
Hari masih sangat pagi. Kebanyakan orang masih bergelut dengan selimut tebal mereka. Siapa saja pasti enggan untuk meninggalkan selimut hangat yang membelit tubuh mereka. Udara di luar terasa lebih dingin daripada biasanya. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
Jam 4 pagi. Mike Bennings melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menembus dinginnya udara menuju ke sebuah rumah sakit. Dia duduk dibalik kemudi dengan raut wajah ketakutan sambil sesekali melirik tiga orang perempuan yang ada di kursi belakang melalui kaca spion yang menggantung diatasnya. Di sebelahnya ada Jhon yang duduk dengan raut wajah yang sama dengan putranya itu. Bahkan bisa dibilang wajahnya lebih ketakutan dibandingkan Mike. Melihat cara putranya mengemudi sungguh membuatnya senam jantung.
"Bertahanlah sayang." Gumam Mike setiap kali melirik kaca spion. Kandungan Hannah baru memasuki usia 26 minggu ketika dia terpeleset di kamar mandi dan mengalami pendarahan hebat.
Kejadiannya berawal ketika Hannah terbangun dari tidurnya karena ingin buang air kecil. Perutnya yang semakin membuncit dan udara yang cukup dingin malam itu membuat Hannah harus bolak-balik ke kamar mandi karena tidak dapat menahan kandung kemihnya yang selalu penuh.
Pukul 3.30 pagi Hannah terbangun entah untuk yang keberapa kali. Di usia kandungannya yang memasuki 26 minggu semakin banyak keluhan yang dia rasakan. Mulai dari tubuhnya yang sering merasa kelelahan padahal hanya melakukan hal-hal kecil seperti merapikan tempat tidur atau sekedar jalan-jalan dengan kaki telanjang seperti yang disarankan dokter mengingat usia kandungannya yang sudah memasuki trimester akhir. Namun hal itu terasa sangat melelahkan untuknya. Hingga keluhan rasa nyeri di pinggangnya yang sering terasa ketika malam hari. Tidurpun terasa tidak nyenyak. Dan ini entah yang keberapa kali dia harus bangun dan mengeluarkan isi kandung kemihnya.
Mata Hannah melirik sosok suaminya yang tertidur sangat pulas di sampingnya. Semalam Mike pulang larut karena ada pekerjaan di luar kota. Sepertinya dia sangat kelelahan. Terlihat dari tarikan nafasnya yang teratur bahkan beberapa kali Hannah naik turun kasur pun Mike tidak merasa terganggu. Hingga Hannah tidak tega untuk membangunkannya. Meskipun saat ini dia sangat membutuhkan bantuan Mike.
Pinggang Hannah terasa sangat nyeri waktu itu. Ingin bangun tapi dia sedikit kesulitan karena rasa nyeri di pinggangnya terasa sangat menusuk. Hannah memiringkan tubuhnya sambil meringis menahan nyeri lalu beristirahat sebentar untuk meredakan nyeri yang dia rasakan. Ketika dirasa nyerinya sudah berkurang dia menurunkan kakinya dari ranjang dan perlahan mencoba untuk duduk.
Biasanya Mike akan membantunya untuk bangun. Atau sekedar memberikan usapan lembut di pinggang istrinya setiap kali istrinya itu merasakan nyeri yang menusuk tulang. Namun Hannah tidak ingin mengganggu tidur suaminya saat ini. Jadi dia berusaha melakukannya sendiri meskipun dengan susah payah.
Ketika sudah berhasil berdiri, perlahan dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Hanya sebentar dan urusannya di sana sudah selesai. Namun saat hendak keluar kepalanya tiba-tiba terasa berat. Dia berusaha mencari pegangan, belum sempat dia menggapai pegangannya kaki kirinya lebih dulu terpeleset sisa sabun yang tidak sengaja dia tumpahkan tadi. Seketika tubuhnya terpelanting dan terjatuh cukup keras di lantai.
Senyenyak apapun tidur Mike waktu itu, suara teriakan dari dalam kamar mandi sontak membuatnya membuka mata dengan cepat.
"Hannah ?" Dengan mata yang masih sesekali mengerjap dan mencari kesadaran penuhnya, Mike turun dari tempat tidur dan segera berlari sempoyongan ke kamar mandi.
Matanya membelalak ketika melihat istrinya bersimbah darah di lantai kamar mandi. Wajah Hannah tampak pucat. Darah segar yang mengalir di sela-sela kakinya semakin membuat Hannah ketakutan. Meringis menahan sakit di perutnya.
Di pagi buta saat semua anggota keluarga bahkan para asisten rumah tangga sedang terlelap, suara teriakan Mike terdengar begitu nyaring memenuhi rumah besar itu.
"Ada apa teriak-teriak Mike ? Ini masih sangat pagi." Tanya Emma saat keluar dari kamarnya dibarengi Jhon yang juga ikut keluar. Bahkan Isabel juga ikut keluar karena terbangun oleh teriakan Mike.
"Hannah Ma !" Kata Mike yang tidak bisa menahan lagi ketakutan dan kekhawatirannya. Karena saat itu Hannah sudah kehilangan kesadarannya.
"Ya Tuhan ! Apa yang terjadi ?" Emma menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika melihat Hannah yang tidak sadarkan diri berada di gendongan Mike dengan darah yang menempel di gaun tidur dan kaki menantunya itu.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit saja." Saran Jhon.
Mereka berempat membawa Hannah ke rumah sakit sesegera mungkin. Takut hal buruk terjadi pada Hannah dan bayi dalam kandungannya.
Melihat kondisi Mike yang begitu kacau sebenarnya Jhon berniat untuk mengemudikan mobil yang mereka tumpangi. Tapi Mike tentu tidak akan sabar. Dan benar saja dia menolak tawaran Jhon. Dia ingin mengemudikan mobil itu sendiri agar cepat sampai ke rumah sakit.
Di kursi belakang Emma dan Isabel mengapit Hannah. Tidak sedetikpun mereka melepaskan pegangan tangannya pada Hannah. Bibir mereka tidak berhenti merapalkan doa untuk keselematan Hannah dan juga bayinya.
"Hannah...bertahan ya Sayang. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." kata Emma. Berharap Hannah bisa mendengarkan ucapannya.
"Ma, Kak Hannah pucat sekali. Isabel takut Ma." Isabel berkata dengan lirih. Dia takut Mike akan mendengarnya dan semakin membuat kakaknya itu kalut.
Emma mengusap kilas bahu Isabel. Memberi kode agar Isabel tidak mengatakan hal yang bisa membuat Mike semakin khawatir.