DEVANO

DEVANO
77. Airlangga



"Eh loh muka lo ngapa jadi tambah jelek gini kak? Kok gue ga liat ya tadi."


Entah terdorong angin apa, tangan Qia terulur untuk menyingkap rambut poni Vano yang acak-acakan menutupi jidatnya.


"Lah beneran lebam nih. Lo habis ngapain sih? Kok gue baru sadar." ucap Qia lagi. Vano refleks mengerem laju mobilnya karena Qia yang tiba-tiba mendekat seperti itu.


Daripada dia gagal fokus dan terjadi sesuatu nanti, lebih baik ia berhenti dulu di bahu jalan.


"Mata lo merem kali. Udah ada sejak tadi." jawab Vano sok cool meskipun jantungnya sedang parade drum band saat ini.


"Pasti karena rumah gue positif vibes ya, jadi wajar sih kalo hal berbau negatif kek gini jadi ga bisa dilihat."


"Ngayal terossss!"


"Btw lo kenapa berhenti?" tanya Qia heran, ia baru sadar kalau mobilnya tak berjalan dan diam di tempat.


"Kepo mulu!" jawab Vano yang kemudian kembali menjalankan mobil.


"Tapi sumpah kak, bonyok kek gini lo jadi makin jelek tau!" celetuk Qia lagi. Sifatnya yang ceria dan berisik kini sudah beradaptasi dengan baik dengan Vano.


"Ngeledek terossss!!" keluh Vano mulai sebal. Selain mengobrak-abrik hatinya, sepertinya Qia juga berbakat untuk menaik turunkan emosinya.


"Ahahaha ya iya enggak deh, sekarang gue serius nanya nih. Kenapa bonyok gini?"


"Berantem."


"Berantem lagi? Ga ada bosennya ni anak. Kapan? Tadi pagi? Tapi kok baju lo masih rapi gini kak?" cerocos Qia makin kepo.


"Semalem. Gengnya cowok lo tuh ngeroyok gue! Beraninya keroyokan satu lawan lima belas." jawab Vano malas tiap ia harus menceritakan hal yang berhubungan dengan Rayhan.


"Rayhan?"


"Hm."


"Btw dia bukan cowok gue!" ketus Qia kesal. Vano tertawa meledek.


"Bitiwi dii bikin ciwik gii." ledek Vano menye. Qia mengerucutkan bibir.


"Lu kalo ga diem, gue pites lidah lu!" ancam Qia mengepalkan tangan.


"Dipitesnya pake apaan? kalo pake lidah juga ya oke aja ayok!!" seru Vano yang justru bersemangat. Qia melongo, otaknya langsung 4G saat ini.


Takut tambah dewasa.


"Gue tabok kepala lu ye biar lurus dikit!!" sembur Qia. Vano tertawa sambil mengacak-acak puncak rambut si ngambekan.


"Becanda mak."


"Bodoamat! Itu lo dapet pas habis dari rumah gue kak?" tanya Qia kembali ke topik awal. Vano tersenyum tipis, rupanya sebegitu perhatiannya Qia kepadanya.


"Hm."


"Kok bisa? Terus gimana? Parah ga? Duh kak, tau gitu lo semalem nginep aja di rumah gue biar ga ada apa-apa." cerocos Qia yang tampak sangat khawartir. Qia bahkan membolak-balikan tubuh Vano yang sedang menyetir.


Vano menyunggingkan senyum. Untungnya pula dia pembalap pro.


"Lo ngekhawatirin gue? Takut gue kenapa-napa ya?" ledek Vano menaik turunkan alis. Mendengar itu, Qia langsung melepaskan tangannya dari lengan Vano.


"Dih GR! Ini tuh jiwa kemanusiaan doang, lagian juga semalem lo nolongin gue. Pasti gara-gara itu kan, wajar lah kalo gue ngerasa bersalah dikit. Catet!! Cuma dikit."


"Kok bisa lo punya temen modelan kek gitu hah? Lo ga pinter nyeleksi temen apa gimana?" tanya Vano berdecak heran. Qia menggaruk belakang telinganya yang tak gatal. Ia bahkan sudah lupa bagaimana caranya ia bertemu dengan Rayhan dulu.


"Tau ah. Gue obatin muka lo ya? Ada kotak P3K ga disini?" tanya Qia mengalihkan topik. Matanya celingukan mencari kotak putih obat itu.


"Nggak usah, udah diobatin sama mama gue semalem." tolak Vano mengentikan Qia.


"Hah?"


"Mama gue dokter, kalo lo lupa."


"Oh."


...****************...


Brum brum


Vano sengaja memainkan gas mobilnya saat ia memasuki gerbang sekolah bertuliskan SMA AIRLANGGA di atasnya.


Qia tak ingin berdebat, energinya seperti sudah terkuras tadi di perjalanan. Ia hanya mendengus malas.


"Ada aja kelakuan bocah." keluh Qia lirih.


Vano hanya melirik tipis, ia sibuk mencari tempat parkir di tempat biasa ia parkir motor bersama lima sahabatnya. Tempat itu masih kosong dan sepi, pasti karena Vano datang terlalu pagi hari ini.


Ckit


Mobil sport hitam bernopol 'D V4N0 A' itu berhenti tepat ditempat biasa ia parkir motor. Tentu saja pemandangan luar biasa ini tak luput dari pandangan siswa-siswi yang berada di dekat situ.


