
"Usernamenya @rajendra.aditiante Deev." ucap Gabby menunjukan tampilan instagram private milik Raja.
Deeva berdecak, ia bingung. Antara yakin dan tak yakin, antara takut dan tidak tapi lebih cenderung ke takut nanti Sammuel salah faham lagi. Padahal kemarin Deeva sudah bilang ia tidak akan berulah lagi.
"Lo serius nih nyuruh gue?"
"Hm. Buruan follow!! Ngebantu gue sama Vano sama dengan timbal balik lo bakal dapet banyak kesempatan mepetin Sammuel loh."
"Tapi ntar kalo kak Sam tau gimana? Kalo dia marah? Sama aja dong!" protes Deeva masih ragu. Gabby berdecak.
"Ga bakal tau dia.... Kalaupun dia tau, terus dia ngamuk, lo tinggal ngaduin ke gue aja. Ntar gue bantu ngejelasin ke Sam tentang rencana ini! Dia ga bakal marah demi urusan Ghosterion karena Ghosterion harga mati kalo kata dia Depaaaaah." cicit Gabby nyerocos menjelaskan, membujuk dan meyakinkan Deeva.
Hanya Deeva harapan satu-satunya untuk mendekati Raja karena Gabby dan Vano perlu memastikan siapa Jendra beserta followersnya.
Karena Vano dan Gabby akan tetap menyembunyikan kecurigaan mereka terhadap Raja sampai mereka berdua berhasil membongkar kedok Raja yang sebenarnya. Mereka juga tidak akan memberitahu anggota Ghosterion yang lain sebelum memastikan semuanya terlebih lagi dari Sammuel, si algojo bersumbu pendek yang mudah tersulut emosi itu.
"Lagian juga lo ga perlu lama-lama ngefollow dia kok. Cukup setelah lo di acc, lo langsung screenshoot semua daftar followers sama foto-fotonya, setelah itu lo boleh langsung unfoll biar ga ketahuan Sammuel. Simple kan?" tambah Gabby lagi. Deeva manggut-manggut.
"Iya juga sih, kalo langsung kek gitu gue berani."
"Ya udah cepetan follow sekarang!"
"Ntar aja pulang sekolah." jawab Deeva hendak berbalik pergi, Gabby buru-buru mencekal lengan putih itu.
"Lah ngapa ga sekarang aja?"
"Ya terserah gue lah! Masih untung gue mau bantuin nanti." sungut Deeva ngegas. Si toa come back!
"Ya udah iya. Btw pinggang lo kenapa?" tanya Gabby heran karena Deeva terus saja memegangi pinggang belakangnya.
"Alah bac*t! Lo perhatian karena ada maunya doang kan? Basi Geboy basi!!"
"Ya ilah pura-pura ga tau aja napa sih."
"DAHLAH BYE!!" sembur Deeva langsung melarikan diri untuk kembali ke teman-temannya.
"Lo tadi ngomongin Rajendra siapa sih? Gue mau nyahut tapi bingung By." tanya Bintang kepo. Gabby menatapnya datar.
"Iya iya Gab, GAB G-A-B. Udah bener kan ejaan gue?" ulang Bintang yang sudah menyadari dimana letak kesalahannya.
"Raja tuh Raja anak yang mau gabung Oster. Yang gue tunjukin kemarin!" jawab Gabby masih di mode ngegas karena kekesalannya. Terus saja Bintang memanggilnya menggunakan nama terakhirnya.
"Oh si Raja." sahut Bintang manggut-manggut. Gabby mengangguk dengan santai.
"Hm."
"Eh btw kemarin lo nguntit siapa Nyet?" tanya Gabby setelahnya. Sekarang gantian Bintang yang menatapnya datar karena Gabby memanggil nama monyetnya.
"Maksud gue Tang!"
"Nguntit anak BB." jawab Bintang enteng.
"APA?!!"
"Biasa aja By ga usah ngegas! Kaget gue." protes Bintang menggerutu sebal.
"Dimana lo ketemu anak BB?"
