padahal tidak hanya kali ini Joe bersikap seperti itu pada Hannah.
Hannah membalas senyuman Joe.
"Ayo pulang !" Kata Hannah.
Joe kembali melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.
"Kita sekalian mampir ke rumah Mike ya.Kebetulan rumahnya tidak jauh dari sini.Aku merasa ada yang berbeda dari anak itu.Aku khawatir dengannya."
Senyum di wajah Hannah langsung lenyap mendengar ajakan Joe.Ada kegundahan yang terpancar jelas di wajah itu.Mau menolak pun sepertinya percuma.Karena Joe sudah membelokkan mobilnya ke arah rumah Mike.Lagipula Hannah tidak punya alasan yang kuat untuk menolaknya.
"Aku dengar perusahaan Mike memutuskan kontrak kerja sama dengan perusahaan Harry.Aku juga belum tau alasannya kenapa.Makanya aku sekalian ingin menanyakan kebenaran tentang rumor itu." Imbuh Joe.
Sekali lagi Hannah terperanjat mendengar apa yang Joe katakan.
Mike memutuskan kontrak kerja dengan Harry ? Kenapa ?
"Hei Hannah ! Kenapa diam saja ?" Pertanyaan Joe membuat lamunan Hannah buyar.
"Eh...Aku mendengarkanmu.Lagipula aku tidak paham masalah seperti itu." Tukas Hannah.
Joe mengangkat kedua alisnya dan terus mengemudikan mobilnya.
Hingga sampailah mereka di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah yang tak kalah mewah dengan rumah Joe.
Setelah penjaga membukakan pintu gerbang,Joe melajukan mobilnya masuk.Dari pintu gerbang ke rumah utama jaraknya cukup jauh sekitar 200 meter.Di kanan kiri jalan itu pemandangannya sangat indah.Pohon-pohon besar tumbuh disana.Membuat suasana teduh.ditambah lagi ada beberapa bangku di sekitar pohon.Pasti sangat nyaman untuk sekedar duduk santai sambil minum kopi.
Mobil Joe sudah sampai di halaman rumah utama.Dalam garasi rumah itu terparkir 3 mobil mewah.Salah satunya mobil sport merah yang kemarin di pakai Mike.
Joe turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Hannah.Kaki Hannah gemetar saat turun dari mobil.Perasaannya campur aduk.Wajahnya juga berubah pucat.
"Are you oke ?" Tanya Joe yang melihat perubahan Hannah.
Hannah hanya mengangguk.Tidak ingin Joe berpikir yang tidak-tidak.
"Ayo !" Ajak Joe.
Belum juga mereka sampai pintu.Emma sudah menyambut mereka dari ambang pintu.
"Siang Tante !" Sapa Joe.
Emma tersenyum hangat menyambut mereka.
"Joe..Hannah..! Selamat datang di rumah kami." Emma menyalami Joe lalu menyalami Hannah dan memberikan pelukan hangat pada Hannah.Membuat Hannah jadi semakin gugup.
"Ayo masuk ! Paman sudah menunggu di dalam." Emma menggandeng Hannah.
Mereka masuk dan langsung menuju ke ruang tengah dimana Jhon,Mike dan Isabel sedang berkumpul.Jhon seperti biasa selalu di sibukkan dengan baca koran.Isabel pastilah asyik nonton tv.Sedangkan Mike duduk agak jauh di sofa sambil memangku laptop.
"Lihatlah siapa yang datang !" Seru Emma dengan dua orang yang berjalan di belakangnya.
Ekspresi yang berbeda-beda muncul di wajah ketiga anggota keluarganya.
Jhon yang tersenyum hangat lalu melipat koran yang dia pegang.Isabel yang langsung beranjak dan berlari ke arah Hannah.Dan.......Mike yang terlihat sangat terkejut dengan kedatangan dua orang itu tetapi tetap tidak bergeming dari tempat duduknya.