
Isabel sangat bahagia bisa datang ke festival dengan kakaknya.
Dia begitu antusias sampai-sampai mulut kecilnya itu tak henti berbicara tentang apa yang akan dia lakukan disana.
Festival lampion memang hanya ada setahun sekali di kota itu.Acara itu di selenggarakan oleh kelompok keturunan China yang tinggal disana.
Namun acara itu menarik begitu banyak pengunjung setiap tahunnya.Dan tidak sedikit orang yang memanfaatkan suasana remang-remang yang romantis disana untuk menyatakan perasaan pada pasangannya.Karena pada saat festival berlangsung seluruh lampu di taman akan dimatikan dan digantikan dengan ribuan cahaya lampion yang tersebar di seluruh taman.
"Kakak.....terima kasih ya sudah mau menemaniku." kata Isabel ketika mereka sudah memasuki area parkir.
Mike hanya tersenyum mendengar kata-kata adiknya.Usia mereka yang terpaut cukup jauh yaitu sembilan tahun membuat Isabel begitu manja dengan kakaknya.
Bagi Isabel kakaknya adalah sosok yang begitu dewasa dan sangat melindunginya.
Mereka turun dari mobil dan segera menuju ke taman dimana sudah banyak sekali lampion yang di nyalakan.
Mereka datang sedikit terlambat jadi disana sudah sangat padat dengan orang-orang yang menghadiri festival tersebut.
Mereka berjalan di tengah kerumunan massa sampai-sampai jarak pandang mereka jadi terbatas.
Tangan Isabel tidak lepas dari lengan kakaknya.Dia takut akan terpisah dari kakaknya itu.
"Dimana teman-temanmu ?" tanya Mike.
"Aku tidak tau.Coba aku telpon mereka." jawab Isabel lalu tangannya meraih ponsel dari tas kecil yang menggantung di bahunya.
Isabel mencoba menghubungi temannya berkali-kali namun tidak ada jawaban.Mungkin mereka tidak mendengar dering ponselnya karena suasana yang sangat ramai.
"Tidak ada yang dijawab Kak." rengek Isabel.
"Tinggalkan pesan saja pada mereka." saran Mike.
Isabel mangangguk dan dengan cepat mengetik pesan dan mengirimnya pada temannya.
"Ya sudah kita kesana saja.Siapa tau mereka ada disana." ajak Mike sambil menunjuk ke tengah taman dimana ada panggung yang sedang menampilkan banyak kesenian China disana.
Isabel mengangguk dan berjalan mengikuti langkah kaki kakaknya.
Mereka berdua berdiri agak jauh dari panggung karena kursi di bagian depan sudah penuh dan tidak ada lagi tempat duduk untuk mereka.
Pandangan Isabel masih berkeliling mencari-cari keberadaan teman-teman mereka.
"Isabel...!" tiba-tiba suara seorang gadis menembus indera pendengaran Isabel dan Mike.
Saat mereka menoleh, dua gadis dan dua pemuda sudah mendekat pada mereka.
Isabel tersenyum pada mereka.
"Aku menelpon kalian berkali-kali.Tapi tidak ada yang menjawab." Isabel merajuk pada teman-temannya.
"Disini sangat ramai...jadi tidak ada yang mendengar dering ponsel." jawab salah satu gadis itu.
"Kau kesini dengan siapa ?" tanya gadis yang satunya lagi.
Dengan sedikit malu-malu Isabel menjawab."Dengan kakakku."
Mata Isabel melirik ke arah Mike yang terlihat sedang asyik menonton pertunjukan diatas panggung.
Dua gadis tadi serentak tertawa.
"Aku kira kau mengajak kekasihmu."kata salah satu dari mereka.
Isabel mendengus dan menyipitkan matanya pada mereka.
"Jangan meledekku seperti itu."
"Iya....iya...maaf." saut temannya.
"Isabel....kakakmu keren sekali." salah satu gadis itu setengah berbisik sambil memperhatikan Mike yang malam itu mengenakan kaos abu-abu ketat dan dibalut dengan rompi tebal warna hitam.
Isabel menyenggol keras temannya tadi.
"Berbaliklah dan lihat pemuda di belakangmu itu sebelum berkomentar tentang kakakku." kata Isabel mengingatkan kalau temannya itu sudah punya kekasih.
Lantas gadis itu menoleh sambil tersenyum.
"Tapi kakakmu benar-benar keren.Coba kalau usiaku sedikit lebih dewasa.Aku mau jadi kekasihnya." ucap teman satunya lagi.
Isabel semakin meradang mendengar ocehan kedua temannya.
"Dia galak..!" tukas Isabel.
Kedua temannya terlihat cemberut.
"Eh ayo kita foto-foto disana...!" ajak teman Isabel sambil menunjuk ke spot foto yang full nuansa China.
"Sebentar aku ijin kakakku dulu." kata Isabel.
"Kak aku mau ke sebelah sana.Apa kakak mau ikut ?" tanya Isabel.
"Kau pergilah dengan teman-temanmu.Kakak masih ingin disini.Satu jam lagi kita bertemu di parkiran.Dan jangan lupa selalu cek ponselmu kalau-kalau kakak menelponmu." pesan Mike.
"Terima kasih Kakak." Isabel tersenyum sumringah lalu meninggalkan Mike sendirian di depan panggung.
Mike hanya bisa tersenyum melihat adiknya yang tampak sangat bahagia.
Dari kejauhan Mike masih bisa melihat adiknya berfoto dengan berbagai gaya dengan dua orang temannya tadi.
Sedangakan dua pemuda yang mengikuti mereka juga sudah tidak terlihat mengikuti ketiga gadis itu.
Hallo readers.....jangan lupa tinggalkan jejak like dan vote ya😊😊😊
Biar author lebih semangat nulisnya.