"Di abang-abang nasgor. Lo tau ga apa yang bikin gue tertarik buat nguping dia telfonan?" tanya Bintang balik. Gabby menaik turunkan alisnya, mencari jawaban.
"Kenapa hah kenapa?"
"Dia pake jaket BB, tapi dia nyebut-nyebut nama SMA Airlangga By. Aneh kan? Padahal sama sekali ga pernah ada sejarahnya anak BB masuk sekolah ini sejak Ghosterion lahir." jelas Bintang menjawab pertanyaan yang timbul di kepala Gabby.
Gabby diam mencerna semuanya.
"Pertanyaanya, dia mau bikin ulah di Airlangga atau dia anak Airlangga?" tanya Bintang kemudian.
"Kita ga akan tau jawabannya kalo kita ga mastiin Nyet." jawab Gabby penuh arti.
"Gimana caranya? Gue aja belum sempet liat wajahnya semalem."
"Pake plat motor! Kita bisa cari motor itu kan?"
"Iya juga sih."
"Sekarang gue tanya, lo inget plat motornya apa enggak?" tanya Gabby lagi. Bintang mengangguk pasti, ia sudah menghafal plat motor itu semalam.
"S 3 JN."
...****************...
"Kelas Qia sebelah mana Jen?" tanya Rayhan to the point setelah ia berhasil memanjat jatuh dari tembok pembatas di belakang sekolah. Kini ia dan Raja sedang berjalan beriringan menjauh dari taman belakang sekolah yang masih sepi karena masih jam pelajaran.
"Mau langsung lo temuin sekarang?" tanya Raja.
"Ya iyalah. Tujuan gue kesini kan buat itu doang!"
"Ck. Iya gue tau! Maksud gue, lo ga nunggu bel istirahat dulu gitu?"
"Nggak. Kelamaan! Kita langsung lihat ke kelasnya aja, kalo kosong mau langsung gue samperin."
"Ya udah ayok."
...****************...
Tok tok
Seluruh pandangan penghuni kelas 11 ipa 5 tertuju kepada seorang guru wanita di ambang pintu dengan seorang murid laki-laki yang wajahnya sudah sangat fenomenal dan melegenda di SMA Airlangga.
"Kalian kosong?"
"Iya bu Friska. Tapi ini udah dapat tugas dari pak Bambang kok, ada apa ya bu?" tanya si ketua kelas yang unjuk gigi mendekati bu Friska karena ini memang tanggung jawabnya.
"Saya boleh masuk Jonathan? Ada yang mau saya bicarakan." ucap bu Friska sopan. Jonathan si kepala suku itu mengangguk.
"Boleh bu Fris, silahkan!"
Sementara di pojok belakang.
"Ngapain Vano digotong kesini By?" tanya Bintang berbisik. Gabby mengendikkan bahunya.
"Ga tau. Tapi feeling gue pasti ini ada hubungannya sama Qia."
Sementara di pojok sudut yang lain.
"Feeling gue tiba-tiba ga enak deh Rat." bisik Qia menggeleng-gelengkan kepalanya yang tiba-tiba sakit tak enak sama sekali.
"Sama, biasanya kalo ada kak Vano pasti bakal ada lo juga."
"Awas aja kalo Kadal bawa-bawa gue lagi!" gerutu Qia sebal.
"Queensha Qianne maju kesini kamu!!" panggil bu Friska menunjuk Qia yang melotot kaget.
"Nah tuhkan bener, baru juga mingkem nih mulut." gerutu Qia sebal. Ratu tertawa kecil.
"Ahahahha udah sono buruan maju. Daripada makin diamuk lo nanti!"
"Iya Qi ajuin cepet, daripada lu di kremus nanti." sahut Manda.
"Hm."
"Ada apa buk?" tanya Qia saat ia sudah berhadapan dengan bu Friska di depan kelas. Qia memicingkan mata curiga saat melihat Vano senyum-senyum aneh di sebelah guru fisika itu.