"Itu mobilnya Vano tuh?!!"


"Buset mobil sultan emang beda wak."


"Gue pengen beli tapi susah jual ginjal."


"Mana orangnya dah ga keluar-keluar sejak tadi."


Begitulah kira-kira seruan berwarna-warni dari mereka yang memandang mobil berkaca film gelap itu.


Mobil yang sudah dikenal dan familiar karena nomor platnya, tapi tetap mengejutkan bagi banyak orang karena Vano lebih sering datang bersama teman-temannya dengan motor dari pada menggunakan mobil yang hanya ia pakai di saat-saat tertentu.


Tak berselang lama, Vano lebih dulu keluar dari dalam mobil dan disusul oleh Qia. Qia tak mau jadi bahan gosip kalau ia nanti Vano membukakan pintu untuknya.


"Langsung ke kelas kan?" tanya Qia. Vano mengangguk, ia menenteng tasnya di salah satu bahu saja dengan kedua tangan masuk ke dalam saku.


"Iya, bareng gue."


'Dih sok cool lagi ni anak? Giliran pas berdua aja cerewetnya minta ampun. Image galaknya dijaga bener kayaknya, enak kali ya kalo gue kerjain kapan-kapan.' batin Qia jahil mode on.


"Ngapain bengong? Ayo!" ajak Vano yang entah sejak kapan berada di depan Qia dan langsung menarik tangannya menjauh dari tempat parkir yang rame dan heboh atas kehadiran mereka.


Bagaimana tidak heboh? Si most wanted sekolah yang terkenal anti dengan makhluk bernama perempuan, tiba-tiba datang bersama dengan Qia yang masih berjuluk siswi baru. Jangan lupakan julukan cantiknya juga, hanya dua mingguan saja Qia sudah berhasil membuat banyak cowok-cowok AIRLANGGA terpesona dengan aura kecantikannya yang relatif alami dengan rambut coklat panjang sebahu.


"Itu tadi beneran Vano woy?"


"Sama anak baru kan tuh?"


"Buset seleranya oke juga!!"


"Gila sih!! Cowok dingin gitu diem-diem langsung ngegandeng cewek cantik."


"Tapi pntes juga sih ganteng sama cantik gitu."


Tak mau menghiraukan gosip panas di sekitar, Vano dan Qia tetap berjalan menuju kelas mereka dengan bersebelahan.


"Fans lo ribut!" bisik Qia agak berjinjit agar ia bisa menjangkau telinga Vano.


"Biasalah, orang ganteng."


"Paansi nyesel gue bilang gitu tadi."


"Ahahaha ngamuk mulu dari tadi! Darah tinggi nanti mak." ledek Vano. Qia gemas sendiri mengangkat kepalan tangannya, hendak menonjok mulut menyebalkan Vano, tapi tak jadi karena mengingat sudut bibir Vano yang lebam karena berantem semalam. Itu juga kan karena Qia sendiri.


"Tau ah!"


Sementara di dekat mobil Vano.


"Eh ini bukannya mobil Vano ya Sar?" celetuk Wulan ngeh duluan. Ia merasa aneh ada mobil yang berani parkir diwilayah langganannya anak-anak Ghosterion, dan ternyata plat mobilnya menunjukkan kalau mobil ini adalah milik Vano.


"Lah iya. Tumben dia bawa mobil!" sahut Dewi membenarkan.


"Motornya kempes kali." jawab Sarah enteng. Ia masih sibuk chatingan dengan seseorang di whatsappnya.


"Motornya Vano nggak cuma satu kali Sar."


"Gue curiga pasti ada sesuatu nih." ucap Wulan berfikir.


"Sama Lan, gue juga mikir gitu." sahut Dewi. Sarah menghela nafas malas.


"Apaan si lu berdua overthingking mulu? Ya kali aja Vano bosen kepanasan naik motor terus milih make mobil." lerai Sarah geleng-geleng.


"Ya kan kali aja Sar-"


"Eh tadi gila sih pas kak Vano keluar mobil barengan sama Qia, beuhh vibesnya kek orang baru jadian ga sih?" celetuk suara gosip yang membuat trio geng tadi menoleh bersamaan.


"Iya weh, gue suka ngeliatnya. Kek couple noveltoon gitu ga si? Aaaaa so sweet."


"Satunya ganteng, satunya cantik ya kan."


"Yang cowok dingin yang cewek petakilan, cocok banget haha."


"Tau darimana lo? Qia itu kan anak baru."


"Dia sekelas sama gue, anaknya asik plus banyak kelakuan randomnya haha."


"Pantes aja kak Vano klepek-klepek gitu ahhahaha."


"HEH BOCIL!!" panggil Sarah kasar. Gerombolan cewek berbadge kelas sebelas itu menoleh sambil menunjuk diri mereka sendiri.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰


Guys sorry!! Part ini harusnya di bab 77, semalam aku post barengan 3 part dan ga tau kenapa ini ketinggalan hehe.


jadi urutan sebenarnya adalah....



Riweh sia


AIRLANGGA (part ini)


Devano Modus Axellio



Jadi harusnya kalian bacanya part ini dulu sebelum kali baca part 78. Deano modus itu ya, hehe sorry and happy reading guys🖤❤️