"Apa lo senyum-senyum!" semprot Qia. Vano menggeleng dengan watadosnya.
"Enggak."
"Qia mana bukunya Vano?" tanya bu Friska to the point. Qia auto ngebug!
"Hah? Buku apaan?"
"Buku fisika."
"Lah kok nanya saya?" tanya Qia polos. Bukan sembarang polos karena ia memang tidak merasa punya kaitan dengan Vano dan fisika.
"Kata Vano, dibawa sama kamu! Cepet kasih ke dia."
"Hah? Mana ada sih kak?" tanya Qia beralih ke Vano.
"Jadi ga lo bawa?" tanya Vano mulai mengatur siasatnya. Qia menggeleng polos.
"Enggak."
"Duh gimana sih Qi kok ga lo bawa?"
"Hah? Apaan si?"
"Buku gue Qia buku gue!!"
"Hah?"
"Kan tadi udah gue suruh bawain di tas lo."
"Emang iya?"
"Iya. Lo kan pelupa!"
"Eh tapi enggak deh keknya. Kapan lo ngomong? Fitnah kan lu? Lu cuma minta buku kosong doang tadi kak!!!" kekeuh Qia yang tak merasa dimintai tolong oleh Vano.
"Enggak. Gue minta lo bawain itu buku sama tas di meja ruang tamu Qi..... Tanya aja ke Raga kalo lo ga percaya, ada dia kok tadi pas gue ngomong." ucap Vano yang terus saja ngeles.
"Masa?"
"Iya."
"Tapi bukannya bang Raga masih dikamarnya ya tadi?"
Jleb
'Lah iya juga, duh salah sebut gue! Harusnya gue bilang ART sih tadi.' batin Vano merutuki kecerobohannya.
"Enggak, tadi ada kok di-"
"Ah stop berhenti kalian berdua! Kalian berdua ikut saya sekarang." potong bu Friska yang sudah capek hati, capek mental, capek fisik, dan capek batin menghadapi kedua murid badung ini.
'ah untung aja ada bu friska yang sat set. Rencana gue aman kan jadinya.' batin Vano lega.
"Lah buk kok saya juga?" protes Qia tak terima.
"Kamu kan yang menyebabkan Vano tidak membawa buku di kelas saya!!" omel bu Friska tak kalah sengit. Qia berdecak.
"Bu, sumpah bukan say-"
"Tidak ada alasan-alasan lagi! Kamu dan Vano sama-sama bersalah. Kalian berdua akan tetap saya hukum." kekeuh bu Friska.
"Hukumannya apaan tuh bu?" tanya Vano antusias tak lupa dengan senyum coolnya.
"Lo semangat banget mau dihukum!" sindir Qia yang curiga kalau ini hanya akal-akalan Vano yang tak ingin dihukum sendirian dan sengaja menyeret-nyeret namanya.
"Iya lah, gue kan BERTANGGUNG JAWAB." jawab Vano menekankan dua kata terakhir. Qia memutar bola matanya malas.
"Cowo aneh lu kak!"
"HEH MALAH DEBAT! Ayo ikut saya ke toilet." lerai bu Friska jengah.
"Ngapain ke toilet?"
"Hukuman kalian bersih-bersih toilet!"
Brak
Rayhan memukul pintu kayu disebelahnya. Tepat sekali saat Qia, Vano dan seorang guru keluar dari kelasnya, ia dan Raja baru sampai di koridor dekat tangga.
"Sial! Lagi-lagi dia berduaan sama Vano. Lama-lama tuh cowok gue singkirin beneran deh." gerutu Rayhan kesal.
"Terus sekarang gimana?"
"Kita pergi dulu, nanti gue balik nemuin dia kalo Vano udah pergi. Gue ga bisa ngomong tenang sama Qia kalo masih ada dia!"
"Oke, sekarang kita cabut ke kantin aja dulu." ajak Raja santai karena Rayhan juga memakai seragam sekolah khas Airlangga, baju yang dipinjamkan oleh Raja tadi.
"Hm."